Islam dan Studi Agama: Mengapa Iman Perlu Didekati dengan Ilmu?

Senin, 16 Februari 2026
pentingnya metodologi studi islam



Suatu sore setelah perkuliahan, dengan perasaan ragu seorang mahasiswa bertanya kepada gurunya.

“Pak, kalau Islam itu benar secara mutlak, kenapa kita masih perlu mempelajarinya secara ilmiah?”

Pertanyaan ini memang terdengar sangat sederhana, tetapi cukup menyentuh inti dari studi agama. Banyak orang beranggapan bahwasannya agama hanya cukup diyakini saja di dalam hati, tanpa perlu melakukan pengkajian dan penelitian. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa agama yang tidak dipahami secara mendalam sering kali melahirkan fanatisme, konflik, atau bahkan manipulasi dan membuat bingung penganutnya agar dapat memahami maknanya dengan benar. Untuk itu memahami agama secara benar dan komprehensif sangat penting!

Agama Antara Doktrin dan Fenomena Sosial


Dalam kajian ilmiah, agama dapat dipandang dari dua perspektif yaitu berposisi sebagai doktrin dan berposisi sebagai fenomena sosial. M. Atho Mudzhar menjelaskan bahwa agama sebagai doktrin memiliki arti bersumber dari penjelasan yang datang dari wahyu, sedangkan agama sebagai fenomena sosial bersumber dari gambaran perilaku, budaya, dan institusi umatnya (Mudzhar, 1998).

Sebagai doktrin, Islam bersifat normatif dan sakral, hal ini ditunjukkan dalam perintah shalat, zakat, dan keadilan sosial, kesemuanya ini merupakan ajaran yang tetap. Namun sebagai fenomena sosial, Islam hadir dalam wujud pesantren, organisasi masyarakat, dakwah dalam media digital, hingga menjalar pada adat dan tradisi budaya setempat. Sebagai contoh, zakat adalah perintah normatif dalam Al-Qur’an. Tetapi praktik pengelolaannya melalui BAZNAS, LAZ, dan aplikasi digital merupakan fenomena sosial yang dapat diteliti secara ilmiah dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di suatu tempat. Dua kondisi ini membuat kita dapat memaknai menyesuaikan hukum dengan keadaan wilayah dan masyarakatnya bukan berarti meragukan wahyu yang turun dari Allah ta’ala.

Sejarah Studi Agama Dari Eropa ke Dunia Islam


Studi agama sebagai disiplin ilmiah berkembang di Eropa abad ke-19. Para sarjana seperti Friedrich Max Müller mempelajari agama secara komparatif dan historis. Hal ini bertujuan untuk memahami agama secara objektif, tanpa membela atau menyerang (Waluyajati, 2016).

Richard C. Martin menjelaskan bahwa sejarah agama berkembang untuk membebaskan kajian keagamaan dari dominasi teologi gereja dan membuka ruang dialog ilmiah lintas budaya (Martin, 1985).

Dalam perkembangannya, studi agama di Barat melahirkan paham orientalisme. Seperti bentuk kritikan Edward Said bahwa sebagian kajian Barat tentang Islam dipengaruhi oleh kepentingan politik kolonial (Said, 1978). Islam sering digambarkan irasional dan terbelakang. Untuk itu untuk mengkaji permasalahan Indonesia, para sarjana Muslim perlu menciptakan tradisi studi Islam yang kritis namun tetap adil, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Maidah: 8 untuk agar berlaku adil bahkan kepada pihak yang berbeda.

Pendekatan dalam Studi Islam: Tidak Cukup Satu Cara


Studi Islam tidak bisa hanya menggunakan satu pendekatan. Berbagai metode dikembangkan agar pemahaman menjadi lebih holistik. Pendekatan normatif dilakukan melalui kajian teks Al-Qur’an dan hadis. Sedangkan kajian historis mempelajari perkembangan mazhab dan peradaban Islam. Pendekatan fenomenologi dirancang untuk memahami pengalaman batin umat. Melalui pendekatan antropologi, agama dipandang sebagai bagian dari budaya, sedangkan dalam pendekatan psikologi kajian agama dikaitkan dengan kesehatan mental.

Wilhelm Dilthey menekankan pentingnya memahami pengalaman hidup penganut agama melalui pendekatan humaniora (Dilthey dalam Martin, 1985). Sementara itu Martin menegaskan bahwa pendekatan interdisipliner diperlukan agar studi Islam tidak terfragmentasi (Martin, 1985). Adapun di Indonesia, penelitian tentang hijrah milenial misalnya, tidak cukup hanya dengan dalil fiqh. Ia perlu dikaji melalui psikologi identitas, sosiologi media, dan dinamika urban.


Tantangan, Peluang, dan Fakta Statistik Islam di Indonesia


Hari ini, Islam hidup di ruang digital. Kajian online, ceramah TikTok, podcast keagamaan, hingga fatwa Instagram menjadi kebiasaan masyarakat dalam mencari sumber informasi keagamaan. Hal ini menjadi sarana memperluas khasanah keilmuan di berbagai bidang. Hal ini memang sangat menguntungkan namun juga sekaligus membawa dampak negative berupa distorsi informasi.

Namun sebelum kita membahas tantangan kontemporer itu lebih jauh, melihat data nyata di Indonesia memberikan konteks yang kuat. Menurut data teranyar sekitar 87,1% penduduk Indonesia adalah Muslim dari total populasi nasional lebih dari 240 juta jiwa (Wikipedia, statistik agama).

Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia berada pada angka tinggi, 77.89, tertinggi dalam 11 tahun terakhir (Kementerian Agama RI & Universitas Indonesia).

Survei lain mengungkap bahwa sekitar 70,2% remaja Indonesia memiliki sikap toleran terhadap perbedaan agama (GoodStats.id). Data tersebut tidak hanya statistik demografis, mereka menunjukkan bahwa Islam di Indonesia bukan sekadar keyakinan spiritual, tetapi fenomena sosial besar yang harus didekati secara metodologis. Mayoritas muslim menjadikan Indonesia arena yang tepat mengembangkan studi Islam kontekstual

Kerukunan tinggi mengimplikasikan potensi besar untuk pendidikan toleransi yang ilmiah. Sikap toleran di kalangan remaja menunjukkan peluang kuat dalam studi Islam & psikologi generasi baru


Tantangan dan Peluang Kajian Islam di Era Digital


Bagi generasi muda, terutama mahasiswa dan pelajar, media sosial sering kali menjadi “guru agama pertama” sebelum kitab atau dosen. Dalam satu hari, seseorang bisa menonton puluhan video ceramah dari berbagai latar belakang paham dan metode. Fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi telah membuka akses pengetahuan keagamaan secara luas dan cepat.

Jurnal Journal of Religion and Media (2024) mencatat bahwa digitalisasi agama memperluas partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan, tetapi sekaligus meningkatkan risiko penyederhanaan ajaran, penyebaran tafsir dangkal, dan radikalisasi daring. Konten yang paling sering viral bukanlah kajian yang paling mendalam sehingga dapat dipercaya isinya, namun justru yang paling emosional dan provokatif.

Berdasarkan hal tersebut muncul fenomena yang disebut “ustaz viral”, biasanya figur ini dikenal luas bukan karena kedalaman ilmunya, tetapi karena algoritma media sosial. Seringnya potongan ayat, hadis, atau ceramah yang disampaikan tanpa penjelasan metodologis. Akibatnya, umat mudah terjebak pada pemahaman hitam-putih, benarm salah, halal haram, surga neraka, tanpa penjelasan yang mendalam dan membuka ruang dialog.

Dalam praktik nyata, kita sering menemukan konflik di media sosial hanya karena perbedaan pandangan fiqh, tradisi lokal, atau pilihan mazhab. Perdebatan tentang qunut, tahlilan, hijrah, atau musik, misalnya, sering berubah menjadi ajang merasa diri paling benar saling serang tanpa disertai diskusi ilmiah.

Padahal Al-Qur’an telah memberikan prinsip dasar literasi informasi jauh sebelum era internet dalam firman Allah di dalam surat al-Hujurat ayat 6.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya mengkritisi sebuah berita yang disampaikan, karena verifikasi, dan kehati-hatian adalah bagian dari iman. Dalam konteks digital, ayat ini bisa dimaknai sebagai bentuk larangan agar jangan cepat-cepat membagikan sebuah berita tanpa melakukan cek dan ricek.

Dari sini kita dapat belajar bahwasannya era digital tidak hanya membawa ancaman, asal dapat meanfaatkannya dengan penuh kehati-hatian. Media digital bisa menghadirkan peluang besar bagi pengembangan studi Islam. Banyak pesantren, kampus Islam, dan lembaga dakwah kini memanfaatkan teknologi untuk memperluas pendidikan keagamaan. Karena kecanggihan di era digitalisasi saat ini banyak sekali Kitab kuning yang tersedia dalam format digital. Tafsir dan hadis dapat diakses melalui aplikasi. Kajian akademik dapat diikuti secara daring lintas daerah bahkan lintas dunia.

Beberapa perguruan tinggi Islam bahkan telah memasukkan literasi digital keagamaan dalam kurikulum, mengajarkan mahasiswa cara memilah sumber, mengecek validitas dalil, dan memahami perbedaan mazhab secara ilmiah. Program ini memiliki tujuan untuk menciptakan generasi Muslim yang bukan sekedar bersifat agamis, namun juga memiliki wawsan yang luas serta melek digital.

Dalam Jurnal Indonesian Journal of Islamic Communication (2023) dipaparkan bahwa pendidikan literasi digital berbasis metodologi dapat menekan intensitas penyebaran hoaks keagamaan di kalangan mahasiswa. Dengan pendekatan yang tepat, media digital justru dapat menjadi wadah menyampaikan ilmu secara terbuka, dialogis, dan beretika. Dakwah tidak lagi bersifat satu arah, tetapi membuka ruang dialog dan wadah belajar bareng.

Pada akhirnya, tantangan utama Islam di era digital bukanlah teknologinya, melainkan cara umat menggunakannya. Tanpa metodologi, teknologi bisa menyesatkan. Dengan metodologi, teknologi bisa menjadi sarana pencerahan. Untuk itu studi Islam pada masa digital mampu memastikan dan mengarahkan keimanan tetap berpijak pada ilmu, dan semangat beragama tetap dibimbing secara bijak.


Pentingnya Moderasi Beragama dalam Memelihara Iman dan Akal


Di tengah derasnya arus informasi digital, perbedaan pandangan keagamaan semakin mudah terlihat. Satu ceramah bisa memicu perdebatan panjang, bahkan sepenggal ayat bisa menimbulkan konflik dan kisruh sensitif yang mampu memecah komunitas dalam sekejap. Dalam situasi seperti ini, moderasi beragama bukan lagi sekadar slogan,namun kebutuhan nyata umat Islam.

Moderasi beragama dalam Islam berakar kuat dalam ajaran Al-Qur’an. Allah menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan atau istilah lainnya umat pertengahan yang berfungsi sebagai saksi bagi seluruh manusia (QS. Al-Baqarah: 143). Makna “pertengahan” di sini bukan berarti ragu-ragu dalam iman, tetapi seimbang antara keteguhan prinsip dan keterbukaan terhadap perbedaan

Amin Abdullah menjelaskan bahwa moderasi terlahir melalui proses integrasi dimensi normatif, historis, dan sosial dalam memahami agama (Abdullah, 2006). Orang yang memahami teks tanpa konteks cenderung kaku. Sebaliknya, yang memahami konteks tanpa teks berisiko kehilangan arah. Moderasi hadir ketika keduanya dipadukan dalam sebuah metodologis.

Dalam kehidupan nyata di Indonesia, moderasi beragama tampak dalam praktik keseharian umat. Perbedaan mazhab shalat tidak menjadi alasan untuk memutus silaturahmi. Perbedaan tradisi lokal tidak berubah menjadi permusuhan. Perbedaan pandangan politik tidak lantas membuang rasa persaudaraan dalam manisnya iman.

Meskipun kadang sikap moderat pada masa digitalisasi sering tersisihkan. Algoritma lebih menyukai konten ekstrem, provokatif, dan emosional. Akibatnya, suara moderat kalah viral dibandingkan narasi keras.

Dalam Jurnal Al-Tahrir (2023) dipaparkan bahwa mahasiswa yang mendapatkan pendidikan metodologi studi Islam cenderung memiliki tingkat toleransi dan kemampuan dialog yang lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa moderasi bukan lahir dari nasihat moral semata, tetapi dari proses pembelajaran yang sistematis.

Menurut data Kementerian Agama RI ditemukan bahwa kemampuan mencerna moderasi beragama dibentuk melalui pendidikan yang terkontribusi pada peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama yang berkembang di beberapa tahun terakhir ini. Kondisi ini menggambarkan bahwa moderasi dapat diciptakan secara struktural melalui kebijakan dan kurikulum.

Pada ranah keluarga, moderasi bisa diwujudkan oleh usaha orang tua ketika mengajarkan agama kepada buah hatinya tanpa menanamkan kebencian. Di sekolah, moderasi hadir ketika guru membuka ruang dialog. Di masjid, moderasi tumbuh ketika khutbah mengedepankan kedamaian bukan perdebatan yang menimbulkan perdebatan.

Nabi Muhammad SAW memberi teladan moderasi dalam dakwahnya. Beliau tidak memaksakan agama dengan kekerasan, tetapi dengan hikmah dan keteladanan (QS. An-Nahl: 125). Prinsip ini sangat sesuai sampai sekarang, terutama dalam menghadapi perbedaan di ruang digital.

Moderasi dalam agama memiliki arti mampu menahan diri dari sikap mudah menghukumi salah. Imam Al-Ghazali mengingatkan kita agar jangan pernah menjadi seorang individu yang merasa dirinya paling benar, karena hal ini akan menjadi awal kehancuran spiritual. Sadar akan kekurangan dan posisi diri hendaknya dijadikan dasar dalam besikap secara moderat.

Dalam konteks studi Islam, moderasi beragama adalah buah dari metodologi yang matang. Ketika umat terbiasa berpikir kritis, memeriksa kevalidan sebuah sumber berita, dan menghargai perbedaan pendapat ulama, maka akan sulit terbawa ke dalam arus ekstremisme.

Dengan demikian, moderasi merupakan wujud kedewasaan seseorang dalam menyikapi perbedaan dalam kaidah dalam agama, bukan sebuah kompromi terhadap iman. Moderasi beragama menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan sebuah sumber perpecahan yang menjadi ancaman. Menjadi penerang bagi umatnya bukan menjadi api yang akan menghanguskan. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, moderasi beragama adalah jalan untuk menjaga martabat Islam sekaligus keutuhan bangsa.

Mengapa Studi Islam Penting Hari Ini?


Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, di mana perbedaan pandangan agama, politik, dan budaya mudah berubah menjadi konflik, studi Islam hadir sebagai sarana pendewasaan beragama. Ia tidak hanya mengajarkan apa yang harus diyakini, tetapi juga mengarahkan setiap individu untuk memahami bagaimana cara bersikap secara bertanggung jawab.

Hari ini, umat Islam hidup dalam arus informasi yang serba instan. Ceramah, fatwa, dan opini keagamaan beredar tanpa filter yang memadai. Banyak orang belajar agama bukan dari kitab atau guru, tetapi dari potongan video dan unggahan media sosial. Tanpa bekal metodologi, situasi ini berisiko melahirkan keberagamaan yang dangkal, emosional, dan mudah terprovokasi.

Pada situasi seperti ini studi Islam menjadi benteng literasi keagamaan. Studi Islam mengajarkan pada kaum muslimin mampu membedakan mana yang masuk dalam sebuah dalil mana yang hanya opini saja. Melalui kajian studi islam kaum muslimin juga bisa membedakan antara ajaran dan tafsir, antara prinsip dan preferensi. Pendekatan ilmiah mampu membuat seseorang jadi belajar bahwa setiap perbedaan di kalangan ahlul ilmu merupakan bagian dari tradisi intelektual Islam, bukan ancaman terhadap iman.

Amin Abdullah menegaskan bahwa pendidikan Islam harus membentuk religious literacy, yaitu kemampuan memahami agama secara kritis dan kontekstual (Abdullah, 2006). Tanpa literasi ini, umat mudah terjebak dalam sikap eksklusif dan klaim kebenaran tunggal.

Kita sering menyaksikan contoh nyata di masyarakat: perbedaan metode ibadah berubah menjadi konflik, perbedaan pilihan politik berbalut agama menjadi permusuhan, dan perbedaan mazhab melahirkan saling curiga. Semua ini bukan karena ajaran Islam yang salah, tetapi karena pemahaman yang tidak matang.

Di sisi lain, ilmu tanpa iman akan menimbulkan permasalahan. Ketika studi Islam hanya diperlakukan sebagai objek akademik yang dingin dan netral nilai, agama kehilangan daya transformasinya. Agama hanya menjadi sebuah wacana yang tak bernilai sosial dan kepedulian umat.

Fazlur Rahman mengingatkan bahwa ilmu keislaman harus tetap berorientasi pada pembentukan etika dan keadilan sosial (Rahman, 1982). Tanpa dimensi moral, pengetahuan agama berpotensi menjadi alat legitimasi kekuasaan atau kepentingan yang sempit. Untuk itu harus diciptakan iman dan ilmu yang saling melengkapi, karena hal ini merupakan inti utama dari studi Islam yang sehat. Tanpa ilmu, iman bisa berubah menjadi fanatisme. Tanpa iman, ilmu kehilangan arah moral.

Fenomena ini menuntun kita bahwa Islam dapat dipelajari secara ilmiah tanpa kehilangan kesakralannya. Metodologi yang tepat dapat menjelaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah secara relevan dalam kehidupan modern, pendidikan, ekonomi, politik, media, dan relasi sosial.


Di Indonesia, studi Islam berperan besar dalam membangun moderasi beragama, toleransi antarumat, dan integrasi kebangsaan. Perguruan tinggi Islam, pesantren, dan lembaga riset menjadi ruang penting dalam membentuk generasi Muslim yang religius sekaligus rasional. Allah berfirman.


Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu” (QS. Al-Mujadilah: 11)


Ayat ini bukan hanya motivasi spiritual, tetapi juga landasan epistemologis: iman dan ilmu adalah dua sayap yang harus bergerak bersama. Tanpa salah satunya, umat tidak akan mampu terbang menghadapi tantangan zaman. Melalui studi Islam yang terintegrasi, umat diharapkan tidak hanya menjadi pemeluk agama, tetapi juga penjaga nilai, pembangun peradaban, dan menjadi rahmat bagi seluruh penghuni alam.

Menjadikan Studi Islam sebagai Jalan Hidup


Pada akhirnya, studi Islam bukanlah sekadar bahan bacaan di ruang kelas, bukan hanya kumpulan teori dalam buku, dan bukan pula sekadar syarat akademik untuk memperoleh gelar. Ia adalah jalan panjang untuk membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara hidup seorang Muslim.

Melalui studi Islam yang metodologis, kita belajar bahwa beragama bukan tentang merasa paling benar, tetapi tentang terus belajar menjadi lebih baik. Kita belajar sebuah perbedaan bukan merupakan ancaman namun kesempatan untuk menjadi dewasa dan melatih kesabaran dalam kehidupan bermasyarakat.

Di tengah dunia yang bising oleh opini, provokasi, dan hoaks, studi Islam mengajarkan kita untuk tenang. Untuk berpikir sebelum berbicara. Untuk memeriksa sebelum menyebarkan. Untuk memahami sebelum menghakimi.

Di tengah zaman yang cepat berubah, studi Islam menanamkan akar. Ia menjaga kita agar tidak kehilangan arah ketika teknologi melaju, budaya bergeser, dan nilai-nilai diuji. Ia membantu kita tetap setia pada prinsip, tanpa menutup diri dari perubahan.

Lebih dari itu, studi Islam membentuk karakter. Ia menumbuhkan kerendahan hati intelektual: kesadaran bahwa ilmu manusia selalu terbatas. Ia melahirkan kedewasaan spiritual: kesadaran bahwa iman harus tercermin dalam akhlak. Ia membangun keberanian moral: keberanian untuk berpihak pada keadilan, meski tidak populer. Sebagaimana ditegaskan bahwa ilmu sejati tidak melahirkan kesombongan, tetapi ketakwaan. Tidak melahirkan jarak, tetapi empati. Tidak melahirkan kekerasan, tetapi kasih sayang, yang penjelasannya disampaikan dalam Al-Qur’an.


Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu (QS. Fathir: 28)

 

Maka, belajar Islam dengan metodologi bukanlah upaya menjauhkan diri dari iman, melainkan usaha untuk menjaganya tetap jernih, dewasa, dan relevan. Ia adalah ikhtiar agar Islam tetap hadir sebagai cahaya di tengah gelapnya kebencian, sebagai penyejuk di tengah panasnya perpecahan, dan sebagai penuntun di tengah kebingungan zaman.


Semoga melalui studi Islam yang serius, jujur, dan bertanggung jawab, kita tidak hanya menjadi umat yang taat, tetapi juga umat yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi peradaban. Karena pada akhirnya, Islam yang dipahami dengan ilmu dan dijalani dengan hati adalah Islam yang benar-benar hidup, membawa kedamaian dan kesejukan.


REFERENSI


Abdullah, M. A. (2006). Islamic studies di perguruan tinggi. Pustaka Pelajar.

Martin, R. C. (1985). Approaches to Islam in religious studies. University of Arizona Press.

Mudzhar, M. A. (1998). Pendekatan studi Islam. Pustaka Pelajar.

Said, E. (1978). Orientalism. Pantheon Books.

Waluyajati, R. S. R. (2016). Islam dan studi agama-agama di Indonesia.

Journal of Religion and Media. (2024). Digital religion and contemporary Muslim discourse.

Al-Tahrir. (2023). Moderasi beragama dalam pendidikan tinggi Islam.

Mengapa Beragama Perlu Ilmu? Refleksi tentang Metodologi Studi Islam

Mengapa Memahami Islam Perlu Metodologi? Mungkin kita sering menemukan perbedaan dalam tata cara pelaksanaan ibadah meski di kalangan kaum muslim itu sendiri. Pernahkah kita bertanya, mengapa sesama Muslim bisa berbeda pendapat tentang satu hal yang sama? Mengapa ada yang menganggap tahlilan sebagai ibadah mulia, sementara yang lain menganggapnya bid’ah?

Mengapa sebagian umat Islam menerima musik, sementara sebagian lain menolaknya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering muncul dalam kehidupan sehari-hari umat Islam di Indonesia. Di pengajian, di media sosial, bahkan di ruang keluarga. Jawabannya tidak sesederhana “ini benar, itu salah”. Jawaban utamanya terletak pada satu hal, yaitu bagaimana cara kita atau metodologi dalam memahami Islam.


cara memahami islam dengan benar

Islam Tidak Dipahami Hanya Tekstual namun Kontekstual


Islam bukan hanya kumpulan ayat dan hadis. Islam adalah agama yang hidup dan membaur dalam masyarakat. Islam hadir dalam banyak wujud, dia hadir dalam perspektif pesantren, majelis taklim, dakwah dalam kajian masyarakat, ceramah lewat kanal YouTube, hingga tradisi lokal yang semarak dalam budaya masyarakat seperti maulid nabi dan acara halal bihalal.

Abuddin Nata menjelaskan bahwa Islam mencakup ajaran, sejarah, dan praktik sosial umat (Nata, 2020). Artinya, ketika kita mempelajari Islam harus dari berbagai perspektif, bukan hanya sekedar pada batasan membaca Al-Qur’an saja, tetapi juga membaca realitas yang ada dalam masyarakat.

Di Indonesia sendiri, cenderung mengarah ke pedesaan Islam sering diekspresikan melalui pengajian rutin dan tahlilan. Sementara di bagian daerah lain umumnya di perkotaan Islam tampil dalam kajian tematik, komunitas hijrah, dan dakwah digital. Beda dengan dunia kampus, Islam hadir dalam bentuk diskusi akademik dan penelitian. Semua ini adalah wajah Islam yang sama-sama sah untuk dikaji. 


Pahami Agama dengan Metode


Masalah muncul ketika Islam dipahami tanpa metodologi yang jelas. Di era media sosial, siapa pun bisa bicara agama. Video dengan durasi 30 detik saja saat ini bisa dianggap sebagai fatwa. Potongan ayat bisa dijadikan senjata untuk menyerang orang lain.

Yusuf Ali Anwar mengingatkan bahwa studi Islam harus meninggalkan pendekatan subjektif menuju pendekatan ilmiah (Anwar, 2003), karena  tanpa metode, agama akan sangat mudah diperalat. Sebagai contoh di kehidupan nyata, sebagian orang jadi mudah mengafirkan sebagian yang lain, mudah memberikan cap bid'ah, bahkan sangat mudah menghakimi bahwa cara ibadah seseorang dikatakan tidak benar atau kurang tepat dan juga sangat mudah menyebarkan hoaks yang bernilai agama, sehingga Islam dipandang sebagai agama yang ekstrem.  Padahal Al-Qur’an sendiri memerintahkan agar umatnya sangat berhati-hati dalam hal ini, perintah untuk memeriksa informasi tertera jelas dalam QS. Al-Hujurat: 6 yang isinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

 

Islam Mengajarkan Kita Berpikir Secara Terstruktur


Ketika kita belajar mengaji sejak kecil, biasanya kita diajari untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, mengikuti tajwid, dan memperhatikan makhraj huruf. Kita tidak boleh membaca asal-asalan. Begitu juga ketika belajar hadis, kita diajari untuk tidak langsung percaya pada semua yang beredar di media sosial. Dalam ilmu hadis terdapat beberapa tingkatan yang harus kita pahami. Kita diajak bertanya: ini hadis shahih atau tidak? Dhaif, hasan atau bahkan Maudhu (palsu).


Dari pembiasaan ini secara tidak sadar, sejak awal umat Islam sudah dididik berpikir dengan cara yang teratur dan bertanggung jawab. Hal ini secara akademik  disebut juga sebagai metodologi. 


Ditinjau dari sisi bahasa atau etimologi, kata metodologi berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti “cara” sedangkan logos yang berarti “ilmu”. Metodologi adalah ilmu tentang bagaimana cara memperoleh pengetahuan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.


Anthony Flew memaparkan bahwa metodologi adalah kajian ilmu yang menekankan keteraturan untuk membangun pengetahuan yang benar dan tersistem. (Flew, 1974). Seperti telah dijabarkan, dalam Islam, hal ini bukan konsep baru. Para ulama sudah ratusan tahun menyusun untuk menyampaikan keilmuan islam agar umat memiliki pemahaman yang benar, melalui kajian ilmu hadis yang dikenal dengan ilmu sanad dan matan yang menjelaskan  bahwa rantai periwayatan hadis diteliti dengan sangat ketat agar sampai pada Rasulullah SAW. 


Melalui kajian ilmu sanad dan matan ini semua hadis yang tersampaikan kepada kita tidak bisa langsung digunakan, apalagi yang disampaikan lewat tiktik instagram atau yang lainnya tanpa disertai riwayat yang jelas. 


Begitu pula dalam kajian tafsir, para ulama tidak menafsirkan ayat secara sembarangan. Mereka memperhatikan konteks turunnya ayat, bahasa Arabnya, serta situasi sosial saat itu. Contohnya, ayat tentang perang tidak bisa langsung diterapkan di zaman damai tanpa memahami latar belakang sejarahnya atau asbaun nuzulnya.


Begitu pula dalam ilmu ushul fiqh, para ulama sangat hati-hati dalam menyusun tuntunan cara mengambil hukum dari Al-Qur’an dan hadis ketika tidak ada dalil yang eksplisit. Akhirnya melalui ilmu ushul fiqh  muncul berbagai mazhab yang berbeda, namun tetap berada dalam patokan keilmuan yang ada batasannya dari para ulama.


Jujun Suriasumantri menyebut metodologi sebagai kajian tentang paradigma, pendekatan, dan cara berpikir ilmiah dalam membangun pengetahuan (Suriasumantri, 1993). Dengan kata lain, ulama tidak asal menafsirkan agama berdasarkan perasaan atau selera pribadi. Mereka bekerja dengan aturan, disiplin ilmu, dan tanggung jawab moral.


Jika kita perhatikan praktik keagamaan di Indonesia, pendekatan metodologis ini tampak jelas melalui eksistensi Majelis Ulama Indonesia dalam mengeluarkan fatwa, mereka tidak melakukannya hanya berdasarkan pendapat satu orang. Para ulama di dalamnya mengkaji dalil dari ragam perspektif, seperti konteks sosial, dampak ekonomi, hingga kondisi masyarakat setempat. DAn metodologi dijadikan sebagai landasan keilmuan. 


Melalui penjelasan ini sudah selayaknya kita memahami bahwa metodologi bukanlah sesuatu yang kaku dan menakutkan. Kita harus memahami bahwa metodologi merupakan alat yang menuntun kita agar  bisa beragama dengan lebih tenang, tidak mudah terbaw arus, dan jadi mudah menyalahkan orang lain. Dengan metodologi, iman tidak hanya kuat secara emosi, tetapi juga kokoh secara intelektual.


Islam Agama yang Penuh Kelembutan


Setelah memahami pentingnya metodologi dalam mempelajari Islam, kita sampai pada satu pertanyaan penting: sebenarnya, dari sudut mana saja Islam bisa dipelajari? Apakah cukup hanya membaca Al-Qur’an dan hadis? Ataukah kita juga perlu melihat bagaimana Islam dipraktikkan dalam kehidupan nyata?


Di sinilah pemikiran Muh. Arif menjadi sangat relevan. Ia menjelaskan bahwa objek studi Islam dapat dipahami melalui tiga dimensi utama, yaitu sebagai doktrin, sebagai budaya, dan sebagai realitas sosial (Arif, 2020). Pembagian ini membantu kita melihat Islam secara lebih utuh, tidak sepotong-sepotong.


1. Islam sebagai Doktrin


Apa yang dimaksud dengan Islam sebagai Doktrin? Hal ini bisa diartikan bahwasannya seorang Muslim harus memikiki keimanan secara mendasar yang bersifat tetap.


Islam sebagai doktrin harus bersumber pada rujukan utama yaitu Al-Qur’an dan hadis. Pada tahap ini Islam dimaknai sebagai wahyu Allah yang bersifat suci, benar, dan tidak berubah dan merupakan dasar dan fondasi keimanan umat Islam.


Seperti halnya kewajiban shalat lima waktu, puasa Ramadan, dan larangan riba merupakan bagian dari doktrin yang bersumber langsung dari teks suci. Nilai-nilai ini berlaku di mana pun dan kapan pun.


Amin Abdullah menyebut dimensi ini sebagai wilayah normatif agama, yaitu wilayah yang tidak bisa diganggu gugat karena berkaitan langsung dengan konsep ke-Tuhanan (Abdullah, 2006).


Namun, tentu saja dalam memahami kaidah Islam tidak cukup dari sisi doktrinitas saja, karena kondisi ini akan membuat seorang Muslim bersikap kaku dan kurang memahami keadaan sekelilingnya. 


2. Islam Bersifat Universal


Selain sebagai doktrin, Islam juga hidup dalam bentuk budaya. Di sinilah kita melihat bagaimana ajaran Islam berinteraksi dengan tradisi lokal dan kebiasaan masyarakat.


Di Indonesia, misalnya, kita mengenal tradisi tahlilan, selamatan, maulid nabi, pengajian kampung, hingga pesantren. Semua ini adalah ekspresi budaya Islam yang tumbuh dari perjumpaan antara ajaran agama dan kearifan lokal.


Clifford Geertz menyebut agama sebagai sistem simbol yang memberi makna dalam kehidupan manusia (Geertz, 1973). Artinya, praktik keagamaan tidak hanya soal benar dan salah, tetapi juga soal makna sosial dan identitas komunitas. Contohnya, tahlilan bagi sebagian masyarakat bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan solidaritas warga.


Jika kita memahami dimensi budaya ini, kita tidak akan mudah melabeli praktik orang lain sebagai “tidak islami” hanya karena berbeda dengan kebiasaan kita.


3. Islam sebagai Realitas Sosial: Agama dalam Kehidupan Publik


Dimensi ketiga adalah Islam sebagai realitas sosial. Pada level ini, Islam tampil dalam bentuk organisasi, lembaga, gerakan, dan kebijakan publik. Kita melihatnya dalam peran NU dan Muhammadiyah, aktivitas BAZNAS, sekolah Islam terpadu, partai politik berbasis Islam, hingga gerakan sosial kemanusiaan.


Dalam konteks ini, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antar manusia. Ia menjadi kekuatan sosial yang memengaruhi pendidikan, ekonomi, dan politik. Sosiolog agama menyebut bahwa agama berfungsi sebagai perekat sosial dan sumber nilai moral masyarakat (Durkheim, dalam Turner, 2011). 


Contohnya, saat terjadi bencana alam, lembaga-lembaga Islam sering menjadi garda terdepan dalam bantuan kemanusiaan. Ini adalah wujud nyata Islam sebagai kekuatan sosial.


Mengapa Memahami Tiga Sisi Ini Penting?


Memahami Islam dari tiga sisi ini membuat kita lebih dewasa dalam beragama. Kita tidak lagi melihat perbedaan sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari dinamika umat.


Seseorang yang hanya melihat Islam sebagai doktrin cenderung mudah menyalahkan orang lain. Sebaliknya, orang yang memahami dimensi budaya dan sosial akan lebih toleran dan bijak.


Jurnal Studia Islamika (2023) menunjukkan bahwa pemahaman multidimensional terhadap Islam berkorelasi dengan sikap moderat dan dialogis di kalangan mahasiswa Muslim. Dengan perspektif ini, kita belajar bahwa beragama bukan hanya soal hafal dalil, tetapi juga soal memahami manusia dan masyarakat.


Pada akhirnya, metodologi membantu kita melihat Islam bukan sebagai tembok pemisah, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan iman, budaya, dan kemanusiaan. Menggabungkan Teks dan Konteks: Membaca Al-Qur’an dengan Mata Hati dan Realitas. 


Setelah memahami bahwa Islam memiliki dimensi doktrin, budaya, dan sosial, kita sampai pada satu tantangan besar dalam studi Islam: bagaimana cara membaca teks agama agar tetap setia pada ajaran, tetapi juga relevan dengan zaman?


Banyak perdebatan keagamaan sebenarnya muncul karena ketidakseimbangan dalam membaca teks. Ada yang terlalu tekstual, sehingga semua ayat dipahami secara harfiah tanpa melihat situasi. Ada pula yang terlalu kontekstual, sehingga teks dianggap bisa ditafsirkan sesuka hati.


Untuk menjembatani dua kutub ini, Amin Abdullah mengusulkan pendekatan integratif antara normatif dan historis (Abdullah, 2006). Pendekatan ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dan hadis harus dipahami sebagai wahyu ilahi yang suci, tetapi juga lahir dalam konteks sejarah dan sosial tertentu. Dengan kata lain, teks agama tidak boleh dilepaskan dari realitas manusia.


Memahami Konsep Normatif dan Historis


Pendekatan normatif menempatkan Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber kebenaran utama. Nilai-nilainya bersifat tetap, seperti perintah berbuat adil, menolong sesama, dan menunaikan zakat. Namun, pendekatan historis mengajak kita melihat bagaimana ajaran itu diterapkan dalam kehidupan nyata. Di sinilah peran akal dan ilmu sosial menjadi penting dan harus berjalan secara seimbang.


Kita bisa ambil perumpamaan dari hukum menunaikan zakat. Al-Qur’an memerintahkan seorang muslim untuk membayar zakat sebagai kewajiban yang harus ditunaikan. Hukum menunaikan zakat masuk dalam wilayah normatif. Namun, ketentuan dalam menunaikannya dan cara mengelolanya harus mengkaji berbagai keadaan dan berbagai perspektif dan ini masuk dalam wilayah historis.


Bagaimana zakat dikelola? Apakah langsung diberikan kepada fakir miskin? Apakah melalui lembaga? Apakah menggunakan teknologi digital? Di negara kita, zakat disalurkan melalui BAZNAS, LAZ, yang saat ini untuk pembayaran zakat telah berkembang. Pembayaran disediakan melalui aplikasi daring. Ada sistem audit, laporan keuangan, dan program pemberdayaan ekonomi. Semua ini merupakan bentuk historisasi ajaran zakat sesuai perkembangan zaman.


Dengan adanya sistem daring dalam menunaikan zakat, maka berdampak pada rasa kepercayaan yang meningkat dalam masyarakat, karena laporan dilakukan secara transparan melaui sebuah aplikasi. hal ini terbukti dalam pemaparan dalam Jurnal Al-Jami’ah (2023) yang menjelaskan bahwa digitalisasi zakat meningkatkan transparansi dan kepercayaan publik terhadap lembaga amil zakat. 


Pengaplikasian Teori dalam Kehidupan Nyata


Teori harus sejalan dengan praktiknya. Seorang cendekiawan muslim yang berasal dari Pakistan Fazlur Rahman (1919 - 1988) menyebut pendekatan ini sebagai double movement theory (Rahman, 1982). Pengertian lain menyebutkan bahwa  ketika memahami Al-Qur’an harus melalui dua gerakan utama.


Gerakan pertama adalah kembali ke masa turunnya wahyu pertama kali. Kita perlu memahami situasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Arab kala itu pada saat  ayat diturunkan. Misalnya, ayat tentang riba, kala itu  turun dikarenakan keadaan masyarakat kala itu menindas orang miskin melalui praktik utang berbunga tinggi.


Gerakan kedua adalah menerapkan nilai moral dari sebuah ayat kepada keadaan saat ini. Seperti halnya dengan kasus riba.  Riba pada saat inni tidak hanya berupa bunga pinjaman, tetapi juga bisa muncul dalam praktik kredit yang mencekik, pinjaman online ilegal, atau sistem ekonomi eksploitatif.


Melalui metode ini, kita tidak akan terjebak pada pengertian riba dalam versi lama saja, melainkan dengan pengertian dan keadaan yang lebih luas lagi kondisinya, yang memang marak di Indoneisa pada saat ini.

 

Pendekatan teks dan konteks juga tampak dalam berbagai praktik keislaman di Indonesia. Dalam hukum waris, misalnya, Al-Qur’an memberikan pembagian tertentu. Namun dalam praktik, banyak keluarga melakukan musyawarah agar pembagian tetap adil sesuai kondisi ekonomi anggota keluarga. Ini bukan menolak teks, tetapi menyesuaikan penerapannya secara bijak.


Dalam pendidikan Islam, pesantren kini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga teknologi, kewirausahaan, dan literasi digital. Ini adalah bentuk kontekstualisasi ajaran menuntut ilmu.


Begitu pula dalam perihal dakwah. Saat ini ceramah bukan hanya terjadi di mimbar masjid, melainkan dilakukan melalui berbagai media dan sarana digital yang dilakukan dalam bentuk podcast yang tayang di  YouTube, televisi dan media sosial lainnya. 


Pesannya tetap sama, namun media yang digunakan mengalami perubahan dan perkembangan.  Semua ini menunjukkan bahwa Islam hidup dan berkembang melalui dialog antara teks dan realitas.


Mengapa Pendekatan Ini Penting bagi Umat?


Pendekatan yang saling terintegrasi dengan baik, menjadikan muslim terhindar dari dua sikap ektrim yang jatuhnya menjadi fanatisme sempit dan relativisme berlebihan.Tanpa konteks, teks bisa disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan. Tanpa teks, konteks bisa menghilangkan nilai moral agama.


Amin Abdullah menyebut bahwa integrasi antara keterlibatan teks dan pendalaman konteks sangat penting untuk membangun Islam yang humanis dan beradab (Abdullah, 2006). Dijelaskan juga dalam sebuah Jurnal Studia Islamika (2024) bahwa pendekatan integratif akan memberikan kontribusi penguatan moderasi beragama di perguruan tinggi Islam. 

Dengan menggabungkan teks dan konteks secara seimbang, kaum muslimin  dapat menjalankan agama secara lebih bijak, adaptif, dan relevan.


Dari Metodologi ke Kehidupan Sehari-hari


Pada akhirnya, Istilah metodologi harsu disosialisasikan agar tidak terkesan hanya menjadi wacana di kalangan akademisi. Metodologi merupakan ilmu praktis yang bisa diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Ketika membaca ayat, kita belajar bertanya. Apa pesan moralnya? Apa konteks turunnya?Bagaimana menerapkannya hari ini?


Ketika kita belajar ilmu agama dari ceramah baik di majlis taklim maupun melalui sosial media, kita akan mampu belajar berpikir kritis. Apakah yang disampaikan sesuai dengan dalil? Apakah relevan dengan kondisi masyarakat saat ini? Apakah akan membawa kemaslahatan dan dampak yang baik?


Dengan cara inilah metodologi studi Islam membantu kita beragama dengan akal sehat dan hati yang jernih. Islam pun tidak berhenti sebagai teks di mushaf, tetapi hadir sebagai nilai yang hidup dalam masyarakat.


Agama dan Ilmu Harus Berjalan Bersama


Setelah memahami pentingnya menggabungkan teks dan konteks, kita perlu menengok ke belakang dan belajar dari perjalanan panjang peradaban Islam. Sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan. Justru, pada masa-masa tertentu, Islam menjadi pusat perkembangan ilmu dunia.


Pada abad ke-8 hingga ke-13, dunia Islam memasuki masa keemasan. Di Baghdad berdiri Bait al Hikmah, sebuah pusat penerjemahan dan penelitian yang mengumpulkan karya-karya filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi dari Yunani, Persia, dan India. Para ulama tidak ragu mempelajari ilmu luar selama membawa manfaat.


Tokoh-tokoh seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd menunjukkan bahwa seorang Muslim bisa menjadi ahli agama sekaligus ilmuwan. Mereka memadukan iman dan rasio dalam satu kesatuan.


Jamali Sahrodi mencatat bahwa lembaga seperti Al-Azhar di Mesir dan Cordova di Andalusia menjadi model integrasi antara agama dan sains (Sahrodi, 2008). Di sana, ilmu tafsir, fiqh, matematika, dan kedokteran diajarkan bersama.


Al-khawarizmi, yang masyhur sebagai ahli matematika, sebagai penemu perhitungan aljabar, dan terkenal dengan istilah al goritma dalam matematika adalah jasa dari keberadaan sang ahli al-khawarizmi. Begitu juga dengan Umar al-Khayam dan al-Thusi, mereka semua adalah seorang ahli Matematka. BAhkan angka 0 sampai 9 dikenal sebagai angka arab. Sejak ditemuaknnya angka ini maka matematika menjadi semakin berkembang, dari pada masa sebelumnya yang menggunakan angka romawi seperti I, II,III, IV dan seterusnya.


Begitu pula dalam keilmjuan astronomi yang dipakari oleh Umar Khayam dan al-Farazi. Dan kalender yang dibuat oleh Umar Khayam terkenal lebih akurat dari pada kalender yang dibuat oleh Gregorius.


Di bidang kimia nama ulama Jabir al-Hayyan dan Zakaria al-Razi sangat terkenal. NAma keduanya sangat masyhur dikenal sebagai GAber dan Rhazes. Saat kejayaan Islam ilmu kimia menjadikan timah, loyang, besin dan sejenisnya dapat diubah menjadi emas dengan perantara substitusi zat tertentu. Semua dilakukan melalui uji coba dan eksperimen, sedangkan sebelumnya di Yunani, kimia dibangun berdasarkan spekulasi.


Begitu pula dengan ilmu optik, Ibnu Haitsam berhasil meyakinkan dunia dengan teorinya yang meyhatakan bahwa benda yang bisa dilihat oleh mata karena benda tersebut mengirimkan cahaya ke mata dan mematahkan teori yang disampaikan oleh Euklid dan Ptolomeus dengan teori sebaliknya yaitu benda dapat dilihat karena mata mengirimkan cahaya ke benda.


Dalam konteks Indonesia, tradisi keilmuan ini diwariskan melalui pesantren. Kitab kuning, sanad keilmuan, dan sistem sorogan mencerminkan disiplin akademik khas Islam Nusantara. Saat ini, banyak pesantren juga mengajarkan teknologi, bahasa asing, dan kewirausahaan.


Jurnal Studia Islamika (2023) menunjukkan bahwa pesantren modern berperan besar dalam membentuk generasi Muslim yang adaptif terhadap perubahan zaman.


Sejarah ini mengajarkan bahwa kemunduran umat bukan karena agama, tetapi karena berhentinya tradisi berpikir ilmiah. Fazlur Rahman menegaskan bahwa stagnasi intelektual terjadi ketika umat berhenti mengembangkan metodologi (Rahman, 1982).


Melalui sejarah, kita mampu memaknai bahwasannya untuk menjadi menjadi Muslim sejati yang taat tidak membuat dia harus melawan keilmiahan dalam berpikir kritis. 


Tantangan Islam di Era Digital


Memasuki abad ke-21, umat Islam menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya: era digital. Internet, media sosial, dan platform video telah mengubah cara manusia belajar agama.


Hari ini, seseorang bisa belajar tafsir lewat YouTube, mengikuti kajian lewat podcast, atau membaca fatwa lewat Instagram. Dakwah menjadi lebih cepat, lebih luas, dan lebih inklusif. Namun, kemudahan ini juga membawa risiko besar. Siapa pun kini bisa mengaku sebagai ustaz. Potongan ayat dan hadis bisa dipelintir demi popularitas. Konten provokatif lebih mudah viral karena didorong oleh algoritma.


Di dalam Journal of Religion and Media (2024) dijelaskan bahwa digitalisasi agama menciptakan fenomena “instant religiosity”, yaitu keberagamaan instan tanpa pendalaman ilmu. Di Indonesia, kita sering melihat ceramah viral yang memicu perdebatan, memecah umat, atau bahkan menyebarkan kebencian. Banyak orang lebih percaya video pendek daripada kitab rujukan. Padahal, Al-Qur’an sudah mengingatkan.

Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (QS. Al-Isra’: 36).


Dalam konteks digital, ayat ini sangat relevan. Metodologi studi Islam menjadi benteng utama menghadapi banjir informasi. Mahasiswa dan masyarakat perlu dibekali literasi digital keagamaan: kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan berpikir kritis.


Beberapa pesantren dan kampus Islam kini mulai mengajarkan dakwah digital yang etis dan berbasis ilmu. Ini merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas keberagamaan di ruang maya. Jurnal Indonesian Journal of Islamic Communication (2023) menunjukkan bahwa pendidikan literasi digital mampu menurunkan penyebaran hoaks keagamaan di kalangan mahasiswa.


Menjadikan Sejarah dan Teknologi sebagai Guru


Jika kita refleksikan, sejarah dan teknologi sebenarnya memberi pesan yang sama: Islam berkembang ketika umatnya berpikir, dan melemah ketika umatnya berhenti belajar.  Pada masa klasik, ilmu berkembang karena keterbukaan. Di era digital, kualitas iman terjaga jika disertai literasi. Sejarah mengajarkan kita untuk menghargai ilmu. Teknologi mengingatkan kita untuk bijak menggunakan ilmu.


Dengan metodologi yang kuat, umat Islam tidak akan terombang-ambing oleh tren, viralitas, atau provokasi. Mereka akan tetap kokoh, moderat, dan produktif. Seperti pesan Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah lekang dikmakan zaman baik pada zaman kitab maupun di era digital saat ini yaitu, sabda beliau salallahu 'alaihi wa salam.

Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim).


Metodologi dan Moderasi Beragama Membentuk Muslim yang Cerdas dan Inovatif


Setelah membahas bagaimana Islam dipahami melalui teks, konteks, sejarah, budaya, dan tantangan digital, kita sampai pada satu tujuan besar dari semua pendekatan ini: membangun sikap moderat dalam beragama.


Moderasi beragama sering disalahpahami sebagai sikap setengah-setengah atau kompromi terhadap ajaran. Padahal, dalam perspektif Islam, moderasi justru merupakan perwujudan dari kematangan iman dan kedalaman ilmu.


Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan—umat pertengahan (QS. Al-Baqarah: 143). Makna “pertengahan” di sini bukan berarti netral tanpa prinsip, tetapi seimbang antara keteguhan dan keterbukaan.


Amin Abdullah menjelaskan bahwa moderasi lahir dari kemampuan mengintegrasikan dimensi normatif, historis, dan sosial dalam memahami agama (Abdullah, 2006). Orang yang memahami metodologi dengan baik tidak mudah terjebak pada sikap ekstrem, baik ke arah fanatisme sempit maupun liberalisme tanpa batas.


Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, sikap moderat ini tampak dalam praktik keberagamaan yang saling menghormati. Misalnya, perbedaan qunut dalam shalat Subuh tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Perbedaan penentuan awal Ramadan disikapi dengan dewasa. Tradisi lokal dihargai tanpa mengorbankan prinsip dasar Islam.


Jurnal Al-Tahrir (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa yang dibekali pendidikan metodologi studi Islam memiliki tingkat toleransi dan dialog antar-kelompok yang lebih tinggi.


Ini membuktikan bahwa moderasi bukan lahir dari slogan, tetapi dari proses pendidikan yang serius. Metodologi juga melatih umat Islam untuk membedakan antara prinsip dan preferensi. Prinsip adalah hal-hal pokok dalam agama. Preferensi adalah cara menjalankan yang bisa berbeda. Dengan pemahaman ini, konflik internal umat bisa ditekan.


Dalam konteks global yang penuh polarisasi, moderasi berbasis ilmu menjadi modal utama umat Islam untuk tampil sebagai rahmat bagi semesta.


Belajar Islam dengan Ilmu, Hati, dan Tanggung Jawab Sosial


Pada akhirnya, seluruh pembahasan dalam Bab 1 Metodologi Studi Islam membawa kita pada satu kesimpulan penting: beragama tidak cukup hanya dengan niat baik dan semangat, tetapi harus dibarengi dengan ilmu dan cara berpikir yang benar.


Tanpa ilmu, iman bisa berubah menjadi fanatisme. Tanpa iman, ilmu bisa kehilangan arah moral. Islam mengajarkan keseimbangan keduanya. Melalui metodologi, kita belajar membaca Al-Qur’an dengan akal dan hati. Kita belajar memahami hadis dengan tanggung jawab ilmiah. Kita belajar melihat tradisi dengan bijak. Kita belajar menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas.


Dalam konteks Indonesia yang plural dan dinamis, pendekatan ini menjadi semakin penting. Umat Islam dituntut untuk menjadi agen perdamaian, bukan sumber konflik. Menjadi pelopor kemajuan, bukan penghambat perubahan.


Fazlur Rahman mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam hanya mungkin terjadi jika tradisi berpikir kritis dan etis dihidupkan kembali (Rahman, 1982). Jurnal Islamic Studies Review (2024) juga menegaskan bahwa reformasi pendidikan Islam harus dimulai dari penguatan metodologi.


Dengan demikian, metodologi studi Islam bukan sekadar materi kuliah, tetapi bekal hidup. Ia membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan berkontribusi dalam masyarakat. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW.

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Dawud).


 Warisan itu bukan hanya hafalan, tetapi cara berpikir yang jujur, adil, dan bertanggung jawab. Semoga melalui pemahaman metodologi yang baik, kita dapat menjadi Muslim yang kuat imannya, luas wawasannya, dan besar kontribusinya bagi bangsa dan kemanusiaan.


Saatnya Kita Memulai dari Diri Sendiri


Memaknai ini semua mungkin akan membuat kita merenung, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan untuk memakmurkan bumi bagi kita yang hanya orang biasa ini? JAngan khawatir, mulailah dari hal yang sederhana dengan memahami islam dengan benar. Jangan mudah menyalahkan orang lain, kaji agama dari para ahlinya, sehingga kita akan benar-benar memahami. Banyak membaca dan bertanya kepada ahlul ilmu. 


Ketika menerima ceramah di media sosial, jangan langsung percaya. Cek sumbernya. Buka kitabnya. Bandingkan dengan pendapat ulama lain. Diskusikan dengan guru atau dosen yang amanah. Ketika melihat perbedaan di masjid, di keluarga, atau di lingkungan, jangan buru-buru emosi. Ingat bahwa Islam memiliki ruang luas untuk perbedaan yang beradab.


Ketika anak-anak kita bertanya tentang agama, jangan hanya memberi jawaban instan. Ajak mereka berpikir. Ajak mereka membaca. Ajak mereka mencintai ilmu. Karena Islam yang kuat bukanlah Islam yang paling keras suaranya, tetapi Islam yang paling dalam ilmunya.


Islam yang dewasa bukan yang mudah marah, tetapi yang mampu berdialog. Islam yang membawa rahmat bukan yang memecah, tetapi yang menyatukan. Jika hari ini kita mulai belajar dengan sungguh-sungguh, maka esok kita tidak akan mudah diseret oleh kebencian, hoaks, dan fanatisme. Mari jadikan metodologi bukan sekadar bahan kuliah, tetapi jalan hidup dalam beragama.


Belajar terus. Bersikap rendah hati. Beragama dengan ilmu dan kasih sayang. Karena dari situlah Islam kembali menjadi cahaya, bukan bara.


REFERENSI


Abdul Hakim, A., & Mubarak, J. (2024). Metodologi Studi Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ali Anwar, Y. (2003). Studi Agama Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Arif, M. (2020). Metodologi Studi Islam (Suatu Kajian Integratif). Jakarta: Insan Cendekia Mandiri.

Djamari. (1993). Agama dalam Perspektif Sosiologi. Bandung: Alfabeta.

Flew, A. (1974). Dictionary of Philosophy. London: Pan Books.

Nahlawi, A. (1995). Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press.

Nata, A. (2020). Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rozak, A. (2021). Cara Memahami Islam: Metodologi Studi Islam. Bandung: Gema Media Pusakatama.

Sahrodi, J. (2008). Metodologi Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Suriasumantri, J. S. (1993). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

10 Universitas Terbaik di Kanada yang Menjadi Favorit Mahasiswa Internasional

Selasa, 13 Januari 2026
Di era perkembangan teknologi yang semakin maju, peluang untuk menempuh pendidikan di luar negeri terus mengalami peningkatan. Banyak pelajar dari berbagai negara memilih melanjutkan studi ke negara lain demi mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Salah satu negara yang menjadi tujuan favorit mahasiswa internasional adalah Kanada. Negara ini dikenal memiliki sistem pendidikan berkualitas tinggi yang telah diakui secara internasional, sehingga menarik minat pelajar dari berbagai belahan dunia untuk Kuliah di Kanada

Kanada secara konsisten mengembangkan banyak universitas dengan standar mutu tinggi yang termasuk dalam jajaran universitas kelas dunia. Sistem pendidikan di Kanada dirancang secara fleksibel dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja selama masa studi. Selain itu, Kanada memiliki dua bahasa resmi, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Prancis. Secara geografis, Kanada memiliki wilayah yang sangat luas, mencakup kawasan metropolitan, lahan pertanian yang subur, pegunungan, sungai, hutan di wilayah utara, hingga daerah tundra Arktik. Berdasarkan sejarahnya, Kanada dikenal sebagai negara dwibahasa (bilingual country).

daftar kampus favorit kanada


Universitas Favorit Bagi Mahasiswa Internasional Di Kanada


Saat ini, Kanada menjadi salah satu negara tujuan utama bagi mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mahasiswa Indonesia juga bisa bersaing dan memiliki banyak pilihan untuk menyalurkan minatnya mengambil study di luar jika ingin mencoba sistem pendidikan yang berbeda dengan pendidikan universitas dalam negeri. Negara ini memiliki banyak universitas dengan kualitas pendidikan yang sangat baik dan diakui secara global. Selain itu, berkuliah di Kanada juga menawarkan berbagai keuntungan, mulai dari sistem pendidikan yang berkualitas hingga peluang kerja bagi mahasiswa. Berikut beberapa universitas terbaik di Kanada yang banyak diminati oleh mahasiswa internasional dan bisa menjadi pilihan bagi kamu yang berencana melanjutkan studi.

University of Toronto


University of Toronto didirikan pada 15 Maret 1827 dengan nama awal King’s College. Kampus utamanya terletak di kawasan Queen’s Park, Toronto. Universitas ini menawarkan lebih dari 700 program sarjana dan sekitar 200 program pascasarjana bagi mahasiswa. Sekitar 25 persen dari total mahasiswa di University of Toronto merupakan mahasiswa internasional, yang menunjukkan tingginya minat pelajar dari berbagai negara untuk berkuliah di sini. Dari sisi akademik, universitas ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik di Kanada dan menerapkan sistem pendidikan yang setara dengan universitas ternama dunia seperti Oxford dan Cambridge.

University of Toronto menempati peringkat pertama di Kanada dan termasuk universitas terbaik di dunia dalam hal dampak penelitian. Pada tahun 2023, jumlah mahasiswa terdaftar hampir mencapai 100.000 orang. Universitas ini menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, seperti program kerja berbayar, kegiatan penelitian, dan kesempatan studi ke luar negeri. Kehidupan kampus tergolong aktif dan dinamis, meskipun mahasiswa perlu bersikap proaktif dalam membangun pertemanan karena jumlah mahasiswa yang sangat besar.

University of British Columbia (UBC)


University of British Columbia (UBC) merupakan salah satu universitas negeri terkemuka yang berlokasi di Provinsi British Columbia, Kanada. Universitas ini didirikan pada tahun 1908 dan mulai beroperasi secara resmi pada tahun 1915. UBC memiliki dua kampus utama, yaitu Kampus Vancouver dan Kampus Okanagan yang terletak di Kelowna. Kampus Vancouver menjadi kampus terbesar dan menampung lebih dari 85 persen total mahasiswa UBC. Dalam satu tahun terakhir, mahasiswa internasional mencapai sekitar 23 persen di Kampus Vancouver dan sekitar 13 persen di Kampus Okanagan. UBC juga menyediakan fasilitas perumahan yang diprioritaskan bagi mahasiswa sarjana tahun pertama, termasuk mahasiswa internasional yang baru diterima, serta menyediakan hunian bagi mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang melanjutkan studi.


Dari sisi akademik, Kampus Vancouver memiliki lebih dari dua puluh divisi akademik, sedangkan Kampus Okanagan memiliki delapan divisi. Sistem kalender akademik di kedua kampus terdiri atas semester musim dingin dan musim panas, dengan semester musim panas bersifat opsional. Bahasa pengantar utama dalam kegiatan perkuliahan di UBC adalah bahasa Inggris. Bagi mahasiswa internasional tahun pertama, UBC menawarkan program Vantage One melalui Vantage College, yang dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan kesiapan akademik dengan memperpanjang masa studi tahun pertama menjadi 11 bulan. Setelah menyelesaikan program tersebut, mahasiswa akan melanjutkan ke tahun kedua program studi reguler. UBC juga dikenal memiliki fasilitas penelitian kelas dunia, seperti TRIUMF sebagai laboratorium fisika subatomik nasional Kanada, UBC Farm untuk pengembangan sistem pangan berkelanjutan, serta Institute for Healthy Living and Chronic Disease Prevention. Secara keseluruhan, mahasiswa internasional mencakup sekitar 33 persen dari total populasi mahasiswa di University of British Columbia.

McGill University


McGill University merupakan salah satu universitas negeri ternama di Kanada yang berdiri sejak tahun 1821 dan berlokasi di Provinsi Quebec. Universitas ini memiliki dua kampus utama, yaitu kampus pusat kota yang berada di Montreal serta Kampus Macdonald di Sainte-Anne-de-Bellevue. Kedua kampus tersebut berjarak sekitar 20 mil. Bahasa pengantar utama dalam kegiatan perkuliahan adalah bahasa Inggris, meskipun dalam beberapa tahun terakhir sekitar 20 persen mahasiswa menyatakan bahasa Prancis sebagai bahasa pertama mereka. Hal ini sejalan dengan kondisi Montreal sebagai kota dwibahasa, di mana sekitar setengah penduduknya menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa utama. Sekitar 25 persen mahasiswa McGill merupakan mahasiswa internasional yang berasal dari lebih dari 150 negara. Universitas ini juga menyediakan fasilitas perumahan bagi mahasiswa sarjana maupun pascasarjana di kedua kampus.

Dari sisi akademik, McGill University memiliki 10 fakultas, yaitu Fakultas Pertanian dan Lingkungan, Seni, Kedokteran Gigi, Pendidikan, Teknik, Hukum, Manajemen, Kedokteran, Musik, dan Sains. Secara keseluruhan, McGill menawarkan sekitar 300 program studi, dengan sekitar dua pertiga mahasiswanya menempuh pendidikan di jenjang sarjana. Universitas ini memiliki keterkaitan erat dengan berbagai rumah sakit pendidikan, serta dikenal memiliki fakultas kedokteran tertua di Kanada. Salah satu capaian riset penting yang terkait dengan McGill adalah pengembangan sel darah buatan pertama. Dalam konteks universitas terbaik di Kanada, McGill juga dikenal melahirkan tokoh-tokoh ternama, seperti penyanyi dan penulis lagu Leonard Cohen serta aktor William Shatner. Selain itu, McGill University tercatat sebagai institusi di Kanada yang menghasilkan Sarjana Rhodes terbanyak, menjadikannya pilihan unggulan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Kanada.


McMaster University


McMaster University merupakan universitas negeri di Kanada yang didirikan pada tahun 1887. Kampus utamanya berlokasi di kawasan pinggiran kota Hamilton, Ontario, tidak jauh dari tepi barat Danau Ontario dan dekat dengan perbatasan Amerika Serikat. Selain kampus utama, McMaster juga memiliki beberapa lokasi kampus lain yang tersebar di pusat kota Hamilton, Burlington, Kitchener–Waterloo, dan Niagara. Mahasiswa internasional di McMaster berasal dari lebih dari 75 negara, sementara dosen dan staf pengajar penuh waktunya berasal dari lebih dari 55 negara. Universitas ini menyediakan asrama mahasiswa yang dikelola langsung oleh institusi, termasuk pilihan komunitas hunian bertema, seperti komunitas khusus perempuan, komunitas hidup sehat dan aktif, serta komunitas dengan perspektif global.

Secara akademik, McMaster University memiliki enam divisi utama, yaitu Teknik, Ilmu Kesehatan, Humaniora, Sains, Ilmu Sosial, serta DeGroote School of Business. Bahasa pengantar dalam kegiatan perkuliahan adalah bahasa Inggris. Salah satu program unggulan McMaster adalah program Seni dan Sains yang menerima sekitar 60 mahasiswa setiap tahun dan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar sarjana yang bersifat interdisipliner. Kalender akademik jenjang sarjana berbasis sistem semester, dengan pilihan semester musim semi atau musim panas yang bersifat opsional. Sementara itu, kalender akademik pascasarjana terdiri dari tiga semester, yaitu musim gugur, musim dingin, dan musim panas. McMaster juga dikenal memiliki lebih dari 60 pusat dan institut penelitian, di antaranya Pusat Ekonomi Kesehatan dan Analisis Kebijakan, Pusat Penelitian eBusiness McMaster, serta Pusat Mikroskopi Elektron Kanada. Universitas ini bahkan memiliki reaktor nuklir sendiri yang digunakan untuk keperluan riset. Fakta unik lainnya, sebagian kecil otak Albert Einstein disimpan dan dipelajari di salah satu laboratorium McMaster oleh ahli saraf universitas tersebut.

Sebagai salah satu universitas terbaik di Kanada, McMaster University di Hamilton, Ontario, dikenal luas karena pendekatan inovatifnya dalam bidang pendidikan dan penelitian. Program kedokteran dan teknik di universitas ini memiliki reputasi yang sangat baik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain fakultas kedokteran, McMaster juga unggul dalam bidang ilmu sosial, teknik, sains, bisnis, dan humaniora, menjadikannya pilihan menarik bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Kanada dengan lingkungan akademik yang progresif.


University of Alberta


University of Alberta adalah salah satu universitas negeri ternama di Kanada yang berdiri sejak tahun 1908 dan berlokasi di Provinsi Alberta, wilayah barat Kanada. Mayoritas mahasiswa universitas ini menempuh pendidikan pada jenjang sarjana, dengan proporsi mencapai sekitar 80 persen dari total populasi mahasiswa. University of Alberta mengelola lima kampus, empat di antaranya berada di kota Edmonton. Kampus Utara berfungsi sebagai kampus utama dan mencakup area yang luas, setara dengan sekitar 50 blok kota. Sementara itu, Kampus Augustana terletak di kota Camrose, sekitar satu jam perjalanan dari Edmonton, dan memiliki jumlah mahasiswa yang lebih kecil dengan fokus pada pendidikan seni dan sains liberal.

Dalam bidang akademik, University of Alberta menawarkan beragam program studi yang mencakup seni, bisnis, teknik, hingga kedokteran. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar utama, kecuali di Kampus Saint-Jean yang menyelenggarakan perkuliahan dalam bahasa Prancis. Mahasiswa internasional mencakup lebih dari 20 persen dari total mahasiswa, menunjukkan daya tarik global universitas ini. Sistem akademik menggunakan semester musim gugur dan musim dingin sebagai periode utama, dengan tambahan semester musim semi dan musim panas yang bersifat opsional. Fasilitas hunian kampus tersedia bagi mahasiswa sarjana maupun pascasarjana di Edmonton dan Kampus Augustana. Dalam bidang riset, University of Alberta bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian terkemuka, termasuk National Institute for Nanotechnology, serta menjalin ratusan kemitraan akademik dan pertukaran internasional dengan institusi di berbagai negara.

Universitas de Montreal 


Université de Montréal merupakan universitas negeri yang berdiri pada tahun 1878 dan awalnya berstatus sebagai cabang Université Laval sebelum menjadi institusi mandiri pada tahun 1919. Universitas ini memiliki afiliasi dengan dua sekolah besar, yaitu Polytechnique Montréal di bidang teknik dan HEC Montréal di bidang bisnis. Seluruh institusi tersebut berlokasi di Montreal, Quebec, salah satu wilayah metropolitan terpadat di Kanada. Sebagian besar mahasiswa pascasarjana di kawasan ini menempuh pendidikan melalui ketiga institusi tersebut. Université de Montréal juga menyediakan fasilitas tempat tinggal bagi mahasiswa sarjana dan pascasarjana penuh waktu.

Dikenal dengan singkatan UdeM, universitas ini memiliki berbagai fakultas yang mencakup ilmu sosial, ilmu alam, kesehatan, seni, dan humaniora. Bahasa Prancis menjadi bahasa pengantar utama, meskipun beberapa program pascasarjana tertentu menerima mahasiswa berbahasa Inggris. Universitas ini juga menyediakan dukungan pembelajaran bahasa Prancis melalui bimbingan akademik, lokakarya, dan sumber belajar tambahan. Dalam bidang penelitian, Université de Montréal menaungi berbagai pusat riset unggulan, seperti Institut Penelitian Imunologi dan Kanker serta Laboratorium Cyberjustice. Para penelitinya aktif berkolaborasi dengan institusi internasional, khususnya di Eropa dan Amerika Utara.

University of Waterloo


University of Waterloo, yang juga dikenal dengan sebutan UW, merupakan universitas negeri di Kanada yang terkenal dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan inovasi. Didirikan pada tahun 1957, universitas ini berlokasi di Waterloo, Ontario, tidak jauh dari kawasan Great Lakes dan perbatasan Amerika Serikat. Selain kampus utama, University of Waterloo memiliki beberapa lokasi pendukung di kota Cambridge, Kitchener, dan Stratford. Saat ini, universitas ini menampung lebih dari 30.000 mahasiswa dari berbagai latar belakang internasional.

Secara akademik, University of Waterloo memiliki enam fakultas utama, yaitu kesehatan terapan, seni, teknik, lingkungan, matematika, dan sains. Kampus utamanya juga bekerja sama dengan empat college afiliasi yang memungkinkan mahasiswa belajar dalam komunitas akademik yang lebih kecil. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar perkuliahan, dengan sistem kalender akademik yang terdiri dari tiga semester. University of Waterloo dikenal luas melalui program co-operative education (co-op) yang mengintegrasikan studi akademik dengan pengalaman kerja profesional. Lebih dari 120 program sarjana menawarkan jalur ini. Selain itu, universitas ini juga memiliki program gelar ganda dan kolaborasi akademik dengan universitas internasional terkemuka, serta didukung oleh pusat penelitian unggulan di bidang air, otomotif, dan teknologi kuantum-nano.

University of Ottawa


University of Ottawa merupakan universitas negeri yang berlokasi di sisi selatan Sungai Ottawa, Kanada. Kota Ottawa dikenal sebagai ibu kota negara yang dinamis, dengan ikon Bukit Parlemen serta kekayaan warisan budaya Pribumi. Selain sebagai pusat pemerintahan, Ottawa juga berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan dan penelitian terkemuka di Kanada. Di antara berbagai institusi akademik yang ada, University of Ottawa menempati posisi penting karena menjadi universitas utama yang menyandang nama kota tersebut.

Didirikan pada tahun 1848, University of Ottawa termasuk salah satu universitas tertua di Kanada dan memiliki fokus kuat pada kegiatan riset. Universitas ini dikenal secara global sebagai universitas bilingual terbesar di dunia yang menggunakan bahasa Inggris dan Prancis. Sebagai anggota kelompok U15, yang terdiri atas universitas-universitas riset intensif terbaik di Kanada, University of Ottawa memiliki reputasi dalam menghasilkan inovasi dan kontribusi akademik di berbagai bidang. Kampus utamanya memiliki luas sekitar 42,5 hektare dan terletak di kawasan timur laut pusat kota Ottawa.

Sebagai universitas bilingual di Kanada, University of Ottawa menawarkan program studi dalam dua bahasa resmi, yaitu Inggris dan Prancis. Universitas ini memiliki keunggulan akademik khususnya pada bidang hukum, ilmu sosial, dan ilmu kesehatan. Dalam pemeringkatan universitas global, University of Ottawa tercatat berada pada posisi ke-256 sebagai salah satu universitas terbaik dunia, berdasarkan penilaian terhadap kualitas akademik, riset, dan reputasi internasional.

University of Ottawa juga dikenal mampu menjawab beragam minat mahasiswa melalui pilihan program studi yang luas. Saat ini, universitas ini melayani lebih dari 48.000 mahasiswa dengan menyediakan sekitar 171 program magister dan 111 program sarjana. Program-program tersebut mencakup berbagai bidang, seperti seni, pendidikan, teknik, ilmu kesehatan, hukum, kedokteran, sains, ilmu sosial, serta program manajemen melalui Telfer School of Management. Dengan cakupan akademik yang komprehensif, University of Ottawa menjadi salah satu destinasi unggulan bagi mahasiswa internasional yang ingin menempuh pendidikan tinggi di Kanada.

University of Calgary


University of Calgary merupakan universitas negeri yang memiliki komunitas akademik multikultural dan berorientasi global. Sejak berdiri pada tahun 1966, universitas ini berkembang menjadi salah satu institusi riset intensif yang diakui secara internasional. Dalam pemeringkatan QS World University Rankings, University of Calgary pernah dinobatkan sebagai universitas terbaik di Kanada untuk kategori universitas berusia di bawah 50 tahun, serta masuk dalam daftar universitas muda terbaik dunia. Reputasi akademiknya ditopang oleh riset unggulan di bidang energi, lingkungan, kesehatan, teknik, dan ilmu komputer.

Kampus University of Calgary terletak tidak jauh dari pusat kota Calgary dan memiliki area seluas lebih dari 200 hektare dengan lingkungan hijau yang mendukung aktivitas akademik. Dengan jumlah mahasiswa sekitar 31.000 orang, universitas ini dikenal memiliki program unggulan di bidang teknik, bisnis, dan ilmu kesehatan. Selain itu, University of Calgary juga menjadi pusat pengembangan penelitian energi yang berperan penting dalam inovasi dan keberlanjutan, menjadikannya salah satu pilihan utama bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Kanada.

Western University


Western University merupakan universitas negeri di Kanada yang memiliki orientasi global dan berkomitmen untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sebagai salah satu institusi terkemuka dalam bidang pengajaran dan penelitian, Western University mengusung misi untuk mendukung pencapaian tujuan individu demi kontribusi kolektif yang lebih luas. Lingkungan akademik di Western University mendorong terbentuknya relasi yang bermakna dan berkelanjutan antara mahasiswa, dosen, dan komunitas kampus.

Western University menawarkan pengalaman belajar yang komprehensif melalui kualitas akademik yang unggul, fasilitas modern, serta kesempatan magang, kerja sama industri, dan praktikum yang terintegrasi dalam berbagai program studi. Kampus Western University dikenal sebagai salah satu kampus terindah di Kanada, dengan lanskap hijau, pepohonan rindang, serta perpaduan bangunan bersejarah dan modern. Tersedia sebelas asrama di dalam kampus yang menyediakan lingkungan tinggal yang aman dan nyaman bagi mahasiswa. Western University berlokasi di kota London, Ontario, sekitar dua jam perjalanan dari Toronto. Dalam bidang akademik, universitas ini memiliki reputasi yang kuat di bidang bisnis, kedokteran, dan ilmu sosial, serta dikenal luas karena suasana kampusnya yang asri dan kondusif untuk belajar.


Kuliah di Kanada Lebih Mudah Bersama ICAN Education


Berencana melanjutkan pendidikan ke Kanada, tetapi masih bingung mencari informasi yang tepat? Kini, proses persiapan kuliah di Kanada dapat menjadi lebih mudah dengan bantuan agen pendidikan luar negeri yang berpengalaman, seperti ICAN Education. Melalui ICAN Education, kamu dapat mengikuti sesi konsultasi bersama konselor profesional yang siap mendampingi setiap tahap perencanaan studi ke luar negeri. Dengan pengalaman bertahun-tahun, ICAN Education berkomitmen memberikan pendampingan terbaik agar rencana pendidikan kamu berjalan lebih terarah dan optimal.

Tidak hanya menyediakan layanan konsultasi, ICAN Education juga membantu proses pendaftaran ke universitas tujuan, pengurusan visa pelajar, serta memberikan informasi lengkap mengenai pilihan universitas dan program studi yang sesuai dengan minat dan tujuan akademik kamu. Selain itu, ICAN Education menyediakan layanan persiapan tes kemampuan bahasa Inggris, seperti TOEFL dan IELTS, yang menjadi salah satu persyaratan utama untuk kuliah di Kanada.

Melalui ICAN Education, kamu juga akan memperoleh rekomendasi yang tepat terkait estimasi biaya kuliah serta informasi peluang beasiswa yang tersedia. Dengan pendampingan menyeluruh tersebut, kamu tidak perlu khawatir mengurus berbagai keperluan administrasi secara mandiri. Bersama ICAN Education, persiapan kuliah di Kanada menjadi lebih praktis, terencana, dan membuka lebih banyak peluang untuk masa depan akademik kamu.

Pengalaman Memilih LASIK: Dari Cek Mata Rutin hingga Keputusan Bebas Kacamata

Rabu, 03 Desember 2025
Assalamualaikum Sahabat Insnita

Pernah nggak sih mata kamu tiba-tiba merasa lelah, pandangan agak buram, atau gampang silau setelah scroll media sosial dan kerja di depan laptop berjam-jam? Ternyata, itu bukan cuma “capek biasa”. Mata kita, seperti otot lain di tubuh, perlu istirahat. Ketika terlalu lama fokus jarak dekat, layar komputer, ponsel, atau buku, otot mata bekerja keras tanpa jeda. Belum lagi, kita cenderung berkedip jauh lebih sedikit ketika menatap layar, sehingga mata bisa menjadi kering. Bagi sebagian orang, keluhan seperti ini bahkan bisa jadi awal untuk mencari tahu lebih jauh tentang kesehatan penglihatan, termasuk prosedur seperti LASIK mata.

apa itu lasik mata



Nah, berarti kamu enggak sendiri, ya. Banyak sekali orang di luaran sana mengalami hal yang sama. Kita sering kali lupa kalau mata merupakan“jendela dunia”. Mata merupakan asset penting yang butuh perawatan, bahkan melalui kebiasaan kecil seperti istirahat sejenak, berkedip lebih sering, atau alihkan pandangan, mata kita bisa “nafas” sejenak, untuk istirahat dan terhindar dari ketegangan.

Jika mata kita diperlakukan dengan baik, maka akan membawa keberuntungan bagi kita. Insyaalllah mata kita bisa terjaga sampai tua, nih. Yuk, kita ngobrol santai tentang bagaimana cara sederhana tetapi ampuh agar mata kita tetap sehat dan penglihatan tetap tajam.


Kenapa Mata Butuh Perhatian Khusus?


Mata bukan cuma alat untuk melihat dunia, tapi juga penentu seberapa nyaman kita menjalani aktivitas sehari-hari. Banyak sekali aktivitas kita sehari-hari baik yang berkutat di dunia kerja atau persoalan hobi yang membutuhkan ketajaman penglihatan, dari mulai baca, kerja, belajar, sampai nonton serial favorit. Kalau kita terlalu sering memaksakan mata tanpa istirahat atau proteksi, risiko seperti penglihatan kabur, mata kering, atau bahkan penyakit serius seperti katarak dan glaukoma bisa muncul.

Makanya, menjaga kesehatan mata bukan sekadar soal “Wah, mataku bisa tetap melihat jelas kok sekarang”, tapi Kesehatan mata merupakan investasi jangka panjang supaya kita tetap bisa menikmati hidup dengan nyaman. Selain menjaga kesehatan mata dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan di bawah ini:

Langkah-Langkah Mudah agar Mata Selalu Sehat


Lalu, bagaimana upaya kita dalam menjaga Kesehatan mata, agar mata selalu memiliki penglihatan tajam dan terhindar dari bahaya keburaman atau mungkin penhyakit lainnya seperti katarak atau glukoma. Insnita akan membagikan beberapa tips yang semoga bisa membantu menjaga Kesehatan mat akita. Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang bisa kamu coba, cocok dilakukan oleh siapa saja, terutama bagi kita yang aktif berselancar di gawai atau sering bekerja di depan layar.


Makan Seimbang & Penuhi Gizi Mata


Mata kita butuh nutrisi! Untuk menjaga kesehatan mata, jangan pernah lewatkan untuk menkonsumsi Jenis makanan yang kaya akan vitamin A, C, E, lutein, dan omega-3 seperti sayuran hijau, buah berwarna cerah, kacang-kacangan, ikan, dan sejenisnya. Nutrisi ini membantu melindungi mata kita dari kerusakan akibat usia atau stres lingkungan.

Istirahatkan Mata Secara Berkala


Kalau kamu sering bekerja atau main gawai berjam-jam, jangan lupa untuk memberikan istirahat pada mata, beri jeda mat akita dengan mengikuti aturan 20-20-20, yang artinya untuk setiap 20 menit waktu kita menatap layar, beri kesempatan untuk mengalihkan pandangan ke tempat jauh sekitar 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Cara ini akan membantu mat akita lebih rileks, serta mengurangi ketegangan dan kelelahan pada mata.


Lindungi Mata dari Paparan UV & Cahaya Berlebih


Sinar matahari atau cahaya yang terlalu terang juga bisa membahayakan mata kit ajika terpapar dalam jangka Panjang, resiko yang bisa diderita contohnya akan meningkatkan risiko katarak. Untuk itu saat keluar rumah di siang hari, ada baiknya memakai pelindung mata, misalnya kacamata hitam. Selain itu, ketika menggunakan gadget, pastikan ruangan punya pencahayaan yang nyaman agar mata tidak terlalu tegang.


Hindari Kebiasaan Merokok & Polusi


Merokok dan paparan polusi bisa mempercepat kerusakan mata, terutama jika terkena bagian mata yang sensitif seperti lensa dan saraf optik. Jadi, menjauhi asap rokok dan juga berhenti merokok merupakan salah satu upaya yang bis akita lakukan untuk menjaga Kesehatan mata, termasuk juga menjaga kebersihan lingkungan menjadi bagian dari merawat mata. Menerapkan pola hidup sehat juga sangat dianjurkan demi menjaga kesehatan mata.

Cek Mata secara Rutin


Siapa yang di sini suka merasa dan Kadang berpikir “ah, belum ada keluhan, berarti mataku baik-baik saja.” Padahal banyak penyakit mata, seperti glaukoma atau degenerasi, berkembang lambat tanpa gejala nyata. Makanya, melakukan pemeriksaan mata secara rutin penting, agar jika ada tanda awal gangguan bisa langsung ditangani.

Kadang, setelah mendengar penjelasan dokter tentang pentingnya cek mata rutin, aku suka merenung sendiri. “Kalau gangguan mata itu bisa datang diam-diam, aku yang setiap hari nempel sama layer ini, kok bisa santai banget ya?” Dari situ, mulai muncul rasa ingin lebih perhatian pada mata sendiri, dan merasa bersalah karena selama ini kadang abai, sepertinya harus sigap dan intens menjaga Kesehatan mata, bukan cuma menunggu sampai ada keluhan.

Dan lucunya, dari kebiasaan memeriksakan mata itulah aku pertama kali menyadari sesuatu, ternyata bukan hanya kesehatan mataku yang perlu dipantau, tapi juga kebebasan yang selama ini diam-diam aku rindukan. Yap, betul,…Kebebasan dari kacamata, rindu sekali sepertinya bisa membaca berjalan dan melakukan aktivitas dengan pandangan yang jernih tanpa harus ada yang mengganjal di batang hidung.

Saat Aku Memutuskan untuk “Bebas” dari Kacamata


Selama bertahun-tahun, aku terbiasa bergantung pada kacamata, dari sejak bangku SMA, di aktivitas perkuliahan, mengajar, hingga menatap layar laptop untuk membuat modul PAUD. Hingga suatu hari, aku membaca sebuah artikel informatif tentang prosedur LASIK dan persyaratannya. Artikel itu membuatku berpikir, “Apakah selama ini aku melewatkan kesempatan untuk mendapatkan penglihatan yang lebih lepas?” Melalui artikel tersebut, aku jadi lebih tahu bahwa ada sejumlah syarat penting agar LASIK bisa dilakukan dengan aman.

Seiring rasa penasaran, aku mulai mempelajari lebih dalam, bukan demi memutuskan hal secara terburu-buru atau tergesa-gesa, melainkan untuk mengevaluasi, sebenarnya apakah kondisi mataku memang memenuhi kriteria? Hal ini ku anggap penting sekali, karena keamanan, kenyamanan dan kesehatan mata harus jadi prioritas utama sebelum memutuskan sesuatu yang bersifat permanen. Aku mendapatkan info LASIK yang akan aku bagikan pada Sainers semua, yuk kita bahas.


Apa Itu LASIK dan Siapa yang Ideal untuk Melakukannya?


LASIK adalah prosedur bedah refraktif menggunakan laser untuk membentuk ulang kornea, agar cahaya bisa terfokus secara benar ke retina, sehingga pandangan bisa lebih jelas tanpa kacamata ataupun lensa kontak. Sayangnya, tidak semua orang, nih yang bisa serta-merta menjalani LASIK. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut kondisi ideal bagi calon kandidat yang ingin melakukan LASIK

  1. Usia minimal 18 tahun, agar refraksi mata relatif stabil.
  2. Refraksi/level minus/plus atau silinder sudah stabil dalam jangka waktu minimal 6–12 bulan.
  3. Kornea dengan ketebalan cukup, karena prosedur melibatkan pembentukan flap pada kornea.
  4. Mata dan kondisi kesehatan harus dalam keadaan prima dan baik menurut standar keumuman. Bebas dari penyakit mata serius seperti glaukoma, katarak, keratokonus, serta tidak dalam kondisi hamil atau menyusui.
  5. Tidak memiliki gangguan mata berat seperti sindrom mata kering parah, infeksi mata aktif, atau komplikasi lain yang bisa menghambat pemulihan.

Jika semua syarat ini terpenuhi, peluang untuk mendapatkan hasil optimal dari LASIK cukup besar, dan hal ini menjadi sebuah titik awal harapan bagi mereka yang ingin melepaskan ketergantungan pada kacamata.

Apa Saja yang Diperiksa Ketika Akan Menjalankan Operasi?


Dari rasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk menjalani pemeriksaan mata komprehensif terlebih dahulu. Dokter akan mengecek banyak hal, ketebalan kornea, stabilitas refraksi, kesehatan kornea secara keseluruhan, serta kondisi umum tubuh. Prinsipnya, jangan hanya tergoda hasil bagus, tetapi pastikan semua parameter aman.

Jika lolos pemeriksaan, barulah dokter menyarankan apakah LASIK cocok untuk dijalani. Bila ternyata ada “tanda merah” atau kornea tipis, refraksi tidak stabil, atau ada penyakit mata, maka pilihan terbaik adalah menunggu atau mempertimbangkan alternatif lain.

Bagi beberapa orang, keputusan ini bisa jadi berat. Tetapi bagiku, lebih baik menerima kenyataan “tidak cocok sekarang” daripada mengambil risiko jangka panjang. Karena kesehatan mata bukan sekadar soal jelas tidaknya pandangan hari ini, tapi kualitas penglihatan masa depan.


Memahami Persyaratan Itu Penting Sebagai Langkah Bijak


Dengan memahami syarat-syarat di atas, aku merasa lebih bijak dalam membuat keputusan. LASIK bisa jadi solusi menarik, tapi bukan untuk semua orang. Bila dilaksanakan tanpa pertimbangan matang, bisa terjadi komplikasi seperti flap kornea tidak stabil, mata kering, atau ketidaknyamanan pasca operasi.

Berbekal pemahaman itu, aku merasa lebih siap. Jika suatu saat memutuskan untuk LASIK, bukan karena tren atau ikut-ikutan, melainkan karena yakin bahwa kondisi mataku cocok dan hasilnya bisa mendukung aktivitas mengajar, riset, dan bahkan keinginan membuat konten parenting tanpa hambatan kacamata. Satu yang paling penting, aku harus nyaman dengan keputusanku. Menjalaninya dengan suka cita.

Jadikan Merawat Mata sebagai Bagian dari Rutinitas


Mata adalah aset penting, nggak cuma untuk hari ini dan sekarang, tapi untuk masa depan. Dengan menerapkan kebiasaan sehat seperti makan bergizi, istirahat mata, melindungi mata dari paparan sinar & polusi secara langsung, dan melakukan pemeriksaan rutin, kita bisa membentengi asset jendela dunia kita dari kerusakan dan masalah penglihatan yang membuat hidup kita tidak nyaman.

BAiklah Sainers, cukup sampai di sini ya cerita dan waktu berbagi kita tentang LASIK mata. Semoga artikel ini menginspirasi kamu untuk mulai peduli pada kesehatan mata. Jangan anggap ini sesuatu yang merepotkan, lakukan dengan suka cita dengan menerapkan kebiasaan kecil positif yang diterapkan setiap hari. Bukankah memiliki mata yang sehat sama dengan memiliki kehidupan yang nyaman dan penuh warna.

Stay sharp, stay healthy Sainers!



Bahaya Kecanduan Gadget, Dampak pada Otak dan Cara Mengatasinya Ala Bunda Elly Risman

Jumat, 21 November 2025
Sabtu pagi, 11 Oktober 2025, udara Serang terasa segar saat langkah kaki menapaki lantai lobi Hotel Ledian. Di ruang seminar yang hangat, nampak ratusan wajah orang tua, guru PAUD, dan para pemerhati pendidikan yang tampak duduk dengan penuh antusias. Ada keresahan yang sama terpancar di mata para peserta seminar. Banyak pertanyaan berkecamuk mempertanyakan, bagaimana masa depan anak-anak kita di tengah derasnya arus digital?


seminar parenting elly risman



Seminar parenting bersama Ibu Elly Risman ini mengangkat tema “Parenting Kolaboratif untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Era Digital.” Sebuah tema yang sedang ramai dibicarakan dan menjadi kegelisahan banyak kalangan, orang tua, guru, hingga pemerhati pendidikan.

Sebab di balik kemajuan teknologi yang kita banggakan, tersimpan sisi gelap yang mengintai anak-anak: akses informasi tanpa batas, paparan konten tidak layak, dan peluang kekerasan seksual digital yang makin sulit dikontrol. Dunia maya kini tak lagi sekadar tempat bermain, tapi juga ruang berisiko yang bisa mencederai masa depan mereka jika orang tua abai.

Ruangan sejuk yang nyaman ini dipenuhi para orang tua, guru, dan pendidik yang datang dengan berbagai rasa ingin tahu. Ketika Bu Elly Risman membuka seminar, suasana langsung terasa hangat. Beliau memulai dengan ajakan yang unik, “Angkat tangan kiri, usapkan ke kepala, dan katakan: hal yang menyenangkan akan memudahkan kita memahami sesuatu.” Seketika ruangan riuh oleh tawa. Suasana cair, tapi pesan yang disampaikan begitu dalam.

Bu Elly membuka sesi dengan nada yang lembut tapi penuh penegasan diwarnai perumpamaan “Kalau dulu kita khawatir anak jatuh dari sepeda, sekarang kita harus khawatir mereka jatuh di dunia maya.”
Kalimat itu seketika membuat ruangan terdiam. Semua mata terarah, semua hati tertohok. Karena setiap orang tua di ruangan itu tahu, kekhawatiran itu nyata.

Dalam sesi itu, Bu Elly menyampaikan sesuatu yang membuat dada saya bergetar, dan saya yakin juga hal yang sama dialami oleh orang tua lainnya. Kecanduan gadget bukan sekadar masalah kebiasaan, tapi gangguan pada fungsi otak yang bisa merusak kemampuan anak untuk fokus, berempati, dan mengendalikan diri.

Bu Elly lalu mengajak peserta merenung, “Anak-anak kita sekarang tumbuh di dunia yang tidak lagi kita kenal.” Kalimat itu seperti membuka gerbang kesadaran. Dunia digital yang dulu terasa menyenangkan, kini justru membuat banyak orang tua kehilangan kendali.

Di sinilah Bu Elly mulai menyinggung peran gadget dalam kehidupan anak. Awalnya hanya sebagai hiburan, pengalih tangis, atau teman saat makan. Namun perlahan, gawai itu mengambil alih fungsi-fungsi penting di otak anak.

“Coba perhatikan,” ujar Bu Elly sambil tersenyum getir, “anak yang terlalu lama di depan layar sering sulit fokus, cepat marah, bahkan tidak bisa diam tanpa gadget di tangannya.”

Beliau kemudian memaparkan hasil penelitian dan data nyata yang menggugah hati: paparan layar berlebihan bisa mengganggu area prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Otak anak yang seharusnya berkembang melalui interaksi langsung dan pengalaman nyata, justru dibanjiri stimulasi instan dari layar.
Akibatnya, anak lebih mudah stres, sulit berempati, dan mengalami ketergantungan terhadap sensasi cepat yang diberikan gawai.

Di tengah suasana serius itu, Bu Elly tiba-tiba memberi ice breaking khasnya, “Sekarang, angkat tangan kirinya, usapkan ke kepala, dan bilang: aku orang tua hebat yang sedang belajar, jika kita selalu bahagia maka proses belajar akan berjalan menyenangkan!”

Tawa kecil pun terdengar di ruangan. Semua peserta menepuk kepala masing-masing sambil tersenyum.
Ketenangan kembali hadir, seolah pesan tadi meneguhkan: menjadi orang tua memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari dengan hati yang lapang.

Realita yang Menyedihkan: Ketika Gadget Menggeser Peran Orang Tua


Dalam seminar itu, Bu Elly memaparkan fakta yang membuat ruangan mendadak sunyi. Ia menyebutkan bahwa ratusan anak kini dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua, Jawa Barat, karena kecanduan gawai dan gim daring. Di Surabaya, RSJ Menur bahkan melaporkan lebih dari 3.000 kasus anak dan remaja yang memerlukan perawatan akibat adiksi gadget hanya dalam satu tahun terakhir.

“Bahkan ada RSJ yang penuh hanya karena menerima pasien korban gawai,” tutur Bu Elly lirih. Beberapa rumah sakit lain, lanjutnya, menolak pasien dengan alasan belum memiliki fasilitas untuk menangani kecanduan digital pada anak-anak. Sebuah kenyataan yang ironis di tengah masyarakat modern yang menganggap gawai sebagai kebutuhan pokok.

Kita mungkin berpikir anak yang bermain gawai hanyalah sedang bersenang-senang. Tapi di balik layar itu, otaknya sedang bekerja keras melawan stimulasi berlebihan yang menyerupai efek narkoba. Anak-anak yang seharusnya bermain di luar ruangan kini terperangkap dalam dunia maya yang membuat mereka kehilangan kemampuan menikmati realitas.

Pernyataan itu membuat ruangan hening seketika. Rasanya seperti tamparan lembut bagi kami, para orang tua yang sering kali menenangkan anak dengan gawai, bukan dengan pelukan. Di panggung depan, sosok Bu Elly Risman berdiri dengan senyum hangat seperti ibu yang akan menegur dengan cinta. Dari sinilah, kisah dan kesadaran besar itu bermula.

Bu Elly tidak hanya berbicara dengan data dan teori, melainkan dengan hati seorang ibu, seorang psikolog, dan seorang pendidik yang telah puluhan tahun menyaksikan perubahan generasi. Kata-katanya lembut, tetapi menampar kesadaran banyak orang tua:

“Anak-anak kita sedang butuh kita. Jadilah orang tua yang sadar, bukan sekadar ada.”

Seketika banyak kepala menunduk dan hati bergetar. Betapa banyak di antara kita yang hadir secara fisik di rumah, tapi jiwa kita tersedot ke layar gawai. Anak duduk di depan kita, tetapi perhatian kita beralih ke notifikasi. Dan perlahan, tanpa kita sadari, jarak emosional terbentuk antara orang tua dan anak.


dampak gadget bagi anak


Dari Dopamin ke Disfungsi Otak: Bagaimana Gadget Mengubah Struktur Otak Anak


Penjelasan Bu Elly kemudian beralih ke sisi ilmiah. Ia menjelaskan bahwa setiap kali anak bermain gim, menonton video pendek, atau mendapat “like”, otaknya mengeluarkan zat kimia bernama dopamin, hormon yang memberi sensasi senang dan puas.

Namun, dopamin ini ibarat pisau bermata dua. Semakin sering dikeluarkan akibat rangsangan layar, otak menjadi terbiasa dengan level kesenangan tinggi yang instan. Lama-kelamaan, anak kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal sederhana seperti bermain pasir, menggambar, atau sekadar bercengkerama dengan keluarga.

Penelitian ilmiah mendukung hal ini. Sebuah studi berjudul Digital Addiction and its Relationship with Cognitive Function among Children (2024) menemukan bahwa semakin tinggi tingkat adiksi digital, semakin rendah kemampuan anak dalam fokus, memori, dan pengendalian emosi. Anak menjadi mudah marah, sulit konsentrasi, dan kehilangan semangat belajar.

Bukan hanya itu. Riset di Amerika Serikat terhadap lebih dari 50.000 anak menunjukkan bahwa anak yang menggunakan layar lebih dari empat jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur, bahkan gejala ADHD. Semua ini bukan karena anak nakal, tetapi karena struktur otaknya berubah akibat paparan dopamin berlebihan dari layar.


Kisah Nyata dari Lapangan: Anak yang Kehilangan Masa Kecilnya


Banyak laporan di lapangan menunjukkan anak-anak yang terlalu lama terpapar layar mengalami gangguan konsentrasi, emosi, bahkan kehilangan minat terhadap interaksi sosial di dunia nyata. Fenomena ini menjadi perhatian serius para psikolog dan pemerhati anak, termasuk Bu Elly Risman, yang menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah adiksi sejak dini.

Ada pula seorang gadis kecil yang dulunya periang, kini menjadi pendiam dan mudah tersinggung. Ia kehilangan kemampuan menulis dengan tangan karena terlalu terbiasa mengetik di layar. Kasus-kasus seperti ini bukan lagi cerita luar negeri,  ini terjadi di sekitar kita.

Penelitian di Palembang menunjukkan bahwa anak-anak yang kurang mendapat pengawasan orang tua memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecanduan gadget. Sementara di Sulawesi Utara, 83,7% anak sekolah dasar tercatat menggunakan gawai melebihi batas wajar, dan 84,8% di antaranya mengalami gangguan perilaku dan emosi.

Penjelasan Bu Elly tak berhenti di situ. Dengan gaya khasnya yang penuh energi dan keibuan, beliau menggambarkan betapa otak anak itu seperti tanah subur yang bisa ditanami apa pun, tergantung apa yang paling sering mereka terima.

Jika yang mereka lihat dan dengar setiap hari adalah suara dari layar, bukan suara ibu, atau cahaya dari gawai, bukan sinar wajah orang tua, maka tumbuhlah koneksi otak yang salah arah.

Secara ilmiah, para ahli neurosains menjelaskan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak anak. Bagian prefrontal cortex, yang berperan dalam mengontrol emosi dan membuat keputusan, menjadi kurang aktif karena anak jarang menggunakan kemampuan berpikir panjang atau menunda kesenangan.

Sementara bagian otak yang berhubungan dengan sistem reward, tempat rasa senang dan candu terbentuk, mengalami bekerja terlalu keras akibat stimulasi cepat dari gim, video, dan media sosial.
Inilah yang kemudian memunculkan gejala mirip kecanduan narkoba digital,  anak sulit berhenti, cepat marah saat gadget diambil, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sosial.

Penelitian dari Frontiers in Psychology (2023) menunjukkan bahwa paparan layar lebih dari tiga jam sehari dapat menghambat perkembangan white matter, yaitu jaringan otak yang berfungsi menghubungkan berbagai area penting untuk belajar dan berbahasa. Sementara riset lain di JAMA Pediatrics (2022) menemukan adanya kaitan kuat antara durasi penggunaan layar dengan meningkatnya gangguan perhatian dan perilaku impulsif pada anak-anak usia sekolah dasar.

Bu Elly menegaskan, “Inilah mengapa kita melihat anak-anak kini lebih mudah meledak, cepat bosan, dan sulit diatur. Bukan karena mereka nakal, tapi karena otaknya sedang kelelahan.” Kalimat pemaparan dari Bu Elly tersebut disambut dengan anggukan panjang dari para peserta, beberapa bahkan tampak menahan haru.

Semua ini menunjukkan bahwa krisis yang kita hadapi bukan semata krisis teknologi, tapi krisis keterikatan emosional antara orang tua dan anak.

Pola Asuh Digital: Hadir Sepenuh Hati, Bukan Sekadar Fisik


Bu Elly kemudian menatap para peserta satu per satu. Dengan suara lembut tapi tegas, beliau berkata,

“Kuat ya jadi orang tua. Jadilah orang tua yang siap membersamai anak!”

Kata membersamai mengandung makna yang dalam. Ia bukan sekadar mengawasi, tapi menemani. Anak butuh contoh, bukan ceramah. Butuh dipeluk, bukan disalahkan. Butuh kehadiran, bukan sekadar perhatian lewat tatapan singkat dari balik layar.

Dalam Islam, Rasulullah SAW sudah memberi teladan mendalam tentang pentingnya kedekatan emosional dengan anak. Beliau memeluk Hasan dan Husain, menggendong cucunya ketika shalat, dan selalu berbicara dengan lembut. Beliau menunjukkan bahwa cinta yang tulus menjadi pondasi utama pendidikan anak.

Sabda Rasulullah SAW bahwasannya “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di era digital ini, bisa kita tambahkan dengan sebuah perumpamaan bahwa orang tualah yang menentukan arah pendidikan anak, apakah anak tumbuh sebagai pribadi sadar digital atau malah menjadi korban teknologi.

peran keluarga dari dampak buruk gadget


Buat Langkah Nyata, Ciptakan Kehangatan dalam Rumah


Setelah mengguncang kesadaran dengan fakta-fakta yang menggetarkan, Bu Elly tidak membiarkan para peserta larut dalam rasa bersalah. Dengan suara lembut, beliau berkata,

“Tenang, kita tidak terlambat. Asal mau berubah, insyaAllah, Allah akan membantu kita.”

Kalimat itu menembus hati banyak orang tua di ruangan itu. Ada yang menunduk, ada yang mengusap air mata. Karena sesungguhnya, menjadi orang tua di era digital ini bukan tugas yang mudah. Tapi bukan berarti kita kalah. Justru di sinilah perjuangan sejati dimulai,  perjuangan merebut kembali hati anak-anak kita dari genggaman layar.

Bu Elly kemudian memberi arahan yang sangat praktis, sederhana, tapi berdampak besar. Beberapa tips yang saya rangkumkan ini semoga bisa menjadi pegangan bagi kita para orang tua untuk menata kembali apa yang mungkin sempat terserak.

1. Membangun Komunikasi yang Hangat dan Penuh Empati


Seringkali anak-anak beralih ke gadget bukan karena candu teknologi, tapi karena rindu perhatian. Mereka ingin didengar, tapi orang tua sibuk. Mereka ingin ditemani, tapi yang menatap mereka hanyalah layar.

Mulailah dari hal sederhana yaitu  menyapa anak dengan tatapan mata, mendengarkan ceritanya tanpa memotong, atau sekadar bertanya, “Hari ini kamu merasa senang tentang apa?” Komunikasi yang lembut adalah pintu awal untuk memulai hubungan baik. 

Penelitian dari Harvard Center on the Developing Child menunjukkan bahwa hubungan emosional yang kuat antara anak dan orang tua mampu menurunkan risiko kecanduan digital hingga 45%. Artinya, cinta dan kehadiran bisa menjadi terapi yang lebih ampuh dari pada sebuah aturan yang mengekang anak. 

2. Tetapkan Aturan Waktu Layar (Screen Time) melalui Kesepakatan Bersama


Bu Elly menekankan bahwa batasan tidak harus melulu berupa hukuman, namun bisa dibuat seperti sebuah kesepakatan yang dibuat oleh seluruh anggota keluarga, misalnya dengan menyepakati aturan tidak ada gawai saat makan, tidak bermain gawai sebelum shalat, atau tidak boleh menonton sebelum tugas sekolah selesai. Selain itu tentukan alternatif pilihan gim edukatif yang layak dimainkan oleh anak.

Ketika aturan dibuat bersama, anak merasa dihargai dan ikut memiliki tanggung jawab. Mereka akan memperoleh pembelajaran berharga dan akan memahami sebuah komitmen. Belajar disiplin bukan karena takut dimarahi, tapi juga karena memahami arah tujuan dari kesepakatan yang dibuat.


“Anak bukan untuk dikontrol, tapi untuk diarahkan,” ujar Bu Elly.


3. Ganti Kegiatan Waktu Layar (Screen Time) dengan Aktivitas Bermakna


Anak-anak tidak bisa hanya dilarang tanpa diberikan alternatif pilihan. Jika waktu layar yang biasa anak gunakan dikurangi, maka ruang kosong itu harus diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Bu Elly memberi contoh sederhana lewat bermain peran, memasak bersama, berkebun, atau membaca kisah Nabi sebelum tidur.

Aktivitas nyata seperti ini memberi stimulasi sensorik dan emosional yang tidak bisa digantikan oleh layar. Sebuah penelitian dari American Academy of Pediatrics (AAP) menunjukkan bahwa bermain langsung dengan orang tua meningkatkan kemampuan bahasa, empati, dan kontrol diri anak secara signifikan.

Dan hal yang paling membahagiakan adalah ketika anak kembali menemukan kebahagiaan sejatinya, yaitu bisa tertawa tanpa filter layar, tangan yang dipenuhi debu, pelukan yang nyata, dan perhatian tanpa sinyal WiFi.

4. Tunda pemberian gawai pribadi selama mungkin


Banyak orang tua memberi anak ponsel dengan alasan keamanan atau agar tidak ketinggalan zaman. Tapi Bu Elly mengingatkan,

“Anak tidak akan kehilangan masa kecilnya karena tidak punya HP, tapi bisa kehilangan masa kecil yang sangat bermakna karena terlalu cepat memilikinya dan menikmatinya.”

Anak yang belum matang secara emosi belum siap menghadapi derasnya arus informasi digital. Sebuah Studi yang dilakukan oleh University of Michigan menunjukkan bahwa anak yang memiliki ponsel pribadi sebelum usia 13 tahun berisiko dua kali lebih tinggi mengalami adiksi digital dan kesulitan fokus belajar.

Lebih baik sedikit “terlambat” daripada anak-anak kita kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan merasakan dampak negatif dari gadget. Termasuk ke dalam penyebab anak mudah tantrum adalah dampak negativ dari gadget.

5. Menjadikan Rumah Menjadi Tempat Kembali yang Aman dan Nyaman Bagi Anak


“Kalau rumah tidak lagi nyaman, anak akan mencari pelarian, dan saat ini pelarian yang sangat membuat anak nyaman dan kecanduan itu bernama gadget.” Tutur Bu Elly.

Rumah yang penuh cinta, tawa, dan kedamaian adalah benteng terakhir melawan badai digital. Tidak perlu rumah yang besar dan mewah dalam bentuk ukuran namun rumah yang dipenuhi kehangatan dan bermakna yang dirindukan para penghuninya.

Bahkan dalam Islam, Allah menegaskan tujuan pernikahan dan keluarga adalah untuk menciptakan sakinah, dalam artian ketenangan jiwa. Allah berfirman dalam Qur'an surat Ar-rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Ketika kasih dan rahmah itu hadir di dalam rumah, maka para penghuninya akan merasa nyaman dan anak-anak tidak lagi mencari cinta di layar. Mereka akan menemukan kebahagiaan di pelukan orang tuanya sendiri. Orang tua bagi mereka adalah tempat pelarian yang paling tepat dan tempat persinggahan yang paling aman dan nyaman.

6. Doa dan kesadaran diri sebagai sumber kekuatan orang tua


Bu Elly memaparkan dengan ajakan lembut. Nasihat yang diberikan begitu meyentuh hati.


“Jangan marahi anak karena kecanduan gawai. Beri pelukan, karena dia sedang sakit, mereka bukan sosok  jahat. Mohonlah pertolongan Allah, karena Allah lah yang berkuasa untuk membolak-balik hati manusia.”


Selain usaha yang kita lakukan, jangan lupa iringi dengan do'a, karena do'a akan menjadi energi yang menenangkan. Ketika orang tua memperbaiki diri,  menurunkan nada suara, memperbaiki komunikasi, dan memperbanyak doa, maka pengharapan yang kita panjatkan akan sampai ke hati anak.

Anak bukan hanya belajar dari apa yang kita katakan, tapi dari siapa kita. Maka tugas orang tua bukan hanya mendidik anak, tapi juga terus mendidik diri sendiri agar lebih bijak, lebih sabar, dan lebih hadir.


Doa, Harapan, dan Tanggung Jawab Kita Sebagai Orang Tua di Era Digital


Ketika seminar bersama Bu Elly Risman berakhir, suasana ruangan berubah menjadi hening. Tak ada lagi tawa keras, hanya suara napas dan mata yang berkaca-kaca. Beberapa peserta menunduk dalam, merenungi perjalanan mereka sebagai orang tua di tengah derasnya arus digital.

Saya pun tak bisa menahan haru. Di satu sisi, rasa bersalah muncul  berapa kali saya tanpa sadar menatap layar ketika anak ingin bercerita? Berapa kali saya menenangkan anak dengan memberi gawai, bukan pelukan? Tapi di sisi lain, ada harapan baru: kita bisa berubah, dan belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Bu Elly menutup dengan kalimat yang terus terngiang di telinga:

“Anak-anak tidak butuh orang tua sempurna, mereka butuh orang tua yang mau belajar.”

Kalimat sederhana, tapi dalamnya luar biasa. Karena pada dasarnya, tugas kita bukan melahirkan anak yang hebat di dunia maya, tapi anak yang kuat di dunia nyata. Bukan sekadar pintar menggunakan teknologi, tapi bijak menundukkannya.

Menghadirkan Allah dalam Pengasuhan Digital


Dalam perspektif Islam, anak adalah amanah. Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini bukan sekadar perintah melindungi dari maksiat, tapi juga peringatan agar kita menjaga keluarga dari setiap hal yang bisa merusak jiwa — termasuk adiksi gawai, tontonan yang tidak layak, dan hilangnya kedekatan spiritual karena terlalu larut dalam dunia digital.

Maka pengasuhan digital sejatinya bukan sekadar soal manajemen waktu layar, tetapi manajemen hati. Bagaimana orang tua menumbuhkan kesadaran diri, menguatkan hubungan batin dengan anak, dan menghadirkan Allah di tengah interaksi keluarga.

Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan itu dengan indah. Beliau mendidik dengan kelembutan, menegur tanpa menghina, dan selalu memberi ruang bagi cinta. Dalam dunia yang semakin bising oleh teknologi, keteladanan Nabi adalah kompas agar kita tidak tersesat.

Membangun Generasi yang Melek Digital dan Tangguh Secara Emosional


Kecanduan gadget bukan hanya masalah teknologi, tapi juga krisis perhatian dan keterikatan emosional. Anak-anak yang tumbuh dengan cinta, disiplin, dan kehadiran orang tua akan lebih kuat menghadapi godaan digital.

Orang tua masa kini harus menjadi role model digital bagi anak-anaknya. Tunjukkan bahwa kita pun mampu menahan diri, mampu meletakkan ponsel ketika sedang berbicara dengan keluarga, mampu mengisi waktu luang dengan hal-hal produktif. Anak belajar bukan dari perintah, tapi dari teladan.

Sebagaimana pepatah Arab yang sering dikutip Bu Elly:

الولد سر أبيه  “Anak adalah rahasia dari orang tuanya.”

Artinya, perilaku anak adalah cerminan dari keadaan hati dan kebiasaan orang tuanya.


Jika kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bijak, maka kebijaksanaan itu harus dimulai dari kita sendiri.


Mari berhenti sejenak dari layar, lalu pandang wajah anak-anak kita. Tatap mata mereka, di sana ada harapan, cinta, dan masa depan bangsa. Jangan biarkan cahaya di mata mereka padam karena terlalu lama disinari oleh layar gawai. Mulailah hari ini dengan langkah kecil. Letakkan ponsel ketika anak berbicara. Dengarkan tanpa menghakimi. Peluk tanpa syarat. Berdoalah setiap malam agar Allah menjaga hati anak-anak kita dari hal yang melalaikan. Karena sesungguhnya, gadget bukan musuh, tapi alat. Dan alat akan baik jika berada di tangan yang bijak.

Kita bukan sedang berperang melawan teknologi, tetapi sedang berjuang mempertahankan kemanusiaan agar anak-anak kita tetap punya hati yang peka, mata yang jernih, dan jiwa yang sehat di tengah dunia digital yang bising.

Kecanduan gadget pada anak bukan sekadar isu perilaku, tapi krisis emosional dan spiritual yang berakar dari hubungan antara anak dan orang tua. Pola asuh dalam menerapkan kebijakan penggunaan alat digital yang tepat bisa disampaikan dengan komunikasi yang hangat melalui pembatasan waktu layar yang bijak, aktivitas pengganti yang bermakna, serta kehadiran penuh cinta dan doa, menjadi kunci utama dalam menjaga fungsi otak anak dan keseimbangan jiwanya.

Perlu kiranya dipahami bahwa kita tidak sedang menyelamatkan anak-anak dari sebuah penampakan layar semata, tapi lebih besar dari itu, kita sedang menyelamatkan masa depan mereka dari kehilangan arah dan kehilangan jati diri krena pengaruh kejahatan dunia digital yang tanpa batasan.

Saatnya Menjadi Orang Tua yang Hadir


Ketika seminar usai, sebagian peserta masih enggan beranjak. Ada yang menunduk sambil menatap layar ponselnya sendiri, seolah baru menyadari bahwa benda kecil di tangan itu ternyata punya kuasa besar atas hubungan mereka dengan anak.

Pesan Bu Elly terasa membekas: “Kecanduan gadget bukan hanya soal anak, tapi soal siapa yang paling sering memberinya.”

Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh jantung persoalan. Di era digital ini, menjadi orang tua berarti bukan hanya memberi makan dan pendidikan, tetapi juga melindungi otak, jiwa, dan fitrah anak dari racun visual yang tak kasat mata.

Ilmu neurosains kini sejalan dengan nilai-nilai Islam. Otak anak berkembang paling pesat saat mereka bermain, berbicara, dan berinteraksi langsung dengan orang tua. Stimulasi dari layar bersifat cepat dan instan, tetapi tidak meninggalkan bekas mendalam dalam memori jangka panjang anak.

Sebaliknya, pengalaman nyata , seperti pelukan, doa, dan waktu bersama akan menumbuhkan hormon kebahagiaan alami seperti oxytocin, yang memperkuat ikatan kasih dan rasa aman. Islam telah lebih dulu mengajarkan bahwa kehadiran orang tua adalah rahmah bagi anak, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:


Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua. (HR. Ahmad)


 Ayat dan hadis ini bukan hanya pedoman moral, tetapi juga panduan neuropsikologis yang relevan di zaman modern.


Ketika kasih sayang hadir, otak anak pun tumbuh sehat.


Kini, tiba waktunya kita sebagai orang tua harus segera membangkitkan kesadaran kita. Ingatkan diri kita, bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua di era digital ini memang dibutuhkan perhatian dan kewaspadaan yang tinggi. 

Usahakan hari demi hari yang dilalui oleh buah hati kita diisi dengan penuh kenhangatan dan hal yang bermanfaat, tentunya hal itu akan bisa terpenuhi jika kita bisa hadir secara penuh pula dalam kehidupan mereka.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya, apakah layar kecil yang sangat menarik itu  sedang membantu tumbuh kembang buah hati kita,  atau justru menggantikan peran kita sebagai orang tua? Yuk, segera sadar diri.

Menjadi orang tua di era digital memang tak mudah. Tapi seperti yang selalu diingatkan Bu Elly dalam seminarnya, “Kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, namun berusahalah untuk menjadi orang tua yang cukup sadar dan mau belajar. Karena anak-anak kita tidak butuh orang tua yang hebat, yang  mereka butuhkan adalah orang tua yang hadir dan membersamai mereka.”



Referensi


Seminar Parenting Bersama Psikolog  Bunda Elli Risman

Apik Lestari, C., Zikrinawati, K., & Ikhrom, I. (2025). Dampak overstimulasi konten digital terhadap pemusatan perhatian anak (6-12 tahun). Paedagogy: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, 5(1). https://doi.org/10.51878/paedagogy.v5i1.4941

Hartati, I. P., Safitra, L., & Susiyanto, S. (2025). Gadget addiction and changes in social interactions among early childhood children in Betungan, Bengkulu City. Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial, 7(1). Retrieved from https://ojs.unimal.ac.id/dialektika/article/view/22154

Irzalinda, V., & Latifah, M. (2024). Screen time and early childhood well-being: A systematic literature review approach. Journal of Family Sciences, 9(1). Retrieved from https://journal.ipb.ac.id/index.php/jfs/article/view/49792

Pandan Sari, T. A., Novitawati, N., & Sulaiman, S. (2024). Pengaruh interaksi orang tua dan screen time terhadap kemampuan sosial emosional dan berbicara anak taman kanak-kanak. Journal of Education Research (JER), 3(2). Retrieved from https://jer.or.id/index.php/jer/article/view/1420

Wulandari, D., & Hermiati, D. (2024). Deteksi dini gangguan mental dan emosional pada anak yang mengalami kecanduan gadget. Jurnal Keperawatan Silampari, 7(2). Retrieved from https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/JKS/article/view/843




Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger