Perkembangan Kehidupan Agama pada Anak

Rabu, 16 Maret 2022

Perkembangan Kehidaupan Agama pada Anak merupakan materi keempat yang disajikan pada Mata Kuliah Psikologi Agama di semester V program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Sekolah Tinggi Agama Islam Latansa Mashira, Rangkasbitung, Banten.


 Pendahuluan



Perkembangan kehidupan agama pada anak
. Setiap manusia pada saat dilahirkan ke dunia yang fana (QS. al-Qoshas/28: 88) ini pada awalnya berada dalam keadaan tidak mengetahui dan tidak memahami sesuatu. Sampai kemudian Allah Tuhan yang maha kuasa menganugerahkan keberfungsian pendengaran, penglihatan, dan hati/akal (QS. an-Nahl: 78). Proses selanjutnya secara bertahap Allah memberikan kemampuan mendengar berbagai macam suara melalui telinganya, kemampuan melihat beraneka ragam benda melalui matanya, dan kemampuan berpikir untuk dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, sesuatu yang benar dan salah melalui akalnya (tafsir ath-Thabari).



Pada masa anak-anak, manusia dapat mengenal berbagai macam hal, termasuk agama dari pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Misalnya lingkungan keluarga, dan lingkungan bersosialisasinya. Seorang anak akan mengamati (mendengar, atau melihat) praktik ibadah (mengaji, shalat dan lain-lain) yang dilakukan orang tuanya atau siapapun yang ada di rumahnya secara sepintas, atau bisa juga terus menerus, maka hal seperti itu dapat memberikan pengaruh dalam pengetahuan keagamaannya, baik langsung maupun tidak langsung.ditambah lagi dengan pengamatannya terhadap orang yang berada di luar rumahnya.


Orang yang beribadah di masjid misalnya, atau orang yang mengaji di majelis taklim. Bahkan bisa juga melalui tontonan atau tuntunan melalui media elektronik. Ada beberapa kata, atau kalimat yang dapat didengar anak, misalnya kata Allah, shalat, puasa dan sebagainya, dan ada beberapa perbuatan yang dapat dilihat, misalnya berwudlu, gerakan solat dan yang lainnya.


perkembangan keagamaan pada anak




Hakikat Sikap



Sikap dalam Bahasa Inggris disebut sebagai attitude, dalam “The Penguin Dictionary of Psychology” dijelaskan bahwa, attitude is some internal affective orientation that would explain the actions of a person, sikap dalam psikologi merupakan beberapa penyesuaian kecenderungan dari sisi dalam perbuatan manusia.  Menurut Weber, sebuah penilaian terhadap hal yang disukai ataupun tidak disukai seseorang yang merupakan reaksi yang ditimbulkan dari lingkungannya merupakan SIKAP. Sikap muncul secara berpasangan yaitu disadari dan tidak disadari dan akan berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman.


Sarlito (1996) menerangkan bahwa sikap merupakan respon seseorang terhadap sesuatu. Jalaluddin berpendapat bahwa sikap merupakan candu atau kecintaan untuk menyenangi atau tidak menyenangi sesuatu hal yang berkaitan dengan kognisi, afeksi dan konasi. Dari beberapa pengertian sikap yang telah dijabarkan bisa disimpulkan bahwa sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap suatu objek yang bersifat mendekati atau menjauhi, dilakukan melalui penilaian yang berbentuk menyenangi atau tidak menyenangi, menyetujui atau tidak meneyetujui dan lainnya.

 
Sikap Keagamaan


Hafidhudin (2003) menjelaskan bahwa sikap keagamaan merupakan kedalaman seseorang terhadap ilmu, keyakinan yang kuat, seberapa senang melakukan ibadah dan seberapa dalam memaknai ibadah yang dikerjakan. Sikap keagamaan ditunjukkan dengan praktek ibadah yang dijalankan oleh seseorang.


Said Aqil Siraj (2006) mendefinisikan sikap keagamaan seseorang ditunjukkan dengan kepercayaan yang kuat dari seorang hamba terhadap Tuhannya sehingga semakin kuat kepercayaan yang ditanamkan dalam jiwanya semakin kuat dia melaksanakan apa yang menjadi titah Tuhannya.


Jalaluddin (1995) berpendapat bahwa sikap keagamaan mendorong seseorang untuk taat dalam beragama, yang terbentuk dari kepercayaan terhadap agama (kognitif) penghayatan terhadap agama (afektif) dan perbuatan yang dilakukan untuk agama (konatif).


Perubahan Sikap Keagamaan



Menurut Zakiah Darajat dalam Lilis Suryani (2008), perubahan pada sikap keagamamaan adalah perubahan pada tingkat kemampuan dalam memahami, percaya, dan mengedepankan pemahaman kebenaran yang berasal dari sang Khaliq. Menjadikan pedoman dalam berbahasa, bersikap dan bertingkah laku terhadap kepercayaannya.


Menurut Maramis (1980) fisik dan psikis anak yang terus berkembang menyebabkan pemahaman anak terhadap agama semakin realistis seiring dengan pola pikirnya yang berkembang.


Potensi fitrah yang dimiliki oleh manusia dari sejak dilahirkan menjadikan manusia memiliki agama. Walaupun Ketika dilahirkan manusia belum beragama, namun telah memiliki firah untuk menjadi manusia beragama dan memiliki potensi kejiwaan serta dsar-dasar ber-Tuhan. Untuk itu Sikap keagamaan pada anak berkembang sejak bayi.pernyataan ini diungkapkan oleh Aziz Ahyadi (2005:40).


Menurut Woodworth dalam Jalaluddin (1995) potensi keagamaan merupakan insting keagamaan yang dimiliki oleh anak sejak lahir selaras dengan tumbuhnya insting sosial dan fungsi kematangan tubuh yang lainnya. Walau memiliki tubuh dan fisik yang lemah manusia telah dibekali insting keagamaan dalam fitrahnya.



Perubahan Sikap Keagamaan anak Usia Dini.



Menurut Ernest dalam Lilis Suryani (2008:9) anak-anak memiliki perubahan dalam memahami nilai agama berlangsung melalui tiga tahap perkembangan, diantaranya yaitu:


1. Tingkat Dongeng (The Fairy Tale Stage).

Pada tingkat ini sikap keagamaan pada anak masih berdasarkan pada daya imajinasi, mereka menyamakannya dengan tokoh-tokoh dalam film atau dongeng yang memiliki kekuatan super seperti bisa menghilang, memegang api dan lainnya. Anak yang berada pada rentang usia tiga sampai dengan enam tahun berada pada fase ini. Pada masa ini sikap keberagamaan pada anak dilandasi oleh keinginan untuk memiliki keajaiban.


2. Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage).

Pada amas aini anak sudah mengerti bahwa agama bukan untuk memperoleh keajaiban seperti yang didapatkan pada tokoh imajinasi anak-anak, namun lebih kepada untuk mendapatkan kenyamanan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Anak yang berada pada rentang usia tujuh sampai dengan lima belas tahun berada pada fase ini. Untuk itu di usia ini anak sudah mulai tertarik pada kegiatan keagamaan yang lebih formal dan mempelajarinya lebih jauh.



3. Tingkat Individu (The Individual Stage).

Konsep keagamaan anak pada tingkat ini berkembang menjadi tiga konsep yaitu konsep keagamaan yang konservatif dan konvensional, konsep keagamaan murni dan konsep keagamaan humanistik. Berkaitan dengan ini, Imam Bawani dalam Sururin (2004:56) membagi fase perkembangan agama pada anak-anak menjadi empat bagian, yaitu:


1. Fase dalam kandungan.

Dalam fase ini perkembangan agama sudah dimulai sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam Surat Al-A’rof: 172.



2. Fase bayi.


Perkembangan agama pada fase ini belum terlalu banyak terjadi, namun Islam telah menuntun kita untuk mulai memperkenalkan agama di fase ini melalui ajaran yang telah dituangkan dalam banyak hadits dan juga penjelasan dalam Al-Quran, misalnya dengan memperdengarkan adzan dan iqamah ketika pertama kali anak dilahirkan ke dunia.


3. Fase kanak-kanak.


Fase kanak-kanak merupakan fase paling baik dalam menyerap kejadian yang ada di sekitarnya. Orang tua harus berperan aktif dalam proses perkembangan agama anak. Anak mengenal Tuhan melalui kegiatan orang-orang disekelilingnya, jika yang diperoleh dari panca indera anak sesuatu yang baik-baik seperti orang tua yang mengaji, sholat banyak berdzikir, anakpun dapat meniru dan menyerap walau sejatinya belum pada tataran memahami. Stimulasi sikap keagamaan yang positif dari lingkungan sekeliling anak diharapkan akan berkembang ke arah yang positif.


4. Fase masa sekolah.

Intelektual anak yang semakin berkembang di masa ini menjadikan perkembangan agama anak semakin realistis, bekal agama yang ditanamkan melalui pendidikan dalam keluarga menjadi bekal bagi anak ketika mulai mengenal dunia sekolah.


Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Keagamaan Anak.



Faktor yang mempengaruhi perkembangan keagamaan pada anak meliputi dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor kepribadian dan keturunan, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang ada dalam lingkungan keluarga, Lembaga dan masyarakat. Berikut penjelasan tentang perkembangan keagamaan anak yang mencakup faktor internal.


1. Faktor Hereditas atau keturunan

Faktor hereditas didapat dari keturunan dalam artian bahwa karakteristik seseorang diturunkan melalui gen yang dimiliki orang tuanya. Untuk itu Islam menuntun kita untuk mencari pasangan yang baik agar memiliki keturunan yang baik sebagaimana Rasulullah berpesan dalam sebuah hadits “Lih atlah kepada siapa anda letakkan nutfah (sperma) anda, karena sesungguhnya asal (al- I’rq) itu menurun kepada anaknya”.


2. Faktor Kepribadian.


Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian memberikan pengaruh pada perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Zakiah Daradjat dalam Ramayulis (2009: 98) menerangkan bahwa sikap keagamaan berkembang dari apa yang didapat bukan bawaan. Untuk itu sangat penting peranan kenyamanan rumah, orang tua, orang-orang sekitar, teman dan lingkungan dalam proses perkembangan agama pada setiap individu.


Menurut Sujanto (2004: 46) kepribadian pada anak mulai terbentuk ketika anak berusia 0-5 tahun, anak akan sangat mudah menyerap apa yang di lihatnya dengan belajar dari lingkungan tempat dia tumbuh. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kecenderungan sikap yang baik maka diharapkan akan berkembang kepada hal-hal yang baik juga, begitupun sebaliknya.


Faktor pembawaan atau fitrah beragama merupakan potensi yang membawa pada sebuah perkembangan. Dikuatkan oleh faktor eksternal yang menjadi pemicu dalam perkembangan keagamaan seseorang. Faktor eksternal didapatkan dari stimulus dalam keluarga, Lembaga dan masyarakat.


1. Lingkungan Keluarga. Entitas yang paling sederhana dalam kehidupan sosila manusia adalah keluarga. Dalam keluarga pendidikan awal untuk seorang anak manusia dimulai. Orang tua lah yang memberikan kesan pertama dalam kehidupan seorang anak. Keluarga memiliki peran dominan dalam pembentukan perkembangan keagamaan anak di masa yang akan datang, hal ini ditegaskan juga oleh Sururin (2004: 57).


2. Lingkungan Institusional. Pendidikan formal yang bergerak secara instruksional sistematis adalah sekolah. Keterbatasan pengetahuan orang tua dalam proses pendidikan, dilanjutkan ke lembaga sekolah agar anak mendapatkan bimbingan yang lebih terarah. Potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal dari aspek jasmani, intelektual, sosial emosional dan juga moral spiritual pendapat ini diperkuat oleh Ahmad zein dan Jalaluddin (1994: 217) Schweinhart dalam Siti Aisyah dkk (2007: 42) memberikan penekanan bahwa kesan yang didapatkan oleh anak-anak dari sekolah memberikan dampak yang positif untuk perkembangan anak selanjutnya.


3. Lingkungan Masyarakat. Anak belajar dari lingkungan tempat dia bersosialisasi, jika lingkungan sosial memberikan contoh yang baik dalam permasalahan akhlak dan nilai-nilai keagamaan maka diharapkan anak akan memiliki perkembangan agama yang baik, begitu juga sebaliknya jika anak bergaul dalam lingkunagn yang buruk maka kemungkinan akan memberikan dampak yang buruk juga. Hurlock menjelaskan bahwa peraturan dalam sebuah kelompok berpengaruh pada perilaku moral para anggotanya.



Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa sikap keagamaan anak merupakan refleksi dari sikap yang dia lihat dari orang dewasa sekitarnya dari lingkungan tempat dia tinggal. Untuk itu bagus atau tidaknya perkembangan agama pada anak tergantung pada orang dewasa dan lingkungan sekitar yang membentuknya.



Strategi Pembentukan Sikap Keagamaan Anak Usia Dini.



Dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta disebut juga hidayat al-diniyat yang telah hadir dari sejak lahir, dari sinilah bisa dibuktikan bahwa manusia merupakan makhluk beragama. Potensi ini akan berkembang dengan benar jika ada bimbingan, hal ini juga dijabarkan oleh Jalaluddin (1995: 66-69).


Begitu pula dengan Megawangi, menyatakan bahwa lingkungan yang berkarakter diiringi dengan usaha yang terencana, fokus dan komperehensif akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang beragama.


Maria (2005: 125) memaparkan bahwa untuk mengembangkan moral pada anak usia dini bisa melalui penerapan beberapa teknik yang diantaranya yaitu membiarkan, tidak menghiraukan, memberikan contoh, mengalihkan arah, memuji, mengajak dan menantang. Adapun strategi yang bisa membentuk moral pada anak usia dini diantaranya yaitu:


1. Strategi Latihan dan Pembiasaan. Melalui Latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk sikap yang relative menetap pada anak. Misalnya jika anak dibiasakan untuk saling menghormati dan menghargai dalam anggota keluarga, maka pribadi anak akan terbentuk memnjadi pribadi yang menghormati dan menghargai.


2. Strategi Aktivitas Bermain. Dalam Maria (2005: 129) Riset yang dilakukan Piaget menyatakan bahwa perkembangan bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan sikap moral keagamaan pada anak. Dari proses bermain anak mulai mengenal kata aturan dalam permainan, dari sini akan berkembang dan membiasakan anak untuk taat pada peraturan yang lainnya termasuk peraturan dalam agama.



Strategi Pembelajaran. Pengembangan moral anak usia dini dapat diotimalkan melalui strategi pembelajaran berdasarkan moral yang dilandaskan pada nilai-nilai yang dapat diterapkan pada diri seseorang, seperti kejujuran, kesetiaan, penghormatan, keberanian dan nilai baik lainnya. Pernyataan ini juga di kuatkan oleh Maria dalam tulisannya yang berlabel Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini.




Penutup


Para orang tua diharapkan dapat mengajarkan perkembangan kehidupan agama bagi anak kepada putra putrinya dengan lebih baik. Karena agama adalah bekal yang paling berharga untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Agama merupakan ajaran yang akan menuntun manusia untuk bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah.


Perkembangan kehidupan agama bagi anak-anak memiliki tiga pokok bahasan yang harus dipahami oleh para orangtua dan guru. Ketiga poin itu adalah: Pertama, tahapan penting pada perkembangan keagamaan anak-anak. Kedua, ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak. Ketiga, alur pembentukan pengetahuan keagamaan pada anak-anak.


Anak-anak merupakan masa depan sebuah bangsa, untuk itu bentuk anak-anak kita untuk cinta ilmu dan cinta Islam agar mereka memiliki karakter yang unggul dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Salam pengasuhan. luve.






Referensi



Q.S. 28, Al-Qoshosh: 88. Sugema Sony, Digitalquran, ver. 3.1, tp, 2003 2004, softcopy, http://www.geocities.com/sonysugema2000

Q.S. 16, An-Nahl: 78. Sugema Sony, Digitalquran, ver. 3.1, tp, 2003-2004, softcopy, http://www.geocities.com/sonysugema2000

Abu Ja’far At-Thobari, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al-Amali, 2000 M./1420 H. Tafsir At-Thobari, softfile, www.qurancomplex.com.

Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Bandung : Mertiana, 2005.

Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, Jakarta: Gema Insani Press, 2003.

Erham Wilda, Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009.

Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. Surabaya: Putra Al Ma’arif, 1994.

Lilis Suryani dkk, Metode Pengembangan Sikap dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Jakarta: Universitas Terbuka, 2008.

Maramis, Ilmu Kedoteran Jiwa, Surabaya: Airlangga University Press, 1980.

Maria J. Wantah, Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini, Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, 2005.

Said Aqil Siraj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, Bandung: Mizan Pustaka, 2006.

Siti Aisyah dkk, Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.

Slamet Sujanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat, 2004.

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : Grafindo Jaya, 2004.

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:Remaja Rosdakarya, 2004.





























10 komentar on "Perkembangan Kehidupan Agama pada Anak"
  1. Masya allah sangat bermanfaat sekali ilmunya bu, sekarang jadi lebih faham mengenai perkembangan keagamaan bagi anak ternyata sangat penting sekali, terimakasih untuk penjelasannya 🙏

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum warahmatullahi wabrkath ibu, terimakasih atas ilmunya Bu,,dengan memhami materi ini kita harusbharus memahami bahwa
    Agama merupakan ajaran yang akan menuntun manusia untuk bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah.

    BalasHapus
  3. Nama : Muawanah
    Npm : 19231017

    Perkembangan kehidupan agama pada anak yaitu suatu perkembangan yang awalnya anak tidak mengetahui atau memahami suatu keadaan menjadikannya tau. Yang mana Allah SWT telah menganugerahkan organ tubuh nya berfungsi untuk memahami suatu keadaan.
    Adapun perubahan sikap keagamaan Anak Usia Dini yaitu dengan.
    - berdonge,
    - tingkat kenyataan,
    - tingkat individu.
    Dalam tingkatan individu ini memiliki beberapa Pase yaitu
    Fase dalam kandungan,
    Fase bayi
    Fas kanak-kanak
    Dan fase sekolah.
    Sedangkan untuk melatih pembentukan sikap keagamaan Anak Usia Dini yaitu
    Latihan, terbiasa dan bermain.

    BalasHapus
  4. Reres Restuti / 19231014
    Ketika dilahirkan manusia belum memiliki agama, tapi telah dibekali fitrah untuk menjadi manusia beragama serta mempunyai potensi kejiwaan serta dasar-dasar ber-Tuhan. Untuk itu Sikap keagamaan pada anak berkembang sejak bayi.
    Menurut Ernest dalam Lilis Suryani (2008:9) anak-anak memiliki perubahan dalam memahami nilai agama berlangsung melalui tiga tahap perkembangan, diantaranya yaitu:
    1. Tingkat dongeng (the fairy tale stage)
    2. Tingkat kenyataan (the realistic stage)
    3. Tingkat individu (the individual stage)

    BalasHapus
  5. Ira Rahmawati 19231007
    Perkembangan kehidupan agama bagi anak-anak memiliki tiga pokok bahasan yang harus dipahami oleh para orangtua dan guru. Ketiga poin itu adalah: Pertama, tahapan penting pada perkembangan keagamaan anak-anak. Kedua, ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak. Ketiga, alur pembentukan pengetahuan keagamaan pada anak-anak.
    Karena agama adalah bekal yang paling berharga untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Agama merupakan ajaran yang akan menuntun manusia untuk bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah.

    BalasHapus
  6. Widiah anggriyani(19231001)
    Terimakasih atas ilmu nya ibu sangat bermanfaat sekali.
    Menurut Ernest dalam Lilis Suryani (2008:9) anak-anak memiliki perubahan dalam memahami nilai agama berlangsung melalui tiga tahap perkembangan, diantaranya yaitu:
    1. Tingkat Dongeng (The Fairy Tale Stage).
    2. Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage).
    3. Tingkat Individu (The Individual Stage).

    BalasHapus
  7. Enok Hani (19231003)

    Agama merupakan ajaran yang akan menuntun manusia untuk bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah. Oleh karena itu, Para orang tua diharapkan dapat mengajarkan perkembangan kehidupan agama bagi anak kepada putra putrinya dengan lebih baik.
    Strategi pembelajaran pengembangan moral anak usia dini dapat diotimalkan melalui strategi pembelajaran berdasarkan moral yang dilandaskan pada nilai-nilai yang dapat diterapkan pada diri seseorang, seperti kejujuran, kesetiaan, penghormatan, keberanian dan nilai baik lainnya.

    BalasHapus
  8. Qori Salsabila Sani 19231005

    Barakallah terimakasih ibu, untuk Pertemuan hari ini sangat begitu mudah untuk di fahami.
    Ternyata faktor eksternal potensi yang membawa pada sebuah perkembangan. Dikuatkan oleh faktor eksternal yang menjadi pemicu dalam perkembangan keagamaan seseorang. Faktor eksternal didapatkan dari stimulus dalam keluarga, Lembaga dan masyarakat.

    BalasHapus
  9. LAELA 19231015
    terimakasih bu dosen untuk materi yang disajikan disini saya memahami betapa pentingnya akan agama untuk bekal kehidupan baik didunia maupun untuk diakhirat kelak maka dari kita sebagai orang tua harua menanamkan nilai nilai agama sedini mungkin kepadaa anak anak penerus generasi

    BalasHapus
  10. Qori Salsabila Sani 19231005

    Barakallah untuk materi hari ini Bu..
    Ternyata Pada masa anak-anak, manusia dapat mengenal berbagai macam hal, termasuk agama dari pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Misalnya lingkungan keluarga, dan lingkungan bersosialisasinya.

    BalasHapus

Trimakasih sudah berkunjung ke ruang narasi Inspirasi Nita, semoga artikel yang disuguhkan bisa memberikan manfaat sehingga menjadi hidangan yang mengenyangkan. Silahkan meninggalkan komen positif untuk merekatkan tali silaturahmi. Jangan lupa sematkan nama, hingga tak ada unknown diantara kita. Mohon tidak meninggalkan link hidup, ya kawan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Barakallahu.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger