Didaskaleinophobia pada Anak, Yuk Cari Tahu Selengkapnya

Rabu, 13 Juli 2022

Musim masuk sekolah, nih, teman-teman. Ada banyak macam cerita tentang sikap anak ketika ingin masuk ke sekolah. Ada yang bikin lucu, ada yang bikin terharu dan ada yang bikin mencengangkan. Bahkan bikin mengerenyitkan kening. Pasti masing-masing Papmam punya cerita tersendiri, nihKenapa bisa gini, ya? Teman-teman pernah dengar istilah Didaskaleinophobia?



didaskaleinophobia pada anak



Apa yang Dimaksud dengan Didaskaleinophobia? 


Istilah didaskaleinophobia secara etimologi diambil dari bahasa Yunani yang memiliki dua unsur suku kata yaitu didaska yang artinya mengajar dan Phobia memiliki arti takut. Didaskaleinophobia memiliki ungkapan lain yaitu school phobia.


Secara terminologi didaskaleinophobia memiliki arti ketakutan anak untuk memasuki dunia belajar. Biasanya dialami oleh anak-anak yang akan memasuki dunia sekolah baru pertama kali, atau dialami oleh anak-anak yang naik kejenjang tingkat sekolah yang lebih tinggi.


Pengalaman Nganter Sekolah Si Adek dan Kasus Didaskaleinophobia


Pagi ini saya mengantar adek ke sekolah barunya. Kebetulan adek tahun ini memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi, tingkat sekolah menengah pertama lebih tepatnya. Alhamdulillah adek merasa senang dan excited banget dengan sekolahnya.


Mendapatkan lingkungan baru, teman baru, pelajaran baru, cara pandang yang baru dan juga guru baru. Alhamdulillah saya merasa senang dan tenang dengan keadaan ini. Walaupun saya melihat ada sedikit semburat ketegangan menghiasi wajah ade. Sedikit, sih, lebih dominan perasaan bahagia yang muncul.


Kegiatan MPLS yang merupakan singkatan dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pagi ini dimulai dengan upacara bendera. Kegiatan upacara ini berjalan lancar, walau ada beberapa anak yang harus mengundurkan diri dari lapangan upacara karena kondisi yang tidak memungkinkan.


Kebetulan saya berdiam di sebuha pendopo tempat anak-anak ini beristirahat sambil menunggu upacara sebentar. Perhatian saya tertuju pada seorang anak yang nampak tak biasa kondisinya dibanding dengan anak-anak lain yang memang juga memiliki kondisi yang tak biasa dikarenakan sakit.


Ada yang mukanya pucat, tapi ada yang biasa saja. Beda dengan anak yang menjadi perhatian saya. Wajah anak ini begitu pucat dan dibarengi dengan keringat yang mengalir di wajahnya. Ketika ditanya apakah sudah sarapan pagi ini, nyaris jawabannya tak mengeluarkan suara, hanya berupa anggukan yang menandakan bahwa dia sudah sarapan.


Lalu apa yang menjadi sebab anak ini begitu pucat, berkeringat padahal sudah makan sebelumnya. Nampak raut wajah tegang dan seperti  ketakutan. Apakah anak ini mengalami gejala didaskaleinophobia. Bisakah dikatakan begitu? sebelumnya, yuk teman, kita kenali terlebih dahulu apa ciri dari didaskaleinophobia.


Ciri-Ciri  Didaskaleinophobia


Bisakah kejadian di atas dikatakan gejala didaskaleinophobia? sebelum mendiagnosa permasalahan ini, ada baiknya kita kenali dulu apa gejala dari didasakaleinophobia yang tertera di bawah ini:


  1. Adanya ketakutan yang luar biasa yang dialami oleh anak ketika masuk ke area sekolah, respon yang ditimbulkan biasanya bisa berupa teriakan yang sangat histeris ketika masuk ke lingkungan sekolah.
  2. Perasaan yang tidak bisa dikuasai dan rasa takut tidak mampu menguasai diri ketika datang ke sekolah.
  3. Rasa ketakutan sang anak yang berlebihan tentang kejadian yang akan menimpa orang rumah atau keluarganya, jika ia pegi ke sekolah.
  4. Memberikan alasan bahwa merasa lelah jika harus pergi ke sekolah.
  5. Bereaksi marah ketika diminta untuk berangkat ke sekolah. Ini juga bisa terjadi pada remaja, dan pada rentang waktu ini orangtua perlu sangat waspada.
  6. Terkadang sampai tidak bisa berbicara dan tidak bisa berkata-kata, kenapa dirinya merasa takut dan tidak ingin berangkat ke sekolah.
  7. Reaksi dari didaskaleinophobia juga bisa terdeteksi dari keadaan fisik bila berada di sekolah mengalami mual, muntah, badan gemettar, berkeringat dan diiringi kepala pusing.


Nah dari ciri-ciri serta gejala yang disebutkan di atas, sudah bisa dideteksikah keadaan anak yang saya ceritakan di atas. Apakah dia terkena didaskaleinophobia? Saya merasa kasus di atas belum bisa dikatakan sebagai gejala didaskaleinophobia, walaupun ciri dari no. 6 dan 7 terlihat dialami oleh anak tersebut.


Perlu observasi lebih lanjut tentang keadaan ini, karena kita harus tahu terlebih dahulu, apakah anak ini memiliki latar belakang kasus yang mengarah pada keadaan didaskaleinophobia. P hanya pada hari itu saja.erlu ngobrol banyak tentang hal ini dengan keluarganya dan juga anak yang bersangkutan.


Cara mudahnya kita bisa perhatikan perkembangan selanjutnya, apakah anak ini akan terus mengalami hal yang diceritakan di atas. Selanjutnya, yuk, kita coba cari tahu, apa penyebab dari gejala didaskaleinophobia ini?


Penyebab Didaskaleinophobia atau School Phobia


Menurut Hurlock ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seorang anak mengalami didaskaleinophobia, diantaranya yaitu, jenis kelamin, kondisi fisik anak, urutan kelahiran, lingkungan serta pola asuh yang diterapkan oleh orangtua.


Menurut penjelasan Hurlock di atas, pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyebab didaskaleinophobia terdiri dari 2 faktor yaitu:


Faktor Internal


Faktor internal terdiri dari kondisi fisik anak. urutan kelahiran, jenis kelamin. Kondisi fisik anak yang lemah bisa menjadi pemicu keadaan didaskaleinophobia, tidak hanya itu fisik anak yang terlalu gemuk atau terlalu kurus pun bisa menjadi penyebab anak mengalami didaskaleinophobia.

Faktor internal lainnya yaitu jenis kelamin laki-laki atau perempuan. gejala school phobia  ini biasanya banyak dialami oleh anak perempuan dibanding anak laki-laki. faktor penyebabnya bisa jadi karena anak perempuan cenderung perasa dan memiliki rasa takut yang lebih besar dibanding anak laki-laki. Meski keduanya memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan masalah ini.


Urutan kelahiran juga menjadi faktor penyebab didaskaleinophobia. Perlu ditelaah dan referensi lebih lanjut tentang hal ini. Namun menurut data penelitian yang dilakuakn oleh mahasiswa brawijaya tentang ini menghasilkan bahwa anak pertama banyak terindikasi gejala dan masalah didaskaleinophobia.


Faktor Eksternal


Faktor eksternal terbentuk dari pengaruh lingkungan dan pola asuh yang didapatkan oleh anak. Pola asuh orangtua yang tidak demoratis ditenggarai sebagai penyebab anak mengalami didaskaleinophobia. Lingkunagn yag kurang menunjang kemandirian pada anak juga bisa menjadi penyebab anak mengalami masalah didaskaleinophobia.


Komunikasi yang terjalin dengan baik antara anak dan orangtua dapat meminimalisir permasalahan ini. Bentuk komunikasi bisa berupa mendengarkan cerita anak atau mendongeng bersama anak.


Keadaan keluarga yang sedang mengalami permasalahan juga bisa menjadi pemicu permasalahan didaskaleinophobia pada anak, misalnya keadaan orangtua yang bercerai bisa menjadi pemicu permasalahan ini.


Apakah Didaskaleinophobia pada Anak Bisa Disembuhkan?


Ada tiga tingkatan didaskaleinophobia pada anak, yaitu rendanh sedang dan berat. Apakah bisa diobati? Menurut para ahli, masalah didaskaleinophobia pada anak ini bisa diatasi, dengan cara banyak berkomunikasi dengan anak, dan membimbing serta membantu anak untuk menjadi pribadi yang mandiri.


Sebisa mungkin orangtua menerapkan pola asuh yang mendorong anak untuk berperilaku mandiri serta membiasakan anak untuk memiliki kebebasan berpendapat dan mudah untuk mengungkapkan apa yang diinginkanya. Orangtua menjadi faktor penentu dalam mengatasi masalah didaskaleinophobia pada anak.


Namun jiika kasusnya sudah terlampau berat dan gejalanya terlihat sangat ekstreem, perlu kiranya minta bantuan kepada ahlinya, yaitu dengan berkonsultasi ke psikiatri anak dan melakukan hypno teraphy.


Kesimpulan


So gimana dengan teman si adek yang diceritakan di atas? Saya berharap bukan masalah ini yang terjadi, kalaupun iya, semoga bisa cepat teratasi. Asal ada komunikasi yang baik antara anak, orangtua dan guru insyaALlah masalah didaskaleionophobia ringan akan bisa diatasi.


Kejadian teman si adek di atas membuat saya ingin menuliskan permasalahan ini. Semoga bisa menambah wawasan kita bersama. Sehingga kita para orangtua atau para calon orangtua memiliki gambaran tentang permasalahan didaskaleinophobia pada anak.


Sejak dini para orangtua dan calon orangtua bisa mengambil keputusan untuk menerapkan pola pengasuhan yang tepat unutuk anak, agar anak bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik dan normal sebagai bekal kehidupannya sampai dewasa kelak. Happy parenting, dan salam pengasuhan.




Referensi:


Diena Fitriana Sadi. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi School Phobia pada Anak Prasekolah di Taman kanak-kanak restu dan Anak Saleh Malang. Universitas Brawijaya, Fakultas Kedokteran.


https://riliv.co/rilivstory/didaskaleinophobia-apa-sih-yuk-ketahui-lebih-lanjut/


https://www.haibunda.com/parenting/20200521081552-62-142128/kenapa-ya-anak-laki-laki-lebih-pemberani-dari-anak-perempuan



Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Trimakasih sudah berkunjung ke ruang narasi Inspirasi Nita, semoga artikel yang disuguhkan bisa memberikan manfaat sehingga menjadi hidangan yang mengenyangkan. Silahkan meninggalkan komen positif untuk merekatkan tali silaturahmi. Jangan lupa sematkan nama, hingga tak ada unknown diantara kita. Mohon tidak meninggalkan link hidup, ya kawan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Barakallahu.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger