10 Universitas Terbaik di Kanada yang Menjadi Favorit Mahasiswa Internasional

Selasa, 13 Januari 2026
Di era perkembangan teknologi yang semakin maju, peluang untuk menempuh pendidikan di luar negeri terus mengalami peningkatan. Banyak pelajar dari berbagai negara memilih melanjutkan studi ke negara lain demi mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Salah satu negara yang menjadi tujuan favorit mahasiswa internasional adalah Kanada. Negara ini dikenal memiliki sistem pendidikan berkualitas tinggi yang telah diakui secara internasional, sehingga menarik minat pelajar dari berbagai belahan dunia untuk Kuliah di Kanada

Kanada secara konsisten mengembangkan banyak universitas dengan standar mutu tinggi yang termasuk dalam jajaran universitas kelas dunia. Sistem pendidikan di Kanada dirancang secara fleksibel dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja selama masa studi. Selain itu, Kanada memiliki dua bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Prancis. Secara geografis, Kanada memiliki wilayah yang sangat luas, mencakup kawasan metropolitan, lahan pertanian yang subur, pegunungan, sungai, hutan di wilayah utara, hingga daerah tundra Arktik. Berdasarkan sejarahnya, Kanada dikenal sebagai negara dwibahasa (bilingual country).

daftar kampus favorit kanada


Universitas Favorit Bagi Mahasiswa Internasional Di Kanada


Saat ini, Kanada menjadi salah satu negara tujuan utama bagi mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mahasiswa Indonesia juga bisa bersaing dan memiliki banyak pilihan untuk menyalurkan minatnya mengambil study di luar jika ingin mencoba sistem pendidikan yang berbeda dengan pendidikan universitas dalam negeri. Negara ini memiliki banyak universitas dengan kualitas pendidikan yang sangat baik dan diakui secara global. Selain itu, berkuliah di Kanada juga menawarkan berbagai keuntungan, mulai dari sistem pendidikan yang berkualitas hingga peluang kerja bagi mahasiswa. Berikut beberapa universitas terbaik di Kanada yang banyak diminati oleh mahasiswa internasional dan bisa menjadi pilihan bagi kamu yang berencana melanjutkan studi.

University of Toronto


University of Toronto didirikan pada 15 Maret 1827 dengan nama awal King’s College. Kampus utamanya terletak di kawasan Queen’s Park, Toronto. Universitas ini menawarkan lebih dari 700 program sarjana dan sekitar 200 program pascasarjana bagi mahasiswa. Sekitar 25 persen dari total mahasiswa di University of Toronto merupakan mahasiswa internasional, yang menunjukkan tingginya minat pelajar dari berbagai negara untuk berkuliah di sini. Dari sisi akademik, universitas ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik di Kanada dan menerapkan sistem pendidikan yang setara dengan universitas ternama dunia seperti Oxford dan Cambridge.

University of Toronto menempati peringkat pertama di Kanada dan termasuk universitas terbaik di dunia dalam hal dampak penelitian. Pada tahun 2023, jumlah mahasiswa terdaftar hampir mencapai 100.000 orang. Universitas ini menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, seperti program kerja berbayar, kegiatan penelitian, dan kesempatan studi ke luar negeri. Kehidupan kampus tergolong aktif dan dinamis, meskipun mahasiswa perlu bersikap proaktif dalam membangun pertemanan karena jumlah mahasiswa yang sangat besar.

University of British Columbia (UBC)


University of British Columbia (UBC) merupakan salah satu universitas negeri terkemuka yang berlokasi di Provinsi British Columbia, Kanada. Universitas ini didirikan pada tahun 1908 dan mulai beroperasi secara resmi pada tahun 1915. UBC memiliki dua kampus utama, yaitu Kampus Vancouver dan Kampus Okanagan yang terletak di Kelowna. Kampus Vancouver menjadi kampus terbesar dan menampung lebih dari 85 persen total mahasiswa UBC. Dalam satu tahun terakhir, mahasiswa internasional mencapai sekitar 23 persen di Kampus Vancouver dan sekitar 13 persen di Kampus Okanagan. UBC juga menyediakan fasilitas perumahan yang diprioritaskan bagi mahasiswa sarjana tahun pertama, termasuk mahasiswa internasional yang baru diterima, serta menyediakan hunian bagi mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang melanjutkan studi.


Dari sisi akademik, Kampus Vancouver memiliki lebih dari dua puluh divisi akademik, sedangkan Kampus Okanagan memiliki delapan divisi. Sistem kalender akademik di kedua kampus terdiri atas semester musim dingin dan musim panas, dengan semester musim panas bersifat opsional. Bahasa pengantar utama dalam kegiatan perkuliahan di UBC adalah bahasa Inggris. Bagi mahasiswa internasional tahun pertama, UBC menawarkan program Vantage One melalui Vantage College, yang dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan kesiapan akademik dengan memperpanjang masa studi tahun pertama menjadi 11 bulan. Setelah menyelesaikan program tersebut, mahasiswa akan melanjutkan ke tahun kedua program studi reguler. UBC juga dikenal memiliki fasilitas penelitian kelas dunia, seperti TRIUMF sebagai laboratorium fisika subatomik nasional Kanada, UBC Farm untuk pengembangan sistem pangan berkelanjutan, serta Institute for Healthy Living and Chronic Disease Prevention. Secara keseluruhan, mahasiswa internasional mencakup sekitar 33 persen dari total populasi mahasiswa di University of British Columbia.

McGill University


McGill University merupakan salah satu universitas negeri ternama di Kanada yang berdiri sejak tahun 1821 dan berlokasi di Provinsi Quebec. Universitas ini memiliki dua kampus utama, yaitu kampus pusat kota yang berada di Montreal serta Kampus Macdonald di Sainte-Anne-de-Bellevue. Kedua kampus tersebut berjarak sekitar 20 mil. Bahasa pengantar utama dalam kegiatan perkuliahan adalah bahasa Inggris, meskipun dalam beberapa tahun terakhir sekitar 20 persen mahasiswa menyatakan bahasa Prancis sebagai bahasa pertama mereka. Hal ini sejalan dengan kondisi Montreal sebagai kota dwibahasa, di mana sekitar setengah penduduknya menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa utama. Sekitar 25 persen mahasiswa McGill merupakan mahasiswa internasional yang berasal dari lebih dari 150 negara. Universitas ini juga menyediakan fasilitas perumahan bagi mahasiswa sarjana maupun pascasarjana di kedua kampus.

Dari sisi akademik, McGill University memiliki 10 fakultas, yaitu Fakultas Pertanian dan Lingkungan, Seni, Kedokteran Gigi, Pendidikan, Teknik, Hukum, Manajemen, Kedokteran, Musik, dan Sains. Secara keseluruhan, McGill menawarkan sekitar 300 program studi, dengan sekitar dua pertiga mahasiswanya menempuh pendidikan di jenjang sarjana. Universitas ini memiliki keterkaitan erat dengan berbagai rumah sakit pendidikan, serta dikenal memiliki fakultas kedokteran tertua di Kanada. Salah satu capaian riset penting yang terkait dengan McGill adalah pengembangan sel darah buatan pertama. Dalam konteks universitas terbaik di Kanada, McGill juga dikenal melahirkan tokoh-tokoh ternama, seperti penyanyi dan penulis lagu Leonard Cohen serta aktor William Shatner. Selain itu, McGill University tercatat sebagai institusi di Kanada yang menghasilkan Sarjana Rhodes terbanyak, menjadikannya pilihan unggulan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Kanada.


McMaster University


McMaster University merupakan universitas negeri di Kanada yang didirikan pada tahun 1887. Kampus utamanya berlokasi di kawasan pinggiran kota Hamilton, Ontario, tidak jauh dari tepi barat Danau Ontario dan dekat dengan perbatasan Amerika Serikat. Selain kampus utama, McMaster juga memiliki beberapa lokasi kampus lain yang tersebar di pusat kota Hamilton, Burlington, Kitchener–Waterloo, dan Niagara. Mahasiswa internasional di McMaster berasal dari lebih dari 75 negara, sementara dosen dan staf pengajar penuh waktunya berasal dari lebih dari 55 negara. Universitas ini menyediakan asrama mahasiswa yang dikelola langsung oleh institusi, termasuk pilihan komunitas hunian bertema, seperti komunitas khusus perempuan, komunitas hidup sehat dan aktif, serta komunitas dengan perspektif global.

Secara akademik, McMaster University memiliki enam divisi utama, yaitu Teknik, Ilmu Kesehatan, Humaniora, Sains, Ilmu Sosial, serta DeGroote School of Business. Bahasa pengantar dalam kegiatan perkuliahan adalah bahasa Inggris. Salah satu program unggulan McMaster adalah program Seni dan Sains yang menerima sekitar 60 mahasiswa setiap tahun dan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar sarjana yang bersifat interdisipliner. Kalender akademik jenjang sarjana berbasis sistem semester, dengan pilihan semester musim semi atau musim panas yang bersifat opsional. Sementara itu, kalender akademik pascasarjana terdiri dari tiga semester, yaitu musim gugur, musim dingin, dan musim panas. McMaster juga dikenal memiliki lebih dari 60 pusat dan institut penelitian, di antaranya Pusat Ekonomi Kesehatan dan Analisis Kebijakan, Pusat Penelitian eBusiness McMaster, serta Pusat Mikroskopi Elektron Kanada. Universitas ini bahkan memiliki reaktor nuklir sendiri yang digunakan untuk keperluan riset. Fakta unik lainnya, sebagian kecil otak Albert Einstein disimpan dan dipelajari di salah satu laboratorium McMaster oleh ahli saraf universitas tersebut.

Sebagai salah satu universitas terbaik di Kanada, McMaster University di Hamilton, Ontario, dikenal luas karena pendekatan inovatifnya dalam bidang pendidikan dan penelitian. Program kedokteran dan teknik di universitas ini memiliki reputasi yang sangat baik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain fakultas kedokteran, McMaster juga unggul dalam bidang ilmu sosial, teknik, sains, bisnis, dan humaniora, menjadikannya pilihan menarik bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Kanada dengan lingkungan akademik yang progresif.


University of Alberta


University of Alberta adalah salah satu universitas negeri ternama di Kanada yang berdiri sejak tahun 1908 dan berlokasi di Provinsi Alberta, wilayah barat Kanada. Mayoritas mahasiswa universitas ini menempuh pendidikan pada jenjang sarjana, dengan proporsi mencapai sekitar 80 persen dari total populasi mahasiswa. University of Alberta mengelola lima kampus, empat di antaranya berada di kota Edmonton. Kampus Utara berfungsi sebagai kampus utama dan mencakup area yang luas, setara dengan sekitar 50 blok kota. Sementara itu, Kampus Augustana terletak di kota Camrose, sekitar satu jam perjalanan dari Edmonton, dan memiliki jumlah mahasiswa yang lebih kecil dengan fokus pada pendidikan seni dan sains liberal.

Dalam bidang akademik, University of Alberta menawarkan beragam program studi yang mencakup seni, bisnis, teknik, hingga kedokteran. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar utama, kecuali di Kampus Saint-Jean yang menyelenggarakan perkuliahan dalam bahasa Prancis. Mahasiswa internasional mencakup lebih dari 20 persen dari total mahasiswa, menunjukkan daya tarik global universitas ini. Sistem akademik menggunakan semester musim gugur dan musim dingin sebagai periode utama, dengan tambahan semester musim semi dan musim panas yang bersifat opsional. Fasilitas hunian kampus tersedia bagi mahasiswa sarjana maupun pascasarjana di Edmonton dan Kampus Augustana. Dalam bidang riset, University of Alberta bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian terkemuka, termasuk National Institute for Nanotechnology, serta menjalin ratusan kemitraan akademik dan pertukaran internasional dengan institusi di berbagai negara.

Universitas de Montreal 


Université de Montréal merupakan universitas negeri yang berdiri pada tahun 1878 dan awalnya berstatus sebagai cabang Université Laval sebelum menjadi institusi mandiri pada tahun 1919. Universitas ini memiliki afiliasi dengan dua sekolah besar, yaitu Polytechnique Montréal di bidang teknik dan HEC Montréal di bidang bisnis. Seluruh institusi tersebut berlokasi di Montreal, Quebec, salah satu wilayah metropolitan terpadat di Kanada. Sebagian besar mahasiswa pascasarjana di kawasan ini menempuh pendidikan melalui ketiga institusi tersebut. Université de Montréal juga menyediakan fasilitas tempat tinggal bagi mahasiswa sarjana dan pascasarjana penuh waktu.

Dikenal dengan singkatan UdeM, universitas ini memiliki berbagai fakultas yang mencakup ilmu sosial, ilmu alam, kesehatan, seni, dan humaniora. Bahasa Prancis menjadi bahasa pengantar utama, meskipun beberapa program pascasarjana tertentu menerima mahasiswa berbahasa Inggris. Universitas ini juga menyediakan dukungan pembelajaran bahasa Prancis melalui bimbingan akademik, lokakarya, dan sumber belajar tambahan. Dalam bidang penelitian, Université de Montréal menaungi berbagai pusat riset unggulan, seperti Institut Penelitian Imunologi dan Kanker serta Laboratorium Cyberjustice. Para penelitinya aktif berkolaborasi dengan institusi internasional, khususnya di Eropa dan Amerika Utara.

University of Waterloo


University of Waterloo, yang juga dikenal dengan sebutan UW, merupakan universitas negeri di Kanada yang terkenal dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan inovasi. Didirikan pada tahun 1957, universitas ini berlokasi di Waterloo, Ontario, tidak jauh dari kawasan Great Lakes dan perbatasan Amerika Serikat. Selain kampus utama, University of Waterloo memiliki beberapa lokasi pendukung di kota Cambridge, Kitchener, dan Stratford. Saat ini, universitas ini menampung lebih dari 30.000 mahasiswa dari berbagai latar belakang internasional.

Secara akademik, University of Waterloo memiliki enam fakultas utama, yaitu kesehatan terapan, seni, teknik, lingkungan, matematika, dan sains. Kampus utamanya juga bekerja sama dengan empat college afiliasi yang memungkinkan mahasiswa belajar dalam komunitas akademik yang lebih kecil. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar perkuliahan, dengan sistem kalender akademik yang terdiri dari tiga semester. University of Waterloo dikenal luas melalui program co-operative education (co-op) yang mengintegrasikan studi akademik dengan pengalaman kerja profesional. Lebih dari 120 program sarjana menawarkan jalur ini. Selain itu, universitas ini juga memiliki program gelar ganda dan kolaborasi akademik dengan universitas internasional terkemuka, serta didukung oleh pusat penelitian unggulan di bidang air, otomotif, dan teknologi kuantum-nano.

University of Ottawa


University of Ottawa merupakan universitas negeri yang berlokasi di sisi selatan Sungai Ottawa, Kanada. Kota Ottawa dikenal sebagai ibu kota negara yang dinamis, dengan ikon Bukit Parlemen serta kekayaan warisan budaya Pribumi. Selain sebagai pusat pemerintahan, Ottawa juga berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan dan penelitian terkemuka di Kanada. Di antara berbagai institusi akademik yang ada, University of Ottawa menempati posisi penting karena menjadi universitas utama yang menyandang nama kota tersebut.

Didirikan pada tahun 1848, University of Ottawa termasuk salah satu universitas tertua di Kanada dan memiliki fokus kuat pada kegiatan riset. Universitas ini dikenal secara global sebagai universitas bilingual terbesar di dunia yang menggunakan bahasa Inggris dan Prancis. Sebagai anggota kelompok U15, yang terdiri atas universitas-universitas riset intensif terbaik di Kanada, University of Ottawa memiliki reputasi dalam menghasilkan inovasi dan kontribusi akademik di berbagai bidang. Kampus utamanya memiliki luas sekitar 42,5 hektare dan terletak di kawasan timur laut pusat kota Ottawa.

Sebagai universitas bilingual di Kanada, University of Ottawa menawarkan program studi dalam dua bahasa resmi, yaitu Inggris dan Prancis. Universitas ini memiliki keunggulan akademik khususnya pada bidang hukum, ilmu sosial, dan ilmu kesehatan. Dalam pemeringkatan universitas global, University of Ottawa tercatat berada pada posisi ke-256 sebagai salah satu universitas terbaik dunia, berdasarkan penilaian terhadap kualitas akademik, riset, dan reputasi internasional.

University of Ottawa juga dikenal mampu menjawab beragam minat mahasiswa melalui pilihan program studi yang luas. Saat ini, universitas ini melayani lebih dari 48.000 mahasiswa dengan menyediakan sekitar 171 program magister dan 111 program sarjana. Program-program tersebut mencakup berbagai bidang, seperti seni, pendidikan, teknik, ilmu kesehatan, hukum, kedokteran, sains, ilmu sosial, serta program manajemen melalui Telfer School of Management. Dengan cakupan akademik yang komprehensif, University of Ottawa menjadi salah satu destinasi unggulan bagi mahasiswa internasional yang ingin menempuh pendidikan tinggi di Kanada.

University of Calgary


University of Calgary merupakan universitas negeri yang memiliki komunitas akademik multikultural dan berorientasi global. Sejak berdiri pada tahun 1966, universitas ini berkembang menjadi salah satu institusi riset intensif yang diakui secara internasional. Dalam pemeringkatan QS World University Rankings, University of Calgary pernah dinobatkan sebagai universitas terbaik di Kanada untuk kategori universitas berusia di bawah 50 tahun, serta masuk dalam daftar universitas muda terbaik dunia. Reputasi akademiknya ditopang oleh riset unggulan di bidang energi, lingkungan, kesehatan, teknik, dan ilmu komputer.

Kampus University of Calgary terletak tidak jauh dari pusat kota Calgary dan memiliki area seluas lebih dari 200 hektare dengan lingkungan hijau yang mendukung aktivitas akademik. Dengan jumlah mahasiswa sekitar 31.000 orang, universitas ini dikenal memiliki program unggulan di bidang teknik, bisnis, dan ilmu kesehatan. Selain itu, University of Calgary juga menjadi pusat pengembangan penelitian energi yang berperan penting dalam inovasi dan keberlanjutan, menjadikannya salah satu pilihan utama bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Kanada.

Western University


Western University merupakan universitas negeri di Kanada yang memiliki orientasi global dan berkomitmen untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sebagai salah satu institusi terkemuka dalam bidang pengajaran dan penelitian, Western University mengusung misi untuk mendukung pencapaian tujuan individu demi kontribusi kolektif yang lebih luas. Lingkungan akademik di Western University mendorong terbentuknya relasi yang bermakna dan berkelanjutan antara mahasiswa, dosen, dan komunitas kampus.

Western University menawarkan pengalaman belajar yang komprehensif melalui kualitas akademik yang unggul, fasilitas modern, serta kesempatan magang, kerja sama industri, dan praktikum yang terintegrasi dalam berbagai program studi. Kampus Western University dikenal sebagai salah satu kampus terindah di Kanada, dengan lanskap hijau, pepohonan rindang, serta perpaduan bangunan bersejarah dan modern. Tersedia sebelas asrama di dalam kampus yang menyediakan lingkungan tinggal yang aman dan nyaman bagi mahasiswa. Western University berlokasi di kota London, Ontario, sekitar dua jam perjalanan dari Toronto. Dalam bidang akademik, universitas ini memiliki reputasi yang kuat di bidang bisnis, kedokteran, dan ilmu sosial, serta dikenal luas karena suasana kampusnya yang asri dan kondusif untuk belajar.


Kuliah di Kanada Lebih Mudah Bersama ICAN Education


Berencana melanjutkan pendidikan ke Kanada, tetapi masih bingung mencari informasi yang tepat? Kini, proses persiapan kuliah di Kanada dapat menjadi lebih mudah dengan bantuan agen pendidikan luar negeri yang berpengalaman, seperti ICAN Education. Melalui ICAN Education, kamu dapat mengikuti sesi konsultasi bersama konselor profesional yang siap mendampingi setiap tahap perencanaan studi ke luar negeri. Dengan pengalaman bertahun-tahun, ICAN Education berkomitmen memberikan pendampingan terbaik agar rencana pendidikan kamu berjalan lebih terarah dan optimal.

Tidak hanya menyediakan layanan konsultasi, ICAN Education juga membantu proses pendaftaran ke universitas tujuan, pengurusan visa pelajar, serta memberikan informasi lengkap mengenai pilihan universitas dan program studi yang sesuai dengan minat dan tujuan akademik kamu. Selain itu, ICAN Education menyediakan layanan persiapan tes kemampuan bahasa Inggris, seperti TOEFL dan IELTS, yang menjadi salah satu persyaratan utama untuk kuliah di Kanada.

Melalui ICAN Education, kamu juga akan memperoleh rekomendasi yang tepat terkait estimasi biaya kuliah serta informasi peluang beasiswa yang tersedia. Dengan pendampingan menyeluruh tersebut, kamu tidak perlu khawatir mengurus berbagai keperluan administrasi secara mandiri. Bersama ICAN Education, persiapan kuliah di Kanada menjadi lebih praktis, terencana, dan membuka lebih banyak peluang untuk masa depan akademik kamu.

Pengalaman Memilih LASIK: Dari Cek Mata Rutin hingga Keputusan Bebas Kacamata

Rabu, 03 Desember 2025
Assalamualaikum Sahabat Insnita

Pernah nggak sih mata kamu tiba-tiba merasa lelah, pandangan agak buram, atau gampang silau setelah scroll media sosial dan kerja di depan laptop berjam-jam? Ternyata, itu bukan cuma “capek biasa”. Mata kita, seperti otot lain di tubuh, perlu istirahat. Ketika terlalu lama fokus jarak dekat, layar komputer, ponsel, atau buku, otot mata bekerja keras tanpa jeda. Belum lagi, kita cenderung berkedip jauh lebih sedikit ketika menatap layar, sehingga mata bisa menjadi kering. Bagi sebagian orang, keluhan seperti ini bahkan bisa jadi awal untuk mencari tahu lebih jauh tentang kesehatan penglihatan, termasuk prosedur seperti LASIK mata.

apa itu lasik mata



Nah, berarti kamu enggak sendiri, ya. Banyak sekali orang di luaran sana mengalami hal yang sama. Kita sering kali lupa kalau mata merupakan“jendela dunia”. Mata merupakan asset penting yang butuh perawatan, bahkan melalui kebiasaan kecil seperti istirahat sejenak, berkedip lebih sering, atau alihkan pandangan, mata kita bisa “nafas” sejenak, untuk istirahat dan terhindar dari ketegangan.

Jika mata kita diperlakukan dengan baik, maka akan membawa keberuntungan bagi kita. Insyaalllah mata kita bisa terjaga sampai tua, nih. Yuk, kita ngobrol santai tentang bagaimana cara sederhana tetapi ampuh agar mata kita tetap sehat dan penglihatan tetap tajam.


Kenapa Mata Butuh Perhatian Khusus?


Mata bukan cuma alat untuk melihat dunia, tapi juga penentu seberapa nyaman kita menjalani aktivitas sehari-hari. Banyak sekali aktivitas kita sehari-hari baik yang berkutat di dunia kerja atau persoalan hobi yang membutuhkan ketajaman penglihatan, dari mulai baca, kerja, belajar, sampai nonton serial favorit. Kalau kita terlalu sering memaksakan mata tanpa istirahat atau proteksi, risiko seperti penglihatan kabur, mata kering, atau bahkan penyakit serius seperti katarak dan glaukoma bisa muncul.

Makanya, menjaga kesehatan mata bukan sekadar soal “Wah, mataku bisa tetap melihat jelas kok sekarang”, tapi Kesehatan mata merupakan investasi jangka panjang supaya kita tetap bisa menikmati hidup dengan nyaman. Selain menjaga kesehatan mata dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan di bawah ini:

Langkah-Langkah Mudah agar Mata Selalu Sehat


Lalu, bagaimana upaya kita dalam menjaga Kesehatan mata, agar mata selalu memiliki penglihatan tajam dan terhindar dari bahaya keburaman atau mungkin penhyakit lainnya seperti katarak atau glukoma. Insnita akan membagikan beberapa tips yang semoga bisa membantu menjaga Kesehatan mat akita. Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang bisa kamu coba, cocok dilakukan oleh siapa saja, terutama bagi kita yang aktif berselancar di gawai atau sering bekerja di depan layar.


Makan Seimbang & Penuhi Gizi Mata


Mata kita butuh nutrisi! Untuk menjaga kesehatan mata, jangan pernah lewatkan untuk menkonsumsi Jenis makanan yang kaya akan vitamin A, C, E, lutein, dan omega-3 seperti sayuran hijau, buah berwarna cerah, kacang-kacangan, ikan, dan sejenisnya. Nutrisi ini membantu melindungi mata kita dari kerusakan akibat usia atau stres lingkungan.

Istirahatkan Mata Secara Berkala


Kalau kamu sering bekerja atau main gawai berjam-jam, jangan lupa untuk memberikan istirahat pada mata, beri jeda mat akita dengan mengikuti aturan 20-20-20, yang artinya untuk setiap 20 menit waktu kita menatap layar, beri kesempatan untuk mengalihkan pandangan ke tempat jauh sekitar 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Cara ini akan membantu mat akita lebih rileks, serta mengurangi ketegangan dan kelelahan pada mata.


Lindungi Mata dari Paparan UV & Cahaya Berlebih


Sinar matahari atau cahaya yang terlalu terang juga bisa membahayakan mata kit ajika terpapar dalam jangka Panjang, resiko yang bisa diderita contohnya akan meningkatkan risiko katarak. Untuk itu saat keluar rumah di siang hari, ada baiknya memakai pelindung mata, misalnya kacamata hitam. Selain itu, ketika menggunakan gadget, pastikan ruangan punya pencahayaan yang nyaman agar mata tidak terlalu tegang.


Hindari Kebiasaan Merokok & Polusi


Merokok dan paparan polusi bisa mempercepat kerusakan mata, terutama jika terkena bagian mata yang sensitif seperti lensa dan saraf optik. Jadi, menjauhi asap rokok dan juga berhenti merokok merupakan salah satu upaya yang bis akita lakukan untuk menjaga Kesehatan mata, termasuk juga menjaga kebersihan lingkungan menjadi bagian dari merawat mata. Menerapkan pola hidup sehat juga sangat dianjurkan demi menjaga kesehatan mata.

Cek Mata secara Rutin


Siapa yang di sini suka merasa dan Kadang berpikir “ah, belum ada keluhan, berarti mataku baik-baik saja.” Padahal banyak penyakit mata, seperti glaukoma atau degenerasi, berkembang lambat tanpa gejala nyata. Makanya, melakukan pemeriksaan mata secara rutin penting, agar jika ada tanda awal gangguan bisa langsung ditangani.

Kadang, setelah mendengar penjelasan dokter tentang pentingnya cek mata rutin, aku suka merenung sendiri. “Kalau gangguan mata itu bisa datang diam-diam, aku yang setiap hari nempel sama layer ini, kok bisa santai banget ya?” Dari situ, mulai muncul rasa ingin lebih perhatian pada mata sendiri, dan merasa bersalah karena selama ini kadang abai, sepertinya harus sigap dan intens menjaga Kesehatan mata, bukan cuma menunggu sampai ada keluhan.

Dan lucunya, dari kebiasaan memeriksakan mata itulah aku pertama kali menyadari sesuatu, ternyata bukan hanya kesehatan mataku yang perlu dipantau, tapi juga kebebasan yang selama ini diam-diam aku rindukan. Yap, betul,…Kebebasan dari kacamata, rindu sekali sepertinya bisa membaca berjalan dan melakukan aktivitas dengan pandangan yang jernih tanpa harus ada yang mengganjal di batang hidung.

Saat Aku Memutuskan untuk “Bebas” dari Kacamata


Selama bertahun-tahun, aku terbiasa bergantung pada kacamata, dari sejak bangku SMA, di aktivitas perkuliahan, mengajar, hingga menatap layar laptop untuk membuat modul PAUD. Hingga suatu hari, aku membaca sebuah artikel informatif tentang prosedur LASIK dan persyaratannya. Artikel itu membuatku berpikir, “Apakah selama ini aku melewatkan kesempatan untuk mendapatkan penglihatan yang lebih lepas?” Melalui artikel tersebut, aku jadi lebih tahu bahwa ada sejumlah syarat penting agar LASIK bisa dilakukan dengan aman.

Seiring rasa penasaran, aku mulai mempelajari lebih dalam, bukan demi memutuskan hal secara terburu-buru atau tergesa-gesa, melainkan untuk mengevaluasi, sebenarnya apakah kondisi mataku memang memenuhi kriteria? Hal ini ku anggap penting sekali, karena keamanan, kenyamanan dan kesehatan mata harus jadi prioritas utama sebelum memutuskan sesuatu yang bersifat permanen. Aku mendapatkan info LASIK yang akan aku bagikan pada Sainers semua, yuk kita bahas.


Apa Itu LASIK dan Siapa yang Ideal untuk Melakukannya?


LASIK adalah prosedur bedah refraktif menggunakan laser untuk membentuk ulang kornea, agar cahaya bisa terfokus secara benar ke retina, sehingga pandangan bisa lebih jelas tanpa kacamata ataupun lensa kontak. Sayangnya, tidak semua orang, nih yang bisa serta-merta menjalani LASIK. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut kondisi ideal bagi calon kandidat yang ingin melakukan LASIK

  1. Usia minimal 18 tahun, agar refraksi mata relatif stabil.
  2. Refraksi/level minus/plus atau silinder sudah stabil dalam jangka waktu minimal 6–12 bulan.
  3. Kornea dengan ketebalan cukup, karena prosedur melibatkan pembentukan flap pada kornea.
  4. Mata dan kondisi kesehatan harus dalam keadaan prima dan baik menurut standar keumuman. Bebas dari penyakit mata serius seperti glaukoma, katarak, keratokonus, serta tidak dalam kondisi hamil atau menyusui.
  5. Tidak memiliki gangguan mata berat seperti sindrom mata kering parah, infeksi mata aktif, atau komplikasi lain yang bisa menghambat pemulihan.

Jika semua syarat ini terpenuhi, peluang untuk mendapatkan hasil optimal dari LASIK cukup besar, dan hal ini menjadi sebuah titik awal harapan bagi mereka yang ingin melepaskan ketergantungan pada kacamata.

Apa Saja yang Diperiksa Ketika Akan Menjalankan Operasi?


Dari rasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk menjalani pemeriksaan mata komprehensif terlebih dahulu. Dokter akan mengecek banyak hal, ketebalan kornea, stabilitas refraksi, kesehatan kornea secara keseluruhan, serta kondisi umum tubuh. Prinsipnya, jangan hanya tergoda hasil bagus, tetapi pastikan semua parameter aman.

Jika lolos pemeriksaan, barulah dokter menyarankan apakah LASIK cocok untuk dijalani. Bila ternyata ada “tanda merah” atau kornea tipis, refraksi tidak stabil, atau ada penyakit mata, maka pilihan terbaik adalah menunggu atau mempertimbangkan alternatif lain.

Bagi beberapa orang, keputusan ini bisa jadi berat. Tetapi bagiku, lebih baik menerima kenyataan “tidak cocok sekarang” daripada mengambil risiko jangka panjang. Karena kesehatan mata bukan sekadar soal jelas tidaknya pandangan hari ini, tapi kualitas penglihatan masa depan.


Memahami Persyaratan Itu Penting Sebagai Langkah Bijak


Dengan memahami syarat-syarat di atas, aku merasa lebih bijak dalam membuat keputusan. LASIK bisa jadi solusi menarik, tapi bukan untuk semua orang. Bila dilaksanakan tanpa pertimbangan matang, bisa terjadi komplikasi seperti flap kornea tidak stabil, mata kering, atau ketidaknyamanan pasca operasi.

Berbekal pemahaman itu, aku merasa lebih siap. Jika suatu saat memutuskan untuk LASIK, bukan karena tren atau ikut-ikutan, melainkan karena yakin bahwa kondisi mataku cocok dan hasilnya bisa mendukung aktivitas mengajar, riset, dan bahkan keinginan membuat konten parenting tanpa hambatan kacamata. Satu yang paling penting, aku harus nyaman dengan keputusanku. Menjalaninya dengan suka cita.

Jadikan Merawat Mata sebagai Bagian dari Rutinitas


Mata adalah aset penting, nggak cuma untuk hari ini dan sekarang, tapi untuk masa depan. Dengan menerapkan kebiasaan sehat seperti makan bergizi, istirahat mata, melindungi mata dari paparan sinar & polusi secara langsung, dan melakukan pemeriksaan rutin, kita bisa membentengi asset jendela dunia kita dari kerusakan dan masalah penglihatan yang membuat hidup kita tidak nyaman.

BAiklah Sainers, cukup sampai di sini ya cerita dan waktu berbagi kita tentang LASIK mata. Semoga artikel ini menginspirasi kamu untuk mulai peduli pada kesehatan mata. Jangan anggap ini sesuatu yang merepotkan, lakukan dengan suka cita dengan menerapkan kebiasaan kecil positif yang diterapkan setiap hari. Bukankah memiliki mata yang sehat sama dengan memiliki kehidupan yang nyaman dan penuh warna.

Stay sharp, stay healthy Sainers!



Bahaya Kecanduan Gadget, Dampak pada Otak dan Cara Mengatasinya Ala Bunda Elly Risman

Jumat, 21 November 2025
Sabtu pagi, 11 Oktober 2025, udara Serang terasa segar saat langkah kaki menapaki lantai lobi Hotel Ledian. Di ruang seminar yang hangat, nampak ratusan wajah orang tua, guru PAUD, dan para pemerhati pendidikan yang tampak duduk dengan penuh antusias. Ada keresahan yang sama terpancar di mata para peserta seminar. Banyak pertanyaan berkecamuk mempertanyakan, bagaimana masa depan anak-anak kita di tengah derasnya arus digital?


seminar parenting elly risman



Seminar parenting bersama Ibu Elly Risman ini mengangkat tema “Parenting Kolaboratif untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Era Digital.” Sebuah tema yang sedang ramai dibicarakan dan menjadi kegelisahan banyak kalangan, orang tua, guru, hingga pemerhati pendidikan.

Sebab di balik kemajuan teknologi yang kita banggakan, tersimpan sisi gelap yang mengintai anak-anak: akses informasi tanpa batas, paparan konten tidak layak, dan peluang kekerasan seksual digital yang makin sulit dikontrol. Dunia maya kini tak lagi sekadar tempat bermain, tapi juga ruang berisiko yang bisa mencederai masa depan mereka jika orang tua abai.

Ruangan sejuk yang nyaman ini dipenuhi para orang tua, guru, dan pendidik yang datang dengan berbagai rasa ingin tahu. Ketika Bu Elly Risman membuka seminar, suasana langsung terasa hangat. Beliau memulai dengan ajakan yang unik, “Angkat tangan kiri, usapkan ke kepala, dan katakan: hal yang menyenangkan akan memudahkan kita memahami sesuatu.” Seketika ruangan riuh oleh tawa. Suasana cair, tapi pesan yang disampaikan begitu dalam.

Bu Elly membuka sesi dengan nada yang lembut tapi penuh penegasan diwarnai perumpamaan “Kalau dulu kita khawatir anak jatuh dari sepeda, sekarang kita harus khawatir mereka jatuh di dunia maya.”
Kalimat itu seketika membuat ruangan terdiam. Semua mata terarah, semua hati tertohok. Karena setiap orang tua di ruangan itu tahu, kekhawatiran itu nyata.

Dalam sesi itu, Bu Elly menyampaikan sesuatu yang membuat dada saya bergetar, dan saya yakin juga hal yang sama dialami oleh orang tua lainnya. Kecanduan gadget bukan sekadar masalah kebiasaan, tapi gangguan pada fungsi otak yang bisa merusak kemampuan anak untuk fokus, berempati, dan mengendalikan diri.

Bu Elly lalu mengajak peserta merenung, “Anak-anak kita sekarang tumbuh di dunia yang tidak lagi kita kenal.” Kalimat itu seperti membuka gerbang kesadaran. Dunia digital yang dulu terasa menyenangkan, kini justru membuat banyak orang tua kehilangan kendali.

Di sinilah Bu Elly mulai menyinggung peran gadget dalam kehidupan anak. Awalnya hanya sebagai hiburan, pengalih tangis, atau teman saat makan. Namun perlahan, gawai itu mengambil alih fungsi-fungsi penting di otak anak.

“Coba perhatikan,” ujar Bu Elly sambil tersenyum getir, “anak yang terlalu lama di depan layar sering sulit fokus, cepat marah, bahkan tidak bisa diam tanpa gadget di tangannya.”

Beliau kemudian memaparkan hasil penelitian dan data nyata yang menggugah hati: paparan layar berlebihan bisa mengganggu area prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Otak anak yang seharusnya berkembang melalui interaksi langsung dan pengalaman nyata, justru dibanjiri stimulasi instan dari layar.
Akibatnya, anak lebih mudah stres, sulit berempati, dan mengalami ketergantungan terhadap sensasi cepat yang diberikan gawai.

Di tengah suasana serius itu, Bu Elly tiba-tiba memberi ice breaking khasnya, “Sekarang, angkat tangan kirinya, usapkan ke kepala, dan bilang: aku orang tua hebat yang sedang belajar, jika kita selalu bahagia maka proses belajar akan berjalan menyenangkan!”

Tawa kecil pun terdengar di ruangan. Semua peserta menepuk kepala masing-masing sambil tersenyum.
Ketenangan kembali hadir, seolah pesan tadi meneguhkan: menjadi orang tua memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari dengan hati yang lapang.

Realita yang Menyedihkan: Ketika Gadget Menggeser Peran Orang Tua


Dalam seminar itu, Bu Elly memaparkan fakta yang membuat ruangan mendadak sunyi. Ia menyebutkan bahwa ratusan anak kini dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua, Jawa Barat, karena kecanduan gawai dan gim daring. Di Surabaya, RSJ Menur bahkan melaporkan lebih dari 3.000 kasus anak dan remaja yang memerlukan perawatan akibat adiksi gadget hanya dalam satu tahun terakhir.

“Bahkan ada RSJ yang penuh hanya karena menerima pasien korban gawai,” tutur Bu Elly lirih. Beberapa rumah sakit lain, lanjutnya, menolak pasien dengan alasan belum memiliki fasilitas untuk menangani kecanduan digital pada anak-anak. Sebuah kenyataan yang ironis di tengah masyarakat modern yang menganggap gawai sebagai kebutuhan pokok.

Kita mungkin berpikir anak yang bermain gawai hanyalah sedang bersenang-senang. Tapi di balik layar itu, otaknya sedang bekerja keras melawan stimulasi berlebihan yang menyerupai efek narkoba. Anak-anak yang seharusnya bermain di luar ruangan kini terperangkap dalam dunia maya yang membuat mereka kehilangan kemampuan menikmati realitas.

Pernyataan itu membuat ruangan hening seketika. Rasanya seperti tamparan lembut bagi kami, para orang tua yang sering kali menenangkan anak dengan gawai, bukan dengan pelukan. Di panggung depan, sosok Bu Elly Risman berdiri dengan senyum hangat seperti ibu yang akan menegur dengan cinta. Dari sinilah, kisah dan kesadaran besar itu bermula.

Bu Elly tidak hanya berbicara dengan data dan teori, melainkan dengan hati seorang ibu, seorang psikolog, dan seorang pendidik yang telah puluhan tahun menyaksikan perubahan generasi. Kata-katanya lembut, tetapi menampar kesadaran banyak orang tua:

“Anak-anak kita sedang butuh kita. Jadilah orang tua yang sadar, bukan sekadar ada.”

Seketika banyak kepala menunduk dan hati bergetar. Betapa banyak di antara kita yang hadir secara fisik di rumah, tapi jiwa kita tersedot ke layar gawai. Anak duduk di depan kita, tetapi perhatian kita beralih ke notifikasi. Dan perlahan, tanpa kita sadari, jarak emosional terbentuk antara orang tua dan anak.


dampak gadget bagi anak


Dari Dopamin ke Disfungsi Otak: Bagaimana Gadget Mengubah Struktur Otak Anak


Penjelasan Bu Elly kemudian beralih ke sisi ilmiah. Ia menjelaskan bahwa setiap kali anak bermain gim, menonton video pendek, atau mendapat “like”, otaknya mengeluarkan zat kimia bernama dopamin, hormon yang memberi sensasi senang dan puas.

Namun, dopamin ini ibarat pisau bermata dua. Semakin sering dikeluarkan akibat rangsangan layar, otak menjadi terbiasa dengan level kesenangan tinggi yang instan. Lama-kelamaan, anak kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal sederhana seperti bermain pasir, menggambar, atau sekadar bercengkerama dengan keluarga.

Penelitian ilmiah mendukung hal ini. Sebuah studi berjudul Digital Addiction and its Relationship with Cognitive Function among Children (2024) menemukan bahwa semakin tinggi tingkat adiksi digital, semakin rendah kemampuan anak dalam fokus, memori, dan pengendalian emosi. Anak menjadi mudah marah, sulit konsentrasi, dan kehilangan semangat belajar.

Bukan hanya itu. Riset di Amerika Serikat terhadap lebih dari 50.000 anak menunjukkan bahwa anak yang menggunakan layar lebih dari empat jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur, bahkan gejala ADHD. Semua ini bukan karena anak nakal, tetapi karena struktur otaknya berubah akibat paparan dopamin berlebihan dari layar.


Kisah Nyata dari Lapangan: Anak yang Kehilangan Masa Kecilnya


Banyak laporan di lapangan menunjukkan anak-anak yang terlalu lama terpapar layar mengalami gangguan konsentrasi, emosi, bahkan kehilangan minat terhadap interaksi sosial di dunia nyata. Fenomena ini menjadi perhatian serius para psikolog dan pemerhati anak, termasuk Bu Elly Risman, yang menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah adiksi sejak dini.

Ada pula seorang gadis kecil yang dulunya periang, kini menjadi pendiam dan mudah tersinggung. Ia kehilangan kemampuan menulis dengan tangan karena terlalu terbiasa mengetik di layar. Kasus-kasus seperti ini bukan lagi cerita luar negeri,  ini terjadi di sekitar kita.

Penelitian di Palembang menunjukkan bahwa anak-anak yang kurang mendapat pengawasan orang tua memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecanduan gadget. Sementara di Sulawesi Utara, 83,7% anak sekolah dasar tercatat menggunakan gawai melebihi batas wajar, dan 84,8% di antaranya mengalami gangguan perilaku dan emosi.

Penjelasan Bu Elly tak berhenti di situ. Dengan gaya khasnya yang penuh energi dan keibuan, beliau menggambarkan betapa otak anak itu seperti tanah subur yang bisa ditanami apa pun, tergantung apa yang paling sering mereka terima.

Jika yang mereka lihat dan dengar setiap hari adalah suara dari layar, bukan suara ibu, atau cahaya dari gawai, bukan sinar wajah orang tua, maka tumbuhlah koneksi otak yang salah arah.

Secara ilmiah, para ahli neurosains menjelaskan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak anak. Bagian prefrontal cortex, yang berperan dalam mengontrol emosi dan membuat keputusan, menjadi kurang aktif karena anak jarang menggunakan kemampuan berpikir panjang atau menunda kesenangan.

Sementara bagian otak yang berhubungan dengan sistem reward, tempat rasa senang dan candu terbentuk, mengalami bekerja terlalu keras akibat stimulasi cepat dari gim, video, dan media sosial.
Inilah yang kemudian memunculkan gejala mirip kecanduan narkoba digital,  anak sulit berhenti, cepat marah saat gadget diambil, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sosial.

Penelitian dari Frontiers in Psychology (2023) menunjukkan bahwa paparan layar lebih dari tiga jam sehari dapat menghambat perkembangan white matter, yaitu jaringan otak yang berfungsi menghubungkan berbagai area penting untuk belajar dan berbahasa. Sementara riset lain di JAMA Pediatrics (2022) menemukan adanya kaitan kuat antara durasi penggunaan layar dengan meningkatnya gangguan perhatian dan perilaku impulsif pada anak-anak usia sekolah dasar.

Bu Elly menegaskan, “Inilah mengapa kita melihat anak-anak kini lebih mudah meledak, cepat bosan, dan sulit diatur. Bukan karena mereka nakal, tapi karena otaknya sedang kelelahan.” Kalimat pemaparan dari Bu Elly tersebut disambut dengan anggukan panjang dari para peserta, beberapa bahkan tampak menahan haru.

Semua ini menunjukkan bahwa krisis yang kita hadapi bukan semata krisis teknologi, tapi krisis keterikatan emosional antara orang tua dan anak.

Pola Asuh Digital: Hadir Sepenuh Hati, Bukan Sekadar Fisik


Bu Elly kemudian menatap para peserta satu per satu. Dengan suara lembut tapi tegas, beliau berkata,

“Kuat ya jadi orang tua. Jadilah orang tua yang siap membersamai anak!”

Kata membersamai mengandung makna yang dalam. Ia bukan sekadar mengawasi, tapi menemani. Anak butuh contoh, bukan ceramah. Butuh dipeluk, bukan disalahkan. Butuh kehadiran, bukan sekadar perhatian lewat tatapan singkat dari balik layar.

Dalam Islam, Rasulullah SAW sudah memberi teladan mendalam tentang pentingnya kedekatan emosional dengan anak. Beliau memeluk Hasan dan Husain, menggendong cucunya ketika shalat, dan selalu berbicara dengan lembut. Beliau menunjukkan bahwa cinta yang tulus menjadi pondasi utama pendidikan anak.

Sabda Rasulullah SAW bahwasannya “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di era digital ini, bisa kita tambahkan dengan sebuah perumpamaan bahwa orang tualah yang menentukan arah pendidikan anak, apakah anak tumbuh sebagai pribadi sadar digital atau malah menjadi korban teknologi.

peran keluarga dari dampak buruk gadget


Buat Langkah Nyata, Ciptakan Kehangatan dalam Rumah


Setelah mengguncang kesadaran dengan fakta-fakta yang menggetarkan, Bu Elly tidak membiarkan para peserta larut dalam rasa bersalah. Dengan suara lembut, beliau berkata,

“Tenang, kita tidak terlambat. Asal mau berubah, insyaAllah, Allah akan membantu kita.”

Kalimat itu menembus hati banyak orang tua di ruangan itu. Ada yang menunduk, ada yang mengusap air mata. Karena sesungguhnya, menjadi orang tua di era digital ini bukan tugas yang mudah. Tapi bukan berarti kita kalah. Justru di sinilah perjuangan sejati dimulai,  perjuangan merebut kembali hati anak-anak kita dari genggaman layar.

Bu Elly kemudian memberi arahan yang sangat praktis, sederhana, tapi berdampak besar. Beberapa tips yang saya rangkumkan ini semoga bisa menjadi pegangan bagi kita para orang tua untuk menata kembali apa yang mungkin sempat terserak.

1. Membangun Komunikasi yang Hangat dan Penuh Empati


Seringkali anak-anak beralih ke gadget bukan karena candu teknologi, tapi karena rindu perhatian. Mereka ingin didengar, tapi orang tua sibuk. Mereka ingin ditemani, tapi yang menatap mereka hanyalah layar.

Mulailah dari hal sederhana yaitu  menyapa anak dengan tatapan mata, mendengarkan ceritanya tanpa memotong, atau sekadar bertanya, “Hari ini kamu merasa senang tentang apa?” Komunikasi yang lembut adalah pintu awal untuk memulai hubungan baik. 

Penelitian dari Harvard Center on the Developing Child menunjukkan bahwa hubungan emosional yang kuat antara anak dan orang tua mampu menurunkan risiko kecanduan digital hingga 45%. Artinya, cinta dan kehadiran bisa menjadi terapi yang lebih ampuh dari pada sebuah aturan yang mengekang anak. 

2. Tetapkan Aturan Waktu Layar (Screen Time) melalui Kesepakatan Bersama


Bu Elly menekankan bahwa batasan tidak harus melulu berupa hukuman, namun bisa dibuat seperti sebuah kesepakatan yang dibuat oleh seluruh anggota keluarga, misalnya dengan menyepakati aturan tidak ada gawai saat makan, tidak bermain gawai sebelum shalat, atau tidak boleh menonton sebelum tugas sekolah selesai. Selain itu tentukan alternatif pilihan gim edukatif yang layak dimainkan oleh anak.

Ketika aturan dibuat bersama, anak merasa dihargai dan ikut memiliki tanggung jawab. Mereka akan memperoleh pembelajaran berharga dan akan memahami sebuah komitmen. Belajar disiplin bukan karena takut dimarahi, tapi juga karena memahami arah tujuan dari kesepakatan yang dibuat.


“Anak bukan untuk dikontrol, tapi untuk diarahkan,” ujar Bu Elly.


3. Ganti Kegiatan Waktu Layar (Screen Time) dengan Aktivitas Bermakna


Anak-anak tidak bisa hanya dilarang tanpa diberikan alternatif pilihan. Jika waktu layar yang biasa anak gunakan dikurangi, maka ruang kosong itu harus diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Bu Elly memberi contoh sederhana lewat bermain peran, memasak bersama, berkebun, atau membaca kisah Nabi sebelum tidur.

Aktivitas nyata seperti ini memberi stimulasi sensorik dan emosional yang tidak bisa digantikan oleh layar. Sebuah penelitian dari American Academy of Pediatrics (AAP) menunjukkan bahwa bermain langsung dengan orang tua meningkatkan kemampuan bahasa, empati, dan kontrol diri anak secara signifikan.

Dan hal yang paling membahagiakan adalah ketika anak kembali menemukan kebahagiaan sejatinya, yaitu bisa tertawa tanpa filter layar, tangan yang dipenuhi debu, pelukan yang nyata, dan perhatian tanpa sinyal WiFi.

4. Tunda pemberian gawai pribadi selama mungkin


Banyak orang tua memberi anak ponsel dengan alasan keamanan atau agar tidak ketinggalan zaman. Tapi Bu Elly mengingatkan,

“Anak tidak akan kehilangan masa kecilnya karena tidak punya HP, tapi bisa kehilangan masa kecil yang sangat bermakna karena terlalu cepat memilikinya dan menikmatinya.”

Anak yang belum matang secara emosi belum siap menghadapi derasnya arus informasi digital. Sebuah Studi yang dilakukan oleh University of Michigan menunjukkan bahwa anak yang memiliki ponsel pribadi sebelum usia 13 tahun berisiko dua kali lebih tinggi mengalami adiksi digital dan kesulitan fokus belajar.

Lebih baik sedikit “terlambat” daripada anak-anak kita kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan merasakan dampak negatif dari gadget. Termasuk ke dalam penyebab anak mudah tantrum adalah dampak negativ dari gadget.

5. Menjadikan Rumah Menjadi Tempat Kembali yang Aman dan Nyaman Bagi Anak


“Kalau rumah tidak lagi nyaman, anak akan mencari pelarian, dan saat ini pelarian yang sangat membuat anak nyaman dan kecanduan itu bernama gadget.” Tutur Bu Elly.

Rumah yang penuh cinta, tawa, dan kedamaian adalah benteng terakhir melawan badai digital. Tidak perlu rumah yang besar dan mewah dalam bentuk ukuran namun rumah yang dipenuhi kehangatan dan bermakna yang dirindukan para penghuninya.

Bahkan dalam Islam, Allah menegaskan tujuan pernikahan dan keluarga adalah untuk menciptakan sakinah, dalam artian ketenangan jiwa. Allah berfirman dalam Qur'an surat Ar-rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Ketika kasih dan rahmah itu hadir di dalam rumah, maka para penghuninya akan merasa nyaman dan anak-anak tidak lagi mencari cinta di layar. Mereka akan menemukan kebahagiaan di pelukan orang tuanya sendiri. Orang tua bagi mereka adalah tempat pelarian yang paling tepat dan tempat persinggahan yang paling aman dan nyaman.

6. Doa dan kesadaran diri sebagai sumber kekuatan orang tua


Bu Elly memaparkan dengan ajakan lembut. Nasihat yang diberikan begitu meyentuh hati.


“Jangan marahi anak karena kecanduan gawai. Beri pelukan, karena dia sedang sakit, mereka bukan sosok  jahat. Mohonlah pertolongan Allah, karena Allah lah yang berkuasa untuk membolak-balik hati manusia.”


Selain usaha yang kita lakukan, jangan lupa iringi dengan do'a, karena do'a akan menjadi energi yang menenangkan. Ketika orang tua memperbaiki diri,  menurunkan nada suara, memperbaiki komunikasi, dan memperbanyak doa, maka pengharapan yang kita panjatkan akan sampai ke hati anak.

Anak bukan hanya belajar dari apa yang kita katakan, tapi dari siapa kita. Maka tugas orang tua bukan hanya mendidik anak, tapi juga terus mendidik diri sendiri agar lebih bijak, lebih sabar, dan lebih hadir.


Doa, Harapan, dan Tanggung Jawab Kita Sebagai Orang Tua di Era Digital


Ketika seminar bersama Bu Elly Risman berakhir, suasana ruangan berubah menjadi hening. Tak ada lagi tawa keras, hanya suara napas dan mata yang berkaca-kaca. Beberapa peserta menunduk dalam, merenungi perjalanan mereka sebagai orang tua di tengah derasnya arus digital.

Saya pun tak bisa menahan haru. Di satu sisi, rasa bersalah muncul  berapa kali saya tanpa sadar menatap layar ketika anak ingin bercerita? Berapa kali saya menenangkan anak dengan memberi gawai, bukan pelukan? Tapi di sisi lain, ada harapan baru: kita bisa berubah, dan belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Bu Elly menutup dengan kalimat yang terus terngiang di telinga:

“Anak-anak tidak butuh orang tua sempurna, mereka butuh orang tua yang mau belajar.”

Kalimat sederhana, tapi dalamnya luar biasa. Karena pada dasarnya, tugas kita bukan melahirkan anak yang hebat di dunia maya, tapi anak yang kuat di dunia nyata. Bukan sekadar pintar menggunakan teknologi, tapi bijak menundukkannya.

Menghadirkan Allah dalam Pengasuhan Digital


Dalam perspektif Islam, anak adalah amanah. Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini bukan sekadar perintah melindungi dari maksiat, tapi juga peringatan agar kita menjaga keluarga dari setiap hal yang bisa merusak jiwa — termasuk adiksi gawai, tontonan yang tidak layak, dan hilangnya kedekatan spiritual karena terlalu larut dalam dunia digital.

Maka pengasuhan digital sejatinya bukan sekadar soal manajemen waktu layar, tetapi manajemen hati. Bagaimana orang tua menumbuhkan kesadaran diri, menguatkan hubungan batin dengan anak, dan menghadirkan Allah di tengah interaksi keluarga.

Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan itu dengan indah. Beliau mendidik dengan kelembutan, menegur tanpa menghina, dan selalu memberi ruang bagi cinta. Dalam dunia yang semakin bising oleh teknologi, keteladanan Nabi adalah kompas agar kita tidak tersesat.

Membangun Generasi yang Melek Digital dan Tangguh Secara Emosional


Kecanduan gadget bukan hanya masalah teknologi, tapi juga krisis perhatian dan keterikatan emosional. Anak-anak yang tumbuh dengan cinta, disiplin, dan kehadiran orang tua akan lebih kuat menghadapi godaan digital.

Orang tua masa kini harus menjadi role model digital bagi anak-anaknya. Tunjukkan bahwa kita pun mampu menahan diri, mampu meletakkan ponsel ketika sedang berbicara dengan keluarga, mampu mengisi waktu luang dengan hal-hal produktif. Anak belajar bukan dari perintah, tapi dari teladan.

Sebagaimana pepatah Arab yang sering dikutip Bu Elly:

الولد سر أبيه  “Anak adalah rahasia dari orang tuanya.”

Artinya, perilaku anak adalah cerminan dari keadaan hati dan kebiasaan orang tuanya.


Jika kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bijak, maka kebijaksanaan itu harus dimulai dari kita sendiri.


Mari berhenti sejenak dari layar, lalu pandang wajah anak-anak kita. Tatap mata mereka, di sana ada harapan, cinta, dan masa depan bangsa. Jangan biarkan cahaya di mata mereka padam karena terlalu lama disinari oleh layar gawai. Mulailah hari ini dengan langkah kecil. Letakkan ponsel ketika anak berbicara. Dengarkan tanpa menghakimi. Peluk tanpa syarat. Berdoalah setiap malam agar Allah menjaga hati anak-anak kita dari hal yang melalaikan. Karena sesungguhnya, gadget bukan musuh, tapi alat. Dan alat akan baik jika berada di tangan yang bijak.

Kita bukan sedang berperang melawan teknologi, tetapi sedang berjuang mempertahankan kemanusiaan agar anak-anak kita tetap punya hati yang peka, mata yang jernih, dan jiwa yang sehat di tengah dunia digital yang bising.

Kecanduan gadget pada anak bukan sekadar isu perilaku, tapi krisis emosional dan spiritual yang berakar dari hubungan antara anak dan orang tua. Pola asuh dalam menerapkan kebijakan penggunaan alat digital yang tepat bisa disampaikan dengan komunikasi yang hangat melalui pembatasan waktu layar yang bijak, aktivitas pengganti yang bermakna, serta kehadiran penuh cinta dan doa, menjadi kunci utama dalam menjaga fungsi otak anak dan keseimbangan jiwanya.

Perlu kiranya dipahami bahwa kita tidak sedang menyelamatkan anak-anak dari sebuah penampakan layar semata, tapi lebih besar dari itu, kita sedang menyelamatkan masa depan mereka dari kehilangan arah dan kehilangan jati diri krena pengaruh kejahatan dunia digital yang tanpa batasan.

Saatnya Menjadi Orang Tua yang Hadir


Ketika seminar usai, sebagian peserta masih enggan beranjak. Ada yang menunduk sambil menatap layar ponselnya sendiri, seolah baru menyadari bahwa benda kecil di tangan itu ternyata punya kuasa besar atas hubungan mereka dengan anak.

Pesan Bu Elly terasa membekas: “Kecanduan gadget bukan hanya soal anak, tapi soal siapa yang paling sering memberinya.”

Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh jantung persoalan. Di era digital ini, menjadi orang tua berarti bukan hanya memberi makan dan pendidikan, tetapi juga melindungi otak, jiwa, dan fitrah anak dari racun visual yang tak kasat mata.

Ilmu neurosains kini sejalan dengan nilai-nilai Islam. Otak anak berkembang paling pesat saat mereka bermain, berbicara, dan berinteraksi langsung dengan orang tua. Stimulasi dari layar bersifat cepat dan instan, tetapi tidak meninggalkan bekas mendalam dalam memori jangka panjang anak.

Sebaliknya, pengalaman nyata , seperti pelukan, doa, dan waktu bersama akan menumbuhkan hormon kebahagiaan alami seperti oxytocin, yang memperkuat ikatan kasih dan rasa aman. Islam telah lebih dulu mengajarkan bahwa kehadiran orang tua adalah rahmah bagi anak, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:


Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua. (HR. Ahmad)


 Ayat dan hadis ini bukan hanya pedoman moral, tetapi juga panduan neuropsikologis yang relevan di zaman modern.


Ketika kasih sayang hadir, otak anak pun tumbuh sehat.


Kini, tiba waktunya kita sebagai orang tua harus segera membangkitkan kesadaran kita. Ingatkan diri kita, bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua di era digital ini memang dibutuhkan perhatian dan kewaspadaan yang tinggi. 

Usahakan hari demi hari yang dilalui oleh buah hati kita diisi dengan penuh kenhangatan dan hal yang bermanfaat, tentunya hal itu akan bisa terpenuhi jika kita bisa hadir secara penuh pula dalam kehidupan mereka.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya, apakah layar kecil yang sangat menarik itu  sedang membantu tumbuh kembang buah hati kita,  atau justru menggantikan peran kita sebagai orang tua? Yuk, segera sadar diri.

Menjadi orang tua di era digital memang tak mudah. Tapi seperti yang selalu diingatkan Bu Elly dalam seminarnya, “Kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, namun berusahalah untuk menjadi orang tua yang cukup sadar dan mau belajar. Karena anak-anak kita tidak butuh orang tua yang hebat, yang  mereka butuhkan adalah orang tua yang hadir dan membersamai mereka.”



Referensi


Seminar Parenting Bersama Psikolog  Bunda Elli Risman

Apik Lestari, C., Zikrinawati, K., & Ikhrom, I. (2025). Dampak overstimulasi konten digital terhadap pemusatan perhatian anak (6-12 tahun). Paedagogy: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, 5(1). https://doi.org/10.51878/paedagogy.v5i1.4941

Hartati, I. P., Safitra, L., & Susiyanto, S. (2025). Gadget addiction and changes in social interactions among early childhood children in Betungan, Bengkulu City. Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial, 7(1). Retrieved from https://ojs.unimal.ac.id/dialektika/article/view/22154

Irzalinda, V., & Latifah, M. (2024). Screen time and early childhood well-being: A systematic literature review approach. Journal of Family Sciences, 9(1). Retrieved from https://journal.ipb.ac.id/index.php/jfs/article/view/49792

Pandan Sari, T. A., Novitawati, N., & Sulaiman, S. (2024). Pengaruh interaksi orang tua dan screen time terhadap kemampuan sosial emosional dan berbicara anak taman kanak-kanak. Journal of Education Research (JER), 3(2). Retrieved from https://jer.or.id/index.php/jer/article/view/1420

Wulandari, D., & Hermiati, D. (2024). Deteksi dini gangguan mental dan emosional pada anak yang mengalami kecanduan gadget. Jurnal Keperawatan Silampari, 7(2). Retrieved from https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/JKS/article/view/843




Memahami Murji'ah: Dari Konflik Politik Hingga Doktrin Iman dan Amal

Kamis, 20 November 2025
Coba bayangkan jika kita hidup di masa awal lahirnya Islam, setelah era para sahabat besar. Kota-kota besar seperti Kufah dan Basrah bukan lagi tempat damai, melainkan kancah debat panas dan bahkan pertumpahan darah. Umat Islam terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan. Ada yang sangat keras menghakimi penguasa seperti Khawarij, ada juga yang fanatik membela keluarga tertentu seperti Syi'ah, dan ada pula yang memegang kendali kekuasaan. 


sejarah murjiah dan pemikirannya



Suasana saat itu benar-benar mencekam. Di tengah hiruk pikuk kebencian politik,  muncullah sekelompok orang yang merasa jenuh dan lelah. Mereka tidak ingin memilih salah satunya, apalagi ikut-ikutan menunjuk hidung dan memvonis sesama Muslim sebagai kafir. Kelompok inilah yang dikenal sebagai Murji'ah. 

Gerakan mereka dimulai bukan dari teologi, melainkan dari teriakan hati yang ingin mencari kedamaian dan persatuan. Mari kita telusuri bagaimana sikap netral kelompok ini yang akhirnya melahirkan salah satu doktrin teologi paling kontroversial dalam sejarah Islam.

Perpecahan umat Islam di masa lalu bukanlah isu baru. Sama halnya seperti kelompok Khawarij, kemunculan Murji'ah juga berakar kuat dari persoalan politik dan keprihatinan mendalam terhadap skisma (perpecahan) yang melanda.

Pada masa itu, dunia Islam diwarnai oleh permusuhan antara tiga kekuatan politik utama yaitu Khawarij, Syi’ah, dan kelompok Muawiyah yang selanjutnya mendirikan Dinasti Umawi.

Kelompok Khawarij adalah penentang keras Ali bin Abi Thalib dan kemudian memusuhi Dinasti Umawi karena dianggap telah menyeleweng dari ajaran Islam. Sedangkan Syi’ah merupakan pendukung fanatik Ali. Mereka menentang Dinasti Umawi karena menilai dinasti ini telah merampas kekuasaan yang sah dari Ali dan keturunannya.


Murji'ah: Kelompok Netral yang Mendamba Persatuan


Dalam suasana konflik yang memanas, lahirlah sebuah komunitas baru yang dikenal dengan nama  Murji’ah. Rasa trauma karena munculnya pertentangan politik di kalangan internal umat muslim yang notabene sebagai kelompok mayoritas menjadikan mereka memiliki rencana untuk mempersatukan kembali perpecahan ini.  

Untuk mencapai tujuan ini, mereka mengambil sikap netral. Mereka menolak ikut serta dalam praktik saling mengkafirkan yang dilakukan oleh golongan yang bertikai. Menurut pandangan mereka, para sahabat yang terlibat dalam pertikaian itu adalah orang-orang yang baik dan tidak keluar dari ajaran Islam.

Sikap netral ini diwujudkan dengan sikap diam dan menunda (arja’) penyelesaian persoalan siapa yang benar dan salah dalam pertikaian tersebut ke hari perhitungan di hadapan Tuhan kelak. Dengan kata lain, Murji’ah pada mulanya mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertikai itu kepada Tuhan semata di akhirat. (Ramzan, Rahman, 2024)

Menurut pakar sejarah Islam Azyumardi Azra, perpecahan politik ini menjadi latar belakang penting kemunculan Murji'ah. Pernyataan ini tercantum dalam bukunya yang berjudul pergolakan Politik Islam 


Hukum Pendosa Besar: Kenapa Murji'ah Berbeda dari Khawarij?


Dari ranah politik, Murji’ah segera merambah ke ranah teologi. Pernyataan hukum seorang pendosa besar yang sebelumnya hangat dibahas oleh Khawarij, menjadi fokus pembahasan di kalangan murjiah.

Berbeda dengan Khawarij yang memvonis pendosa besar sebagai kafir, Murji’ah tetap memandang mereka sebagai Mukmin. Berbeda dengan Khawarij yang memvonis pendosa besar sebagai kafir, Murji’ah tetap memandang mereka sebagai mukmin. Pandangan ini diuji dalam studi teologis kontemporer yang menunjukkan bahwa Murji’ah menekankan iman  atas perbuatan atau amal.(Ramzan, Rahman, 2024). Penyelesaian perihal dosa besarnya itu, menurut Murji’ah, ditunda (arja’) hingga hari pengadilan akhirat nanti.

Argumentasi mereka sederhana. Murji'ah menganggap bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap mengakui syahadat yang berbunyi Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul-Nya. Oleh karena itu, orang yang melakukan dosa besar tetap mukmin dan bukan kafir (wahyuni, Santalia, 2024).

Arti Kata Arja’ / Irja’


Kata arja’ atau irja’ yang melandasi nama Murji’ah memiliki dua makna utama, sebagaimana dijelaskan oleh al-Syahrastani:

1. Penundaan (Irja’ sebagai Penundaan). Makna yang bernuansa politis, karena menunjukkan penangguhan keputusan terhadap orang Muslim yang berdosa besar, termasuk di dalamnya penguasa yang bertikai pada pengadilan di akhirat nanti.

2. Pengharapan (Irja’ sebagai Pengharapan). Makna ini muncul setelahnya dan bernuansa teologis. Orang yang berpendapat bahwa Muslim pendosa besar tetap mukmin dan tidak akan kekal di neraka, memang memberikan pengharapan bagi mereka untuk mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla (Hafiza, Mutrofin, 2023)

Makna kedua ini juga mengimplikasikan bahwa segala perbuatan ditempatkan sebagai unsur sekunder dan bukan esensial dalam struktur iman. Dengan demikian, muncul harapan bagi pelaku dosa besar untuk masuk surga, baik secara langsung maupun setelah menerima hukuman di neraka.

Klasifikasi Murji'ah: Moderat dan Ekstrem


Seiring waktu, Murji’ah terpecah menjadi berbagai sekte kecil. Para ahli mengklasifikasikannya berdasarkan berbagai parameter. Menurut kategorisasi Harun Nasution, Murji’ah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu:


1. Murji'ah Moderat


Doktrin esensial kelompok Murji'ah moderat adalah menganggap Muslim yang melakukan dosa besar tidak kafir dan tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka akan dihukum di neraka sesuai kadar dosanya, namun ada kemungkinan Tuhan mengampuni dosanya sehingga langsung masuk surga.

Tokoh-tokoh yang termasuk golongan moderat ini antara lain: al-Hassan Ibn Muhamad Ibn Ali Ibn Abi Thalib, Abu Yusuf, beberapa ahli hadis, dan yang paling terkenal adalah Imam Abu Hanifah. (Al-Syahrastani, Al-Milal wa an-Nihal, 146).

Imam Abu Hanifah mendefinisikan iman sebagai pengetahuan dan pengakuan tentang Tuhan, tentang rasul-rasul-Nya dan tentang segala apa yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan dan bukan hal yang terbagi seperti iman tidak mempunyai sifat bertambah atau berkurang, dan tidak ada perbedaan antara manusia dalam hal iman.” (Al-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, 203).

Definisi ini bisa diinterpretasikan bahwa iman semua orang Islam adalah sama, tidak ada perbedaan antara iman pendosa besar dan iman orang yang taat. Meskipun demikian, sulit diterima bahwa Abu Hanifah menganggap amal (perbuatan) tidak penting, mengingat beliau adalah seorang imam mazhab yang dikenal berpegang pada logika dan merupakan ahli fikih yang sangat menghargai amal perbuatan.

2. Murji'ah Ekstrem


Kelompok ini memiliki pandangan yang lebih jauh, yang tidak secara rinci disebutkan dalam teks ini, namun umumnya ditandai dengan penekanan yang lebih ekstrem pada iman tanpa mempertimbangkan amal sebagai bagian dari iman.

mengenal murjiah dan pemikirannya


Kontroversi Penisbahan Abu Hanifah sebagai Murji'ah


Penisbahan Abu Hanifah sebagai salah seorang tokoh Murji’ah kerap menimbulkan kontroversi dan pertanyaan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Al-Syahrastani yang mencatat adanya ulama’ yang tidak menyetujui dimasukkannya Abu Hanifah ke dalam golongan Murji’ah. (Harun Nasution, Teologi Islam, 25).

Demikian halnya dengan Abu Zahrah yang berpandangan bahwa karena tidak adanya kesatuan pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan kaum Murji’ah (ekstrem atau moderat), sebaiknya Abu Hanifah dan imam-imam lainnya janganlah dimasukkan ke dalam golongan Murji’ah.

Tokoh ulama besar Abdul Yazid Abu Zaid al-’Ajami secara tegas menolak keras tuduhan tersebut.. Menurut Al-’Ajami, tuduhan terhadap Abu Hanifah ini dilatarbelakangi oleh dua hal, yaitu:

1. Tidak adanya definisi irja’ secara spesifik dan adanya berbagai kelompok dengan pandangan berbeda di seputar pelaku dosa besar.

2. Adanya kegemaran sejumlah kelompok dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran tercela dan menolak yang disebut-sebut bersumber dari mayoritas fuqaha’ (ahli fikih).

Al-’Ajami juga menyajikan beberapa alasan yang membenarkan penolakan tuduhan ini, diantaranya diambil dari pernyataan Ghassan yang mengatakan faham irja’ yang dianutnya bersumber dari Abu Hanifah hanyalah kebohongan yang bertujuan menyebarluaskan fahamnya dengan mengaitkannya pada imam terkenal.

Begitu pula dari pernyataan Al-Amidi yang berpendapat bahwa Mu’tazilah di masa awal Islam sering menyebut pihak yang tidak sefaham dengannya sebagai Murji’ah. Hal ini sudah menjadi sebuah tuduhan umum.

Alasan lainnya datang dari penjelasan Ibn Abdil Barr yang memaparkan bahwa Abu Hanifah membuat banyak orang iri hingga hal-hal yang tidak benar dikaitkan dengannya.

Secara substantif, para ulama tersebut berpendapat bahwa penisbahan Abu Hanifah sebagai Murji’ah hanyalah tuduhan dan kebohongan, mengingat posisi beliau sebagai seorang fuqaha yang sangat gigih dalam hal beramal dan mengapresiasi perbuatan. (Abdiha, 2024)


Kesimpulan


Murji'ah lahir sebagai respons politik yang kemudian berkembang menjadi doktrin teologi yang menekankan penundaan (irja’) hukuman bagi pendosa besar kepada Allah di akhirat, dan memberikan pengharapan bagi mereka untuk diampuni, dengan menempatkan iman sebagai unsur yang lebih esensial daripada amal dalam keselamatan. Walaupun demikian, pemisahan yang jelas antara kelompok moderat dan ekstrem, serta kontroversi seputar tokoh-tokoh besar seperti Imam Abu Hanifah, menunjukkan betapa kompleksnya dinamika teologi Islam di masa-masa awal.

Belajar dari Sejarah, Merajut Kembali Harapan


Kisah Murji'ah mengajarkan kita sebuah pelajaran abadi, betapa berbahayanya perpecahan dan betapa mudahnya perdebatan teologis berubah menjadi jurang pemisah. Di tengah sejarah kelam yang diwarnai oleh vonis kafir dan pertumpahan darah, Murji'ah muncul membawa pesan pengharapan dan penundaan penghakiman kepada Sang Pencipta.

Namun, semangat irja' sejati bukanlah hanya tentang menunda hukuman, melainkan tentang menunda kebencian. Saat ini, tantangan kebangkitan Islam bukan hanya perihal perang bersenjata namun perihal ideologi. Lebih baik kita fokus pada hal besar agar kita menjadi kuat dan menyatukan visi kita untuk menjadi umat terdepan. 

Marilah kita ambil pelajaran terbaik dari Murji'ah Moderat: menolak mengkafirkan saudara seiman, sambil tetap mencontoh ketegasan fuqaha' seperti Imam Abu Hanifah dalam menghargai amal dan kerja keras. Kebangkitan Islam yang sesungguhnya tidak akan terjadi di tengah saling vonis dan saling hujat. Ia akan bersemi ketika kita, sebagai umat, memilih persatuan dalam prinsip tauhid, menangguhkan penghakiman kepada Allah, dan fokus untuk membangun peradaban yang berlandaskan amal saleh, kasih sayang, dan harapan yang tak pernah padam. 

Ini adalah warisan sejati yang harus kita bawa menuju masa depan. Mengupas tuntas aliran kalam agar tidak ada kesalahpahaman adalah tugas kita sebagai muslim sejati. Semoga Allah senantiasa menyatukan hati kita di atas kebenaran dan amal yang diridai-Nya.


REFERENSI


Hasbi, Muhammad. (2015). Ilmu Kalam: Memotret Berbagai Aliran Teologi dalam Islam. Yogyakarta: Trust Media.

Muthahhari, M. (2002). Mengenal Ilmu Kalam (Cet. I). Pustaka Zahra.

Nasir, H. S. A. (1996). Pengantar Ilmu Kalam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ramzan, H. M., & Rahman, M. u. (2024). Theological Issues According to the Murji’ah: An Investigation Study. Al-Mithāq: Research Journal of Islamic Theology, 3(2), 1–10. https://almithaqjournal.org/index.php/home/article/view/144


Abdillah, R. (2024). Aliran Kalam Murji’ah. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), 2(12), 439–444. https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/8730


Parhan, M., Nuraini, A. S., Harianti, A., Rahman, D. S., Kurniawan, I. H., & Qinthara, M. A. (2024). Sejarah Kemunculan dan Konsep Pemikiran Aliran Murjiah Serta Pengaruhnya pada Masyarakat Islam Zaman Sekarang. IHSANIKA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 49–63. https://doi.org/10.59841/ihsanika.v2i2.1083


Hafiza, J. D., & Mutrofin. (2023). Dampak Murji’ah pada Generasi Terkini. Celestial Law Journal, 1(2), 149–157. https://journal.unsuri.ac.id/index.php/clj/article/view/380


Wahyuni, F., & Santalia, I. (2024). The Background and Core Doctrines of the Khawarij and Murji’ah. Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(1), 256–263. https://jurnal.penerbitdaarulhuda.my.id/index.php/MAJIM/article/view/4628

Membongkar Sejarah dan Ajaran Ekstremis Khawarij: Dari Konflik Politik hingga Doktrin Kekafiran

Khawarij merupakan salah satu sekte teologis-politik yang terbentuk di masa awal dan paling kontroversial dalam sejarah Islam. Kelompok ini muncul dari kancah konflik internal umat Islam dan meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah pemikiran Islam, terutama terkait isu dosa besar dan kepemimpinan. Untuk memahami akar pemikiran dan sikap ekstrem mereka, kita perlu menelusuri kembali latar belakang peristiwa bersejarah yang menjadi pemicunya.


sejarah khawarij dan pemikirannya



Sejarah Khawarij Wujud Pemberontakan di Balik Arbitrase Perang Shiffin


Secara historis, kemunculan Khawarij berkaitan erat dengan peristiwa Arbitrase atau Tahkim pada tahun 38 H/659 M. Peristiwa ini merupakan upaya penyelesaian damai atas sengketa berdarah yang terjadi antara Khalifah Ali bin Abi Thalib ra dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan ra dalam Perang Shiffin.

Awalnya, Khawarij adalah bagian dari pendukung setia Khalifah Ali ra. Namun, ketika posisi pasukan Ali tengah unggul, permintaan damai dari Mu'awiyah ra diajukan. Kubu Mu'awiyah ra mengutus Amr bin 'Ash dan akhirnya datang dengan mengangkat Al-Qur'an. Meskipun Ali awalnya menolak, desakan kuat dari kelompok Qurra' yang merupakan istilah dari pembaca Al-Qur'an atau pakar agama di internal pasukannya memaksa Ali menerima arbitrase tersebut.

Keputusan Ali ini memicu reaksi keras. Seketika, sejumlah besar pasukannya yang pada saat itu diperkirakan ada sekitar 12.000 orang menyatakan keluar dari barisan dan ketaatan kepada Ali. Mereka berkumpul di Harura, dekat Kufah, dan mengangkat Abdullah Ibn Wahab ar-Rasibi sebagai imam pertama mereka, menggantikan Ali.

Abu al-Hasan al-Asy’ari menjelaskan bahwa sebutan "Khawarij" yang memiliki arti  yang keluar akhirnya disematkan pada kelompok yang keluar menentang Khalifah Ali ra dan tindakan mereka yang keluar dari ketaatan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mereka memandang bahwa tindakan arbitrase tersebut adalah bentuk penyelesaian sengketa model Jahiliah, yang menggunakan hukum manusia, karena secara prinsip fundamental la hukm illa Allah yang artinya tiada hukum kecuali hukum Allah ta'ala.




Landasan Teologis dan Doktrin Kekafiran Khawarij


Penolakan Khawarij terhadap Tahkim bukan sekadar perbedaan politik, melainkan berakar pada justifikasi atau landasan teologis. Mereka berpegangan pada ayat Al-Qur'an surat  An-Nahl (16): 44 yang menyatakan: "Dan barangsiapa tidak memutuskan hukum atas dasar apa yang diturunkan oleh Allah, maka menjadi kafirlah mereka."

Atas dasar itu, Khawarij menjatuhkan vonis kafir kepada Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, dan dua utusan arbitrase yaitu Abu Musa al-Asy’ari dari kubu Ali dan Amr bin 'Ash dari kubu Mu'awiyah. Bahkan, kekafiran mereka dianggap sebagai kafir-riddah yang telah murtad dan halal darahnya.

Abu Hasan al-Malathi pada saat itu menyatakan, "Ali telah kafir karena menyerahkan keputusan hukum agama kepada Abu Musa al-Asy’ari, padahal keputusan hukum hanyalah wewenang Allah."

Doktrin pengkafiran ini kemudian diperluas hingga mencakup semua Muslim yang melakukan dosa besar atau murtakib al-kaba’ir, sebuah pandangan teologis yang menjadi ciri khas mereka. Khawarij melihat bahwa keluarnya mereka dari Ali adalah karena Ali, menurut penilaian mereka, telah melakukan dosa besar dan menjadi kafir akibat kebijakan Tahkim.


Karakteristik Umum Khawarij Lintas Zaman


Meskipun lahir dari peristiwa Tahkim, konsep Khawarij kemudian diperluas definisinya. As-Syahrastani mendefinisikan Khawarij secara lebih umum sebagai setiap orang yang melawan atau membangkang terhadap pemerintahan yang sah, di mana pun dan kapan pun.

Adapun Ibn Hazm merumuskan ciri-ciri Khawarij secara komprehensif sebagai berikut:

  1.  Menyetujui pemberontakan terhadap Ali bin Abi Thalib.
  2.  Mengkafirkan pelaku dosa besar.
  3.  Berpendapat bahwa harus memberontak penguasa yang zalim.
  4.  Meyakini bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka.
  5.  Berpendapat bahwa Imamah (kepemimpinan) boleh dipegang oleh orang selain Quraisy.

Pakar agama sekaligus profesor yang menjabat di salah satu perguruan tinggi Islam yaitu UIN Syarif Hidayatullah yaitu  Harun Nasution mengidentifikasi ciri-ciri khusus Khawarij, yang di antaranya yaitu:

  1. Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan/sefaham.
  2. Menganggap Islam yang benar hanyalah yang mereka pahami dan amalkan.
  3. Bersikap fanatik dan tidak segan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan.

Ali Muhammad as-Shalabi menggarisbawahi beberapa ciri utama Khawarij yang menunjukkan sifat ekstremis mereka, yaitu: kecenderungan untuk berlebih-lebihan dalam beragama meskipun mereka memiliki pemahaman yang minim atau kurang mendalam terhadap ajaran Islam (Al-Qur'an dan Al-Hadits).


Secara sosial-politik, mereka melakukan pemusnahan tongkat ketaatan dan memberontak terhadap pemimpin, sedangkan secara teologis, mereka sangat ekstrem karena mengkafirkan orang Muslim sebagai pelaku dosa besar, bahkan menghalalkan darah dan harta mereka.

Ajaran Pokok Khawarij dan Upaya Dialog


Meskipun gerakan Khawarij terkenal karena perpecahan yang terjadi di internal mereka, yang akhirnya banyak melahirkan sub-sekte seperti Al-Muhakkimah, Al-Azariqah, hingga Al-Ibadiyah. Namun mereka tetap mempertahankan inti ajaran yang disepakati bersama. Perpecahan mereka sebagian besar terjadi pada tingkat implementasi dan perbedaan tingkat ekstremisme, tetapi secara prinsip dan dasar  teologis, mereka memiliki kesamaan pandangan dan pemikiran


Menurut para ulama seperti Abu Zahrah, terdapat tiga doktrin utama yang menjadi konsensus di antara semua golongan Khawarij. Doktrin-doktrin ini mencerminkan pandangan politik puritanis dan penafsiran keras mereka terhadap iman dan kekuasaan.


Tiga Ajaran Pokok yang Disepakati Semua Sekte Khawarij


Dalam prinsip dasar kepemimpinan Khalifah atau seorang pemimpin harus diangkat melalui mekanisme pemilihan umum. Khalifah wajib taat dan menegakkan hukum syariat Islam dan bersikap adil, apabila seorang pemimpin memiliki perilaku yang menyeleweng maka harus meletakkan jabatannya dan bahkan dibunuh.

Struktur Iman Menurut Khawarij


Pandangan Khawarij mengenai status Muslim pelaku dosa besar atau murtakib al-kaba’ir adalah pilar teologis paling esensial yang membedakan mereka dari kelompok Muslim lainnya. Secara sederhana, mereka memiliki pandangan yang sangat keras dan absolut tentang apa itu iman.


Para khawarij sepakat dalam 3 hal perkara struktur keimanan yang menjadi pilar utama yang tak terpisahkan. Bagi Khawarij, iman bukanlah sekadar keyakinan di hati, melainkan sebuah konstruksi utuh yang terdiri dari tiga unsur esensial. Jika salah satu unsur ini hilang atau rusak, maka seluruh bangunan iman dianggap runtuh. Unsur tersebut diantaranya:

  1. Membenarkan dengan Hati atau Tashdiq bi al-Qalb. Ini adalah dasar keyakinan internal. Artinya, seseorang harus yakin dan membenarkan semua ajaran Islam di dalam hatinya.
  2. Mengikrarkan dengan Lisan atau Iqrar bi al-Lisan, unsur ini yang mewujudkan keyakinan dari dalam hati  harus diucapkan dan dinyatakan secara lisan seperti halnya mengucapkan dua kalimat syahadat.
  3. Melaksanakan dengan Anggota Badan yaitu 'Amal bi al-Arkan, hal ini merupakan unsur kunci dan paling kontroversial. Iman harus dibuktikan melalui tindakan nyata, yaitu ketaatan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


Hukuman Kafir bagi Pelaku Dosa Besar


Khawarij meyakini bahwa ketiga unsur di atas adalah satu kesatuan (ushul). Konsekuensinya sangat ekstrem. Jika seseorang melakukan dosa besar seperti mencuri, berzina, atau menolak hukum Allah seperti dalam kasus Tahkim, maka unsur 'Amal bi al-Arkan dalam artian melaksanaan dengan tindakan otomatis telah hilang. Karena iman dianggap tidak bisa dibagi, hilangnya satu unsur berarti hilangnya seluruh iman.


Dengan demikian, seorang Muslim yang melakukan dosa besar, menurut pandangan Khawarij, secara langsung  telah keluar dari sebutan Mukmin dan dianggap sebagai Kafir, bahkan sering kali dikategorikan sebagai kafir-murtad yang halal darahnya. Mereka juga meyakini bahwa orang tersebut kekal di dalam neraka.

Upaya Ali bin Abi Thalib


Khalifah Ali sempat mendelegasikan Ibn Abbas untuk berdialog dengan Khawarij. Ibn Abbas berhasil menyanggah tiga alasan utama Khawarij keluar dari Ali:

1. Tahkim adalah Hukum Manusia: Ibn Abbas membacakan QS. Al-Ma’idah ayat 95, di mana Allah menyerahkan hukum-Nya kepada dua tokoh yang adil dalam urusan denda perburuan, menunjukkan bahwa pendelegasian keputusan hukum kepada tokoh adil dibenarkan dalam Islam.

2. Tidak Mengambil Tawanan Perang Jamal: Khawarij bertanya mengapa Ali tidak menawan istri-istri Nabi (yang terlibat di Perang Jamal). Ibn Abbas membacakan QS. Al-Ahzab ayat 6, yang menyatakan istri-istri Nabi adalah ibu orang-orang beriman, menegaskan bahwa mereka tidak boleh ditawan atau diperangi.

3. Penghapusan Jabatan Amirul Mukminin: Ibn Abbas menunjukkan bahwa Ali hanya meniru Nabi Muhammad SAW, yang saat Perjanjian Hudaibiah setuju menghapus gelar "Utusan Allah" dan menggantinya dengan "Putra Abdullah" demi tercapainya perdamaian.

Atas sanggahan-sanggahan ini, sebanyak dua ribu orang dari Khawarij setuju dan kembali ke jalan yang benar, namun sisanya tetap melanjutkan pemberontakan dan akhirnya ditumpas.


Para Pendiri dan Imam Pertama Khawarij


Kelompok sempalan Khawarij bermula di Harura, setelah memisahkan diri dari barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra pasca Tahkim. Kepemimpinan awal gerakan ini dipegang oleh sejumlah individu yang mendirikan struktur politik dan agama mereka sendiri.

Abdullah Ibn Wahab ar-Rasibi menjadi tokoh yang paling menonjol, diangkat sebagai imam pertama Khawarij, secara simbolis menggantikan Ali bin Abi Thalib ra. Tindakan ini menegaskan pemberontakan politik mereka terhadap kekhalifahan yang sah.

Turut serta dalam pertemuan pendirian di Harura adalah beberapa pemimpin kunci lainnya, termasuk Abdullah Ibn al-Kawwa', 'Itab Ibn A'war, 'Urwah Ibn Jarir, Yazid Ibn Abi 'Ashim al-Maharibi, dan Harqush Ibn Zubair al-Bajli. Tokoh-tokoh ini menjadi arsitek awal dari pergerakan yang menentang konsensus umat atau arah pergerakan yang sudah disepakati.


Di antara para Khawarij, ada satu nama yang dikenang sejarah karena aksinya yang paling keji yaitu Abdurrahman Ibn Muljam (Ibnu Muljam). Meskipun bukan pemimpin pendiri, dialah yang ditugaskan dan berhasil melaksanakan rencana pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib ra, sebuah tindakan ekstrem yang menjadi puncak dari justifikasi teologis Khawarij yang menghalalkan darah pemimpin Muslim yang mereka anggap kafir.

Target Doktrin Pengkafiran


Pemikiran ekstrem Khawarij yang paling aneh (paradoks) adalah kerika mereka menyerang dan menganggap kafir pemimpin umat Islam yang dihormati, padahal mereka sendiri mengaku Muslim sejati. Seperti halnya Khawarij mengkafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib karena satu alasan utama, yaitu Peristiwa Tahkim (Perdamaian).

Khawarij sangat percaya pada slogan mereka, "Hukum hanya milik Allah." Ketika Ali setuju untuk berdamai dengan Mu'awiyah dan menyerahkan keputusan kepada dua orang perwakilan yaitu Abu Musa al-Asy'ari dan Amr bin 'Ash, Khawarij menganggap Ali telah melakukan dosa besar karena mengganti Hukum Allah dengan Hukum Manusia. Intinya, bagi Khawarij, tindakan Ali menerima arbitrase sudah cukup untuk mengeluarkan Ali dari Islam dan menjadikannya kafir yang halal dibunuh.

Khawarij juga memperluas pengkafiran ini ke khalifah sebelumnya yaitu Utsman bin Affan ra. Utsman dikafirkan karena Khawarij melihat bahwa di masa kepemimpinannya, Utsman telah melakukan penyimpangan atau kebijakan yang dianggap Khawarij sebagai dosa besar. Walaupun Khawarij muncul setelah Utsman wafat, beberapa sekte mereka memasukkannya ke dalam daftar pemimpin yang telah menyimpang dari Islam yang murni.

Secara ringkas, Khawarij menilai para pemimpin ini yaitu Ali, Utsman, dan perwakilan Tahkim melalui standar iman yang sangat ekstrem, yaitu satu dosa besar saja sudah cukup untuk membatalkan seluruh keislaman seseorang dan menjadikannya kafir.

Dua utusan arbitrase, Abu Musa al-Asy'ari (dari kubu Ali) dan 'Amr bin 'Ash (dari kubu Mu'awiyah), juga dikafirkan karena peran aktif mereka dalam proses Tahkim yang mereka anggap sebagai dosa besar dan penyimpangan dari hukum Allah.





Para Pemimpin Sekte Penerus


Seiring waktu, Khawarij terpecah karena perbedaan doktrinal yang semakin tajam.  Namun mereka tetap eksis dan berkembang serta melahirkan tokoh-tokoh yang mengembangkan aliran dan pemikiran baru berangkat dari pemikiran awal mereka sebagai kaum khawarij. Tokoh-tokoh ini memimpin sekte-sekte yang menyebar ke seluruh dunia Islam, membawa bendera ekstremisme dalam berbagai tingkatan.

Salah satunya Nafi' bin al-Azraq yang menjadi pemimpin sekte Al-Azariqah,. Sekte ini dikenal sebagai kaum Khawarij yang  paling radikal dan ekstrem. Mereka menganggap wilayah di luar kelompok mereka sebagai Dar al-Harb atau masuk wilayah yang harus diperangi.

Najdah bin Amir al-Hanafi memimpin sekte Al-Najdat. Abdullah bin Ibad memimpin sekte Al-Ibadiyah, yang menjadi sekte Khawarij yang paling bertahan dan dianggap moderat dibandingkan sekte lainnya, dan ajarannya masih dianut hingga kini, terutama di Oman.

Dengan demikian, tokoh-tokoh Khawarij mencerminkan perjalanan sebuah ideologi yang berawal dari pemberontakan politik yang dipimpin oleh ar-Rasibi dan kawan-kawan, hingga aksi teror Ibnu Muljam, dan akhirnya diferensiasi ideologis yang dipimpin oleh tokoh-tokoh sekte seperti Nafi' bin al-Azraq dan Abdullah bin Ibad.

Khawarij: Kelompok Ekstremis yang Rentan Perpecahan


Berdasarkan analisis kritis terhadap pandangan mereka yang ekstrem, seperti menjustifikasi Tahkim sebagai model Jahiliah dan mengkafirkan sahabat utama seperti Ali dan Utsman, Khawarij dinilai sebagai kelompok yang pandangan teologisnya kurang tepat dan terlalu berlebihan, sehingga wajar disebut ekstremis.

Nurcholish Madjid menegaskan bahwa karena sikap kaum Khawarij yang sangat ekstrem dan eksklusif. Beliau juga menyebutkan bahwa Khawarij pada level kredo, Khawarij memiliki karakter intoleran, fanatik, dan eksklusif, yang pada level operasional terepresentasi atau perwujudan nyata diaplikasikan dalam gerakan takfir atau pengkafiran, hijrah dan memisahkan diri, serta jihad dengan melakukan perlawanan bersenjata.

Meskipun secara sosial-politik Khawarij tidak sukses dan terus-menerus mengalami perpecahan, pandangan mereka yang memunculkan persoalan teologis tentang status Muslim pelaku dosa besar telah membekas kuat dalam sejarah intelektual Islam dan menjadi pokok problema pemikiran Islam hingga kini.

Memahami sejarah Khawarij mengajarkan kita tentang pentingnya keseimbangan dalam beragama. Kisah mereka adalah pengingat bahwa penafsiran yang terlalu keras dan minimnya toleransi dapat melahirkan perpecahan. Mari kita jadikan pelajaran sejarah ini sebagai dasar untuk membangun komunitas Muslim yang lebih inklusif dan moderat. 

Yuk, bagikan artikel ini untuk mengajak lebih banyak orang mendiskusikan pentingnya Islam wasathiyah (moderat) atau moderasi dalam beragama serta bagaimana kita dapat menjaga persatuan umat dari ekstremisme ideologi.


REFERENSI 


Hasbi, Muhammad. (2015). Ilmu Kalam: Memotret Berbagai Aliran Teologi dalam Islam. Yogyakarta: Trust Media.

Muthahhari, M. (2002). Mengenal Ilmu Kalam (Cet. I). Pustaka Zahra.

Nasir, H. S. A. (1996). Pengantar Ilmu Kalam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger