Pendidikan Seni bagi Anak Usia Dini

Minggu, 27 Februari 2022

Artikel ini merupakan Materi pada Mata Kuliah Pendidikan Musik dan Suara  Anak Usia Dini, semester IV pada Program Studi Strata Satu Pendidikan Islam Anak Usia Dini, di STAI Latansa Mashira, Lebak Banten. 




Pendahuluan


Pendidikan seni bagi anak usia dini memiliki tingkatan dan penerapan yang khusus disesuaikan dengan perkembangan anak. Seni pada anak tidak bisa disamakan dengan seni bagi orang dewasa. Kegiatan seni berpengaruh terhadap berbagai perkembangan kemampuan dasar pada anak yang mencakup kemampuan kognitif, afektif, psikomotor, sosial emosional. Potensi atau kemampuan dasar pada anak akan terus berkembang secara terpadu seiring dengan bertambahnya umur pada anak.


Konteks berkegiatan seni pada anak-anak bukan hanya bermain semata namun terdapat nilai edukasi yang sangat bermanfaat untuk anak. Tokoh yang pertama kali menemukan bahwa seni memiliki nilai edukasi adalah Herbert Read yang mengembangkan pemikiran Plato (428-347 SM). Pemikiran Herbert menguraikan bahwa education through art, dalam artian Pendidikan melalui seni mengambil konsep pemahaman Plato yang menyatakan bahwa art should be the basis of education yang artinya seni harus menjadi dasar dari Pendidikan ( Pekerti, 2018:1.22).


Pendidikan pada Anak Usia Dini memiliki tujuan membantu anak mampu mengungkapkan apa yang mereka temukan dan mereka rasakan. Hasil belajar bukan merupakan keutamaan, namun lebih kepada proses. Misal dalam proses anak bermain anak menemukan cara bermain yang mengasyikkan yang dia peroleh dari pengalamannya melakukan sebuah permainan, ini adalah termasuk dalam bagian proses yang membawa anak pada pengetahuan baru.

 

Pembahasan

Pendidikan Anak Usia Dini


Anak usia dini adalah seorang anak yang sedang mengalami perkembangan pesat dan mendasar bagi bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak yang memiliki rentang umur dari 0 sampai dengan 6 tahun. Sedangkan menurut NAEYC (National Association for The Education of Young Children) Anak Usia Dini adalah anak dalam rentang usia 0 sampai dengan 8 tahun (Sujiono, 2013: 6)


Pendidikan yang diberikan kepada anak usia dini sebenarnya adalah pendidikan mendasar yang diberikan pada anak oleh para pendidik dan orang tua dengan memberikan rangsangan atau stimulasi yang mampu mengeksplor segala kemampuan yang dimiliki oleh anak. Untuk itu para orang tua hendaklah mengoptimalkan Pendidikan pada anak sejak usia dini. Memberikan lingkungan yang menunjang tereksplornya daya imajinasi dan daya kreatifitas anak. Jangan lupa juga untuk mempertimbangkan kemampuan dan keunikan anak yang berbeda-beda Morrison, 2012: 32)


Para pendidik anak usia dini perlu memperhatikan aspek yang mempengaruhi perkembangan anak. Pada masa ini anak-anak sedang dalam masa peka yang tinggi, rasa ego juga tinggi, senang meniru, mudah menyerap informasi. Usia dini adalah masapembentukan intelegen permanen di kehidupannya kelak. Untuk itu para pendidik, orang tua dan orang dewasa lainnya di lingkungan sekitar anak harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Sujiono, 2013: 7)


  1. Memberikan pemahaman secara pelan-pelan ketika menghadapi ego anak yang sedang tinggi di masa ini, bertujuan agar anak memiliki karakter yang unggul.
  2. Memberikan anak kesempatan untuk bermain dan mengenali alat permainan dengan cukup baik melalui bimbingan orang dewasa.
  3. Memberikan sajian tontonan atau pemandangan yang baik-baik dengan memilih atau menjadi tokoh yang bisa memberikan pengaruh baik pada anak, karena pada masa ini,anak adalah seorang peniru ulung.


Kenali anak niscaya kita akan menemukan potensi yang begitu besar yang ada dalam diri anak. Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh orang tua dan pendidik terhadap potensi anak, menyebabkan potensi anak tidak dapat berkembang secara optimal.

 

Pembelajaran Seni Anak Usia Dini


Pembelajaran seni bagi anak usia dini lebih menekankan pada stimulasi pada aspek psikomotor, terutama pada motorik halus. Dalam Modul pengembangan seni di TK dijelaskan bahwa Perkembangan motorik merupakan unsur kematangan pada gerak tubuh. Pada anak, motorik kasar lebih berkembang terlebih dahulu dibanding motorik halus. Ini bisa dilihat bahwa anak lebih dahulu mampu bergerak berlari menggunakan kakinya dibanding menggunting, mewarnai dengan jari tangannya. Pembelajaran seni pada anak usia dini mempertimbangkan aspek eksplorasi, aspek ekspresi dan aspek apresiasi.


1. Aspek eksplorasi berfungsi untuk menguji kemampuan anak untuk mengeksplor alam dan dirinya, elemen-elemen dari seni dan musik, mengeksplorasi kreativitas dari anggota tubuh anak. Misalnya dengan melakukan observasi, apakah anak mampu merasakan, menjelaskan keadaan alam serta suara yang didengar, bisa membedakan bunyi-bunyian dari instrumen yang berbeda, bisa membuat garis, bentuk, mengenal warna. Dan juga bisa mudah mengenali ritme, melodi dan memadukannya dengan gerakan.

2. Aspek ekspres. Anak mampu mengekspresikan apa yang mereka lihat dan mereka rasa serta dengar. Mampu mengekspresikannya lewat coretan menjadi sebuah gambar, atau mampu menggenggam alat untuk mengeluarkan bunyi dengan ritme yang sederhana, bernyanyi dan menciptakan lagu sederhana.

3. Aspek apresiasi. Mengajarkan anak agar mampu menikmati hasil karya seni, misalnya dengan cara menggambarkan dan menjelaskan hasil karyanya sendiri.

 

 


 

Tujuan Pembelajaran Seni


Pembelajaran seni bagi Anak Usia Dini memiliki tujuan untuk memberikan pengalaman pada dunia anak tentang seni. Kelak pengalaman yang didapatkan akan bermanfaat bagi perkembangan kepribadian dan mempertajam sensivitas anak, sehingga anak dapat lebih peka terhadap lingkungannya, dan membantu membangun impresi atau kesan dalam menikmati hasilkarya seni. Tujuan pembelajaran seni lebih spesifiknya dirumuskan sebagai berikut:


1. Mengembangkan sensitivitas dan kreativitas pada anak yang terus berkembang sesuai dengan bertambahnya umur.

2. Kegiatan eksplorasi, berkreasi, mempertunjukkan hasil kreatifitas akan merangsang pertumbuhan ide-ide yang imajinatif.

3. Menghubungkan pengetahuan dan keterampilan seni dengan pembelajaran yang lain.

4. Seni dapat menjadi penghubung anak memahami sejarah dan kearifan budaya local serta global sebagai pembentukan sikap saling toleran dan demokratis dalam masyarakat yang majemuk.

 

Manfaat Pembelajaran Seni


Dijelaskan dalam pekerti (2018)Terdapat dua manfaat ketika anak belajar tentang seni, yaitu manfaat langsung dan tidak langsung. Adapun manfaat langsung diantaranya adalah sebagai sarana menyalurkan ekspresi, sarana bermain, sarana menyalurkan minat dan bakat, dan juga sebagai sarana bermain. Sedangkan manfaat tak langsung adalah mengembangkan aneka kemampuan dasar pada anak melalui aspek Pendidikan seni.


 Manfaat Langsung


1. Menyalurkan ekspresi. Anak-anak dapat mengungkapkan ekspresinya sesuai dengan cara yang mereka mampu. Pembelajaran seni memfasilitasi hal ini, membuat anak berekspresi sesuai dengan caranya yang berbeda antara anak yang satu dengan yang lainnya dengan keunikannya masing-masing. Ekspresi adalah ungkapan yang datang dari dalam jiwa seseorang berupa emosi, intuisi, pikiran, daya hayal yang keluar secara spontan dan bebas. Ekspresi pada seni tari bisa berupa liukan gerak yang lambat atau cepat dengan diiringi ekspresi wajah sedih atau senang. Ekspresi pada seni rupa bisa diungkapkan melalui garis lukisan yang menunjukkan keadaan hati. Ekspresi pada seni musik bisa diwujudkan dalam nyanyian dan nada yang tercipta.

2. Sarana bermain. Mengutip pernyataan piaget bermain merupakan sarana untuk menghasilkan kesenangan tanpa melihat kerugian atau keuntungan yang didapat dan dilakukan secara berulang. Begitupula menurut Dockett dan fleer yang mengatakan bahwa bermain merupakan kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi demi mengembangkan kemampuan (Sujiono, 2013: 144). Pembelajaran seni bisa menjadi sarana bermain bagi anak. Bermain pada seni rupa adalah dengan mengeksplor warna dan jenis pewarna, bermain dengan plastisin, dengan boneka tangan dan sebagainya. Dalam seni tari anak-anak bisa menemukan permainan gerak menggunakan selendang, kipas, boneka dan lain sebagainya, dalam seni music anak dapat menemukan sarana bermain lewat bermain piano, kendang dan juga bernyanyi Bersama teman.

3. Sarana komunikasi. Dalam pembelajaran seni anak dilatih untuk mampu berkomunikasi melalui simbol-simbol seni seperti gerak, bunyi atau suara. Seni mengenalkan cara berkomunikasi yang menyenangkan kepada anak.

4. Sarana mengembangkan minat dan bakat. Bakat merupakan kemampuan dasar manusia yang didapatkan tanpa melalui Latihan. Pakar pendidikan memberikan pernyataan bahwa setiap anak memiliki bakat yang dibawa masing-masing dari dalam dirinya, dengan kadar yang berbeda-beda. Untuk mengetahui bakat yang dimiliki, seorang anak dianjurkan untuk mengikuti aktivitas seni.


Manfaat Tidak Langsung


Pembelajaran seni memberikan manfaat secara tidak langsung bagi perkembangan kemampuan dasar anak, dan kehalusan budi pekerti.

 

 

Kesimpulan


Pendidikan seni bagi anak usia dini sangat penting digagas dalam upaya mengembangkan potensi dasar anak. Anak usia dini yang memiliki kisaran umur antara 0-6 tahun menurut Undang-Undang Republik indoneisa dan memiliki rentang usia dari 0 sampai dengan 8 tahun seperti yang sudah dirumuskan oleh NAEYC, sangat memerlukan peran aktif dari para pendidik serta orang tua dan orang dewasa dalam menggali minat dan bakatnya. Pendidikan Seni sangat banyak memberikan manfaat pada perkembangan anak diantaranya sebagai sarana menyalurkan ekspresi, sebagai sarana bermain, sebagai sarana komunikasi, dan juga sebagai sarana mengembangkan minat dan bakat.

 


Referensi


Morisson, George. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks, 2012.


Pekerti, Widia dkk. Metode Pengembangan Seni. Jakarta: Universitas Terbuka, 2018.


Pedoman Pembelajaran Bidang Pengembangan Seni di Taman Kanak-Kanak. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pembinaan Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar: Jakarta, 2007.


Sujiono, Yuliani Nurani. Konsep dasar Pendidikan anak Usia Dini. Jakarta: Indeks, 2013.

 


Mengembangkan Potensi Anak Melalui Pengenalan Aneka Suara

Jumat, 25 Februari 2022
Teman-teman tentunya pernah menyaksikan bahwa manusia sejak mula dilahirkan sudah amat cenderung pada bunyi-bunyian, untuk itu seorang bayi seringkali diberikan stimulasi menggunakan alat permainan yang menimbulkan bunyi-bunyian seperti kencringan atau iringan musik yang memang sengaja diperdengarkan oleh orang tuanya. Bahkan kegiatan ini dilakukan sejak sang anak masih dalam kandungan, berupa alunan murattal, suara nyanyian merdu bundanya atau senandung berkharisma dari sang ayah. Mengenalkan bunyi-bunyian atau suara dari macam-macam media dikategorikan dalam Pendidikan seni bagi anak usia dini.

Dijelaskan oleh para ahli bahwa potensi seni masuk ke dalam kecerdasan majemuk karena Pendidikan seni berperan mengaktifkan kemampuan dan fungsi otak secara seimbang antara otak kanan dan otak kiri sehingga anak mampu mengembangkan berbagai potensi kecerdasan yang dimilikinya (Pekerti, 2018: 1.23).

Dalam artikel ini saya ingin menguraikan tentang manfaat memperkenalkan aneka jenis bunyi-bunyian, pada anak, dari mulai bunyi-bunyian sederhana sampai dengan bunyi-bunyian yang bersifat complicated atau rumit karena berasal dari hasil campuran berbagai suara seperti halnya permainan alat musik.

Aneka Suara yang Dapat dikenalkan pada Anak


Banyak sumber suara atau bunyi-bunyian yang bisa kita jumpai, baik suara yang bersumber dari alam maupun suara yang dihasilkan dari buatan.

Suara yang bersumber dari alam diantaranya:

1. Suara hewan seperti suara harimau, kucing, ayam, burung dan lainnya.

2. Suara kejadian alam seperti suara angin, suara hujan, suara petir, suara deburan ombak, suara air terjun, gesekan daun, gesekan ranting, aliran sungai dan lainnya.






Suara yg dihasilkan dari buatan diantaranya:


1. Suara rebana, suara kendang yang dipukul.

2. Suara piano, suara gitar dan suara alat music lainnya.

3. Suara panci, penggorengan cangkir, piring yang dipukul serta alat dapur lainnya.

4. Suara gesekan berbagai macam benda, misalnya gesekan pintu yang diterpa angin, gesekan jendela, gesekan pedal sepeda dan lainnya.

5. Suara deruman mobil, motor, kereta dan lainnya.





Cara Mengenalkan Aneka Suara kepada Anak


Dalam mengenalkan aneka suara kepada anak kita bisa mengajak anak untuk berinteraksi langsung dengan sumber suara tersebut, agar anak bisa mengenal secara real sumber suaranya. Berikut beberapa cara mengenalkan macam-macam suara pada anak.

1. Mengenalkan suara deburan ombak. kita bisa mengajak anak langsung pergi ke pantai dan menyaksikan keindahan pantai yang memiliki suara deburan ombak, sambil bercerita kepada anak, apa yang menyebabkan terjadinya ombak, melalui bahasa sederhana yang dapat dengan mudah dipahami oleh anak. Jangan lupa juga disisipi dengan penjelasan bahwa yang menciptakan pantai dan ombak adalah Allah ta’ala, sekaligus mengenalkan anak kepada sang pencipta. Mempedengarkan suara ombak dan sesekali mengajaknya untuk meniru suara deburan ombak. Jika tidak memungkinkan untuk datang ke lokasi langsung, papa mama bisa mengenalkannya lewat media sosial atau media lainnya.

2. Mengenalkan suara alat transportasi. Dengan mengajak anak melihat dan jika memungkinkan bisa juga dengan mengendarainya, menjadi cara mengenalkan jenis suara yang dikeluarkan dari aneka alat transportasi semisal, mobil, motor, sepeda, perahu, kereta, dan lainnya. Ajak anak untuk menirukan suaranya dengan sebelumnya bisa diberikan contoh terlebih dahulu oleh bunda. Alat ransportasi bisa dengan mudah kita jumpai di sekitar tempat tinggal kita.

3. Mengenalkan suara binatang. Sama halnya dengan mengenalkan suara ombak dan alat transportasi. Anak dikenalkan langsung kepada obyek aneka jenis binatang, tentu saja bisa dimulai dari binatang-binatang yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar seperti ayam, burung, kucing, anjing, domba dan lainnya. Minta anak untuk memperhatikan kucing mengelus-ngelus, sehingga sang kucing mengeong dan anak bisa mendengarnya, papa mama bisa memulai untuk meniru suara kucing dan mengajak anak untuk ikut menirukan juga. Ingat ya papa mama, selalu awasi anak ketika sedang bermain dengan binatang. Jika anak takut terhadap kucing atau binatang lainnya, bisa mengenalkannya dari jauh.


Manfaat Mengenalkan Aneka Suara Kepada Anak


Beberapa manfaat yang akan diperoleh dari aktivitas mengenal suara sangat beragam. Terutama jika bunda juga menyisipkan metode bercerita di dalamnya (Ridwan, 2021:39), beberapa manfaat yang diperoleh diantaranya, yaitu:

1. Kemampuan menyimak pada anak jadi terlatih.

2. Mengembangkan gerak pikir dan rasa pada anak.

3. Membangkitkan semangat dalam jiwa anak.

4. Mendorong anak untuk mengekspresikan perasaannya.

5. Mengembangkan imajinasi anak.

6. Mengajak anak mengeksplorasi perbedaan suara bunyi.

7. Dengan timbulnya rasa kagum dan gembira pada anak, mampu membangkitkan kepuasan jasmani dan rohani anak.



Demikian sekelumit uraian tentang mengembangkan potensi anak melalui pengenalan aneka jenis suara. Dengan mengenalkan aneka suara pada anak, papa mama juga bisa menyisipkan nilai sosial emosional, misalnya meminta anak memperlakukan binatang dengan penuh kasih sayang, tidak merusak, berhati-hati, dan nilai-nilai lainnya yang bisa papa mama ajarkan ketika proses mengenalkan suara sedang dijalankan. Bisa dikatakan bukan hanya satu aspek yang dikembangkan namun potensi kognitif, afektif dan psikomotor anak juga bisa ikut terasah dan berkembang. Selamat bereksplor bareng si kecil. Salam pengasuhan!

 



Referensi


Pekerti, Widia dkk. Metode Pengembangan Seni. Jakarta: Universitas Terbuka, 2018.

Ridwan dan Bangsawan Indra. Seni Bercerita Bermain dan Bernyayi. Jambi: Anugerah Pratama Press, 2021.

 

Mengenal Konsep Seni

Minggu, 20 Februari 2022

Artikel Mengenal Konsep Seni ini merupakan materi  pertemuan pertama pada mata kuliah Pendidikan Suara dan Musik Anak Usia Dini, di Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Strata satu Sekolah Tinggi Agama Islam La tansa Mashira, Lebak Banten.



Pendahuluan



Jika kita diam di suatu tempat yang dihiasi dengan pernak-pernik yang serba indah dan aesthetic, apa yang dirasakan? Pasti mood langsung enak, kan? Segar dan berasa betah banget. Dari mata turun ke hati, begitulah sifat keindahan seni. Memandang keindahan, mampu menciptakan ketentraman emosional. 

Pada pertemuan pertama ini, ayo kita kenali dulu konsep tentang seni, sebagai bekal kita untuk memperkenalkannya pada anak didik kita di kegiatan pembelajaran tentang Pendidikan seni bagi anak usia dini.

Bila kita berbicara tentang seni seringkali dikaitkan pada hal yang indah, hal yang menyenangkan, hal yang membangkitkan semangat, hal yang mampu mengangkat adrenalin kita ke puncak bahagia. Ujaran sering dilontarkan oleh para kaum pujangga dengan mengaitkan hal-hal yang membuat pikiran kita bahagia dengan seni. Mengisi draft langkah di setiap kehidupan kita dengan dihiasi seni menjadikan perjalanan hidup ini tak melulu menjenuhkan.

Apakah Seni? Tak mudah untuk menjabarkan hal ini sampai dengan menemukan jawaban yang bermuara pada kepuasan. Tak ubahnya dengan kebahagiaan yang sumbernya lebih pada penekanan terhadap hal yang terkait dengan kejiwaan, begitupun seni. Titik awal seni berangkat dari pemenuhan kebutuhan jiwa.

Jenjang usia dini adalah masa yang paling tepat dalam memperkenalkan segala hal agar lebih mudah membekas dan menempel hingga menjadi sebuah kebiasaan yang berdampak pada kehidupan ke depannya. Masa ini adalah masa emas dari seorang manusia. Seluruh potensi yang ada pada manusia sebaiknya dikembangkan sejak dini. Begitupun seni. Seni merupakan salah satu potensi dasar anak yang masuk ke dalam kecerdasan majemuk. Karena itu sudah sepatutnya seni diperkenalkan pada anak dari sejak dini.

Seni diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan kepada anak, misalnya melalui berbagai jenis permainan baik permainan yang pasif maupun permainan yang aktif (Widjanarko, 2017 ).




Pembahasan


Makna Pendidikan Seni


Pendidikan adalah hal mendasar yang dibutuhkan oleh manusia. Pendidikan dapat merubah manusia dari keadaan tidak tahu menjadi mengerti. Pendidikan amat perlu diterapkan dari sejak dini. Termasuk seni.

Seni merupakan komponen yang majemuk yang dipengaruhi oleh banyak faktor, dinamis dan bergerak leluasa. Seni berkembang sesuai dengan kebudayaan yang mempengaruhinya. Sesuai dengan selera yang menyertainya.
Seni mengandung pengertian produk keindahan yang dapat membangkitkan rasa Bahagia (Soraya, 2019)

Mengutip perkataan Soedarso dalam Pekerti DKK, seni berasal dari berbagai kata dan Bahasa. Bahasa Itali menyebut seni dengan istilah I’arte, Bahasa Prancis mengistilahkan seni dengan l’art, el arte dalam Bahasa Spanyol dan art dalam Bahasa Inggris. Semua istilah tersebut diambil dari Bahasa Roma atau populernya dikenal dengan Bahasa Latin ars yang berarti keterampilan, keahlian dan ketangkasan. Sedangkan orang yang memiliki keahlian disebut sebagai artes (Pekerti, 2018:1.5).

Kemudian dalam perkembangannya seni memiliki makna yang lebih luas, sehingga arti seni perlu dijabarkan dalam tiga sisi, diantara yaitu:

1. Seni sebagai hasil karya. Karya seni merupakan hasil dari ungkapan perasaan yang bukan hanya dihasilkan dari luapan rasa bahagia namun juga memiliki arti spiritual. Karya seni merupakan gambaran dari manusia secara personal dan sosial dalam berbagai hasil karya. Hasil karya tersebut misalnya terdapat dalam pahatan Candi Borobudur yang memiliki makna filosofis yang tinggi serta unsur religi.

2. Seni sebagai keahlian. Aristoteles menganggap bahwa seni merupakan hasil luapan emosi yang diwujudkan melalui kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Gagasan yang dimiliki seseorangdisertai dengan keahlian sehingga mampu diwujudkan menjadi sebuah karya seperti gesekan biola, pahatan patung atau pertunjukkan wayang yang dimainkan dengan sangat interaktif.

3. Seni sebagai kegiatan manusia. Seni sebagai kegiatan diartikan sebagai kegiatan olah bentuk, olah pengalaman dari hasil melihat, mendengar, meraba, mencium dan mendengar. Seni juga merupakan kegiatan olah tekhnik contoh seni sebagai kegiatan adalah ekspresi wajah konyol yang dibuat oleh pelawak sehingga mengundang tawa. Atau gerak gemulai para penari yang mengekspresikan perasaan jiwa.

Sifat Dasar Seni


Seni memiliki lima sifat yang menjadi ciri pembentukannya, diantaranya yaitu:

1.   Sifat kreatif. Seni merupakan gagasan baru yang diciptakan oleh individu yang sebelumnya belum pernah ada, atau dikembangkan dari yang telah ada. Misal seperti pahatan patung yang terbuat dari es batu, atau lukisan yang terbuat dari kacang-kacangan, atau pemusik yang menciptakan permaianan musik tradisional dengan menggunakan alat musik yang modern.


2.   Sifat Individualitas. Hasil karya seni merupakan ciri dari orang yang menciptakannya, misal hasil karya lukisan Basuki Abdullah pasti memiliki perbedaan hasil dengan hasil karya pelukis lainnya.


3.   Sifat ekspresif. Perasaan ekspresif seniman dituangkan dalam karya seni yang dia ciptakan. Seni yang terlahir merupakan perwakilan dari kondisi atau ekspresi dari perasaannya,misal karya sebuah lagu yang syairnya berisi tentang kepedulian pada anak-anak terlantar dan kaum tertindas karya Iwan Fals yang berjudul Bongkar atau perasaan cinta yang meluap sebuah lagu yag dibawakan Prinsa untuk ost web series layangan Putus dan yang lainnya.

 

4.   Sifat yang permanent atau abadi. Hasil karya seni yang tercipta yang sudah mendapatkan legitimasi dan penghargaan dari masyarakat tidak akan terhapus, contohnya lagu kebangsaan Indoneisa Raya, tetap diakui sampai dengan sekarang.


5.   Sifat Universal. Seni bersifat universal dalam artian meluas bisa berkembang ke seluruh penjuru dunia. Dari zaman dahulu hingga sekarang seni terus berkembang. Berputar berganti dari masa ke masa mewarnai trend sampai penjuru dunia. Seperti halnya pada trend fashion hasil karya dari seorang fashion desainer di paris bergerak menjalar sampai ke negara lainnya.


Unsur-Unsur Karya Seni


Setiap keindahan selalu didambakan oleh semua orang. Keindahan mampu membangkitkan mood dan aura yang positif. Satu hal yang terlihat tidak menarik jika diberi sentuhan seni akan memiliki kesan yang berbeda. Hasil seni dapat membangkitkan aneka ekspresi dari mulai senang, terkejut, sampai merasa menakutkan. Namun dari semua ekspresi yang keluar, seni tetap memberikan value yang bermakna pada kehidupan, seperti perenungan, kesadaran, berpikir merasa tercerahkan dan menemukan jalan keluar dan lain sebagainya.


Nilai yang bisa kita dapat dari sebuah karya seni dikarenakan ada unsur-unsur penyerta dalam sebuah karya seni. unsur penyerta tersebut  diantaranya adalah:


1.   Struktur Seni. Unsur-unsur dalam seni merupakan perpaduan yang membentuk satu kesatuan utuh. Unsur dalam seni banyak ragamnya diantaranya unsur karya seni rupa yaitu garis, titik, bentuk, warna, tekstur, volume, cahaya. Unsur karya seni musik terdiri dari ekspresi, melodi, irama dan harmoni. Unsur seni tari terdiri dari gerak, ruang dan waktu.



Lukisan abstrak

Lukisan Abstrak. Sumber: Pixabay


Lukisan affandi

Lukisan Kebijaksanaan dari Timur Karya Affandi. sumber: Galeri Lukisan Indonesia

 

Tema dalam seni. Suatu hasil karya seni biasanya lahir dari sebuah tema yang diangkat dari ragam persoalan. Persoalan yang dikaitkan bisa berupa nilai keindahan yang didapat dari alam, benda, kejadian atau peristiwa, metafora (pemakaian kata yang bukan makna sebenarnya, mis: tulang punggung= pemikul tanggung jawab)) dan alegori (cerita yang dipakai sebagai lambing kehidupan manusia yang sebenarnya. Contoh tema dalam karya seni misalnya mengangkat tema cinta tanah air dalam lirik lagu “Tanah Air”.

Namun bukan berarti hal yang tidak memiliki tema tidak dapat disebut sebagai karya seni, misal dalam karya seni abstrak, hanya ada garis, warna, bidang dan bentuk yang tidak mudah dimengerti bentuknya namun menghadirkan komposisi yang bisa mewakili perasaan dan pikiran sang seniman.

Tema mempermudah para penikmat seni membuat perbandingan dari karya seni yang satu terhadap karya seni yang lainnya (Masdiono dan Zahar,



Tari Saman. Sumber: Masbidin.net

1.   Media dalam Seni. Media digunakan sebagai bahan dan alat serta keterampilan teknik. untuk mewujudkan sebuah karya seni. Pada karya seni rupa dua dimensi mediumnya bisa berupa lukisan. Pada karya seni tiga dimensi berupa patung, arca serta medium canggih berbasis digital yang berkembang akhir-akhir ini.


2.   Gaya dalam seni. Gaya seni merupakan penampakan hasil karya seni  dari seorang seniman  yang mempunyai ciri khas. Seperti halnya tarian di yogya tentunya memiliki gaya yang berbeda dengan tarian yang ada di banten atau jawa Barat. Contoh lainnya lagi, corak batik yang dimiliki masing-masing daerah memiliki gaya yang berbeda. atau corak batik pada satu daerah berbeda dengan daerah lainnya. setiap daerah memiliki corak batik yang khas dan memiliki arti filosofi yang berbeda.




Ragam Seni  atau Pengelompokan Seni

 

Seni merupakan kebutuhan jiwa yang tidak kalah penting posisinya dalam kehidupan manusia, seperti telah diungkapkan di awal, seni dapat menimbulkan ketenangan, semangat dan kebahagiaan. Awalnya seni tidak ada pengelompokkan, sejalan dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan akhirnya para pakar mengelompokkan jenis-jenis seni. Para pakar menerjemahkan hasil karya seni  ke dalam pengelompokan berdasarkan bentuk, media, teknik dan fungsi.


Dalam Pekerti (2018) Dari aspek media, seni dikelompokan menjadi tiga, yaitu seni rupa, seni pertunjukkan, dan seni sastra. Seni rupa dibagi menjadi seni murni dan seni terapan, seni pertunjukan dibagi menjadi seni tari, seni musik, seni teater, film, dan yang lainnya. Seni sastra meliputi syair, puisi, pantun, prosa, novel dan hasil karya sastra lainnya. Adapun penjabaran dari tiga kelompok seni di atas adalah sebagai berikut:


1.   Seni rupa merupakan perwujudan seni yang bisa disuguhkan dalam karya dua dimensi,tiga dimensi atau bahkan multi dimensi.

 

Ada sudut pandang berbeda antara seni rupa yang perlu diperhatikan. Seni rupa pada anak berbeda konsepnya dengan seni rupa pada orang dewasa. Seni rupa bagi seorang anak akan berubah pandangannya seiring dengan bertambah umur. pada pertemuan yang akan datang kita akan membahas tentang seni untuk anak lebih mendalam lagi.

 

2.   Seni pertunjukkan merupakan seni yang dipertontonkan di hadapan khalayak ramai, mencakup seni tari, seni musik, drama, film, ketoprak.  Disertai  panggung sebagai saranan untuk mementaskan produk seni. Didukung oleh: Media intrinsik yaitu busana, make-up, alat penunjang dan musik yang mengiringi. Media ekstrinsik yaitu bakat dan keterampilan.

 

3.   Seni sastra. Berguna sebagai perpanjang lidah untuk menggambarkan keadaan sosial masyarakat di suatu masa yang berubah adat dan budayanya, berbentuk penuturan Bahasa yang terstruktur dan enak didengar.

 

 


 

 Kesimpulan


Seni merupakan produk olahan tangan manusia yang menggunakan teknik dan memiliki gaya tertentu. setiap karya seni memiliki perbedaan dan memiliki ciri yang khas antara satu karya seni dengan yang lainnya. karya seni mampu terus berkembang menyesuaikan keadaan zaman, adat istiadat, perkembangan teknologi dan pola pikir manusia.

keindahan karya seni dapat kita nikmati karena adanya unsur yang menyertai tersusun dalam komposisi yang sesuai, antara media seni, gaya seni, dan juga tema seni. karya seni dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu karya seni sastra, karya seni pertunjukkan dan karya seni rupa.





Referensi


Pekerti, Widia dkk. Metode Pengembangan Seni. Jakarta: Universitas Terbuka, 2018.


Soraya, Nyayu, Ragam Seni Budaya Melayu Pra Islam.  Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Tsaqofah & Tarikh Vol. 4 No. 1 Januari-Juni 2019.


Widjanarko, Paulus. Pendidikan Seni Bermaon dan Bernyanyi pada Anak Usia Dini,  Jurnal Anak Usia Dini, Volume 1, Nomor 1, hlm 25 – 31.


http://umkeprints.umk.edu.my/103/ Masdiono, Toni dan Zahar Iwan. Pentingnya Klasifikasi Tema dalam Pendidikan Seni Rupa Studi Kasus Tema pada Seni Fantastik Indonesia.





 

Pendidikan Agama Islam

Senin, 14 Februari 2022

Artikel Pendidikan Agama Islam ini merupakan materi pertemuan kedua pada mata kuliah Ilmu Jiwa Agama/psikologi agama. Disampaikan pada perkuliahan program studi Strata satu Pendidikan Islam Anak Usia Dini semester VI di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Latansa Mashira, Lebak Banten.

 

Pendidikan Agama Islam


Pendahuluan


Terkadang kita dibingungkan dengan istilah Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam. Apa perbedaannya? Sedikit saya uraikan dalam pendahuluan materi ini, agar kita langsung memiliki pijakan yang jelas ketika berusaha memahami konsep Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam. Pendidikan Agama Islam merupakan pembelajaran yang dilakukan di lingkup pendidikan formal semisal di madrasah, sekolah dan pesantren. Sedangkan Pendidikan Islam adalah pembelajaran yang dilakukan secara informal misalnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Singkat, padat dan jelas, bukan?

 

Kini kita beranjak pada esensi dari pendidikan itu sendiri. Manusia dalam upaya menjaga fitrah sangat memerlukan pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi manusia, karena  manusia dilahirkan benar-benar dalam keadaan tak memiliki pengetahuan sedikitpun, keadaan ini digambarkan dalam Al-Qur'an surat an-Nahl: 78,  Allah azza wajalla berfirman:




Ramayulis (menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang memerlukan pendidikan sesederhana apapun bentuknya, sekecil apapun komunitas tempatnya berada, karena pendidikan merupakan kebutuhan bagi kehidupan manusia.

Seperti halnya Rasulullah salallahu alaihi wa salam, diperintahkan membaca melalui perantara Jibril alaihi salam, ini merupakan bagian dari proses pendidikan.  Gambaran Rasulullah kala itu diceritakan dalam Al-Qur'an surat al-Alaq ayat 1-5, yang isinya, Allah ta’ala berfirman

 



Firman Allah yang tersurat dalam Al-Qur'an surat al-Alaq ayat 1-5 mengisyaratkan bahwa manusia harus banyak membaca. Membaca merupakan  proses dari belajar.

 

 Pembahasan


1.   Hakikat Pendidikan


a.   Makna Etimologi (Bahasa)


Kata Pendidikan dalam Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “didik”, diberikan imbuhan “pe” dan “an” menjadi “pendidikan”. Dalam Kamus Besar Bhasa Indonesia (KBBI) mengandung arti etimologi yaitu perbuatan atau cara melatih dan mengajar mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Menurut pemaparan Ramayulis (2002), kata pendidikan berasal dari Bahasa Yunani Paedagogos yang memiliki arti membersamai anak-anak. “Paedos” bermakna “anak” dan  agoge memiliki arti saya memimpin atau membimbing. Dahulu di Yunani kuno paedagogos merupakan pelayan yang memiliki peranan sebagai pengantar dan penjemput anak-anak. Namun seiring berjalannya waktu makna kata ini bermetafora, posisi sebagai pelayan berubah menjadi pembimbing, pendidik atau ahli dalam mendidik. Kemudian Bahasa inggris memaknainya dengan kata “Education”, yang artinya pengembangan atau bimbingan.

 

b.      Makna Terminologi


Menurut Ramayulis (2002) ada tiga pandangan yang menyertai makna Pendidikan secara terminology. Pertama ditelaah dari sudut pandang tokoh Pendidikan Indonesia, kedua dari tokoh Pendidikan barat dan yang ketiga dari sistem Pendidikan Nasional.


Secara terminologi, salah satu tokoh Pendidikan Indonesia Hasan Langgulung memaknai pendidikan  dari dua sisi pandang. Pertama dari sudut pandang masyarakat, kedua dari sudut pandang perseorangan. Dari sudut pandang masyarakat, pendidikan bermakna pewarisan kebudayaan yang dilimpahkan generasi tua ke generasi muda, dengan tujuan agar identitas tetap terjaga. Dari sudut pandang perseorangan, Pendidikan memiliki arti potensi atau kemampuan yang belum muncul dari dalam diri manusia berusaha untuk dikembangkan dan membentuk manusia menjadi sosok yang mempuni.


Tokoh Pendidikan barat Coser dkk mengartikan Pendidikan sebagai kegiatan menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta nilai dari guru kepada muridnya, dengan  tujuan agar muridnya tersebut mampu menjalankan hidupnya dan memiliki etika sosial yang baik.


Aristoteles berpendapat bahwa Pendidikan adalah usaha untuk membentuk  manusia agar memiliki akhlak yang pantas.


Dalam Undang-undang SISDIKNAS dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang direncanakan agar peserta didik mampu secara aktif mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta segala macam keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Dari beberapa penjelasan tentang pendidikan di atas terdapat benang merah yang bisa kita ambil sebagai inti dari makna Pendidikan yaitu:


1. Proses Pendidikan dilakukan secara sadar dan terencana.

2. Pendidik merupakan subjek dalam Pendidikan.

3. Peserta didik sebagai objek dalam Pendidikan.

4. Kompetensi merupakan tujuan dari sebuah Pendidikan

 

 Hakikat Agama Islam

 

Agama


Pengertian agama telah dijelaskan pada pembahasan di pertemuan pertama, dibagian ini saya akan menguraikan aspek yang menyertai keberadaan agama untuk memperjelas hakikat dari agama.  Muhammadin (2013) menjabarkan tentang lima aspek yang menyertai keberadaan agama, diantarnya yaitu:

 

 1. Aspek asal usul. Keberadaan agama berasal dari dua sumber yaitu agama samawi yang berasal dari Tuhan dan agama ardhy yang berasal dari buah pikir manusia.

2. Aspek manfaat. Manfaat agama untuk memberikan kebaikan dan kebahagiaan  di dunia dan akhirat.

3. Aspek ruang lingkup. Agama menjadikan kita yakin akan adanya kekuatan ghaib

4. Aspek kemasyarakatan. Agama diwariskan secara turun temurun, dilanjutkan tongkat estafetnya dari generasi ke generasi.

5. Aspek Sumber. Berasal dari kitab suci yang dijadikan pegangan untuk menuntunnya dalam menjalani perannya sebagai makhluk yang menempati dunia.

 

Islam


Islam sendiri berasal dari kata aslama yang mengandung makna berserah diri, ketundukan dan kepatuhan kepada Rabb sang pencipta. Diambil juga dari kata salima yang memiliki arti keselamatan. Pemeluknya dinamakan Muslim. Pernyataan ini diisyaratkan dalam Al-Quran surat al-Baqaah (2): 112, melalui firman Allah jalla wa ‘ala yang berbunyi:

 



Hakikat Pendidikan Islam


Makna Etimologi (Bahasa).

 

Dalam konteks Islam, Pendidikan memiliki arti yang sangat majemuk dan mendalam. Kata yang satu berkaitan dengan yang lain dan diperdalam lagi dengan kata yang lainnya dengan penjabaran yang lengkap dari sudut pandang Al-Qur'an, as-Sunnah juga Ijma serta Qiyas. Namun saya di sini hanya menjabarkan secara garis  besarnya saja makna dari kata Pendidikan dalam Islam.

 

Ramayulis memaparkan bahwa pendidikan berasal dari tiga kata Bahasa Arab  yang satu sama lainnya saling berkaitan. Tiga kata tersebut diantaranya


  1. At-Tarbiyah, berasal dari kata Rabba yarubbu, yang memiliki arti membimbing, memperbaiki, menguasai, memimpin, memelihara, dan menjaga.
  2. At-Ta’lim, secara lugahwi berasal dari kata ’allama yu’allimu memiliki arti mengajar.
  3. Al-Ta’dib, memiliki asal kata 'addaba yu'addibu, yang memiliki arti beradab.



Dari tiga term di atas, yang paling sering dijadikan rujukan sebagai makna Pendidikan adalah term kata tarbiyah. Tarbiyah mengandung makna kegiatan Pendidikan secara keseluruhan yang mengupayakan kesiapan seorang individu untuk menghadapi dunia lebih matang dan terarah, menjunjung tinggi nilai, etika dan moral kemanusiaan.

Makna Terminologi


Langgulung (1980) menyatakan bahwa Pendidikan Islam merupakan persiapan membentuk para generasi muda agar paham dan sadar posisinya sebagai umat Islam yang harus memaknai nilai-nilai keislaman yang dianutnya. Berusaha menjalankan apa yang ada dalam kaidah Islam agar selamat di dunia dan akkhirat.

 

Dalam Ramayulis (2009), pada tahun 1960, para ahli merumuskan tentang pengertian Pendidikan Islam dalam seminar Pendidikan Islam se-Indonesia. Pendidikan Islam merupakan proses bimbingan yang didasarkan pada nilai-nilai ke-Islaman untuk mengarahkan, melatih, mengasuh, mengajarkan dan membina secara jasmani dan rahani.


Pendikan Islam mengalami banyak perubahan pada dekade ini, yang menjadi latar belakangnya adalah perkembangan zaman dan tatanan sosial yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Menurut  Daradjat (2008), Agama Islam dijadikan sumber sebuah kebudayaan yang diciptakan oleh para penganutnya, oleh karenanya kebudayaan di suatu daerah tercermin dari ajaran yang dianut para masyarakatnya.


Para umat Islam untuk melangsungkan keberadaannya wajib  untuk mentarbiyah dirinya dengan Tarbiyah Islamiyah, agar mampu membentuk dirinya menjadi Khalifatul fil-ardi yang Amanah, menjaga titipan yang diberikan kepadanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Karena dia paham kaidah yang dianutnya, bahwa segala sesuatu yang dia emban dan dia kerjakan di dunia, segalanya harus dipertanggung jawabkan di kehidupan akhirat kelak.

 

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam


Armai Arief dalam Rosmiyati Aziz (2019) menerangkan ruang lingkup dari Pendidikan Islam membahas permasalahan yang berhubungan dengan Pendidikan keislaman. Kaidah Pendidikan Islam bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman, ilmu dan teknologi. Pendidikan Islam merupakan bagian yang saling mengikat antara satu dan lainnya, karena nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, merupakan koherensi antara esensi ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari.


Ruang lingkup Pendidikan Islam menurut Rahman dalam Rosmiyati Aziz (2019) terdiri dari tuntunan ibadah, aqidah dan muamalah yang berdampak pada proses berpikir dan pembentukan akhlaqul karimah.


Unsur-unsur yang terkait dengan penddikan Islam adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan mendidik.

2. Peserta didik.

3. Dasar Pendidikan Islam (Al-Qur'an dan Hadits)

4. Tujuan Pendidikan Islam (Akhlaq Mulia)

5. Materi

6. Metode

7. Evaluasi

8. Alat bantu

9. Lingkungan


 

 Manfaat Pendidikan Islam


Manfaat dari Pendidikan Islam yang langsung dapat diaplikasikan, diantaranya adalah:


1. Mendapat kesesuaian antara teori dan praktik.

2. Mendapat informasi yang seimbang antara input dan output.


Tujuan Pendidikan Islam


Abu Ahmadi dalam Ramayulis (2018) membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi beberapa tahapan, diantaranya yaitu tujuan tertinggi, tujuan yang bersifat umum, tujuan yang bersifat khusus, dan tujuan yang bersifat sementara. Keempat tujuan tersebut dijabarkan sebagai berikut:


1.  Tujuan tertinggi atau terakhir adalah menjadi insan kamil dengan cara menjadi hamba Allah yang semata-mata mengabdikan dirinya hanya pada Allah dan menjadi khalifah Allah fi al-Ardh yang mampu memakmurkan bumi serta mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

2. Tujuan Umum meliputi tercapainya perubahan perilaku dan karakter peserta didik kea rah yang lebih baik.

3. Tujuan khusus tergantung pada kebudayaan serta apa yang diinginkan, minat dan bakat peserta didik dalam situasi, kondisi pada jenjang waktu tertentu.

4. Tujuan sementara bersifat kondisional, tergantung latar tempat tinggal peserta didik. Untuk itu Pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan.


Penutup


Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang mengajarkan tentang membentuk keimanan, melakukan kegiatan beribadah serta membina akhlak manusia menjadi akhlaqul karimah. semua ini bertujuan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


Melalui panca indera yang dibekali oleh Allah manusia dibekali potensi fasik dan taat, Manusia diberi kesempatan untuk memilih, karenanya manusia disarankan untuk terus belajar agar tak salah dalam membuat pilihan. Setelah melakukan proses belajar manusia bisa mengajarkan apa yang mampu dia ajarkan. Hal yang paling pamungkas adalah bahwa manusia memiliki tanggun jawab besar yang harus dipikul, yaitu sebagai pengabdi Tuhan dan khalifah fi al-ardh. Bertanggung jawab untuk memakmurkan dan menjaga bumi.

 




Referensi


Andriyani, Isnanita Novia. Menjaga kesucian fitrah manusia. Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015.


Azis, Rosmiyati. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Sibuku, 2019.


Daradjat, Zakiyah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara, 2008.


Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah. Pendidikan Islam Menggali "tradisi" mengukuhkan eksistensi,  2007.


Firmansyah, Iman. Pendidikan Agama Islam : Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsi, Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim. Vol. 17 No. 2 – 2019


Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam Bandung: al-Ma’arif, 1980.


Ramayulis. Dasar-Dasar Kependidikan . Padang: The Zaki Press, 2009.


Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.


Subhan, Fauti. Konsep Pendidikan Islam Masa Kini. Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol.02 No.02 Hal 355-373, 2013.


https://kbbi.web.id/didik


Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger