Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Tampilkan semua postingan

Contoh Permainan Kooperatif bagi Anak, Apa Saja, sih?

Senin, 04 Juli 2022

Banyak sekali jenis permainan yang mendidik untuk anak. Papmam bisa mengenalkannya satu persatu kepada anak, agar anak memiliki pengalamanyang beragam. Salah satu jenis permaian yang baik untuk anak adalah permainan kooperatif. Bermain ular tangga merupakan salah satu contoh permaianan yang kooperatif bagi anak. 


Bermain dalam kehidupan anak sangatlah berarti. Kehidupan sejatinya bagi seorang anak adalah bermain, untuk itu bermain merupakan pekerjaan bagi seorang anak yang akan membantu anak untuk mengoptimalkann kemampuannya. 


Kegiatan bermain pada anak merupakan satu kesatuan yang dapat mendukung seluruh aspek perkembangan anak secara optimal, selaras dengan yang dikemukakan oleh Caron and Jas bahwa bermain merupakan aktivitas anak dalam berimajinasi, berekksplorasi dan menciptakan sesuatu yang baru.


Bermain akan memberikan dampak yang baik bagi anak dan sangat bermanfaat untuk kehidupannya di masa dewasa kelak. Karenanya Bruner menyatakan bahwa bermain merupakan kegiatan yang sanagt wajib bagi anak. 


Setelah kita mengetahui betapa pentingnya kegiatan bermain bagi anak, kita juga perlu tahu jenis permainan yang baik untuk anak. Apa saja? Banyak sekali, diantaranya ada permainan kompetitif, kooeratif, permainan fisik, permainan konstruktif, permainan simbol, bermain asosiatif dan sebagainya.


Pada artikel kali ini ruang narasi dan inspirasi Nita akan membahas jenis permainan kooperatif untuk anak. Next insyaallah kita bahas lagi ya, jenis permainan anak yang lainnya.


Permainan Kooperatif untuk Anak


Permainan kooperatif adalah jenis permainan untuk anak yang mengedepankan kegiatan bermain dengan cara bekerjasama antara anak yang satu dan lainnya. Anak akan dilibatkan dalam aturan dalam sebuah tim demi mewujudkan cita-cita bersama.


Permainan ini sangat bermanfaat untuk anak. Melalui permainan ini anak-anak dapat dilatih jiwa sosialnya, berusaha untuk mau bekerjasama dengan teman lainnya dalam satu tim untuk menggapai tujuan bersama.


Jenis permaian yang kooperatif bagi anak bisa dimainkan ketika anak sudah memasuki usia di atas 3 tahun biasanya.


Contoh Permainan yang Kooperatif bagi Anak


contoh permainan kooperatif


Permainan kooperatif pada anak memiliki prinsip kerjasama antara anggota yang satu dengan yang lainnya dalam satu tim. Hal in merupakan prinsip yang harus dilakukan oleh anak dalam jenis permainan yang kooperatif.


Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa jenis permainan ini baru bisa dimainkan oleh anak di atas usia 3 tahun, beberapa diantaranya yaitu bermain lego, bermain gobak sodor, bermain galaksin, bermain sepak bola, bermain ludo, bermain petak umpet, dan lainnya.


Pada permainan lego jika dilakukan bersama dibutuhkan kerjasama agar permainan bisa berjalan dengan tertib. Orang dewasa atau Papmam bisa membantu menerapkan peraturan selama bermain. Jenis peraturan dan permainannya sesuaikan dengan usia anak.


jangan dibayangkan bemain gobak sodor yang dilakukan oleh manusia dewasa, cukup bisa digunakan untuk anak dengan modifikasi pola yang memudahkan untuk anak juga. Begitupun dengan permainan jenis kooperatif yang lainnya.


Manfaat Permainan yang Kooperatif bagi Anak


Bermain pada anak usia dini sangat diperlukan untuk tumbuh dan kembang anak. Semua aspek perkembangan pada anak bisa distimulasi melaui proses bermain yang dilakukan anak.


Pola permainan kooperatif akan berdampak baik pada anak terutama untuk perkembangan sosial anak yang diantaranya terdiri dari sikap empati, bisa bekerjasama dengan baik, bertanggung jawab serta menerima kekalahan dengan legowo dan bisa melatih anak dalam dunia persaingan. Persaingan itu wajar asal dilakukan dengan sehat dan jujur.


Untuk itu sebaiknya dalam proses anak bermain ada orangtua yang membatasi dan memberikan pengertian pada anak tentang aturan bermain, dan mengajak anak untuk menjalankan pola berbagi dalam kehidupan real.


Gimana Papmam, sudah mendapatkan titik cerah, kan, tentang contoh permainan yang kooperatif untuk anak. Papmam bisa mencoba menerapkannya pada anak diawali dari dalam rumah, yaitu dimulai dengan bermain bersama orangtua.


Selamat bermain bersama putra putri tercinta. Salam Pengasuhan. Happy parenting.






Referensi


Setiawan, M Heri Yuli, Permainan Kooperatif dalam Mengembangkan Keterampilan Anak Usia Dini,  Jurnal AUDI, Volume 1, Nomor 1, hlm 32 – 37.


https://www.ibudanbalita.com/artikel/mengenal-aneka-permainan

https://www.diadona.id/family/11-jenis-permainan-yang-bagus-untuk-perkembangan-anak-200115j.html

5 Permainan Untuk Melatih Kesabaran Anak

Minggu, 26 Juni 2022
Kesabaran pada anak merupakan hal yang harus dilatih dari sejak dini. Membiasakan berperilaku sabar pada anak bisa diterapkan melalui konsep bermain sambil belajar. Sebagai orangtua kita harus memahami bagaimana memilih permainan untuk melatih kesabaran anak.


permainan untuk melatih kesabaran anak


Tingkat Kesabaran pada Anak


Anak adalah manusia muda pemilik fase perkembangan kepribadian yang sangat pesat di usianya. Untuk itu sebagai orangtua kita harus mengupayakan untuk menanamkan sifat baik pada anak.

Sosok kecil yang sedang bertumbuh dan berkembang ini sedang melalui masa kritis. Gejolak emosi masih sangat labil, karenanya anak sering terpancing emosi jika ada hal yang kurang berkenan pada dirinya.

Otak anak sedang mengalami masa perkembangan yang amat pesat. Anak belum bisa berpikir matang dan memahami konsep-konsep yang merupakan sesuatu yang baru menurutnya. Bermain sambil belajar belajar sambil bermain bisa digunakan untuk melatih kesabaran anak.

Anak usia dini belum mampu berpikir masalah konsep, usianya hanya mampu berpikir secara faktual. Untuk itu anak belum mampu memahami konsep sabar untuk menunggu dan berbagi.

Dari sebuah penelitian seorang pakar psikolog anak Pamela Cole menyatakan bahwa seorang anak memiliki tingkat kesabaran yang berbeda-beda, dan ini disesuaikan dengan tingkat umur si anak.

Makin bertambah usia anak maka kesabaran semakin meningkat. Anak berumur 18 sampai dengan 24 bulan disinyalir tahan menunggu hingga 8 menit. Setelah itu dia akan mencari orangtua yang biasa selalu lekat dengan dia. Makin bertambah usia anak, maka tingkat kesabaran anak semakin bertambah.


Jenis Permainan Untuk Melatih Kesabaran Anak


Untuk melatih kesabaran anak bisa dilakukan secara menyenangkan tanpa harus menyulut emosi papmam. Bagaimana caranya? Tentunya dengan mengikuti fitrah kejiwaan anak yang menyukai bermain.

Banyak sekali jenis permainan yang bisa kita berikan kepada anak, beberapa diantaranya bisa kita jadikan sebagai media untuk melatih kesabaran anak.

permainan untuk melatih kesabaran anak



Bukan saja jenis permainan yang  lagi ngehits di kalangan para orangtua dan anak yang bisa melatih kesabaran. Namun, permainan tradisional anak bisa mengajarkan makna sabar kepada anak. Beberapa diantaranya juga bisa dibuat sendiri di rumah, tanpa perlu mengeluarkan biaya yang banyak.

Yuk, kita coba list beberapa jenis permaian Untuk melatih kesabaran anak, Papam bisa sesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Permainan tersebut diantaranya, yaitu:

Permainan Tebak Gambar


Melalui permainan tebak gambar anak akan dirangsang berpikir mengingat-ngingat nama dari binatang yang dia sedang lihat, bisa di kartu, di buku atau di majalah. Berbagai macam media bisa digunakan oleh ayah bunda untuk dijadikan alat bermain bersama buah hati.

Anak akan berusaha menyimak gambar, berlatih menanti papmam ketika memilih dan mengajukan pertanyaan tebak gambar. Terutama jika dilakukan berbarengan. Ananda akan dilatih bersabar untuk mendapatkan giliran menebak gambar.

Tentukan di awal tentang peraturan permainan yang harus di taati oleh sang buah hati. Permainan ini bisa mulai dicoba untuk anak di atas 3 tahun.

Permainan Tebak Kata dan Tebak Huruf


Begitu pun dengan permainan ini, anak akan dilatih kesabaran mengikuti aturan permaiann yang telah ditetapkan di awal. Terutama jika permainan ini dilaksanakan secara berkelompok. Anak juga akan dilatih bergantian menebak kata dengan temannya.

Anak juga akan dilatih kesabarannya dalam menyambung huruf-huruf yang tertera dalam kartu, kertas, buku atau media lainnya.

Usahakan untuk memilih kata-kata yang mudah untuk anak. Permainan ini selain berguna untuk melatih kesabaran anak, juga bisa membantu mempeerlancar anak yang sedang berproses belajar membaca.

Permainan ini bisa diterapkan bagia anak-anak dengan rentang usia di atas 5 tahun. Lebih tepatnya untuk anak yang sudah mulai belajar membaca dan mengenal huruf. Selain tebak kata, papmam juga bisa memulainya dengan tebak huruf.

Permainan Puzzle


Proses mencocokkan bentuk yang tepat di sebuah bidang, atau biasa kita sebut dengan permainan puzzle, sangat bermanfaat untuk melatih kesabaran.


Proses anak mencocokkan satu bentuk ke skema garis yang tepat, diharapkan akan membantu melatih kesabaran anak. Memilih bentuk membutuhkan waktu, mencocokkannya pun membutuhkan ketelatenan. Dengan ini Anak akan dilatih untu bersabar menikmati proses permainan puzzle.

Permainan Memancing


Jika Papmam senang mengajak anak bermain ke alun-alun kota atau ke pusat permaianan anak, papmam akan mendapatkan permaianan pancing ikan yang disediakan di arena bermain. Jenis permainan ini bisa menjadi sarana melatih kesabaran pada anak.

Selain menyenangkan permainan ini diharapkan mampu membentuk karakter sabar pada anak. Tidak melulu harus pergi ke tempat sara bermain anak, Papmam juga bisa menyediakannya di rumah. Di toko penjual alat bermain anak, sudah banyak yang menyediakan alat pancingan.

Papmam bisa mengaplikasikannya kepada anak kapan pun yang anak mau dan sesering yang anak suka. Proses memancing merangsang anak untuk berusaha mendapatkan barang yang dia inginkan. Anak dilatih untuk berpikir juga bersabar. 

Agar berhasil mendapatkan barang pancingan tentunya anak harus berusaha untuk terus mencoba. dalam usaha mencoba terus, kesabaran anak diharapkan bisa terbentuk menjadi sebuah karakter.

Berkegiatan bersama Orangtua


Permainan jenis ini bisa beragam penerapannya. Papmam bisa mengajak anak untuk masak bersama, berkebun bersama, mencuci bersama, bersih-bersih rumah bersama, melipat baju bersama, dan kegiatan rutinitas harian lainnya.

Papmam bisa selalu melibatkan ananda untuk mau ikut serta dalam membantu pekerjaan orangtuanya. walaupun anak belum terampil untuk memegang sapu, alat kain pel dan lainnya, di sinilah saat yang tepat bagi Papmam untuk membiasakan anak dengan barang-barang tersebut.

Selama barang yang diperkenalkan tidak mengandung bahaya, Papmam bisa mebiarkan anak mengeksplor sesering yang anak suka. Namun, untuk alat yang bisa membahayakan seperti penggunaan benda tajam yang bisa menciderai butuh perhatian dan pengawasan ekstra dalam melatihnya.

Proses belajar melakukan kegiatan rtinitas harian yang dilakukan bersama Papmam diharapkan dapat melatih kesabaran si kecil. Tentunya dengan diiringi kesabaran pula yang diterapkan oleh ayah bundanya.


melatih anak mengerjakan pekerjaan rumah


Permainan Tradisional


Permainan tradisional yang umumnya sudah banyak dikenal oleh banyak kalangan, semisal petak umpet, ular naga panjangnya, gobak sodor, dan beberapa perainan tradisional lainnya bisa juga dijadikan sebagai ajang melatih kesabaran anak.

Proses menjalani pemainan ular naga, melatih anak untuk mau bersabar dalam memasuki lorong tangan temannya, serta berusaha untuk tetap rapih dalam barisan. Hal ini diharapkan bisa membentuk karakter sabar pada anak.

Begitu juga dengan permainan petak umpet. Anak dilatih untuk bersabar menemukan teman yang sedang bersembunyi jika dia kebagian menjaga. 

Ketika dia mendapat giliran yang harus bersembunyi maka anak dilatih kesabaran untuk mencari tempat bersembunyi dan bersabar untuk tetap di tempatnya agar tak ditemukan oleh sang penjaga. Hal ini juga diharapkan bisa membentuk karakter sabar pada anak.

Permainan tradisional anak bisa mengajarkan   kesabaran dan berbagi antar sesama teman. Papmam tak perlu risau ketika anak ingin bermain keluar bersama temannya. Dalam proses bermain bersama teman, ada proses belajar yang anak lewati.

Permainan tradisional ini bisa mulai diperkenalkan pada anak dengan rentang usia 5 tahun ke atas. Anak 5 tahun ke atas sudah mulai mampu berkoordinasi dengan temannya. Mulai mengerti sebuah peraturan yang ditetapkan.


Demikianlah 5 jenis permaian untuk melatih kesabaran anak. Papmam bisa mencoba menerapkan untuk sang buah hati. Usaha orangtua dalam mendidik anak-anaknya akan membuahkan hasil jika dilakukan dengan kesabaran dan ketelatenan. Jangan lupa untuk menyelipka do'a dalam setiap usaha yang kita kerjakan.

Bagi sahabat insnita yang belum memiliki putra putri, bisa juga, nih, diterapkan kepada ponakan, atau adik, jika masih memiliki adik yang masih kecil. So keep spirit and happy. Salam pengasuhan.

3 Aspek Pendidikan yang Mempengaruhi pengembangan Nilai Agama Anak

Senin, 06 Juni 2022

Menurut catatan akademis, belum ada kepastian tentang sebab musabab pertumbuhan jiwa keagamaan pada manusia, namun peran aspek pendidikan terbukti  mempengaruhi jiwa keagamaan pada seseorang. Ada beberapa aspek pendidikan yang mempengaruhi jiwa keagamaan seseorang sebagai esensi untuk mengembangkan nilai agama pada anak. 


Mengembangkan nilai agama pada anak


Aspek Pendidikan Mempengaruhi Pengembangan Nilai Agama pada Anak


Seseorang yang berasal dari keluarga yang paham agama dan mempraktikan kaidah-kaidah agama dengan taat, biasanya akan membentuk individu yang senang melakukan aktivitas keagamaan juga. Sebagai contoh saya punya teman, berasal dari keluarga yang taat menjalankan hukum-hukum agama, dalam hal ini hukum Islam. 


Dia adalah anak seorang kyai pemilik sebuah pondok pesantren. Predikat orangtua yang seorang Kyai dan hidup di lingkungan pesantren, bisa digambarkan, bahwa kehidupan yang dia temui sehari-hari adalah melihat kebanyakan orang beribadah dan belajar tentang kegamaan secara terus- menerus. Secara sadar maupun tidak disadari dia telah mendidik dirinya sendiri untuk berperilaku serupa dengan apa yang dia lihat.


 Awalnya saya agak heran, karena dia merupakan teman saya di sekolah menengah pertama yang nota bene merupakan sekolah umum, bukan sekolah Islam. Bergumam dalam hati, kok, bisa masuk ke sekolah umum, ya, kenapa ga langsung dimasukkan ke pesantren juga, agar bisa mewarisi kemampuan ayahnya kelak. Dan mengurus pondoknya.


Terakhir bertemu ketika kami sudah sama-sama memasuki usia yang sangat matang, dan saya melihat teman saya ini berpenampilan layaknya seorang kyai pada umumnya, bersorban, berjubah dan berkopeah. Waw, dari sini saya belajar dan mencoba menganalisis kecil dan berusaha mengiyakan berbagai teori yang pernah saya baca tentang teori  humanistis, lingkungan sangat berpengaruh kuat dalam pembentukan karakter seseorang. MasyaAllahu tabarakallahu.


Kembali berbicara tentang beberapa aspek pendidikan yang mempengaruhi jiwa keagamaan seseorang. Di sini saya akan memaparkan pendapat yang menjelaskan tentang aspek pendidikan apa saja yang mempengaruhi jiwa keagamaan seseorang. Dalam buku "Psikologi Agama" karya profesor jalaluddin Rahmat dijelaskan, bahwa aspek pendidikan yang mempengaruhi jiwa keagamaan seseorang diantaranya adalah:

1. Aspek Pendidikan Keluarga

2. Aspek Pendidikan Kelembagaan

3. Aspek Pendidikan 



Aspek Pendidikan Keluarga


Pendidikan keluarga sangatlah penting bagi pembentukan karakter anak, karena sejak dari lahir sampai anak memasuki usia sekolah, sebagian besar waktunya dihabiskan bersama keluarga intinya. Anak mencontoh dan meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarganya. Karakternya terbentuk melalui pembiasaan yang dia terima. Seorang anak akan berkembang selayaknya dan semestinya jika Akal, fisik dan jiwanya distimulasi oleh orang disekitarnya.


Berangkat dari penelitian dua orang psikolog Itard dan Sanguin tentang 2 bayi yang terlepas dari keluarganya, hilang di tengah hutan dan akhirnya diasuh oleh sekelompok serigala yang tinggal di sebuah gua. Kedua bayi manusia ini ditemukan oleh bapak Itard dan Senguin sudah masuk usia kanak-kanak. Pengasuhan yang diterima dari sekelompok serigala menjadikan bayi-bayi ini tidak berkembang selayaknya kehidupan manusia pada umumnya.


Ketika ditemukan oleh kedua ilmuwan psikolog ini, anak-anak yang diasuh oleh sekelompok serigala bertingkah layaknya seorang serigala. Maksudnya gimana bertingkah seperti serigala? Anak-anak tersebut makan dengan cara yang dilakukan oleh serigala yaitu dijilat dan sambil merangkak, pertumbuhan gigi hampir mirip serigala dengan gigi taring yang lebih runcing, kuat di udara yang dingin tanpa perlu mengenakan pakaian. 


Keadaan ini membuktikan, seorang anak tumbuh dan berkembang benar-benar atas bimbingan, pemeliharaan, dan pengawasan dari orang-orang sekitarnya, dalam hal ini adalah keluarganya. Anak akan berkembang sesuai bimbingan yang didapatkan. belajar dari kasus sekelompok serigala yang mengasuh anak manusia, bahwasannya manusia bisa bertingkah seperti binatang, karena dia berkembang sesuai dengan pengasuh yang membimbingnya.


Manusia memerlukan pemeliharaan, pengawasan, dan bimbingan yang serasi agar pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Untuk itu Menurut WH Clark, bayi manusia memerlukan pengawasan dan stimulasi yang diberikan secara terus menerus sebagai modal dasar untuk dapat berkembang secara alami sesuai dengan kodratnya sebagai seorang manusia. ~ WH Clark ~


Keluarga merupakan inti pendidikan. Keluarga merupakan madrasah yang utama dan pertama. kedua orangtua memiliki fitrah untuk menyayangi anaknya dan memberikan pendidikan yang baik dan layak agar anaknya bertumbuh dan berkembang secara layak dan menjadi sosok yang mandiri dan membanggakan.


Begitupun dengan pendidikan agama dan pemahaman nilai-nilai agama. Orangtua memegang peranan penting dalam hal menumbuhkan kecintaan anak pada agama. Kebiasaan perilaku keagamaan pada orangtua akan berimbas pada perilaku keagaaman pada anak. Untuk itu sebagai orangtua kita harus menjadikan kita sebagai contoh atau tauladan yang baik untuk anak-anak kita.


Menurut Rasulullah salallahu 'alaihi wa salam, orangtua memegang andil besar dalam pembentukan fitrah keagamaan pada anak. Karena sejatinya setiap anak yang dilahirkan sudah dibekali dengan potensi keagamaan, namun orangtuanyalah yang akan membentuk ke arah mana, orangtuanyalah yang menjadikan dia  Nasrani, Yahudi atau Majusi sesuai dengan hadits Rasulullah salallaahu 'alaihi wa salam.



Pendidikan Kelembagaan


Aspek pendidikan yang mempengaruhi jiwa keagamaan seseoorang yang selanjutnya adalah pendidikan kelembagaan. Pendidikan kelembagaan yang dimaksud adalah pendidikan tambahan selain pendidikan keluarga dan berada di luar lingkungan keluarga. Pendidikan kelembagaan ini bisa berupa pendidikan Formal maupun non formal. 

Pendidikan kelembagaan ini diterapkan untuk melengkapi pendidikan di dalam keluarga. Ketika orangtua tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk membekali anak-anaknya dengan aneka disiplin ilmu, pilihan bisa dijatuhkan pada sekolah-sekolah yang memiliki kredibilitas bagus dalam menerapkan konsep pendidikan. Bisa disesuaikan apa yang menjadi tujuan para orangtua ketika memilih lembaga sekolah untuk anak. 

Kemampuan anak yang mana yang ingin ditonjolkan, berbasis pada hal ini, orangtua bisa memasukkan anak pada sekoloah yang tepat sasaran. Jika pendidikan kelembagaan yang orangtua pilih untuk menanamkan nilai keagamaan pada anak, hendaknya masukkan anak pada lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan. 

Mengambil kisah dari pengalaman yang ditemui, biasanya anak-anak yang dimasukkan pada lembaga pendidikan Islam, mereka dibiasakan untuk mengamalkan ajaran Islam, ini bisa menjadi salah satu strategi untuk mengembangkan nilai-nilai keagamaan pada anak.  Kebetulan saya juga memilihkan lembaga pendidikan Islam, sebagai sekolah pertama yang diperkenalkan kepada anak-anak. para orangtua harus memiliki perencanaan yang matang dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan pada anak. Adanya lembaga pendidikan Islam, orangtua terbantu dalam membentuk jiwa keagamaan anak, karena hal ini sangat mempengaruhi perkembangan nilai agama. 


Menurut Yong Pendidikan Keagamaan sangat mempengaruhi tingkah laku keagamaan


Selain memasukkan anak pada lembaga pendidikan Islam untuk mengembangkan nilai agamanya, pembiasaan yang ditanamkan pada anak di rumah juga harus diselaraskan dengan apa yang didapat dari sekolah. Pembiasaan menurut M. Buchari adalah perlakuan yang diperbuat secara beragam. Jadi orangtua harus melanjutkan apa yang sudah didapatkan di sekolah untuk diterapkan di rumah, agar anak terbiasa dengan hal-hal baik yang sudah diajarkan di sekolah. Hal ini diharapkan kelak anak akan mencintai agamanya dan tumbuh sebagai generasi yang cinta Allahu dan Rasulnya.

Ada dua cara dalam membentuk kebiasaan diantaranya pertama dengan cara pengulangan, dan yang kedua dengan cara disengaja dan direncanakan. ~ watherington ~

Sekolah merupakan pelanjut pendidikan di rumah, sekolah memperkuat pengembangan nilai agama pada anak. Tugas guru adalah nilai keagamaan pada anak, membuat anak mau menerima ajaran agama yang dianutnya.

Ada tiga tahapan yang harus dilalui anak agar dia mau menerima ajaran yang diterapkan pada dirinya, dalam hal ini mengembangkan nilai agamanya. Tahapan tersebut diantaranya yaitu: Perhatian, pemahaman, penerimaan. ~Djamaludin Ancok~


Perhatian


Sebagai guru jika ingin mendapat perhatian dari muridnya, hendaknya harus pandai dalam meracik materi pembelajarang yang diberikan. Mempersiapkan metode yang mudah diterima oleh anak, sehingga anak akan merasa suka cita dalam menerima dan menyerap pembelajaran yang disampaikan oleh gurunya.


Pemahaman


Para guru harus mampu membuat murid paham dengan pembelajaran yang disampaikannya. Untuk itu harus ada tips dan trik khusus agar anak dapat memahaminya. Contoh-contoh yang aplikatif bisa memudahkan murid memahami pembelajaran dari pada hanya sekedar teori.


Penerimaan



Penerimaan murid terhadap pembelajaran guru adalah karena adanya kesesuaian, apa yang disampaikan guru kepada muridnya. Apa yang dimaksud kesesuaian? Yang dimaksud kesesuaian di sini adalah nilai kebaikan yang disampaikan kepada murid, terlebih dahulu harus sudah diterapkan oleh sang guru. Anak langsung mendapatkan uswah dari gurunya. Sifat guru yang amanah serta jujur merupakan kunci utama agar apa yang dibawanya bisa diterima oeh para muridnya.


Aspek Pendidikan dalam Lingkungan Masyarakat


Masyarakat memiliki andil besar dalam perkembangan kehidupan seorang manusia, dari mulai lahir samapi meninggalkan dunia. Lingkungan amsyarakat yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama juga.

Jika seseorang berdiam dalam sebuah lingkungan seniman, besar kemungkinan orang tersebut akan tumbuh menjadi seorang yang mencintai seni, bahkan bisa jadi menggeluti bidang kesenian. Jika seseorang tinggal di dalam lingkungan pesantren, diharapkan juga tumbuh sebagai orang yang alim dan menjadi santri.

Untuk itu bergaullah dengan orang-orang yang berakhlak mulia dan mengamalkan aajaran agama dengan baik di lingkungan masyarakat yang baik. maka pengembangan nilai agama pada anak atau seseorang akan baik pula.

Mari kita sehatkan lingkungan keluarga kita, lingkungan sekolah anak, juga lingkungan masyarakat tempat tinggal kita, agar ketiganya berkesinambungan bahu membahu saling menunjang untuk mencetak generasi yang cinta Allah dan Rasulullah. Generasi yang berakhlaqul karimah, generasi yang cinta Quran dan hadits. Menjadi khalifatul fil ardy yang amanah dan benar-benar bisa menjaga bumi. Salam Ukhuwah.



5 Tips Mengajak Anak Agar Mau Bernyanyi Tanpa Menciderai Hatinya

Sabtu, 04 Juni 2022

Mungkin sebagian teman-teman ada yang terheran-heran dengan judul artikel ini. "Tips Mengajak Anak Agar Mau Bernyanyi" Saya sendiri sempat bergumam, apa iya ada anak yang tidak suka bernyanyi? Bukankah bernyanyi merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan untuk anak? Ternyata ada, lho anak yang tidak suka bahkan menangis ketika diajak melakukan kegiatan bernyanyi, apalagi jika diminta tampil solo untuk mempertunjukkannya di depan kelas. 


Tips mengajak anak ingin bernyanyi


Pernyataan ini diperkuat dengan pengalaman beberapa mahasiswa saya yang notabene adalah seorang pengajar di Taman kanak-kanak, seringkali menemukan kasus tentang sulitnya merayu anak agar mau ikut bernyanyi bersama teman-temannya. Saya rasa ini bukan perkara mudah yang pantas diabaikan, perlu perlakuan yang tepat dalam menanganinya agar tidak menciderai perasaan anak, ketika kita mengajak dengan sebuah paksaan bukan atas kehendak sang anak maka ada efek buruk yang akan dialami anak. Tidak semua anak senang jika diminta bernyanyi, karena setiap anak tercipta unik dengan kelebihan dan kekurangannya, ditunjang dengan minat dan bakat yang menyertai.


Siapa Anak Usia Dini?


Untuk lebih menspesifikasikan kelompok Anak yang sedang kita bicarakan pada kali ini kita bercerita tentang anak yang masuk ke dalam golongan anak usia dini. Anak usia dini  menurut National of Education for Young Children atau disingkat NAEYC merupakan anak yang berada pada kisaran usia 0 - 8 tahun. Pada usia ini perkembangan otak anak sedang mengalami perkembangan yang pesat. Perlunya stimulasi yang terarah dan konsisten agar masa penting ini bisa dioptimalkan. Salah satu cara pemberian stimulasi yang dilakukan adalah dengan melakukan aktivitas bernyanyi. Kenapa? sebegitu pentingnyakah bernyanyi?


Manfaat Bernyanyi Bagi Anak


Kegiatan bernyanyi merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan bagi sebagian anak, dengan bernyanyi anak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan. Bahkan ada beberapa anak dengan gift atau bakat spesial yang dianugerahi oleh Allah, di usia 4 tahun sudah bisa menciptakan lagu. Mampu mengekspresikan apa yang dia rasa, ketika sedang bahagia karena punya mainan baru, si anak menuangkan rasa kebahagiaannya melalui untaian syair yang isinya tentang bahagianya dia ketika memiliki mainan baru. Lucu!! Walau dengan lirik sederhana dan kadang terkesan engga nyambung, ini keterampilan yang sangat luar biasa jika sudah dimiliki oleh seorang anak di usianya yang masih sangat dini. Bikin gumush, ya sista.


Melalui fenomena tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa bernyanyi menyimpan banyak manfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan ananda, diantaranya yaitu:

1. Melalui bernyanyi anak dilatih untuk bisa mengekspresikan perasaannya


Dalam proses bernyanyi anak bisa berloncat, menari, berteriak, mengatur nada suara, belajar menyesuaikan intonasi, meneyesuaikan nada dengan nada yang dinyanyikan temannya. dalam proses ini anak dirangsang untuk berpikir ketika menggerakkan tubuhnya, mengeluarkan suaranya, menghapal syair lagunya. Bahasa anak akan berkembang melalui praktik bernyanyi. Dengan bernyanyi anak dilatih untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya, apa yang dirasakan, diangankan serta diimpikan.


2. Mengerti Sebuah Keindahan


Dalam proses bernyanyi anak-anak belajar menghayati sebuah alunan lagu, mendengarkan secara seksama. Seringnya dalam bernyanyi diiringi dengan alunan musik, proses ini melatih anak untuk mengenal aneka sumber suara. Anak dilatih memadukan suara menjadi sebuah harmoni yang selaras. kegiatan pelengkap ini tidak harus menggunakan alat musik yang mahal, cukup menggunakan aneka sumber suara yang tersedia di lingkunagn rumah, seperti kaleng bekas, botol bekas, dan lainnya. 


Alat musik sederhana untuk anak


3. Memperbanyak Kosakata Anak


Dalam proses bernyayi anak diupayakan untuk menghapal lirik lagu atau kata-kata dalam lagu. Melalui proses ini anak diajak untuk mengenal kata baru beserta artinya. Selain itu juga melatih kejelasan penyebutan kata. Bernyanyi menstimulasi anak untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang tersusun, masyaAllah, jika dilakukan dengan riang gembira ini diharapkan  akan menjadi kegiatan favorit anak yang sangat banyak manfaatnya. Proses belajar berbicara pada anak dilakukan secra spontan ketika dia banyak mendengar dan lanjut merespon dengan cara yang uniq dan gaya masing-masing.

4. Belajar Bersosialisasi


Anak-anak senang sekali bernyanyi bersama dengan teman dekatnya atau bersama orang di sekitarnya. Bekerjasama menyesuaikan lirik lagu, melatih anak bersabar dan mengalah untuk berbagi lirik dengan partner duetnya, hehe. Menyesuaikan suara antara tinggi dan rendah diperlukan kecerdasan sosial dari seorang anak. Kegiatan bernyanyi bisa menjadi stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal sekaligus intrapersonal.


5. Meningkatkan Daya Ingat Anak


Melalui proses bernyanyi anak secara spontan mengucapkan lafadz lagu dan menyusunnya sesuai dengan lirik lagu yang dinyanyikan. Di sini anak diajak untuk menghapalkan kata demi kata. dengan menghapal lirik lagu daya ingat anak diharapkan semakin meningkat.


Tips Mengajak Anak Agar Mau Menyanyi


Para pendidik dan orangtua bisa menggunakan aktivitas bernyanyi sebagai sarana pemberian stimulasi yang sangat berguna untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Kita sudah temukan manfaat bernyanyi bagi anak, dan ternyata banyak sekali. Namun, bagaimana jika anak tidak ingin bernyanyi? O, iya yang perlu diingat, baik posisi kita sebagai guru ataupun sebagai orangtua, mengajarkan anak bernyanyi bukan bertujuan untuk menjadikan anak sebagai seorang penyanyi, namun untuk membiasakan anak melakukan hal yang bermanfaat untuk perkembangannya sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.

Jika kita sebagai pendidik dan sebagai rangtua memberikan pernyataan bahwa masih banyak kegiatan lain yang bisa dijadikan sarana menstimulasi kemampuan anak. Namun, tak salah jika kita mencoba berusaha memberikan stimulasi dari berbagai aspek. Bernyanyi masuk kedalam aspek seni yang merupakan salah satu aspek perkembangan anak yang sudah ditetapkan dalam permendikbud No 137 tahun 2014. 

Ada beberapa cara yang bisa kita terapkan untuk merayu anak agar mau mengikuti aktivitas bernyanyi. Tentunya hal ini dilakukan dengan sebelumnya dilakuakn telaah dengan kebiasaan yang ada di rumahnya, atau pola asuh orangtua dan lingkungan terdekat dengan anak. Beberapa hal yang bisa papa mama coba untuk mengajak anak mau bernyanyi.


1. Ajak anak mendengarkan lagu-lagu dengan lirik dan musik yang sesuai dengan kemampuan anak


Lirik lagu yang mudah dimengerti oleh anak dan musik yang nyaman didengar di telinga anak, bisa menjadi pilihan papa mama dalam membiasakan anak untuk mau bernyanyi. Jika proses ini diperdengarkan kepada anak secara rutin, sedikit demi sedikit diharapkan anak akan mulai menyukai aktivitas bernyanyi ini, dan bisa melakukannya bersama dengan temannya.

2. Beri apresiasi 


Jika anak sudah mulai mau menirukan nyanyian walau hanya sedikit dan terkesan malu-malu jangan ragu untuk langsung memberinya apresiasi atau penghargaan dengan cara memuji dan merespon lagu yang dinyanyikan oleh anak. Dengarkan nyanyiannya secara saksama. sambil menimpali kata-kata penyemangat, misal, "masyaAllahu adek pintar, bunda bangga, ayo coba lagi, ibu terhibuuuuur sekali dinyanyiin Adek."


3. Mengajak Anak Bernyanyi Bersama Papa Mama


Dengan memberikan contoh pada anak, maka akan menumbuhkan rasa percaya diri kepada anak untuk mau mencoba apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Bernyanyi bersama dengan orangtuanya menumbuhkan rasa nyaman dan rasa bahagia,jika perasaan anak sudah bahagia diharapkan anak mau mencoba melakukan kegiatan yang awalnya tidak suka akan menjadi mau,melalui proses bertahap.


4. Memperdengarkan Kembali Rekaman Suara Hasil Nyanyi Anak


Ketika sudah mulai berusaha membujuk anak untuk minimal mengeluarkan suaranya, lakukan proses perekaman, bisa menggunakan HP atau alat perekam lainnya, lalu perdengarkan hasilnya kepada anak. Biasanya anak usia dini akan merasa takjub ketika mendengarkan suaranya sendiri atau suara orangtuanya. Proses ini diharapkan akan mampu mendorong anak mau melakukan kegiatan bernyanyi tanpa paksaan dan dilakukan dengan riang gembira.


5. Mengajak Anak Melihat Tontonan Nyanyian Anak Seusianya


Mengajak anak untuk melihat nyanyian yang dibawakan anak sebayanya juga diharapkan bisa memacu keinginannya untuk bisa melakukan apa yang dilakukan oleh anak yang seusianya. Biasanya si kecil merasa tertantang ingin mencobanya.


Selamat mencoba tips di atas ya, papa mama, jika belum berhasil lakukan terus secara berulang dan telaten. Proses mendidik memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan kesabaran ekstra, karena di sinilah letak tantangannya. Mengajarkan dengan sabar tanpa paksaan agar tak menciderai hati ananda. Hal ini jika papa mama lakukan dengan ikhlas mampu membuat pundi-pundi pahala amalan kita bisa menggendut, insyaAllah. 


Jika 5 tips mengajak anak agar mau bernyanyi sudah dijalankan namun anak tetap sulit diajak bernyanyi, tidak usah berputus asa, lakukan dalam bentuk lain yang benar-benar menjadi interest atau perhatian anak. Temukan minat dan bakat anak, bisa dengan cara mengkonsultasikan pada ahlinya. Yang penting papa mama sudah berusaha mengupayakan hal terbaik untuk ananda. Selamat berikhtiyar, ya, papa mama, dalam usaha untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, demi mendapatkan masa depan gemilang. Salam pengasuhan.

Pengetahuan Dasar Musik Untuk Guru TK

Rabu, 23 Maret 2022

Materi Pengetahuan Dasar Musik untuk Anak ini merupakan materi kelima pada Mata Kuliah Pendidikan Seni Musik dan Suara Anak Usia Dini. Pengetahuan dasar bermusik pada anak diberikan setelah kita mengetahui kemampuan dasar musik pada anak, agar lebih mudah dan menyenangkan dalam penerapannya.


Pengetahuan dasar musik


Pendahuluan


Pengetahuan dasar musik perlu dikuasai oleh para pendidik di taman kanak-kanak, karena erat kaitannya dengan kegiatan pembelajaran di taman kanak-kanak yang Sebagian besarnya diisi dengan permainan musik dan nyanyian. Pengetahuan dasar musik juga sangat diperlukan para pendidik agar mampu memilih secara tepat jenis musik dan lagu untuk anak serta mengajarkannya dengan benar. Hal ini sejalan dengan usaha menumbuh kembangkan rasa keindahan, musikalitas, kepekaan dan rasa sosial pada anak.

Jika kita mampu memahami pengetahuan dasar musik dengan baik, maka kita akan memiliki kemampuan untuk memahami karya musik khususnya musik untuk anak usia dini. Apresiasi kita terhadap musik juga akan lebih baik.

Pengetahuan dasar musik ini merupakan bekal ilmu yang perlu kita pegang sebagai pendidik agar kita bisa memiliki keterampilan bermusik seperti bernyanyi dan memainkan alat musik untuk kemudian diperkenalkan pada anak. Pengetahuan dasar musik untuk para pendidik anak usia dini bukan bertujuan untuk membentuk guru sebagai composer yang ahli dalam bermusik, namun sebatas memberikan bekal dasar bermusik untuk guru agar mampu memahami keindahan suatu musik sehinggga sedikitnya mengerti mana musik yang pas untuk diperkenalkan pada anak. Selain itu kemampuan dasar musik yang dimiliki oleh para guru taman kanak-kanak akan bermanfaat dalam pemilihan metode yang tepat dalam menerapkan pendidikan seni musik untuk anak.


Pembahasan

Pengertian Musik

Perlu kiranya sebelum kita beranjak lebih jauh pada teori bagian-bagian dari musik, untuk mengetahui makna dari musik itu sendiri. Menurut Josep Machlis dalam Pekerti (2018: 5.14) musik merupakan Bahasa emosi yang memiliki tata Bahasa, ilmu kalimat dan retorika yang hampir sama sifatnya seperti Bahasa. Namun Bahasa pada musik akan terasa maknanya jika sudah diiringi bunyi atau nada yang disusun secara harmonis.

Fungsi musik seperti halnya ibarat garam di dalam sayur, yaitu sebagai penyedap. Musik dapat digunakan pada kegiatan yang resmi maupun yang santai. Musik merupakan penyemangat dan mampu memberikan atmosfer di segala situasi. Musik bahkan dijadikan sebagai ciri negara. Setiap bangsa memilki lagu kebangsaan. Musik bisa digunakan sebagai sarana relaksasi, bahkan penelitian terakhir musik digunakan sebagai media penyembuhan. Perlu kiranya kita memanfaatkan musik untuk hal-hal positif dan singkirkan yang mendorong pada hal negatif.


Musik untuk Anak Usia Dini


Musik pada anak memilki fungsi sebagai pembangun sara musikalitas dan unsur keindahan pada jiwa anak. Musik juga dapat mengembangkan kepribadian dan kecerdasan anak. Musik yang tepat untuk anak adalah yang mampu dijangkau oleh anak dan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak serta memiliki makna mendidik.

Agar lebih memahami secara aplikatif di sini saya sertai contoh salah satu lagu anak yang sudah sangat familiar di telinga kita semua, yaitu lagu “Tik-Tik Bunyi Hujan”. Silahkan coba dipraktekan dan pelajari peletakkan nada rendah dan nada tinggi dari lagu tersebut.

Unsur-Unsur dalam Musik


Unsur di dalam musik diantaranya yaitu:

Pitch

Nada rendah dan nada tinggi dalam sebuah lagu dinamakan Pitch. Tinggi rendahnya pitch dipengaruhi oleh cepat atau lambatnya getaran sebuah nada. Dengan mengetahui pitch pada sebuah lagu, pendidik atau orang tua akan mengerti mana lagu yang mampu dinyanyikan oleh anak dan mana yang tidak. Lagu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan dirasakan sulit oleh Sebagian besar anak. Untuk itu hindari pemilihan lagu yang tidak disenangi anak.

Durasi

Panjang atau pendeknya nada ketika menyayikan syair dalam sebuah lagu dinamakan durasi. Coba teman-teman perhatikan mana nada yang panjang dan mana nada yang pendek dalam lagu Tik-Tik Bunyi Hujan, atau bisa juga lagu yang lainnya.

not lagu tik bunyi hujan


Intensitas


Kuat atau kerasnya dan lemah atau lembutnya nada dinamakan intensitas. Intensitas biasanya dipresetasikan dengan tanda-tanda dinamis untuk menunjukkan keras lembutnya sebuah lagu. Namun dalam lagu-lagu anak TKtidak dijumpai tanda dinamis. Namun untuk menambah wawasan musik saya sertakan table tentang tanda-tanda dinamis.

Timbre

Timbre adalah asal sifat bunyi. Apakah suara instrument musik yang kita dengar berasal dari suara manusia atau suara alat musik sesungguhnya. Melalui suara yang kita analisis kita mampu membedakan warna nada yang dihasilkan. Perbedaan warna nada ini disebabkan oleh jenis atau kualitas bahan instrument atau jenis suara, ukuran, bentuk dan cara untuk menghasilkan sebuah suara.


Unsur Ritme


Ritme merupakan unsur musik yang berkaitan dengan gerak dan waktu yang bersumber dari gerak tubuh manusia dan pergerakan alam. Ritme yang dijumpai dari pergerakan alam misalnya, pergantian siang dan malam, perubahan bulan sabit menjadi bulan purnama dan Kembali menjadi bulan sabit, serta pertumbuhan dan perkembangan manusia dari sejak lahir sampai dewasa.

Ritme dengan bentuk yang sederhana sekalipun mampu memberikan efek padajiwa. Karenanya ritmis yang diulang disebut juga dengan detak jantung musik. Ketukan music menandakan ada sesuatu yang hidup mengalami perubahan, pergerakan dan mengalir. Unsur-unsur dalam ritme diantaranya, yaitu:

Beat

Beat biasa disebut juga sebagai pulsa Agak sulit menerangkan ap aitu beat, namun ketika kita mendengarkan musik, kita rasakan dari alunan music dan masuk mengikuti irama music sambil menghentakkan kaki atau menggoyangkan badan, kecepatan hentakkan kaki atau goyangan badan mengikuti cepat lambatnya alunan music, inilah yang dinamakan beat.

Meter/Birama

Birama merupan permainan ketukan dalam sebuah lagu yang biasanya ditandai dengan 3 model birama, yaitu birama 2/4, 3/4, dan 4/4. Coba aplikasikan melaui lagu “Tik-Tik Bunyi Hhujan yang memiliki birama 2/4.

Silahkan teman-teman coba aplikasikan! Beat diaplikasikan dengan petikan jari, birama dengan tepuk tangan dan notasi lagu diganti dengan ucapan “la la la”, dalam lagu "Tik-Tik Bunyi Hujan" lakukan dengan kecepatan/tempo yang lambat terlebih dahulu.


Unsur Melodi


Melodi merupakan serangkaian nada yang menyenangkan yang mengandung pitch dan durasi. Dalam sebuah nada disertai suatu pola yang berkesinambungan yang memiliki arah dan bentuk, memiliki awal dan akhir. Ada beberapa properti dalam sebuah melodi diantaranya yaitu:

Gerak maju. Sebuah lagu disusun dari nada yang terus maju bergerak dari awal hingga akhir yang disebabkan karena adanya interval (jarak antara nada dengan nada. Seperti halnya lagu “Tik-Tik Bunyi Hujan” akan mengalir mengikuti susunan nada yang telah disusun oleh sang penciptanya.

Wilayah Nada. Wilayah nada merupakan melodi yang terkumpul dari susunan nada-nada yang dipilih. Seperti halnya dalam lagu anak-anak memiliki wilayah nada yang tidak terlalu luas seperti halnya dalam lagu dewasa. Contoh: lagu “Tik-Tik Bunyi Hujan” mempunyai wilayah nada dari do rendah ke do tinggi, hanya 1 oktaf.

Ukuran. Ukuran pada lagu anak-anak tidak terlalu Panjang, pendek-pendek. Biasanya memilki tidak lebih dari enam birama. Lagu anak-anak memiliki ukuran melodi yang pendek.

Tempo dan Ritme. Tempo dan ritme memberikan warna dalam sebuah melodi. Tempo dan ritme merupakan tingkat kecepatan atau lambatnya beat dimainkan. Tempo secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok yaitu tempo lambat dan tempo cepat.

tempo dan ritme
Sumber: Kibrispdr.org


Kontur. 
Kontur merupakan pergerakan melodi yang ditunjukkan dengan naik dan turun yang disebabkan oleh tinggi rendahnya pitch.

Unsur-Unsur harmoni


Elemen musik dikatakan memilki harmoni jika terdapat dua atau tiga suara yang dibunyikan secara Bersama-sama. Biasanya jika anak-anak yang menyanyikan sebuah lagu tidak ada unsur harmoni di dalamnya. Beda jika guru mengarahkan sekelompok anak pertama menyanyikan sebuah lagu misal “Tik-Tik Bunyi Hujan” dengan nada (sol sol sol fa mi re mi fa sol) suara kelompok dua (sol sol sol fa mi re mi sol mi) Suara kelompok tiga (sol sol sol fa mi re mi fa re).

Unsur harmoni juga akan muncul jika sebuah lagu diiringi dengan instrument musik yang lengkap seperti gitar, piano, perkusi, biola dan lainnya. Unsur harmoni terbentuk karena akor dan interval menyertai lagu yang sedang dinyanyikan. Berikut kita bahas tentang unsur yang membentuk harmoni padalagu anak-anak.

Tangga nada

Serangkaian nada yang disertai dengan interval tertentu sehingga menghasilkan bunyi nada do re mi fa sol la si do atau sebaliknya do si la sol fa mi re do. Ditulis dalam bentuk notasi balok maupun notasi angka. Notasi balok ditulis dalam para nada sedangkan notasi angka hanya ditulis seperti biasa berupa rangkaian angka yang dilambangkan dengan menggunakan angka 1 sampai dengan tujuh. Berikut jenis not balok serta nilai ketuknya.


Not balok



Dalam mengenalkan tangga nada dengan notasi balok pada anak, para guru bisa memodifikasi dengan menambahkan kata pada rangkaian huruf di depannya. Misal D=donat E=enak F=fanta G=gulali B=Bakso dan seterusnya, penambahan kata bisa disesuaikan dengan karakteristik anak. Bila anak suka buah, bisa diganti dengan nama buah-buahan. Di dalam tangga nada ada beberapa tanda, diantaranya yaitu:

Tanda kunci, ditandai dengan huruf diantaranya kunci G, kunci F dan kunci C

Tanda Mula, dinamakan dengan tanda kres, tanda mol dan tanda pugar. Tanda kres atau sharp adalah tanda kromatis yang berfungsi untuk meninggikan not setelahnya sebesar setengah nada, misalnya tanda kress di not C berubah menjadi Cis. Tanda mol atau tanda flat terletak di depan not dan berfungsi merendahkan setengah nada. Tanda pugar atau disebut juga tanda natural berfungsi untuk mengembalikan nada yang ditinggikan atau direndahkan ke posisi semula.

Tanda mulaSumber: Kompas.com


Tanda Birama. Ditandai dengan simbol 2/4, ¾, 4/4, dan 6/8

Para Nada. Paranada merupakan not balok ditempatkan terdiri dari lima baris horizontal yang memiliki jarak yang sama dan terdiri dari empat spasi. Penempatan not balok bisa di spasi atau di garis paranada. 

para nada
Foto: www.serbaserbi.blogspot.com

Para nadaSumber foto: agunge.com

Interval

Istilaha dalam musik yang menunjukkan jarak antara dua nada disebut sebagai interval. Sebagai contoh interval nada sol ke nada si atau nada g ke nada f. di bawah ini contoh beberapa interval dalam satu oktaf.

Akor

Akor tercipta karena ada penggabungan tiga nada atau lebih sehingga menciptan keharmonisan dalam bunyi. Biasanya untuk lagu anak taman kanak-kanak yang sederhana diiringi oleh akor C Mayor, G-Mayor dan F-Mayor atau D-Mayor.


Penutup


Musik memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia diantaranya untuk membangkitkan semangat dalam beraktifitas. Dalam pembuatan syair pada musik memerlukan tata bahasa yang baik, walaupun kesan bahasa dalam musik bersifat absurd.

Musik dibentuk dari bunyi, melodi, ritme dan ekspresi. ketinggian atau rendahnya bunyi dinamakan pitch, panjang atau pendek nada disebut durasi dan kuat atau lemahnya nada disebut intensitas. Ritmis dan Melodi juga  sebagai elemen penyusun dalam musik, menjadikan musik terdengar bagus dan enak dinikmati.

Materi pengetahuan dasar musik perlu dipahami oleh para guru TK. Dengan memahami pengetahuan dasar musik sebagai guru kita bisa mamahami bagaimana lagu yang tepat yang bisa dikenalkan pada anak. Melalui pemahaman dasar musik guru akan mampu memilih model lagu yang tepat untuk anak-anak karena memahami karakteristik musik yang pas untuk anak. 

Semangat salam pengasuhan.















Perkembangan Kehidupan Agama pada Masa Remaja

Senin, 21 Maret 2022

Perkembangan Agama pada Masa Remaja merupakan materi kelima pada mata kuliah Psikologi Agama. Untuk mengetahui pembahasan tentang Pengertian Perkembangan Kehidupan Agama dan sikap keagamaan bisa merujuk pada pembahasan sebelumnya.



Pendahuluan


Memahami perkembangan agama pada remaja sangat urgen, karena pada masa ini manusia masuk pada fase kegoncangan dari keseluruhan masa yang harus dilalui dalam hidupnya. memahami konsep remaja merupakan jalan pertama yang harus ditempuh dalam usaha mendekatkan remaja pada Tuhannya dan menjaga agar fitrahnya tetap lurus.

Problem keraguan yang dialami pada remaja juga merupakan permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Usaha yang dilakukan secara bersinergi antara orang tua, pendidik penguasa dan juga para asatidz sangat diperlukan agar para remaja memiliki ketetapan hati untuk beragama dan mentaati peraturan yang ada dalam agama.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sturbuck dalam Jalaluddin (2015: 78) pada sejumlah mahasiswa di Middleburg College, didapat bahwa ada 52 % dari 124 jumlah mahasiswa yang diobservasi mengalami kegoncangan dalam masalah agama. hal ini disebabkan karena ada keraguan yang ditimbulkan dari perilaku tokoh agama, penerapan ajaran agama dan lembaga keagamaan. ini memiliki artian lebih dari setengah jumlah remaja mengalami keraguan. Bagaimana Formula yang tepat yang harus diterapkan pada agama untuk memahamkan mereka pada konsep agama tanpa harus memiliki keraguan?


Perkembangan Agama Pada Masa Remaja



Pembahasan


Apa yang dimaksud dengan remaja..???


Masa remaja adalah masa peralihan yang dialami oleh seorang manusia dari masa anak-anak menuju dewasa dengan kata lain dapat dimaknai juga sebagai masa perpanjangan anak-anak sebelum memasuki usia dewasa. Masa remaja datang dengan ditandai kegoncangan pada diri seseorang. Pada Wanita ditandai dengan datangnya menstruasi sedangkan pada pria ditandai dengan mimpi basah.

Zakiah Darajat (2015: 132) menjelaskan pada masa ini terjadi pergolakan yang dahsyat dalam jiwa sang anak. Anak merasakan perubahan yang besar dalam dirinya, baik dari sisi fisik maupun psikisnya. Fisik seorang anak pada masa ini mengalami peralihan baik dari sisi luar yang ditandai dengan perubahan fisik yang signifikan. Tubuh bertambah tinggi dan terkadang diiringi dengan penurunan berat badan karena terjadi perubahan metabolisme di dalam tubuhnya. Kelenjar thymus dan pinela yang dimiliki pada masa kanak-kanak berhenti berproduksi dan berganti dengan kelenjar seks atau dinamai dengan Gonad yang bekerja memproduksi hormon yang menyebabkan perubahan seks sekunder pada anak.

Gonad mengubah anak laki-laki dalam banyak hal, diantaranya yaitu terjadi perubahan suara, munculnya kumis, bulu ketiak, serta munculnya bulu-bulu dipangkal pipi dan kemaluannya. Sedangkan pada anak Wanita Gonad memberikan efek perubahan pada panggul yang membesar, bertumbuhnya payudara dan kelenjar susu.

Rentang Usia Remaja


Para ahli berbeda pendapat dalam hal ini. Perubahan masa remaja bergantung dari perkembangan individu dan juga lingkungan tempat tinggal, dengan mempertimbangkan adat kebiasaan yang berlaku di daerah setempat. Dilansir dari sehatq, Menurut WHO rentang usia remaja berada pada kisaran 10-19, namun penelitian terkini yang dicantumkan dalam jurnal The Lancet, menyatakan bahwa remaja adalah individu yang memiliki rentang usia dari 10 sampai dengan 24 tahun.

Kesimpulan ini diambil dari dasar pemikiran bahwa remaja adalah individu yang sedang mengalami masa transisi proses kematangan jiwa dan biasanya belum mempunyai tanggungan hidup berupa keluarga.

Zakiah Darajat (2015: 132)membagi masa remaja menjadi dua fase rentang usia, yaitu fase awal yang dimulai pada kisaran usia 13 sampai dengan 16 tahun, fase ini mrupakan fase gncangan terbesar di usia remaja. Perubahan fisik yang terjadi signifikan menyebabkan kegoncangan dalam dirinya, rasa minder dan takut serta keraguan muncul di masa ini, bahkan keraguan terhadap keyakinan beragama. Untuk itu dibutuhkan peran serta orang tua untuk membimbing para remaja agar tetap di dalam koridor yang tepat dan fitrah yang tetap lurus.

Fase kedua pada masa remaja menurut Zakiah (2015: 136) berada pada kisaran usia 17 sampai dengan 21 tahun. Pada masa ini pertumbuhan jasmani telah berkembang dengan sempurna, begitupun dengan kecerdasannya, pada fase ini telah sempurna perkembangan tingkat kecerdasannya. Dalam agama familiar dengan sebutan telah sampai pada masa Aqil Baligh atau berakal. Pada masa ini seorang remaja ingin diakui eksistensinya oleh orang dewasa, baikoleh orang tua, guru dan juga masyarakat.


Perkembangan Jiwa Keagamaan pada Masa Remaja


Menurut Starbuck dalam Jalaluddin (2012: 74-77) ada beberapa faktor fisik dan pisik yang mempengaruhi perkembangan keagamaan pada remaja, diantaranya yaitu:

1. Pertumbuhan Pikiran dan mental

Ide dasar dan keyakinan dalam agama yang diterimanya di masa kecil sudah berubah karena sifat kritis sudah mulai timbul, tidak hanya itu, mereka sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi dan norma hidup lainnya.

2. Pertimbangan Sosial

Konflik moral dan materil yang terjadi di usia remaja dalam kehidupan beragamanya menyebabkan pikiran remaja memilki fokus orientasi cenderung pada keuntungan material duniawi. Apa yang dimaksud dengan pernyataan ini? Ernest Harms dalam sebuah penelitiannya tentang remaja menyimpulkan bahwa 70% dari 1789 responden remaja mementingkan keuangan, kesejahteraan dan kesenangan pribadi lainnya, sedangkan keagamaan hanya sekitar 3,6% saja.

3. Perkembangan Perasaan

Pada masa ini merupakan masa kematangan seksual, rasa ingin tahunya yang sangat besar dapat menjerumuskan para remaja ke arah tindakan seksual yang negatif. Keluarga sebagai lingkungan entitas awal pendidikan miliki tanggung jawab yang besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Untuk itu hendaklah keluarga menciptakan lingkungan yang agamis agar anak memiliki figur dalam pembentukan kepribadian dan pola pikir yang agamis.

4. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada remaja bertitik tolak pada perasaan berdosa dan usaha untuk mencari perlindungan. Tipe moral pada remaja diantaranya

1) Self directive, ketaatan berdasarkan pertimbangan pribadi.

2) Adaptive, meniru keadaan lingkungan tanpa banyak mengkritik.

3)Submissive, adanya rasa ragu terhadap ajaran moral dan agama.

4) anadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.

5) Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan dan tatanan moral masyarakat.

5. Sikap dan Minat

Besar kecilnya minat remaja untuk mendalami masalah keagamaan adalah tergantung bagaimana orang tua dan lingkungannya memberikan uswah atau contoh kepada anak. Perilaku orang tua yang cenderung pada agama memberikan dampak yang kuat pada perilaku dan memori anak untuk cenderung pula terhadap agama. Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil dengan nuansa keagamaan akan berdampak di kehidupan fase selanjutnya.

6. Ibadah

Ibadah di mata remaja berdasarkan penelitian Ross dan Oskar Kupky dalam Jalaluddin menunjukkan bahwa Sebagian remaja menganggap sembahyang akan memberikan manfaat sebagai media komunikasi dengan Tuhan namun Sebagiannya menganggap sembahyang merupakan media untuk bermeditasi.

Perkembangan keberagamaan pada remaja sejalan dengan contoh yang dia terima, emosinya yang masih labil membutuhkan penguatan dari berbagai element pendukung yang dapat menjawab segala kegelisahannya. Element pendukung tersebut diantaranya adalah orang tua dan keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar. Guru dan para pendidik serta juru dakwah, pemimpin atau tokoh masyarakat dan negara.

Remaja akan semakin merasa gelisah, jika menemui pertentangan antara nilai-nilai agama yang mereka pelajari dengan perilaku orang-orang yang dijadikan panutan misal para pendidik, orang tua, penguasa dan para asatidz. Kondisi membingungkan ini dapat menyebabkan para remaja menjauhi agama disebabkan kondisi emosi yang masih sangat labil.

Masa ketidak stabilan emosi pada masa remaja dinamakan sebagai masa ambivalen, pada masa ini pola pikir dalam setiap memandang sebuah keyakinan selalu mengalami perubahan. Dilansir dari akurat.co bahwa ambivalen merupakan jenis kata sifat yang memiliki makna pemikiran yang bertolak belakang dan bertentangan. Masa ini merupakan masa yang kompleks yang terdiri dari unsur-unsur berlawanan satu sama lain.

Rasulullah memberikan keistimewaan pada remaja yang mengisi hidupnya dengan mendkatkan diri pada Allah, sebagaimana sabdanya dalam sebuah riwayat dari al-Bukhari dan Muslim.


Hadits tentang keutamaan remaja


Konflik dan Keraguan pada Remaja


Konflik keraguan yang terjadi pada remaja dalam ajaran agama menurut W. Starbuck faktor-faktor penyebabnya adalah

1. Salah prasangka dan perbedaan gender

Individu yang mengalami kegagalan dalam meminta sesuatu kepada Tuhannya, misal doa yang tidak terkabulkan akan menyebabkan keraguan akan kebenaran ketuhanan dan hal ini lebih dominan terjadi pada remaja. Terutama terjadi pada remaja yang sedang mencoba belajar dan taat pada agama.

Wanita mengalami proses perkembangan yang lebih cepat dibandingkan laki-laki, untuk itu keraguanpun lebih cepat muncul, namun keraguan dalam diri wanita lebih kecil bersifat alami sedangkan pada laki-laki lebih besar dan bersifat intelek.

2. Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka agama.

Pertentangan yang ada dalam setiap organisasi, dan akhlaq dari para pemuka agama yang tidak sesuai dengan syariat menimbulkan keraguan pada jiwa remaja. Di masa kegoncangannya, remaja membutuhkan figure yang memberikan uswah yang baik dalam pembentukan karakter kuat dalam jiwanya. Sehingga ketika dia mengalami kekecewaan akan berdampak munculnya keraguan terhadap keyakinan yang telah dipilihnya.


3. Pernyataan Kebutuhan manusia

Sifat manusia yang konservatif (senang dengan yang sudah ada) dan Curiosity (dorongan ingin tahu) menjadikan manusia memiliki keraguan. Walau demikian keadaan ini normal terjadi dan dibutuhkan sebagai pendorong untuk ingin mempelajari agama lebih dalam lagi sebagai usaha untuk menuntaskan dan menyingkirkan rasa ragu.


4. Kebiasaan
Seseorang yang terbiasa dengan hal yang sudah biasa diterimanya akan merasa ragu dengan hal-hal yang baru. Sebagai contoh seorang remaja katolik akan merasa ragu dengan ajaran Islam yang dirasakan sangat jauh berbeda dengan ajaran agama yang selama ini dia terima.

5. Pendidikan.

Tingkat pendidikan seseorang juga mendasari sikapnya terhadap ajaran agama. Remaja yang terpelajar akan lebih kritis terhadap ajaran agamanya terutama yang terkesan dogmatis, dan diharapkan memiliki kemampuan untuk menafsirkan ajaran agamanya secara lebih rasional.


6. Percampuran antara Agama dan Mistik

Unsur agama yang terkadang terampur dengan unsur mistik menyebabkan dilema yang meragukan di kalangan remaja. hal-hal mistik mengandung pengertian percaya pada hal ghaib seperti percaya pada Syaithan, jin, malaikat dan hal ghaib lainnya.



Penutup


Masa remaja adalah masa yang paling riskan dalam jenjang kehidupan manusia. Kemampuan remaja dalam mengolah kegoncangan dan keraguan yang ada dalam dirinya menjadi penentu bagi mereka untuk taat dalam menjalankan agama. Perkembangan yang khusus dan sangat pesat di masa remaja menyebabkan para remaja mengalami kelabilan. Ini disebabkan oleh pertumbuhan fisik yang sudah seperti orang dewasa belum berimbang dengan perkembangan psikologisnya.

Ketidak seimbangan ini menyebabkan kemelut dalam jiwanya. Untuk itu dibutuhkan sosok yang mampu mengayomi dan memberikan tauladan yang baik yang bisa dijadikan idola.

Dalam situasi kegoncangan yang sedang dialami dalam jiwanya, terkadang remaja juga dihadapkan pada perkara sulit dalam persoalan agama. Adanya banyak ragam madzhab dan aliran agama yang ditemui dan masing-masing megklaim bahwa kelompoknya yang paling benar, membuat kerancuan dan kebingunagn dalam jiwa remaja.

Dalam kondisi ini peer group atau teman sebaya juga memiliki peranan penting dalam meredam gejolak yang sedang melanda remaja. Untuk itu dariawal libatkan mereka dalam lingkungan yang baik agar menemukan teman sebaya yang bisa membawanya ke pergaulan yang baik juga.

Usaha yang lainnya untuk meredam kegalauan dalam remaja adalah para tokoh dan pendidik agama harus menemukan konsep pendekatan psikologis yang selaras dengan karakteristik remaja. Sehingga ajaran agama yang tersaji untuk remaja bukan hanya pada konteks hitam putih yang berkisar pada dosa dan pahala surga dan neraka. Denagn pendekatan seperti ini diharapkan para remaja tidak memandang agama hanya sekedar lakon ritual semata.

Aspek kognitf, afektif dan psikomotor dalam agama bisa dikembangkan dan diselaraskan dengan karakteristik remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu yang besar. Kognitif remaja dapat dikembangkan secara optimal begitu pula aspek afektif mampu memperteguh sikap dan perilaku dan juga aspek psikomotor melengkapi keterikatan dan keterampilan dalam beragama.

Pengenalan agama yang disesuaikan dengan karakteristik remaja diharapkan mampu membuka jendela wawasan remaja dan memahami bahwa ruang lingkup ajaran agama sangat luas, berkaitan dengan perkembangan peradaban manusia dalam usaha meningkatkan harkat dan martabat manusia secara individu dan umum.

Konsep seperti ini diharapkan akan membuat para remaja paham bahwa keberadaan agama bukan untuk memasung dan mengebiri kreativitas tapi lebih pada mengarahkan untuk tetap dalam fitrahnya tanpa mengekang malah menjadi pendorong. Dengan begini remaja akan memahami bahwa agama bersifat universal dan membangkitkan ghirah kecintaan mereka terhadap Agama Islam.


Ciri pemuda baik






Referensi

  • Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2015.
  • Jalaluddin, Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, Jakarta, Raja Grafindo Persada. 2012.
  • Jalaluddin dan Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 1993.
  • https://akurat.co/ketahui-apa-itu-hubungan-ambivalen-dan-tanda-tandanya
  • https://www.sehatq.com/artikel/batasan-usia-remaja-dan-perubahannya-secara-fisik-dan-mental




Perkembangan Kehidupan Agama pada Anak

Rabu, 16 Maret 2022

Perkembangan Kehidaupan Agama pada Anak merupakan materi keempat yang disajikan pada Mata Kuliah Psikologi Agama di semester V program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Sekolah Tinggi Agama Islam Latansa Mashira, Rangkasbitung, Banten.


 Pendahuluan



Perkembangan kehidupan agama pada anak
. Setiap manusia pada saat dilahirkan ke dunia yang fana (QS. al-Qoshas/28: 88) ini pada awalnya berada dalam keadaan tidak mengetahui dan tidak memahami sesuatu. Sampai kemudian Allah Tuhan yang maha kuasa menganugerahkan keberfungsian pendengaran, penglihatan, dan hati/akal (QS. an-Nahl: 78). Proses selanjutnya secara bertahap Allah memberikan kemampuan mendengar berbagai macam suara melalui telinganya, kemampuan melihat beraneka ragam benda melalui matanya, dan kemampuan berpikir untuk dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, sesuatu yang benar dan salah melalui akalnya (tafsir ath-Thabari).



Pada masa anak-anak, manusia dapat mengenal berbagai macam hal, termasuk agama dari pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Misalnya lingkungan keluarga, dan lingkungan bersosialisasinya. Seorang anak akan mengamati (mendengar, atau melihat) praktik ibadah (mengaji, shalat dan lain-lain) yang dilakukan orang tuanya atau siapapun yang ada di rumahnya secara sepintas, atau bisa juga terus menerus, maka hal seperti itu dapat memberikan pengaruh dalam pengetahuan keagamaannya, baik langsung maupun tidak langsung.ditambah lagi dengan pengamatannya terhadap orang yang berada di luar rumahnya.


Orang yang beribadah di masjid misalnya, atau orang yang mengaji di majelis taklim. Bahkan bisa juga melalui tontonan atau tuntunan melalui media elektronik. Ada beberapa kata, atau kalimat yang dapat didengar anak, misalnya kata Allah, shalat, puasa dan sebagainya, dan ada beberapa perbuatan yang dapat dilihat, misalnya berwudlu, gerakan solat dan yang lainnya.


perkembangan keagamaan pada anak




Hakikat Sikap



Sikap dalam Bahasa Inggris disebut sebagai attitude, dalam “The Penguin Dictionary of Psychology” dijelaskan bahwa, attitude is some internal affective orientation that would explain the actions of a person, sikap dalam psikologi merupakan beberapa penyesuaian kecenderungan dari sisi dalam perbuatan manusia.  Menurut Weber, sebuah penilaian terhadap hal yang disukai ataupun tidak disukai seseorang yang merupakan reaksi yang ditimbulkan dari lingkungannya merupakan SIKAP. Sikap muncul secara berpasangan yaitu disadari dan tidak disadari dan akan berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman.


Sarlito (1996) menerangkan bahwa sikap merupakan respon seseorang terhadap sesuatu. Jalaluddin berpendapat bahwa sikap merupakan candu atau kecintaan untuk menyenangi atau tidak menyenangi sesuatu hal yang berkaitan dengan kognisi, afeksi dan konasi. Dari beberapa pengertian sikap yang telah dijabarkan bisa disimpulkan bahwa sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap suatu objek yang bersifat mendekati atau menjauhi, dilakukan melalui penilaian yang berbentuk menyenangi atau tidak menyenangi, menyetujui atau tidak meneyetujui dan lainnya.

 
Sikap Keagamaan


Hafidhudin (2003) menjelaskan bahwa sikap keagamaan merupakan kedalaman seseorang terhadap ilmu, keyakinan yang kuat, seberapa senang melakukan ibadah dan seberapa dalam memaknai ibadah yang dikerjakan. Sikap keagamaan ditunjukkan dengan praktek ibadah yang dijalankan oleh seseorang.


Said Aqil Siraj (2006) mendefinisikan sikap keagamaan seseorang ditunjukkan dengan kepercayaan yang kuat dari seorang hamba terhadap Tuhannya sehingga semakin kuat kepercayaan yang ditanamkan dalam jiwanya semakin kuat dia melaksanakan apa yang menjadi titah Tuhannya.


Jalaluddin (1995) berpendapat bahwa sikap keagamaan mendorong seseorang untuk taat dalam beragama, yang terbentuk dari kepercayaan terhadap agama (kognitif) penghayatan terhadap agama (afektif) dan perbuatan yang dilakukan untuk agama (konatif).


Perubahan Sikap Keagamaan



Menurut Zakiah Darajat dalam Lilis Suryani (2008), perubahan pada sikap keagamamaan adalah perubahan pada tingkat kemampuan dalam memahami, percaya, dan mengedepankan pemahaman kebenaran yang berasal dari sang Khaliq. Menjadikan pedoman dalam berbahasa, bersikap dan bertingkah laku terhadap kepercayaannya.


Menurut Maramis (1980) fisik dan psikis anak yang terus berkembang menyebabkan pemahaman anak terhadap agama semakin realistis seiring dengan pola pikirnya yang berkembang.


Potensi fitrah yang dimiliki oleh manusia dari sejak dilahirkan menjadikan manusia memiliki agama. Walaupun Ketika dilahirkan manusia belum beragama, namun telah memiliki firah untuk menjadi manusia beragama dan memiliki potensi kejiwaan serta dsar-dasar ber-Tuhan. Untuk itu Sikap keagamaan pada anak berkembang sejak bayi.pernyataan ini diungkapkan oleh Aziz Ahyadi (2005:40).


Menurut Woodworth dalam Jalaluddin (1995) potensi keagamaan merupakan insting keagamaan yang dimiliki oleh anak sejak lahir selaras dengan tumbuhnya insting sosial dan fungsi kematangan tubuh yang lainnya. Walau memiliki tubuh dan fisik yang lemah manusia telah dibekali insting keagamaan dalam fitrahnya.



Perubahan Sikap Keagamaan anak Usia Dini.



Menurut Ernest dalam Lilis Suryani (2008:9) anak-anak memiliki perubahan dalam memahami nilai agama berlangsung melalui tiga tahap perkembangan, diantaranya yaitu:


1. Tingkat Dongeng (The Fairy Tale Stage).

Pada tingkat ini sikap keagamaan pada anak masih berdasarkan pada daya imajinasi, mereka menyamakannya dengan tokoh-tokoh dalam film atau dongeng yang memiliki kekuatan super seperti bisa menghilang, memegang api dan lainnya. Anak yang berada pada rentang usia tiga sampai dengan enam tahun berada pada fase ini. Pada masa ini sikap keberagamaan pada anak dilandasi oleh keinginan untuk memiliki keajaiban.


2. Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage).

Pada amas aini anak sudah mengerti bahwa agama bukan untuk memperoleh keajaiban seperti yang didapatkan pada tokoh imajinasi anak-anak, namun lebih kepada untuk mendapatkan kenyamanan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Anak yang berada pada rentang usia tujuh sampai dengan lima belas tahun berada pada fase ini. Untuk itu di usia ini anak sudah mulai tertarik pada kegiatan keagamaan yang lebih formal dan mempelajarinya lebih jauh.



3. Tingkat Individu (The Individual Stage).

Konsep keagamaan anak pada tingkat ini berkembang menjadi tiga konsep yaitu konsep keagamaan yang konservatif dan konvensional, konsep keagamaan murni dan konsep keagamaan humanistik. Berkaitan dengan ini, Imam Bawani dalam Sururin (2004:56) membagi fase perkembangan agama pada anak-anak menjadi empat bagian, yaitu:


1. Fase dalam kandungan.

Dalam fase ini perkembangan agama sudah dimulai sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam Surat Al-A’rof: 172.



2. Fase bayi.


Perkembangan agama pada fase ini belum terlalu banyak terjadi, namun Islam telah menuntun kita untuk mulai memperkenalkan agama di fase ini melalui ajaran yang telah dituangkan dalam banyak hadits dan juga penjelasan dalam Al-Quran, misalnya dengan memperdengarkan adzan dan iqamah ketika pertama kali anak dilahirkan ke dunia.


3. Fase kanak-kanak.


Fase kanak-kanak merupakan fase paling baik dalam menyerap kejadian yang ada di sekitarnya. Orang tua harus berperan aktif dalam proses perkembangan agama anak. Anak mengenal Tuhan melalui kegiatan orang-orang disekelilingnya, jika yang diperoleh dari panca indera anak sesuatu yang baik-baik seperti orang tua yang mengaji, sholat banyak berdzikir, anakpun dapat meniru dan menyerap walau sejatinya belum pada tataran memahami. Stimulasi sikap keagamaan yang positif dari lingkungan sekeliling anak diharapkan akan berkembang ke arah yang positif.


4. Fase masa sekolah.

Intelektual anak yang semakin berkembang di masa ini menjadikan perkembangan agama anak semakin realistis, bekal agama yang ditanamkan melalui pendidikan dalam keluarga menjadi bekal bagi anak ketika mulai mengenal dunia sekolah.


Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Keagamaan Anak.



Faktor yang mempengaruhi perkembangan keagamaan pada anak meliputi dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor kepribadian dan keturunan, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang ada dalam lingkungan keluarga, Lembaga dan masyarakat. Berikut penjelasan tentang perkembangan keagamaan anak yang mencakup faktor internal.


1. Faktor Hereditas atau keturunan

Faktor hereditas didapat dari keturunan dalam artian bahwa karakteristik seseorang diturunkan melalui gen yang dimiliki orang tuanya. Untuk itu Islam menuntun kita untuk mencari pasangan yang baik agar memiliki keturunan yang baik sebagaimana Rasulullah berpesan dalam sebuah hadits “Lih atlah kepada siapa anda letakkan nutfah (sperma) anda, karena sesungguhnya asal (al- I’rq) itu menurun kepada anaknya”.


2. Faktor Kepribadian.


Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian memberikan pengaruh pada perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Zakiah Daradjat dalam Ramayulis (2009: 98) menerangkan bahwa sikap keagamaan berkembang dari apa yang didapat bukan bawaan. Untuk itu sangat penting peranan kenyamanan rumah, orang tua, orang-orang sekitar, teman dan lingkungan dalam proses perkembangan agama pada setiap individu.


Menurut Sujanto (2004: 46) kepribadian pada anak mulai terbentuk ketika anak berusia 0-5 tahun, anak akan sangat mudah menyerap apa yang di lihatnya dengan belajar dari lingkungan tempat dia tumbuh. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kecenderungan sikap yang baik maka diharapkan akan berkembang kepada hal-hal yang baik juga, begitupun sebaliknya.


Faktor pembawaan atau fitrah beragama merupakan potensi yang membawa pada sebuah perkembangan. Dikuatkan oleh faktor eksternal yang menjadi pemicu dalam perkembangan keagamaan seseorang. Faktor eksternal didapatkan dari stimulus dalam keluarga, Lembaga dan masyarakat.


1. Lingkungan Keluarga. Entitas yang paling sederhana dalam kehidupan sosila manusia adalah keluarga. Dalam keluarga pendidikan awal untuk seorang anak manusia dimulai. Orang tua lah yang memberikan kesan pertama dalam kehidupan seorang anak. Keluarga memiliki peran dominan dalam pembentukan perkembangan keagamaan anak di masa yang akan datang, hal ini ditegaskan juga oleh Sururin (2004: 57).


2. Lingkungan Institusional. Pendidikan formal yang bergerak secara instruksional sistematis adalah sekolah. Keterbatasan pengetahuan orang tua dalam proses pendidikan, dilanjutkan ke lembaga sekolah agar anak mendapatkan bimbingan yang lebih terarah. Potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal dari aspek jasmani, intelektual, sosial emosional dan juga moral spiritual pendapat ini diperkuat oleh Ahmad zein dan Jalaluddin (1994: 217) Schweinhart dalam Siti Aisyah dkk (2007: 42) memberikan penekanan bahwa kesan yang didapatkan oleh anak-anak dari sekolah memberikan dampak yang positif untuk perkembangan anak selanjutnya.


3. Lingkungan Masyarakat. Anak belajar dari lingkungan tempat dia bersosialisasi, jika lingkungan sosial memberikan contoh yang baik dalam permasalahan akhlak dan nilai-nilai keagamaan maka diharapkan anak akan memiliki perkembangan agama yang baik, begitu juga sebaliknya jika anak bergaul dalam lingkunagn yang buruk maka kemungkinan akan memberikan dampak yang buruk juga. Hurlock menjelaskan bahwa peraturan dalam sebuah kelompok berpengaruh pada perilaku moral para anggotanya.



Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa sikap keagamaan anak merupakan refleksi dari sikap yang dia lihat dari orang dewasa sekitarnya dari lingkungan tempat dia tinggal. Untuk itu bagus atau tidaknya perkembangan agama pada anak tergantung pada orang dewasa dan lingkungan sekitar yang membentuknya.



Strategi Pembentukan Sikap Keagamaan Anak Usia Dini.



Dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta disebut juga hidayat al-diniyat yang telah hadir dari sejak lahir, dari sinilah bisa dibuktikan bahwa manusia merupakan makhluk beragama. Potensi ini akan berkembang dengan benar jika ada bimbingan, hal ini juga dijabarkan oleh Jalaluddin (1995: 66-69).


Begitu pula dengan Megawangi, menyatakan bahwa lingkungan yang berkarakter diiringi dengan usaha yang terencana, fokus dan komperehensif akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang beragama.


Maria (2005: 125) memaparkan bahwa untuk mengembangkan moral pada anak usia dini bisa melalui penerapan beberapa teknik yang diantaranya yaitu membiarkan, tidak menghiraukan, memberikan contoh, mengalihkan arah, memuji, mengajak dan menantang. Adapun strategi yang bisa membentuk moral pada anak usia dini diantaranya yaitu:


1. Strategi Latihan dan Pembiasaan. Melalui Latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk sikap yang relative menetap pada anak. Misalnya jika anak dibiasakan untuk saling menghormati dan menghargai dalam anggota keluarga, maka pribadi anak akan terbentuk memnjadi pribadi yang menghormati dan menghargai.


2. Strategi Aktivitas Bermain. Dalam Maria (2005: 129) Riset yang dilakukan Piaget menyatakan bahwa perkembangan bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan sikap moral keagamaan pada anak. Dari proses bermain anak mulai mengenal kata aturan dalam permainan, dari sini akan berkembang dan membiasakan anak untuk taat pada peraturan yang lainnya termasuk peraturan dalam agama.



Strategi Pembelajaran. Pengembangan moral anak usia dini dapat diotimalkan melalui strategi pembelajaran berdasarkan moral yang dilandaskan pada nilai-nilai yang dapat diterapkan pada diri seseorang, seperti kejujuran, kesetiaan, penghormatan, keberanian dan nilai baik lainnya. Pernyataan ini juga di kuatkan oleh Maria dalam tulisannya yang berlabel Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini.




Penutup


Para orang tua diharapkan dapat mengajarkan perkembangan kehidupan agama bagi anak kepada putra putrinya dengan lebih baik. Karena agama adalah bekal yang paling berharga untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Agama merupakan ajaran yang akan menuntun manusia untuk bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah.


Perkembangan kehidupan agama bagi anak-anak memiliki tiga pokok bahasan yang harus dipahami oleh para orangtua dan guru. Ketiga poin itu adalah: Pertama, tahapan penting pada perkembangan keagamaan anak-anak. Kedua, ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak. Ketiga, alur pembentukan pengetahuan keagamaan pada anak-anak.


Anak-anak merupakan masa depan sebuah bangsa, untuk itu bentuk anak-anak kita untuk cinta ilmu dan cinta Islam agar mereka memiliki karakter yang unggul dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Salam pengasuhan. luve.






Referensi



Q.S. 28, Al-Qoshosh: 88. Sugema Sony, Digitalquran, ver. 3.1, tp, 2003 2004, softcopy, http://www.geocities.com/sonysugema2000

Q.S. 16, An-Nahl: 78. Sugema Sony, Digitalquran, ver. 3.1, tp, 2003-2004, softcopy, http://www.geocities.com/sonysugema2000

Abu Ja’far At-Thobari, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al-Amali, 2000 M./1420 H. Tafsir At-Thobari, softfile, www.qurancomplex.com.

Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Bandung : Mertiana, 2005.

Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, Jakarta: Gema Insani Press, 2003.

Erham Wilda, Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009.

Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. Surabaya: Putra Al Ma’arif, 1994.

Lilis Suryani dkk, Metode Pengembangan Sikap dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Jakarta: Universitas Terbuka, 2008.

Maramis, Ilmu Kedoteran Jiwa, Surabaya: Airlangga University Press, 1980.

Maria J. Wantah, Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini, Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, 2005.

Said Aqil Siraj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, Bandung: Mizan Pustaka, 2006.

Siti Aisyah dkk, Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.

Slamet Sujanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat, 2004.

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : Grafindo Jaya, 2004.

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:Remaja Rosdakarya, 2004.





























Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger