Tampilkan postingan dengan label Nuansa Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nuansa Islam. Tampilkan semua postingan

Hakikat Psikologi Agama dan Ruang Lingkupnya

Selasa, 20 Juni 2023

Psikologi agama merupakan pembelajaran penting yang harus dipahami oleh setiap insan jika dia ingin benar-benar memahami hakikat jati dirinya sebagai manusia. Hakikatnya psikologi agama secara aplikatif berkaitan dengan tiga ranah petensi dalam diri manusia yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga ranah tersebut akan berdampak pada kepercayaan dan keyakinan yang dimiliki oleh setiap individu.


Dalam konsep psikologi Islam, bagaimana penjabaran dari ketiga ranah tersebut? Yuk baca terus penjabaran berikut ini, mari kita urai dan kaji satu persatu tentang pengertian dan definisi psikologi, definisi agama, fitrah manusia dan hal yang terkait lainnya menurut penjabaran para tokoh Psikologi Islam. Semoga pemahaman yang utuh dalam hal ini akan mengantarkan kita menjadi seseorang yang memiliki kematangan dalam beragama.


definisi agama


Latar Belakang Permasalahan dalam Psikologi Agama


Manusia dilahirkan ke dunia ini dengan membawa fitrah, sebagai bekal dirinya untuk menjalani kehidupan. Fitrah memiliki banyak makna yang berbeda, tergantung sisi pandang yang menyertainya. Namun secara global fitrah diartikan sebagai potensi yang dibawa dari sejak lahir. Potensi sendiri berasal dari Bahasa latin Potentia yang artinya kemampuan. Dalam kamus ensiklopedi fitrah diartikan sebagai kemampuan yang masih dapat berkembang.

Fitrah yang dibawa oleh manusia bersifat suci. Dengan fitrah itulah manusia mampu mengemban tugasnya sebagai seorang khalifah, menjalankan titah suci dari Tuhan yang maha Esa sebagai penciptanya. Sesuai dengan yang tertera dalam Al-Quran sura ar-Ruum ayat 30:

kepercayaan dan keyakinan

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk yang beragama. Abdul Aziz menerangkan Manusia menjalankan kehidupannya melalui keyakinan adanya Tuhan. Hal ini diperoleh dari penjabaran yang dijelaskan dalam kitab suci. Ayat di atas menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang membutuhkan petunjuk berupa agama.

Manusia yang fitrahnya masih lurus akan menganggap bahwa kitab suci merupakan aturan dan kaidah yang perlu dijadikan pegangan dalam kehidupannya sebagai bekal yang menuntunnya untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat.

Agama dan Manusia   


Harun Nasution
menjabarkan bahwa Agama merupakan ikatan suci yang tanggungjawabnya diperuntukkan pada sesuatu yang memiliki kekuatan luar biasa. Dzat yang ghaib, yang keberadaannya tidak dapat ditangkap oleh panca indera, namun pengaruhnya sangat luar biasa.

Ramayulis menyatakan bahwa manusia yang memiliki pengetahuan agama yang matang maka akan memiliki kepribadian yang matang. Sebagaimana dijelaskan juga oleh Koswara bahwa Konsep beragama yang dijelaskan berdasar konsep psikologi Islam bahwasannya aplikasi agama pada diri seseorang meliputi seluruh aspek yang ada dalam dirinya.

Aspek tersebut diataranya yaitu aspek kognitif berupa pengetahuan tentang agama, aspek afektif yaitu berkaitan dengan motivasi yang timbul dari dalam dirinya untuk beragama serta aspek psikomotor yang berkaitan dengan kemampuan dan kemauan dia dalam melaksanakan aturan dalam agama.

Kemampuan dan kemauan untuk memperkaya pengetahuan agama yang timbul dalam diri manusia masuk ke dalam aspek kognitif. Cerminan kepribadian yang ditunjukkan oleh seorang yang memiliki ilmu termasuk dalam ranah afektif.  Setelah dia memiliki pengetahuan soal agamanya maka hal yang berkaitan tentang kesadaran menjalankan aturan dalam agama masuk dalam aspek psikomotor.

Selain aspek-aspek tersebut yang bisa mempengaruhi kematangan dalam jiwa keagamaan seseorang, ada dua faktor penyerta yang juga sangat berpengaruh dalam membentuk jiwa keagamaan seseorang,diantaranya yaitu:

1. Faktor internal 


Faktor internal bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri. Bisa berupa segala sesuatu yang dibawanya dari sejak lahir yaitu berupa fitrah yang diberikan oleh Allah atau berasal dari usaha yang dia lakukan atas dasar kemauan dan kemampuan yang timbul dari dalam dirinya.

2. Faktor eksternal

 
Faktor eksternal merupakan bentuk pemahaman dan kesadaran yang diperoleh karena ada pengaruh  dari luar dirinya. Pengaruh tersebut bisa didapatkan dari lingkungan sekitarnya yaitu lingkungan rumah, lingkungan masyarakat tempatnya tinggal dan juga melalui lembaga pendidikan yang dipilihnya. 


Hakikat  Psikologi Agama


Makna Psikologi


Istilah psikologi agama mungkin tidak asing bagi sebagian kita. Namun perlu kiraya kita gali pengertian istilah psikologi agama dari sisi kajian kata atau etimologi dan juga kajian bahasa atau etimologi.

Dari beberapa referensi ditemukan beberapa penjelasan yang terkait dengan dua kata ini. Secara etimologi, psikologi biasa disebut juga dengan Ilmu Jiwa. Psiko berarti jiwa dan logos berarti ilmu.

Sedangkan dari sisi terminologi, psikologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan manusia yang berhubungan dengan lingkungannya.

Ilmu Jiwa / Psikologi adalah cabang ranting dari ilmu filsafat. Ranah keilmuan ini mempelajari tentang gejala kejiwaan secara umum yang melingkupi pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi). 

Pada dekade akhir, para ahli kejiwaan menambahkan bahwa hal yang berkaitan dengan  gejala kejiwaan terdiri dari empat empat ranah, yaitu menambahkan intelegensi, kelelahan, maupun sugesti termasuk dalam lingkup ilmu jiwa atau psikologi. Distilahkan dengan gejala campuran. Iustrasinya bisa dilihat pada bagan di bawah ini.



psikologi agama



Makna  Agama


Agama jika ditinjau dari sudut kata atau etimologi
. Menurut Harun Nasution ada beberapa penjabaran yang bisa diungkap dari makna agama secara etimologi, diantaranya yaitu:

  1. Al-Din dalam bahassa Semit artinya undang-undang, dalam Bahasa Arab artinya menguasai.
  2. Religi dalam Bahasa latin artinya mengumpulkan dan membaca.
  3. Agama terdiri dari dua suku kata yaitu “A” mengandung arti tidak dan gam mengandung arti pergi, jika keduanya dilebur mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau bisa juga diartikan menetap dan diwarisi secara turun temurun.

Agama ditinjau dari makna Terminologi. Harun Nasution menjabarkan bahwa Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini bentuknya adalah hal gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera tetapi memiliki andil yang besar terhadap kehidupan manusia. Agama merupakan sistem yang mengajarkan tata cara keimanan , ibadah dan hubungan sosial.

Muhammaddin menguraikan bahwa Asy-syahrastani dalam al-Milal wa an- Nihal merumuskan pengertian tentang agama pada hal-hal yang cenderung pada ketaatan dan wujud penghambaan, implementasinya pada sebuah pembalasan dan perhitungan ( amal perbuatan di akhirat).

Namun yang perlu kita garis bawahi dan maknai dengan penuh kesadaran bahwa agama adalah hal yang perlu kita yakini dengan hati dan pikiran serta kaidahnya kita laksanakan dengan tindakan, sehingga nantinya akan membekas secara positif pada tingkah laku kita sehari-hari.


Makna Psikologi Agama


Setelah kita mengupas tentang makna dari psikologi dan agama, selanjutnya akan kita urai pengertian tentang psikologi agama menurut beberapa pendapat ilmuwan yang mendalami bidang ini. Pengertian psikologi agama menurut para ahli diantaranya adalah:

1. Robert H Thoules: Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan menerapkan psinsip psikologi secara umum.

2. Zakiah Daradjat: Psikologi agama merupakan kajian ilmu yang mempelajari kehidupan beragama seseorang dan pengaruhnya terhadap tingkah laku, pemikiran dan sikap hidup. Psikologi agama merupakan kajian empiris yang mempelajari tingkah laku manusia berdasarkan keyakinan yang dianutnya sesuai dengan tahap perkembangan di setiap tingkat usia.

Menurut Profesor Zakiah Daradjat, para ahli dalam menetapkan definisi tentang ilmu jiwa agama harus  harus mencakup segala hal yang dikaitkan dengan aturan dan kaidah yang ada dalam agama. Untuk itu makna dari psikologi agama sampai saat ini masih terus dikembangkan. 

Bahasan dalam agama bukan hanya terkait pada perkara bahasan yang menyangkut hal-hal obyektif. Zaman yang terus bekembang dan persoalan hidup manusia yang juga terus berkembang dengan kondisi latar belakang yang juga terus berkembang serta berbeda-beda membuat hukum dalam agama juga bersifat dinamis menyesuaikan dengan kondisi dan zaman. Untuk itu makna agama juga disusun dari sudut pandang yang berbeda.

Ruang lingkup Psikologi Agama


Setelah kita kaji makna dari psikologi agama, perlu dipahami juga apa saja ruang lingkup dalam psikologi agama? Zakiyah Daradjat menuturkan bahwa psikologi agama atau ilmu jiwa agama memiliki ruang lingkup ilmu jiwa yang berbeda dengan ilmu kejiwaan lainnya.

Ilmu jiwa agama atau psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia  dipandang dari tingkah lakunya dan segala hal yang menyertainya dengan menyandarkannya kepada kaidah agama.  

Kaidah ilmu jiwa agama disandarkan pada dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, yaitu unsur ilmu jiwa dan unsur ilmu agama, yang keduanya memiliki urgensi atau makna yang berbeda. Untuk itu ruang lingkup psikologi agama mencakup hal-hal di bawah ini:
  1. Emosi yang dimiliki setiap individu berdampak pada kehidupan agama seseorang.
  2. Pengalaman atau kesan seorang hamba terhadap Tuhannya.
  3. Kepercayaan yang tertanam terhadap kehidupan setelah kematian (kehidupan akhirat).
  4. Seorang hamba menyadari sikap dan akhlaknya dalam kehidupan yang dia jalani.
  5. Dampak adanya ketenangan batin karena penghayatan terhadap ayat-ayat dalam kitab suci.

Cara manusia berpikir, bertingkah laku, berekspresi tidak bisa keluar dari apa yang menjadi keyakinannya. Sesuatu yang menjadi pegangan dan keyakinan, akan mempengaruhi bentukan bangunan perilaku seseorang. Akhlak yang tercermin dari diri seseorang merupakan pengamalan dari ilmu yang dimiliki dirinya

Menurut Zakiah Daradjat psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness), yaitu kesadaran diri yang dapat dirasakan oleh pikiran dan hati dalam melaksanakan kaidah dalam beragama. Psikologi agama juga membahas tentang pengalaman agama (religious experience), yaitu ketika pikiran dan hati kita telah sadar dalam melaksanakan kaidah beragama, hati dan perasaan kita juga membenarkan apa yang sudah kita amalkan.

Lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran agama serta segala bentuk pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Objek pembahasan psikologi agama adalah gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan. Manusia berpikir, bersikap, bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinan yang dianutnya, karena keyakinan akan berdampak pada pembentukan kepribadian seseorang.

Psikologi agama tidak mengkaji masalah yang abstrak seperti konsep ke-Tuhanan atau hakikat kebenaran surga dan neraka, kebenaran suatu agama atau kitab suci yang menyertainya. Namun, psikologi agama diharapkan dapat membantu manusia lebih memahami jati diri mereka sesungguhnya dan membantu mereka untuk lebih cinta pada agama yang mereka anut. Membentuk manusia memiliki karakter yang baik.

Psikologi agama membantu menangani berbagai konflik dalam diri seseorang, sehingga mereka lebih taat pada agama yang dianutnya atau bisa jadi malah meninggalkannya, ketika dia merasakan agama yang dianutnya sudah tidak lagi sesuai dengan hati dan pikirannya.

Kesimpulan


Psikologi Agama adalah kajian ilmu yang mempelajari kehidupan beragama seseorang dan pengaruhnya terhadap tingkah laku, pemikiran dan sikap hidup. Sedangkan ruang lingkup dari psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness), yaitu kesadaran diri yang dapat dirasakan oleh pikiran dan hati dalam melaksanakan kaidah dalam beragama. 

Psikologi agama juga memiliki ruang lingkup pembahasan tentang pengalaman agama (religious experience), yaitu ketika pikiran dan hati kita telah sadar dalam melaksanakan kaidah beragama, hati dan perasaan kita juga membenarkan apa yang sudah kita amalkan.

Dengan psikologi agama diharapkan setiap manusia mampu memahami hakikat sejati dirinya, untuk apa dia hidup, bagaimana dia menjalani hidup, kemana akhir dari hidupnya. Dengan psikologi agama juga diharapkanyang memahami hakikat bahagia hidup sebagai hamba Allah. akan membentuk setiap insan menjadi hamba Have a barakah life. Salam Literasi


Referensi


Ahyadi, Abdul aziz. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: Sinar Baru, 1991
Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2015.
Daradjat, Zakiah. Peranan Agama dalam Keseshatan Mental. Jakarta: Gunung Agung, 1971.
Guntur Cahaya Kesuma, konsep fitrah manusia perspektif pendidikan Islam, Jurnal Pengembangan Masyarakat.
Jalaluddin, Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, Jakarta, Raja Grafindo Persada. 2012.
Koswara, Teori-teori Kepribadian, Bandung: Eresco, 1991.
Muhammaddin. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama. Jurnal Ilmu Agama UIN Raden Fatah. Vol.15, Nomor 1, Tahun 2013.
Nasution, Harun. Islam di Tinjau dari Beberapa Aspeknya. Jakarta: UI Press, 1979.
Pamungkas, Pakhi. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.
Munib, Ahmad. Konsep fitrah dan Implikasinya terhadap Pendidikan. Jurnal Progres Volume 5, No. 2 Desember, 2017.
Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Semarang: Pustaka rizki putra, 2012.
Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2004.
Yusuf, Samsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.





 

Manfaat Psikologi Agama dalam Dunia Pendidikan

Minggu, 18 Juni 2023

Psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari kejiwaan manusia berdasarkan pada ajaran agama yang dianutnya. Sebagai seorang hamba yang fitrahnya masih lurus sepertinya memang sudah selayaknya menghiasi segala atribut permasalahan keduniawian dengan siraman cahaya ukhrawi, agar jiwa ini bisa tenang.


Psikologi agama membimbing manusia untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup, mengerti dan memahami tugas utamanya sebagai seorang hamba. Minat untuk mengetahui lebih lengkap pembahasan tentang pengertian psikologi agama? Teman-teman bisa kunjungi artikel tentang hakikat psikologi agama dan ruang lingkupnya.


Jika kita telah memahami hakikat dari psikologi agama tentu akan timbul pertanyaan untuk apa kita mempelajarinya? Kira-kira, ada manfaatnyakah? Pertanyaan ini biasanya menjadi pemikiran bagi praktisi pendidikan, yang sehari-harinya berinteraksi dengan peserta didik. Mendidik anak bangsa dan membentuk mereka menjadi generasi yang berkarakter unggul adalah tugas yang diemban dan harus diwujudkan. 


Apa manfaat psikologi agama dalam dunia pendidikan? Bagaimana aplikasinya dalam proses belajar mengajar? Yuk baca lanjut penjelasannya! Besar harapan artikel singkat ini setidaknya bisa membantu teman-teman memberikan  sedikit pencerahan. O, iya, sebenarnya kita juga bisa mengaplikasikannya juga, lho,  dalam kehidupan sehari-hari.


manfaat psikologi agama


Manfaat Psikologi Agama pada Dunia Pendidikan


Apa manfaat psikologi agama pada dunia pendidikan? Dengan psikologi agama diharapkan setiap manusia mampu memahami hakikat sejati dirinya, untuk apa dia hidup, bagaimana dia menjalani hidup, kemana akhir dari hidupnya, karena perilaku keagamaan seseorang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. 

Ruang lingkup psikologi yang berkisar pada kajian kesadaran agama dan pengalaman beragama, diharapkan dapat berdampak secara signifikan terhadap dunia pendidikan. Lalu, apa saja manfaat psikologi agama dalam dunia Pendidikan? beberapa manfaatnya diantaranya, yaitu:

Memberikan Pengetahuan Dasar Agama


Psikologi agama diharapkan dapat membantu para siswa memahami nilai-nilai agama yang dianutnya. Menghiasi pemahamannya dengan dasar-dasar agama. Memotivasi dirinya dalam melakukan segala hal karena kecintaannya pada sang pencipta. 

Menjaga Kesusilaan dan akhlak


Psikologi agama diharapkan dapat membentuk akhlak para peserta didik menjadi pemilik akhlakul karimah. Mampu memuliakan dirinya dan para penduduk bumi. Melalui penanaman nilai-nilai kebaikan yang harus diterapkan pada sesama, anak akan paham batasan dan menjunjung tinggi serta menjaga norma-norma agama yang dipelajarinya.

Sarana Mengatasi frustrasi dan Ketakutan


Psikologi agama diharapkan dapat menguatkan kejiwaan para peserta didik melalui bekal pemahaman agama yang baik dan benar. Nilai-nilai agama yang ditanamkan dan dikaitkan dengan setiap mata pelajaran diharapkan dapat mematangkan pengetahuannya tentang asal muasal kehidupan dan hakikat hidup yang sesungguhnya. 

Ketika diberikan bekal pengetahuan agama diharapkan para peserta didik terhindar dari rasa frustrasi dan ketakutan yang tak beralasan, karena mereka paham bahwa sejatinya kehidupan di dunia ini sudah ada yang mengatur, kita sebagai hambaNya tinggal menjalankan dan meminta kepada Sang Maha kaya untuk kebaikan hidup kita.

Menstimulasi kecerdasan kreatif, Sarana Edukatif dan Membangkitkan rasa Ingin Tahu 


Psikologi agama juga diharapkan dapat menstimulasi kecerdasan para peserta didik dan juga menggali kreatifitas berpikir anak. Ketika anak diajak berdialog tentang makhluk Tuhan yang ada di bumi ini, maka rasa ingin tahu anak akan terstimulasi, sehingga mereka akan memenuhi rasa ingin tahunya dengan banyak bertanya dan juga mencari tahu.

Cara mencari tahu bisa dilakukan dengan berbagai hal, misalnya bertanya kepada gurunya atau kepada orang-orang yang paham serta melakukan diskusi untuk memperdalam pengetahuannya dan memuaskan rasa ingin tahunya. Selain itu bisa juga dengan membaca, menonton, uji coba dan lain sebagainya.

Mengatasi Krisis Spiritual


Memperluas pengetahuan anak dan mengaitkannya dengan kaidah agama diharapkan juga dapat menghindari krisis spiritual dalam diri anak. Membiasakan anak untuk mengenal Tuhan dan agamanya dari sejak dini bertujuan membangun jiwa dan pemikiran anak dengan konsep ke-Tuhanan.

Mendekatkan anak kepada agamanya hakikatnya mengenalkan anak pada hakikat dirinya sendiri. Jika anakmengenal diri dan Tuhannya dengan baik diharapkan anak akan terhindar dari permasalahan krisis spiritual atau permasalahan spiritual.

Menanggulangi Materialistik


Mengenalkan konsep ke-Tuhanan dan mengaitkannya dengan segala urusan yang ada di bumi, diharapkan juga dapat membentuk pribadi yang ikhlas dalam diri anak atau seorag hamba. Segala sesuatu perkara yag ada di dunia ini tidak melulu diorientasikan terhadap untung rugi dalam wujud materialistik.

Diharapkan anak jika melakukan sesuatu tidak melulu mengharapkan material atau balasan dalam berupa wujud benda, baik berupa uang maupun wujud benda lainnya. Ada hal yang lebih penting yang bisa dia peroleh dan harapkan dari hanya sekedar material, yaitu pahala, ketentraman hati, kebahagiaan, ketenangan, cinta, kasih sayang dan lain sebagainya.

Menanamkan Cara Berpikir Positif


Psikologi agama mengenalkan nilai dan kaidah kebaikan dalam setiap peristiwa  dari sudut pandang agama. Agama berisi nilai-nilai kebaikan yang aturannya diciptakan oleh Allah sebagai Tuhan dari manusia. Keberadaannya mutlak dan kebenarannya juga mutlak.

Membiasakan anak bertindak sesuai dengan kaidah agama memiliki arti mebiasakan anak untuk berpikir positif. perhatikan ilustrasi percakapan seorang murid dengan gurunya di bawah ini:

"Ibu, aku sudah belajar sangat keras agar aku bisa dapat rangking pertama atau paling tidak kedua, tapi kenapa aku selalu kalah? Rangkingku pasti selalu di bawah Aisyah, aku, kan, pingin dapat hadiah boneka Barbie seperti yang telah ayah ibu janjikan!"

"Masyaallahu, nak, alhamdulillah, lho, kamu dapat ketiga. Rangkingmu itu adalah buah dari hasil kerja kerasmu pastinya. Lebih semangat lagi belajar, ya. Usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Siapa tahu, Aisyah dan Aira belajarnya lebih keras, bahkan mungkin sampai malam. Itu tandanya Allahu meminta kita untuk lebih semangat lagi. Lagian untuk menjadi seorang putri sholihah dan membanggakan, tidak harus melulu dapat rangking satu, kan, nak? Yang penting akhlaknya juga harus istimewa dan juara, agar disayang Allah dan semua penduduk bumi, okay?!

Nah, percakapan di atas menunjukkan sebuah motivasi untuk selalu berpikir positif, agar anak tidak mudah frustrasi, putus asa dan menilai segala sesuatu yang berharga hanya dalam wujud material. ada hal yang lebih penting yaitu keagungan akhlak. Kriteria akhlak yang agung secara gamlang dijelaskan dalam agama. 

Aplikasi Psikologi Agama dalam Proses Belajar Mengajar


Aplikasi psikologi agama dalam proses belajar mengajar berkaitan erat dengan teori kepribadian Sigmund Freud, teori yang dapat diaplikasikan dalam bimbingan, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan dasar.

Seorang psikolog ternama dunia Mortensen melengkapinya dengan merumuskan tiga prinsip dasar yang harus dipegang oleh para pendidik agar bimbingan yang diberikan kepada para siswanya prosesnya dapat berjalan  dengan efektif. Tiga  prinsip bimbingan konseling yang digagas oleh Mortensen dalam proses belajar mengajar diantaranya yaitu:


Memahami Setiap Kebutuhan Individu Siswa


Konseling dan proses belajar mengajar bisa efektif jika pendidik dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. sejatinya setiap anak adalah unik. Mereka memiliki ciri khas masing-masing yang berbeda satu sama lain. Untuk itu pendidik harus jeli dalam masalah ini.


Usaha Preventif dan Pengembangan Individual


Setiap pendidik diharapkan bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dilakukan oleh para anak didiknya melalui usaha penanaman nilai-nilai baik  Dengan adanya usaha preventif (pencegahan) yang dilakukan diharapkan dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dilakukan oleh anak .

Guru terus memantau pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak dijaga agar tidak turun atau minimalnya bisa tetap bertahan dan stabil. 


Membantu Anak untuk Menyempurnakannya


Dalam proses belajar mengajar, guru diharapkan bisa membimbing dan membantu anak untuk terus berkembang. Pendidik diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan anak.  Terus Membimbing dan mengarahkan anak dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan pengetahuannya.


Penerapan Psikologi Agama pada Pendidikan Anak Usia Dini 


Seorang guru PAUD perlu kiranya membekali dirinya dengan Psikologi agama. Dalam dunia Pendidikan Anak Usia Dini, guru perlu melakukan bimbingan dan evaluasi pada enam aspek tingkat pencapaian perkembangan anak atau dikenal dengan STPPA. Kaitannya dengan aplikasi psikologi agama guru harus mengupayakan untuk mengintegrasikan keenam aspek STPPA ini pada nilai-nilai keagamaan. 

metode psikologi agama



Aspek Moral Spiritual


Dalam aspek moral spiritual guru bisa memberikan pembinaan pada anak dengan cara menguatkan kecintaan anak pada Tuhan sang pencipta ketika guru mengenalkan praktik ibadah, misalnya ketika mengajarkan do'a, salat, berwudhu dan lainnya, sisipkan bahwa ananda harus rajin beribadah agar disayang selalu oleh Allah ta'ala sebagai wujud syukur sudah sangat banya sekali menerima macam-macam nikmat.

Aspek Kognitif 


Dalam aspek kognitif, guru bisa menyisipkan nilai-nilai kebaikan dan ke-Tuhanan ketika mengajarkan berhitung, membaca, praktik sains dan pembelajaran pengetahuan lainnya. Misal ketika sedang belajar membaca, guru bisa menyisipkan konsep syukur kepada anak. 

Bersyukur kalau Allahu sudah memberikan mata, telinga, mulut, sehingga kita bisa melihat, mendengar dan berbicara sehingga sang anak bisa belajar membaca dan jadi bisa banyak tahu.

Aspek Psikomotor


Begitupun dalam mengembangkan aspek psikomotor anak. Ketika mengajarkan meronce, mewarnai, menggunting, bermain lempar bola dan lainnya, psikologi agama bisa disisipkan dalam kegiatan ini, yaitu dengan memberitahu pada anak, bahwa alangkah bersyukurnya Allahu telah memberikan kita tangan, dan indra yang lainnya sehingga kita bisa menghasilkan karya dan bermain-main.

Aspek Bahasa


Psikologi agama bisa banyak dimasukkan dalam aspek ini. Segala komunikasi kita dengan anak bisa dikaitkan dengan nilai-nilai agama. Bersyukur telah dilahirkan ke dunia, bersyukur karena punya ayah dan mamah, sambil terus meningkatkan pengayaan kosakata pada anak dan sekaligus memberitahu arti dan maksud darisetiapkata yang kita ajarkan.

Aspek Sosial Emosional


Psikologi agama pada Aspek sosial emosional bisa diterapkan dengan konsep berbagi, sabar, saling menyayangi, saling menghormati kepada sesama, yaitu kepada teman, kepada binatang, kepada orang yang lebih tua, kepada yang lebih muda dan lain sebagainya.

Anak diberi pengertian tentang konsep berbagi mainan dengan teman sebaya atau mengajarkan agar mau bersedekah pada orang yang kurang mampu. Guru bisa mengembangkan nilai-nilai sosial emosional lainnya yang pastinya banyak sekali yang bisa digali.

Aspek Seni


Penerapan psikologi agama pada aspek perkembangan seni bisa dengan cara menyisipkan nilai-nilai kebaikan lewat lagu dan nyanyian yang diajarkan kepada anak. Ketika anak-anak sedang menggambar pemandangan bisa sambil disisipkan nilai agama, misal ketia anak menggambar pemandangan, guru bisa mengadakan diskusi tantang siapa pencipta matahari, gunung, pohon, sungai dan segala yang ada di bumi. 

Penerapan psikologi agama pada pendidikan anak usia dini di atas bisa dikembangkan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak. Guru bisa menerapkannya sekreatif mungkin. Untuk itu mempelajari psikologi sangat bermanfaat sekali bagi para calon guru dan guru.


Kesimpulan


Mempelajari psikologi agama sangat banyak manfaatnya, baik di ranah khusus yaitu di dunia pendidikan maupun di ranah umum, yaitu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian  stimulasi yang intens di semua aspek perkembangan anak diharapkan akan membentuk generasi Qur'ani yang memiliki karakter unggul, Sehingga kelak kematangan jiwa beragama akan terbentuk.

Pengaplikasian psikologi agama harus diterapkan pada semua aspek perkembangan anak, yaitu pada enam aspek standar tingkat pencapaian perkembangan anak (STPPA). Untuk itu mempelajari psikologi agama sangat penting bagi para guru dan calon guru, karena untuk membentuk anak didik menjadi generasi Qur'ani tentunya harus dimulai dari seorang guru yang berkarakter Qur'ani. Semangat mendidik dan salam pengasuhan.

 

Perkembangan Jiwa Keagamaan pada Orang Dewasa dan Usia Lanjut

Selasa, 21 Maret 2023
Tua-tua keladi makin tua makin menjadi. Pernah mendengar istilah ini? Istilah yang sudah sangat lazim di kalangan masyarakat ini biasanya disandarkan pada keadaan yang dianggap agak menyimpang pada kalangan manusia dewasa dan usia lanjut. 


sikap keagamaan pada orang dewasa


Istilah yang dimaksud pada ungkapan tua-tua keladi makin tua makin menjadi, biasanya menggambarkan personalyang makin bertambah umur bukannya berpikir pada hal yang yang akan membawa kebaikan bagi akhiratnya, tapi malah selalu dan masih disibukkan pada hal-hal kesenangan dunia.

Faktor Penyebab Sikap Keagamaan Belum Matang pada Orang Dewasa


Idealnya, manusia yang sudah memasuki masa dewasa bahkan jika sudah lanjut usia, makin larut dalam kehidupan beragama. Dengan berakhirnya masa remaja, maka seyogyanya juga berakhir masa kegoncangan jiwa yang biasanya menyertai masa remaja. Masa dewasa adalah masa kematangan dalam sisi psikologis, ekonomi dan kondisi sosialnya.

Hal ini mengandung arti, orang yang sudah beranjak dewasa semestinya sudah melewati masa kegoncangan dan beralih pada masa tentram dan tenang. Meski pada kenyataannya banyak juga orang yang sudah dewasa bahkan lanjut usia masih dalam keadaan jiwa yang goncang. 

Hal ini menunjukkan bahwa jiwa anak-anaknya masih melekat dalam kedewasaan fisik seseorang. Ada beberapa hal yang memacu, kenapa orang dewasa masih belum matang jiwa keagamaannya, faktor yang menjadi pemicunya antara lain:

  1. Pembiasaan menanamkan perilaku keagamaan pada masa anak-anak di dalam keluarga ada atau tidak.
  2. Apakah sejak masa kanak-kanak dibiasakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan keagamaan, seperti terbiasa diperintah untuk melaksanakan salat, puasa, berbuat baik kepada sesasama, kepada orang tua, dan juga lingkungannya. 
  3. Apakah keluarga memberikan tanggung jawab pada anak untuk melakukan kesadaran untuk melakukan kewajibannya yang berkaitan dengan agama, seperti salat, puasa, berbuat baik, berkata santun dan lain sebagainya. 
  4. Latar belakang keharmonisan dalam rumah tangga juga mempengaruhi kematangan beragama dalam jiwa seseorang.  Kuat lemahnya persoalan yang dihadapi juga menjadi faktor penyebab kematangan jiwa keagamaan.

Apabila faktor di atas tidak pernah dibiasakan pada anak-anak, kemungkinan ketika dewasa seorang individu akan jauh juga dari pemahaman agama, meski peacock merumuskan bahwa kehidupan agama seseorang akanmulai matang di usia lanjut, meski tidak mendapatkan pemahaman dan pembiasaan agama dari sejak kecil.

Ciri-Ciri Sikap Keberagamaan Pada Orang Dewasa


Masyarakat dan lingkungan mengharapkan bahwa orang yang telah dewasa baik secara fisik maupun  tingkat pemikirannya, lebih memiliki sikap keberagamaan yang lebih matang, mampu menjadi contoh bagi orang-orang yang lebih muda di sekitarnya.

pada orang dewasa sikap keberagamaan sudah ajeg, agak sulit untuk membuat goyah sikap keberagamaan pada orang dewasa. Jikapun berubah, pasti telah melewati pemikiran yang matang, terlepas dari salah atau tidak keputusan yang diambil.

Bagaimana ciri-ciri Sikap Keberagamaan pada orang dewasa? Bisa kita lihat pada poin-poin berikut:
  1. Orang yang telah dewasa memiliki sikap keagamaan berdasarkan pada pemikiran yang matang, tidak hanya sekedar mengekor atau mengikuti tanpa paham alasan yang menyertainya.
  2. Apa yang didapatkan dari yang dia pelajari dalam masalah agama berusaha sebisa mungkin untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga akhlaq perilakunya diwarnai oleh kaidah agama.
  3. Terus berusaha meningkatkan pengetahuan agama yang dianutnya, menambah wawasan agar dia tidak salah tafsir terhadap hukum dan aturan dalam agama. Mengutamakan pemikiran positif terhadap kaidah agama yang baru diketahuinya, ketimbang berpikir negatif dan ujung-ujungnya cenderung menyalahkan hukum dan aturan agama.
  4. Jika menjalankan suatu hukum yang didasari oleh hukum agama, maka dilakukan dengan menggali pemahaman terlebih dahulu secara luas, karena yakin apa yang dia lakukan merupakan hal yang harus dia pertanggungjawabkan. Sikap keberagamaan harus diterapkan dalam gaya hidup.
  5. Mengedepankan berpikir kritis positif terhadap ajaran agama yang diterima. Tidak menerima mentah-mentah tanpa meneliti kebenarannya.
  6. Berusaha untuk terus meluaskan wawasan cara berpikir.
  7. Tipe kepribadian dari seseorang biasanya akan nampak pada bagaimana cara seseorang menjalankan agamanya. Seorang penyabar biasanya akan lebih  banyak menerima ajaran-ajaran agama dengan penuh kesabaran, sedangkan kepribadian yang temperamen akan berpengaruh juga pada cara dia memahami agama.
  8. Keterkaitan dengan urusan sosial kemasyarakatan makin terlihat. Sehingga biasanya orang yang telah dewasa banyak terlibat dalam organisasi-organisasi keagamaan.
  9. Terbuka dengan segala perbedaan yang ada, tidak mudah menghukumi dan menganggap salah orang yang selain dari golongannya.

6 Indikator Kondisi Keagamaan yang Matang pada Seseorang 


Gordon William Allport terdiferensiasi dengan baik, dinamis, konsisten, komprehensive, integral, heuristik.

Terdiferensiasi dengan Baik


Terdiferensiasi artinya setiap personal mampu menerima dan menghayati agamanya dengan cara kritis, baik dari sisi psikologi, emosional, sosial dan spiritual. Rasionya lebih dominan dibanding sisi lain dari kejiwaannya. Nalarnya lebih dikedepankan dibanding urusan hati dan perasaan.

Dinamis


Nilai-nilai agama dapat mengontrol kegiatan aktivitas seseorang. Hidupnya dan kehidupannya untuk dirinya sendiri. Segala sesuatu yang dia lakukan dalam permasalahan agama bukan lagi memandang keuntungan untuk dirinya semata, tapi lebih menitikberatkan pada keuntungan agama.

Beda dengan pribadi egosentris, yang memandang semua sudut pandang kehidupan berdasar pada kepentingan dan keuntungan pribadi semata.

Konsisten


Konsisten memiliki arti bahwa perilaku keagamaan pada diri seseorang sudah berjalan secara konsisten atau tetap dan terus menerus. Hal ini menujukkan bahwa adanya keselarasan dalam cara berpikir, hati dan juga keinginan untuk mengamalkan ajaran agama. Tingkah laku seseorang sudah selaras dengan nilai agama yang dianut.


Komprehensif


Agama menjadi filosofi hidupya. Segala sesuatu yang terjadi di atas dunia ini dan yang menimpa seluruh hambanya merupakan ketentuan dari Tuhan Rabbul izzati.

Segala sesuatu di dunia ini adalah berdasarkan pada agama.Semua dikembalikan pada Tuhannya. Muncul penerimaan bahwa keyakinan tidak selamanya kembali pada apa yang dia yakini. Menerima perbedaan-perbedaan yang ada.

Integral


Orang yang sudah matang keagamaannya biasanya berpikir secara integral. Tidak ada perbedaan antara ilmu dan agama. Ilmu dan agama itu adalah sesuatu yang terhubung, sejatinya satu dan tidak terpisah, makanya tidak memerlukan disatukan.

Heuristik


Setiap orang yang agamanya telah matang selalu membutuhkan pengetahuan agama yang lebih tinggi lagi. Orang yang telah dewasa dan matang agamanya maka akan terus membutuhkan siraman rohani dan tidak pernah merasa cukup.

Orang yang matang jiwa keagamaannya percaya bahwa ilmunya Allah sangat luas. Perlu baginya untuk terus meluaskan wawasan dan pandangan serta materi-materi yang terkait dengan agama. Proses perkembangan keagamaan tidak pernah sempurna dan kumplit, tapi akan terus merasa kehausan dan butuh ditambah serta ditingkatkan.

Perkembangan Jiwa Keagamaan pada Orang Dewasa dan Usia Lanjut

Ada beberapa tingkatan pembagian usia dewasa yang mempengaruhi sikap keberagamaan pada setiap individu. Perkembangan jiwa keagamaan pada orang dewasa juga dipengaruhi oleh lingkungan. Genetik tidak terlalu memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan keagamaan seseorang. Intensitas keagamaan seseorang dipengaruhi oleh meningkatnya kematangan umur. 

Pembagian usia dewasa menurut Elizabeth. B. Hurlock membagi usia dewasa pada tiga kelompok, yaitu masa dewasa awal atau masa dewasa dini yang berada pada rentang usia 18 sampai dengan 40 tahun. Masa usia dewasa madya, yaitu ada pada rentang usia 40 tahun sampai dengan 60 tahun, dan terakhir adalah masa usia lanjuta yaitu ada pada rentang usia di atas 60 tahun. 

Mari kita ulas penjelasan Hurlock tentang pembagian masa dewasa melalui penjelasan di bawah ini: 

Masa Dewasa Awal


Masa dewasa awal dimulai dari usia 18 tahun sampai 40 tahun. Di usia ini manusia sedang gencar membentuk keluarga, membangun keluarganya menuju kehidupan yang lebih mapan. Semakin matang jiwa seseorang semakin tinggi intensitas keinginan untuk mendekat pada agama.

Masa dewasa awal dikenal juga sebagai masa pengaturan, masa ketegangan emosi, masa komitmen, masa keteraturan sosial, masa keterasingan. Pada masa ini sikap keberagamaan seseorang sangat dipengaruhi oleh bentukan lingkungan tempat tinggalnya, dibanding faktor gen.

Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Colorado pada sepasang anak kembar, dari kecil hingga dewasa. Perkembangan mereka lebih dominan dari hasil bentukan lingkungan tempat tinggal, dibanding faktor genetik yang diturunkan dari orang tuanya. 

Masa Dewasa Madya


Masa dewasa madya  dimulai dari usia 40-60 tahun. Pada masa ini biasanya sebagian besar orang sudah mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Kedudukan, pangkat, kekayaan, kesejahteraan hidup biasanya diperoleh pada usia dewasa madya.

Ada 9 karakteristik yang menyertai masa dewasa madya, diantaranya:

Masa menakutkan.


Mulai dialnda rasa takut, karena dengan bertambahnya usia diiringi dengan berkurangnya atau kemunduran pada keadaan mental dan fisik. Terjadi ketakutan yang sangat mendalam pada jiwa seseorang karena kurangnya kekuatan fisik dan juga pikiran di usia ini. 

Perasaan takut dibuang dari lingkungan, dibuang oleh anak, karena kebiasaan pada masyarakat modern orang-orang yang sudah tua terbiasa dikirimkan ke panti jompo. Anak tidak  dibiasakan dan ditanamkan pemahaman tentang konsep birrul walidain, atau berbuat baik pada kedua orang tua.

Masa Transisi


Di masa ini biasanya seseorang akan dipandang menjadi manusia dewasa yang patut dituakan, atau dipandang sebagai kasepuhan di lingkungannya. Di usia ini sudah tidak lagi dipandang sebagai orang dewasa muda tapi dewasa tua.

Masa Stress


Stress di masa ini diadakan karena somatik atau kejiwaan karena kondisi fisik dan pikiran yang sudah menurun, jasmani yang sudah menua. Bisa juga disebabkan oleh kebosanan perkawinan, stress dalam masalah ekonomi karena beban ekonomi keluarga yang semakin berat.


Masa Usia Berbahaya 


Usia berbahaya. Umumnya para pria mencari kompensasi terhadap kebosanan hidupnya dengan pasangan. Pria ingin terus merasa muda. Seringkali mencari pelarian terhadap hal-hal yang bisa membuatnya merasa bergairah dan muncul kepercayaan diri. Begitupun dengan kaum wanita, mulai mengalami monospause.

Masa Canggung


Merasa berada pada generasi pemuda yang berontak dan berada pada masa usia yang harus memimpin dan dituakan, karena usia yang sudah mulai lanjut.


Masa Berprestasi


Orang dewasa madya yang berusaha keras di usia mudanya akan mencapai puncak karir kesuksesan di masa ini. Kematangan usia di masa ini, membuat pengalaman berkarir seseorang semakin matang.

Masa Evaluasi


Di masa ini seseorang biasanya mulai berpikir secara mendalam tentang apa yang sudah dia perbuat dalam masa mudanya, dan ada apa dengan hasilnya, apakah ke arah positif atau malah sebaliknya ke arah kemunduran.

Dan pada akhirnya setalah melakukan evaluasi pada masa uisa dewasa madya, orang banyak beralih pada kehidupan yang lebih tenang dan cenderung beralih lebih memikirkan pada permasalahan akhirat.

Masa Sepi


Orang dewasa madya biasanya sudah berpisah dari orang tuanya, maka kejenuhan biasanya menghinggapi orang-orang pada jenjang usia madya. Jenjang usia matang yang sudah mulai merasa ditinggalkan, baik oleh anak-anaknya yang sudah memiliki rumah tangga sendiri atau juga oleh orang tuanya yang sudah meninggalkan dirinya.

Masa Jenuh


Semua orang sedang mengalami kejenuhan di masa ini. Baik dengan pekerjaannya maupun hal yang biasa dia lakukan sehari-hari.

Pada umumnya pada masa dewasa madya kesadaran beragama makin terus meningkat, karena banyak faktor, diantaraya karena banyaknya waktu luang, jadi waktu yang tersedia dijadikan sebagai ajang berkumpul untuk mencari ilmu dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang dalam, demi menambah pengetahuan tentang agama. Pada usia ini gejolak kehidupan seksual pun sudah mulai menurun.

Alasan lainnya adalah, umur yang mendekati kematian menjadikan orang di usia dewasa lebih memikirkan pada kepentingan ukhrowi dibanding kepentingan duniawi. Biasanya kepercayaan yang ditanamkan pada kaidah agama bahwa kehidupan hakiki adalah kehidupan akhirat.

Untuk itu individu di usia ini semakin bertekad untuk mengumpulkan bekal yang akan dibawa untuk persiapan kehidupan setelah kematian alias kehidupan yang kekal abadi.

Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Usia Lanjut


Menurut para ahli psikolog, usia lanjut terbagi menjadi dua, yaitu usia lanjut dini dengan rentang usia di kisaran antara usia 60 sampai 70 tahun dan usia lanjut usia 70 tahun ke atas, dan memiliki karakteristik tersendiri.

Pada usia lanjut terjadi perubahan psikis dan fisik. Penambahan usia pun berpengaruh pada penyesuaian diri. Bisa berjalan lebih buruk tetapi bisa juga lebih baik. Biasanya penyesuaian diri di usia ini bisa berjalan buruk jika pada perjalanan kehidupannya di masa muda tidak diisi dengan hal-hal positif yang bisa menguatkan pemahaman serta pengamalan agamanya.

Kesadaran agama biasanya dirawat dari sejak muda. Semakin bertambah usia semakin mantap, meski kadang bertentangan. Banyak faktor yang menjadi pemicunya, salah satu diantaranya, keragaman agama waktu kecil dan bagaimana penerapannya dilakukan di masyarakat.

Pergaulan juga sangat mempengaruhi, untuk itu pilihlah lingkungan dan teman yang baik, agar bisa memberikan dampai positif bagi perkembangan keagamaan kita dari sejak dini, karena hal ini memberikan dampak yang signifikann pada perkembangan keagamaan di usia lanjut, karena manusia merupakan makhluk yang butuh terhadap agama.

Diharapkan dengan makin bertambah usia melalui seleksi pergaulan yang kita lakukan sejak muda akan memberikan dampak menguntungkan pada khidupan tua kita, sehingga kita akan tumbuh menjadi manusia yang semakin tua semakin berguna bagaikan kelapa, makin tua makin banyak memberikan dampak dan manfaat.

Jangan sampai kita tumbuh sebagai orang tua yang memiliki sifat makin tua makin manjadi, atau tua-tua keladi.  Untuk itu Jaga agama kita dari sejak muda, agar perkembangan jiwa keagamaan kita ketika dewasa sampai usia lanjut bisa berjalan sesuai dengan norma agama dan kita menjadi orang yang beruntung serta bahagia. Aamiin.




Referensi


Jalaluddin. PsikologiAgama (Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi). Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012
Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 2015.
Psikologi Belajar PAUD. Suyadi. Yogjakarta: Pedagogia, 2010.
Suharjo. Pengantar Ilmu Jiwa Agama. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012.


5 Istilah dan Konsep Manusia dalam Al-Quran

Jumat, 17 Februari 2023

Kedudukan manusia dalam Islam begitu mulia, bahkan manusia diberikan amanat yang teramat besar serta berat yaitu sebagai khalifatu fi al-ardi, sejak manusia mengikrarkan syahadat dalam hidupnya. Konsep manusia dalam Al-Qur'an menggambarkan manusia dalam beberapa Versi.


konsep manusia dalam alquran



Konsep manusia dalam al-quran yang disiapkan oleh Allah ta'ala, menyempurnakan status manusia dan juga perannya di atas muka bumi. Tugas dan peran manusia ini Allah ta'ala siapkan, agar manusia mampu berperan aktif menjalankan tugas yang diembannya demi memakmurkan bumi. Apa saja hakikat manusia yang dijelaskan dalam Al-Quran? Akan saya coba paparkan.


5 Konsep Manusia dalam Al-Quran


Allah ta'ala menggambarkan serta memposisikan manusia dalam beberapa perspektif. Saking mulianya posisi manusia, Allah menempatkan manusia dalam derajat yang tinggi. Salah satunya adalah Allah mempercayakan manusia menjadi khalifatu fi al-ardi.


konsep manusia dalam alquran


5 konsep posisi manusia dibumi disusun secara sempurna oleh Allah ta'ala, hakikatnya agar kehidupan di bumi berjalan dengan seimbang. Lima istilah manusia yang telah disematkan Allah ta'ala sekaligus sebagai amanah tugas di dalam Al-Quran, diantaranya, yaitu:


1. Manusia sebagai Bani Adam. 


Istilah ini memiliki arti bahwa manusia merupakan keturunan dari Nabi Adam 'alaihi salam. Seluruh manusia yang berkembang dan tersebar di atas muka bumi merupakan anak cucu Nabi Adam alaihi salam dan Ibu Hawa. 


Pemaknaan istilah Manusia sebagai Bani Adam oleh Allah azza wa jalla isyaratkan dalam Al-Quran surat al-Isra (17) ayat 70. yang berbunyi:


konsep manusia dalam al quran

Surat al-Isra ayat 70 tersebut di atas menggambarkan bahwa Manusia merupakan anak cucu keturunan Nabi Adam yang disebar oleh Allah ta'ala di darat dan di laut, yang telah disiapkan rezekinya dan juga dilebihkan derajatnya di banding makhluk Allah lainnya. 


Pernyataan Allah ta'ala dalam Al-Quran surat al-Isra ini menunjukkan bahwa betapa sempurnanya Allah menciptakan manusia dan melebihkannya dibanding makhluk lain.


Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Jalalain bahwasannya Allah memuliakan manusia dan membekalinya dengan pengetahuan, akal dan bentuk yang paling baik. Setelah wafat jenazahnya pun dianggap suci. Allah memfasilitasi manusia di daratan dengan menaiki kendaraan dan di lautan dengan menggunakan perahu. Allah melebihkan manusia di atas makhlukNya yang lain seperti hewan ternak dan hewan liar.


2. Manusia sebagai Al-Insan


Kenapa manusia disebut al-Insan dalam Al-Quran? Penyebutan manusia dengan istilah al-Insan mengisyaratkan, bahwa manusia adalah makhluk yang dipandang dari sisi Fisik dan psikis atau jasad dan ruh. 


Dalam artian manusia memiliki jasad atau fisik. Allah yag menciptakan manusia dalam kondisi yang paling baik, dengan seindah-indahnya bentuk. Selain jasad atau fisik, manusia juga dibekali ruh, diletakkan dalam jasadnya untuk melengkapi jasad yang sudah indah menjadi lebih sempurna dan bernyawa.


Allah ta'ala menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, dibandingkan dengan makhluk yang lain. Jadi dominasi al-Insan adalah dari sisi keelokan jasmaniahnya. 


Sedangkan psikis merupakan tambahan dan pelengkap agar manusia menjadi bernyawa, selain itu  keindahan jasmani dilengkapi dengan cerminan jiwa yang cantik.


kenapa manusia disebut al insan


Imam Jalaluddi al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti juga menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya, baik bentuk maupun penampilannya dalam keadaan yang sangat baik.

Kata al-insan juga mengandung arti bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Perhatikan juga Al-Quran surat al-Alaq, kata al-Insan diulang sebanyak tiga kali. 


Kata pertama 

Menengok asal manusia dari kejadian dan asal mulanya. Manusia berasal dari segumpal darah. 


Kata kedua 

Konsep manusia di dalam Islam sesuai dengan ungkapan dalam surat al-Alaq ini menunjukkan bahwa manusia itu memiliki kekhususan dikaruniai akal untuk berpikir dan dikaruniai ilmu.


Kata ketiga 

Istilah al-Insan dalam Al-Quran surat al-Alaq memiliki makna bahwa hakikat manusia pada dasarnya adalah suka menganiaya dirinya sendiri. Allah ta'ala memperingati manusia yang memiliki sifat menganiyaya diri sendiri maksudnya adalah, manusia ketika mendapatkan kesuksesan kadang suka lupa diri dan bersikap angkuh dan melupakan hakikatnya sebagai makhluk dari Rabb yang maha agung.


3. Manusia sebagai Al-Insu


Manusia memiliki sebutan Insun atau al-Insu dalam Al-Quran. Insun terdiri dari tiga huruf yaitu alif, nun dan sin, beda halnya dengan insan yang terdiri dari lima huruf yaitu alif, nun, sin, alif dan nun. Al-insu mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk spiritual.


Makhluk spiritual memiliki arti bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan agama. Pararel dengan ayat yang mengisyaratkannya. Yaitu bahwasannya allah menciptakan manusia agar mereka beribadah kepada Allah, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran surat adz-Dzariyat ayat 56.


hakikat manusia dalam islam

dalam Al-Quran surat  adz-Dzariyat tersebut Allah sendiri yang berkata, bahwa tidaklah manusia itu diciptakan melainkan diberikan tugas untuk beribadah kepada Allah ta'ala saja. Tugas utama manusia adalah beribadah dan mengabdikan dirinya pada allah azza wa jalla.


Dalam tafsir Jalalain diterangkan ayat ini tidak bertentangan  bahwasannya orang-orang kafir tidak menyembah-Nya. Ayat ini menurut Imam Jalalain sesuai dengan pernyataan bahwasannya "Aku runcingkan pena ini supaya aku dapat menulis dengannya.' Namun terkadang pada kenyataannya pena tersebut tidakdigunakan.


4. Manusia sebagai An-Nas


Allah jalla wa 'ala menamai manusia sebagai an-Nas, bertujuan agar manusia bisa memposisikan dirinya dalam lingkungan kehidupan sosialnya. Manusia sebagai makhluk sosial diisyaratkan dalam Al-Quran surat al-Hujurat ayat 13.


hakikat manusia dalam alquran

Dari ayat di atas Allah berfirman bahwasannya telah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan 


5. Manusia sebagai Basyarun


Penamaan basyarun yang disandang oleh manusia mengisyaratkan bahwa manusia sebagai makhluk biologis. Sebagaimana allah mengisyaratkan Rasulullah salallahu 'alaihi wa salam sebagai manusia biasa yang sama seperti manusia pada umumnya. 


Manusia pada umumnya yang dimaksud adalah, secara keumuman manusia membutuhkan makan, minum, tidur, bernafas, bertumbuh, berkembang dan sifat kemanusiaan lainnya.


manusia sebagai albasyar



Kesimpulan tentang Hakikat Manusia dalam Al-Quran


Dari ayat-ayat di atas bisa didapatkan benang merah bahwasannya Manusia itu makhluk yang diciptakan Allah ta'aladengan beberapa kriteria sebagai berikut:


1. Allah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya.
2. Al-Quran menceritakan penciptaan manusia secara detail mulai dari penciptaan Adam alaihi salam hingga generasi manusia setelahnya yang terlahir dari rahim seorang ibu.
3. Manusia diciptakan dari materi tanah dan air  dan selanjutnya ditiupkan ruh ke dalam raganya oleh Allah hayyul qoyyum.
4. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. setiap perbuatan yang dikerjakan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya kelak oleh Allah jala wa 'ala.
5. Manusia memiliki potensi ketaatan dan kefasikan dan juga dibekali dengan panca indera
6. Manusia adalah makhluk sosial.
7. Manusia diberikan kesempatan untuk belajar dan mengajar.
8. Manusia diberi kesempatan untuk memilih. Dia bisa memilih hal yang baik atau buruk sebagai jalan hidupnya. Untuk itu manusia adalah makhluk yang bisa diarahkan dan dididik.
9. Amanat terbesar yang diemban manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifatu fi al-ardi.


Demikian penjelasan tentang konsep manusia dalam Al-quran. Semoga kita bisa selalu menjadi hambanya yang amanah dan selalu memenuhi perintahnya. Menjadi hamba yang sholih dan sholihah, menjalani peran yang telah ditetapkan.

5 istilah manusia yang telah ditetapkan oleh Allah azza wa jalla adalah tugas dan hakikat manusia yang harus dijalani. Semoga kita semua bisa menjadi manusia fii ahsani takwim, kaffah menjalani titahNya, dan manusia yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.  Aamiin.




Referensi:

Syafri, Ulil Amri. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran. Jakarta: Raja Grasindo Persada, 2014.

Al-mahalli, Jalaluddin dan Jalaluddin as-suyuti. Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2016.

Abdullah, Dudung. Konsep Manusia dalam Al-Quran (Telaah Kritis tentang Makna dan Eksistensi). Jurnal Aldaulah, Vol 6, No 2, 2017.

Priatna, Dedi dan Teti Minarsih. Konsep Manusia Ahsani Takwim dan Refleksinya terhadap Pendidikan Islam. UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.



Ilmu syahadat

Selasa, 01 November 2022

Dalam sebuah majelis kajian, seorang ustadz bertanya kepada para Mad'u (muridnya). Sudahkan kalian bersyahadat? Pahamkah kalian tentang ilmu syahadat? 


Rata-rata muridnya menjawab secara serempak, "Sudah Ustaaadz!" 


Sang Ustadz pun menimpali "Sejak kapan?"


Muridnya kembali menjawab, "Setiap hari Ustadz, karena kami, kan, seorang Muslim, Ustadz, otomatis dalam setiap solat, do'a keseharian dan lainnya kami selalu membaca syahadat!"


"Yakin, apa yang kalian pahami itu sudah benar?Yakin kalian sudah bersyahadat untuk menyatakan keislaman?" Sang Ustadz menimpali.


Rata-rata yang hadir agak tertegun dengan pertanyaan dari Ustadz tersebut yang seolah meragukan, ke-Islaman mereka. Namun dalam hati pun bergumam, o, iya, sudah belum, ya, syahadat untuk menyatakan ke-Islaman. Hihihi,...ternyata jadi meragukan tentang syahadat ke-Islaman, sudah dilakukan belum ya. 


Langsung saja saat itu juga langsung  melakukan syahadat dan berniat menyatakan ke-Islaman. Nggak ada ruginya, toh. Kalau syahadat kita yang lalu-lalu sudah termasuk dalam syahadat ke-Islaman, syukur alhamdulillah, dan jika belum, buru-buru, deh, mengucapkan syahadat, untuk menyatakan ke-Islaman. Sesungguhnya Allah maha adil dalam melakukan penilaian. So, ... bagaimana dengan Sahabat Insnita?


Teringat akan percakapan ini, saya jadi ingin sekali menuliskan tentang ilmu syahadat, apa pengertiannya dan maknanya, dan apa manfaat dari syahadat itu sendiri. Tujuan utamanya adalah sebagai pengingat diri.


ilmu syahadat



Apa Arti dari Dua Kalimat Syahadat


Bila kita tilik dari sisi bahasa atau etimologi syahadat berasal dari Bahasa Arab syahida, yashadu, syahadatan.


Sedangkan secara terminologi syahadat memiliki arti pengakuan terhadap Allah ta'ala sebagai Tuhan dan muhammad sebagai utusan Tuhan.


Dua kalimat syahadat merupakan kunci bagi umat Islam untuk menuju keselamatan di dunia dan akhirat. Melalui kalimat kunci syahadat manusia mendapat bimbungan tentang kehidupan di dunia dan mendapatkan kunci untuk memasuki jannah atau surganya Allah ta'ala.


Syahadat merupakan langkah awal bagi semua orang yang ingin memiliki keyakinan Islam dan dinobatkan sebagai Muslim. Untuk itu setiap Muslim dan yang ingin memeluk Islam harus mencari dan mempelajari ilmu tentang syahadat.


Lafadz Dua Kalimat Syahadat dan Ilmu Syahadat


Bagi seorang Muslim kalimat dua syahadat tidaklah asing, karena dalam kalimat dua syahadat ini biasa diucapkan di setiap rakaat solat. Solat wajib ada 5 waktu dan berjumlah 17 rakaat, dan syahadat diucapkan di setiap duduk tasyahud baik awal maupun akhir.


Lafadz Dua Kalimat Syahadat


apa arti dari dua kalimat syahadat


Pembagian Syahadat


Disebut dua kalimat syahadat atau syahadatain, karena mengandung dua kalimat yang memiliki dua makna. 


Syahadat Tauhid


Syahadat tauhid merupakan kalimat pertama pada syahadat, yaitu asyhadu anla ilaaha illa Allahu yang artinya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kalimat ini disebut juga sebagai syahadat Tauhid, ada juga yang menyebutnya sebagai syahadat langit.


Syahadat tauhid merupakan arkanul Islam, menyatakan persaksian bahwa Tuhan satu-satunya yang patut disembah adalah Allah ta'ala. Syahadat ini mengakui satu-satunya eksistensi Tuhan adalah Allah ta'ala semata.


Syahadat Rasul


Syahadat Rasul merupakan kalimat kedua dari kalimat syahadat yang berbunyi asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu yang artinya aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


Syahadat Rasul mengandung makna persaksian, bahwa Muhammada sallahu 'alaihi wa salam adalh Rasul utusan terakhir, yang patut dijadikan sumber ilmu oleh seorang Muslim.


Syahadat Rasul ini juga memiliki makna bahwa bersaksi tentang kitab Allahu yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad merupakan kitab terakhir sebagai kitab pengganti sebelumnya, yaitu taurat, zabur, dan injil.


Rukun  Kalimat Syahadat LA Ilaha Illa Allahu


syahadat itu ada berapa

Kalimat syahadat Tauhid memiliki dua rukun, yaitu rukun an-Nafyu dan al-Itsbat.


An-Nahyu (Peniadaan)


An-Nahyu atau peniadaan adalah makna dari laa ilaha yaitu menolak segala bentuk syirik dan menyekutukan Allah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat al-Baqarah:256, yang artinya dan diantara  manusia  ada orang yang menyembah selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat besar kecintaannya terhadap Allah azza wa jalla.


Al-Itsbat (Penetapan)


Al-Itsbat atau penetapan adalah makna dari kata illa Allahu, yang menyatakan bahwa Tuhan yang patut disembah hanyalah Allahu semata sebagaimana firman Allahu ta'ala dalam Al-Quran surat az-Zukruf (43): 26-27, yang memiliki makna bahwa nenek moyang Nabi Ibrahim tidak pernah mau mengikuti kesalahan para kaum yang sudah menyembah berhala, dan berusaha untuk melepaskan diri dari berhala sebagai sembahan.  


Rukun Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu


Syahadat Rasul memiliki dua makna yaitu Muhammad dan Rasul Allah. Muhammad mengandung makna bahwa beliau adalah sesosok manusia yang diciptakan dari bahan yang sama seperti manusia lainnya serta memiliki hak dan kewajiban yang sama.


Rasulullah mengandung makna utusan Allahu yang mengemban amanat dari Allahu untuk berdakwah tentang agamanya sebagai basyir dan nadzir. Persaksian untuk Rasulullah melalui dua sifat ini meniadakan ifrath (berlebihan) dan Tafrith (meremehkan) 


Syarat Syahadat Laa ilaha illa Allahu


Syarat Syahadat Laa ilaha Illa Allahu terbagi menjadi dua, yaitu


  1. Ilmu yang menghilangkan segala kebodohan
  2. Yakin yang menghilangkan segala keraguan
  3. Qabul atau penerimaan yang menghilangkan Radd (Penolakan)
  4. Inqiyad atau kepatuhan yang menghilangkan segala keengganan atau tark
  5. Shidiq atau kejujuran yang menafikkan dusta atau kadzab
  6. Mahabbah atau kecintaan yang tidak diiring oleh kebencian atau baghda'
  7. Ikhlas yang menghilangkan segala syirik


Syarat Syahadat Muhammadan Abduhu wa rasuluhu


  1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya dalam hati
  2. Mengucapkan dan mengikrarkan syahadat dengan lisan
  3. Mengamalkan tuntunannya dan menghilangkan larangan
  4. Mencintai Rasulullah melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri
  5. Membenarkan hal ghaib yang disampaikan baik yang sudah terjadi maupun yang belum
  6. Mendahulukan sabda dan perkataan Rasulullah dibanding dengan kata-kata selain dari Rasul.


Hal yang Membatalkan Dua Kalimat Syahadat


  1. Syirik dalam beribadah kepada Allah ta'ala
  2. Orang yang menjadikan perantara-perantara yang lain dalam menghubungkan dirinya dengan Allah
  3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang yang musyrik
  4. Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk yang lebih semprna dari pada petunjuk yang sudah diberikan oleh Nabi Muhammad.
  5. Orang yang membenci ajaran Rasulullah sallallahu 'alaihi wa salam
  6. orang yang mengolok-ngolok kepada hal yang merupakan ajaran yang disampikan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
  7. Melakukan kegiatan syihir
  8. Mendukung kaum musyrikin
  9. Keluar dari syariat Nabi Muhammad sallahu 'alaihi wa salam
  10. Berpaling dari agama Allah ta'ala.


Summary


Syahadatain merupakan persaksian seorang muslim terhadap persaksian secara tauhid dan juga persaksian terhadap rasul. Syahadat tauhid berlafadz asyhadu anla ilaaha illa Allahu dan syahadat rasul berlafadz asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu.


Demikianlah pembahasan tentang ilmu syahadat yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai referensi, semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman semu dan bagi saya pribadi khususnya.

Salah Kaprah tentang Konsep Dalil Hidup Sederhana

Rabu, 24 Agustus 2022

 Assalamualaikum Sains


Biar kecekek asal keren. Pernah dengar istilah ini? Remaja angkatan 90 an, pasti nggak asing dengan istilah ini. Lontaran guyonan ini sebenarnya lebih ditujukan pada gaya berbusana jenis kerah tinggi yang saat itu memang booming di zamannya. 


dalil hidup sederhana


Namun sesungguhnya kalimat ini bisa mengandung makna ganda. Biar kecekek asal keren bisa diartikan juga sebagai gaya hidup yang terlalu memaksakan, besar pasak dari pada tiang. Sayangnya gaya hidup seperti ini banyak menjangkit dan sering kali menjadi gaya hidup rata-rata manusia. 


Menilik konsep dalil hidup sederhana dalam Islam yang akan saya jabarkan dalam tulisan ini. Sekaligus juga menguatkan hati saya untuk benar-benar memahami, bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang sebuah gaya hidup.


Filosofi Hidup Biar Kecekek Asal Keren


Memperhatikan penampilan agar terlihat bagus di mata orang itu adalah sebuah keutamaan karena allah itu indah dan mencintai keindahan. Namun lebih mengedepankan penampilan yang serba wah, menggunakan baju bermerk keluaran import. Berani berpenampilan keren, dengan memilki Handphone jenis keluar baru, atau kendaraan keluaran baru, gaya hidup dan keinginan yang serba wah dan tinggi, namun dengan cara memaksakan diri, dan tidak sesuai dengan pendapatan yang diperolehnya, ini yang dilarang.


Islam yang hanif, telah mengatur seluruh kaidah hidup yang harus dijalani oleh manusia agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pola hidup seperti ini yang dilarang oleh Islam. Memaksakan diri dengan kapasitas yang sebenarnya belum dalam tahap bisa memenuhi selera dan keinginan. Menjalankan gaya hidup seperti slogan "biar kecekek asal keren" berdampak tidak baik bagi kesehatan fisik maupun psikis.


Islam mengarahkan kita melalui bimbingan Al-Quran, al-hadits serta nasihat para ulama untuk tetap berperilaku hidup sederhana. Nah, lalu apakah Islam melarang kita untuk memiliki mobil bagus, rumah bagus dan segala fasilitas dunia yang bagus-bagus? Yuk simak sampai habis. 


Tulisan ini saya intisarikan dari kajian dari Ustadz. DR. Andi Rahman, MA,  yang disampaikan pada kajian rutin di chanel masjid raya pondok indah.


Meluruskan Salah Kaprah tentang Konsep Dalil Hidup Sederhana


Ustad Andi Rahman membuka tausiyah tentang konsep kederhanaan dalam hidup dengan menceritakan pengalaman hidupnya selama menjadi santri. Ketika beliau menjadi santri dahulu, yang tertanam dalam otaknya adalah bahwa orang Islam tidak boleh menjadi orang kaya.


Doktrin yang beliau pahami, pada akhirnya menyadarkan beliau bahwa statemen tersebut adalah sebuah kesalahan. pada saat itu di kalangan santri memiliki keyakinan bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadi orang kaya karena merupakan aib. 


Pernyataan tersebut di atas salah kaprah dalam memahani. Seorang muslim harus hidup sederhana, tidak boleh berlebih-lebihan bukan berarti tidak boleh menjadi orang kaya. Hal ini berdasarkan 4 premis yang diambil dari aturan dalam Al-Quran dan al-Hadits. 4 premis tersebut diantaranya adalah:


1. Al-Quran memerintahkan kita ummat Muslim untuk bersedekah.


Dari sini kita bisa mendapatkan kesimpulan, bahwa infaq, zakat, shodaqah hanya bisa dilakukan bagi orang-orang yang kuat perekonomiannya. Dalam arti bisa dilakukan oleh orang-orang yang kaya, walaupun untuk bersedekah tidak usah menunggu kaya.


Contoh  hidup sederhana yang diajarkan oleh Rasulullah sallahu 'alaihi wa salam, bukan berarti Rasulullah adalah Muslim yang lemah. Rasulullah adalah pedagang yang sukses, bahkan ketika meminang ummina Khadijah beliau memberikan 25 ekor unta sebagai mahar yang diberikan kepada calon istrinya tersebut. 


Begitu pun dengan Ummina Khadijah, beliau juga seorang shahabiyah yang kaya raya, dengan memiliki jumlah kekayaan yang amat banyak, sejarah mencatat inidan mengenal ummina Khadijah sebagai seorang saudagar wanita terkaya di zamannya. 


Namun dengan keadaannya yang serba berkecukupan Rasulullah tetap berperilaku hidup sederhana dalam hidupnya. Hidup sederhana yang dijalankan Nabi Muhammad ini lah yang patut kita contoh. Hidup dalam serba kecukupan namun tetap sederhana.


2. Harta yang Didapatkan digunakan untuk Kebutuhan Bukan Keinginan


Prioritas hidup seorang muslim diutamakan memilih konsep menggunakan hartanya sesuai dengan kebutuhannya. Jika dia memang butuh mobil bagus, rumah bagus namun sudah sesuai dengan pendapatan yang dia terima, tanpa menyiksa dengancara hutang sana-sini, tentunya ini diperbolehkan.


Prinsip hidup seorang muslim harus berdasarkan konsep menyesuaikan pendapatan dengan kebutuhan, bukan keinginan. Memaksakan diri tidak dianjurkan dalam Islam. Life style tidak melulu harus menyesuaikan, karena bisa jadi sewaktu-waktu manusia keadaannya bisa berubah. 


Jika seorang insan bisa memepertahankan hidup sederhana meski dalam keadaan kaya raya dan berlimpah seperti hidup sederhana ala Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa salam, maka ketika ada suatu hal yang datang menimpa di luar batas nalar dan tidak diinginkan, maka kita tetap bisa hidup dengan nyaman, karena hati dan diri kita sudah terbiasa dengan pola hidup yang sederhana.


Seperti yang telah dicontohkan dalam kisah Nabi Yusuf 'alaihi salam dikenal sebagai seorang ekonom handal, raja yang pandai mengatur keuangan negara. Nabi Yusuf 'alaihi salam memiliki prinsip hidup yang tidak berlebihan, meski sedang mendapatkan hasil panen atau rezeki yang berlimpah  berlebihan.


contoh hidup sederhana

3. Manusia secara kodrat Memiliki keterbatasan


Secara kodrati manusia memiliki rasa ketakitan tentang takut miskin, kesedihan, kekhawatiran bahkan juga kebahagiaan terkadang menjadi sebuah ketakutan. Takut kebahagiaan itu segera hilang berganti dengan kebahagiaan.


Untuk itu pola hidup sederhana dengan mengatur pendapatan yang dimiliki merupakan keharusan agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan, sudah bisa mengantisipasi dengan memiliki simpanan. Ustadz Andi menjelaskan, agar tidak selalu mengikuti gaya hidup.


Manusia inti kebutuhannya adalah pada satu piring makanan demi menegakkan tulang-tulang tubuh, jadi lebih baik agar bisa saving untuk mengamankan hidup sampai hari tua. Apa pun jenis makanan dalam satu piring, pasti sangat mengenyangkan, yang membedakan adalah harga yang dibutuhkan untuk sepiring nasi tersebut bisa berbeda-beda. 


Untuk itu tetap mengedepankan pola hidup sederhana agar bisa bahagia sampai akhir tua. Cukuplah hidup ini hanya sekedar mencukupi kebutuhan, buka terus-menerus memenuhi keinginan, yang sebenarnya kadang tidak berujung, jika selalu dituruti.


Duh jleb banget, nih buat saya, yang kadang-kadang juga masih menuruti keinginan, meski sebenarnya enggak butuh-butuh amat, tapi ya pinginnya malah beli terus, hehe.  Harus lebih giat lagi, nih, usaha untuk menjalankan hidup sederhana yang dalam Islam disebut juga Qana'ah atau merasa cukup.


4. Kesederhanaan memberikan Kebahagiaan untuk Jangka Waktu Lama


Keuntungan hidup sederhana akan memberikan kebahagiaan pada pelakunya. Berkaca pada kisah Nabi Yusuf yang kala itu diminta untuk menafsirkan sebuah mimpi tentang seekor sapi gemuk dan 7 ekor sapi yang kurus.


Cerita ini mengandung hikmah manfaat tentang keuntungan hidup sederhana. pada saat itu Nabi Yusuf menafsirkannya dengan akan datang satu saat panen yang berlimpah namun setelah itu tertutup dengan paceklik selama 7 tahun berturut-turut.


Nabi yusuf menasihati kita agar bisa menyimpan hasil panen  yang berlimpah untuk persiapan masa paceklik yang akan tiba sampai tujuh tahun ke depannya. Konsep ini direalisasikan dalam real kehidupan kita saat ini. Salah satu menerapkan pola hidup sederhana yaitu dengan cara harus rajin menabung agar kita bisa berbahagia dalam jangka waktu lama. 


Ketika masuk masa tua, kita telah memiliki bekal yang cukup sebagai simpanan. Namun jangan lupa untuk tetap mengedepankan shadaqahnya. mengedepankan pola hidup sederhana banyak keuntungannya.


manfaat hidup sederhana dalam islam


Berdasarkan premis yang telah dijelaskan di atas bisa disimpulkan bahwa, setiap Insan Muslim harus kuat dan kaya, agar bisa bershodaqah, infak, menjalankan keutamaan ibadah di bulan dzulhijjah yaitu berhaji dan amal-amal sholih lainnya. Al-quran banyak mengangkat tema agar manusia rajin berderma. Jika kita seorang Muslim yang kuat secara finansial, maka kita bisa menjalankan perintah yang disarankan dalam Al-Quran dan al-Hadits.


Dalil Hidup Sederhana dan keuntungannya


Lanjut membuka wawasan tentang dalil Al-Quran tentang hidup sederhana dan hemat, agar bisa  dijadikan pedoman dan semangat dalam menjalankan pola hidup sederhana yang sudah dicontohkan Nabi dan Rasulullah Muhammad shallahu 'alaihi wa salam.


dalil hidup sederhana

Dalil di atas memperkuat kita untuk mengikuti anjuran Rasulullah tentang keuntungan hidup sederhana. Hidup sederhana dalam Islam lebih menekankan kepada menafkahkan harta yang kita peroleh untuk sesuatu yang maslahat di jalan Allah, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran surat Saba:9.


Manfaat hidup sederhana pun dipertegas dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 272 yaitu apapun yang kita nafkahkan untuk kepentinagn Islam dan di jalan Allah maka kebaikan serta kebermanfaatannya akan kembali kepada diri kita sendiri.


Begitu juga dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 273, bahwasannya Allah selalu mengetahui sepak terjang hambaNya, begitu juga dengan harta yang digunakan. Allah mengetahui diarahkan kemana harta kita.


Tiga ayat di atas merupakan dalil hidup sederhana yang menegaskan bahwa hidu sederhana lebih kepada menggunakan dan memanfaatkan harta untuk hal-hal yang bermanfaat dan menafkahkannya di jalan Allah. Bukan melarang Muslim untuk menjadi orang kaya. 


Hihi, iya, juga, ya, wong kalo kita mau beli buku butuh uang, pergi ke pengajian saja butuh ongkos, kalo nggak punya ongkos ga bisa pergi menuntut ilmu, dong, ya, walau pun ikut kajiannya by online, kan harus punya pulsa buat streaming juga. Hayulah semangat mengais rezeki. Setelah itu jangan lupa menyisipkan do'a di setiap usaha kita. Muslim harus kuat. Yess...Salam ukhuwah.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger