Psikologi Agama, Ruang Lingkup Serta Manfaatnya di Dunia Pendidikan

Senin, 31 Januari 2022

Materi ini disampaikan pada mata kuliah Ilmu Jiwa Agama di pertemuan pertama  semester VI. Pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Strata Satu di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Latansa Mashira, Lebak, Banten. 





Pendahuluan 


Manusia dilahirkan ke dunia ini dengan membawa fitrah, sebagai bekal dirinya untuk menjalani kehidupan. Fitrah memiliki banyak makna yang berbeda, tergantung sisi pandang yang menyertainya. Namun secara global fitrah diartikan sebagai potensi yang dibawa dari sejak lahir. Potensi sendiri berasal dari Bahasa latin Potentia yang artinya kemampuan. Dalam kamus ensiklopedi diartikan sebagai kemampuan yang masih dapat berkembang.

Fitrah yang dibawa oleh manusia bersifat suci. Dengan fitrah itulah manusia mampu mengemban tugasnya sebagai seorang khalifah, menjalankan titah suci dari Tuhan yang maha Esa sebagai penciptanya. Sesuai dengan yang tertera dalam Al-Quran sura ar-Ruum ayat 30:


 

Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk yang beragama. Abdul Aziz menerangkan Manusia menjalankan kehidupannya melalui keyakinan adanya Tuhan yang diperolehnya dari penjabaran dalam kitab suci. Kitab suci  berisi aturan dan kaidah yang perlu dijadikan pegangan dalam kehidupannya sebagai bekal yang menuntunnya untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat.  


Harun Nasution menjabarkan bahwa Agama merupakan ikatan suci yang tanggungjawabnya diperuntukkan pada sesuatu yang memiliki kekuatan luar biasa. Dzat yang ghaib, yang keberadaannya tidak dapat ditangkap oleh panca indera, namun pengaruhnya sangat luar biasa.


Ramayulis menyatakan bahwa manusia yang memiliki pengetahuan agama yang matang maka akan memiliki kepribadian yang matang juga. Koswara menjelaskan bahwa Konsep beragama pada seseorang meliputi seluruh aspek yang ada dalam dirinya yaitu aspek kognitif berupa pengetahuan tentang agama, aspek afektif yaitu berkaitan dengan motivasi  yang timbul dari dalam dirinya untuk beragama serta aspek psikomotor yang berkaitan dengan kemampuan dan kemauan dia dalam melaksanakan aturan dalam agama.


Kesadaran dalam beragama seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, diantaranya:

  1. Faktor internal, yaitu segala sesuatu yang dibawanya dari sejak lahir yaitu berupa fitrah sebagai bekal yang sudah diberikan oleh Allah.
  2. Faktor eksternal, yaitu berasal dari luar dirinya yang mencakup lingkungan rumahnya, Lembaga Pendidikan dan masyarakat.

 

Pembahasan


Makna Psikologi Agama


Istilah psikologi agama mungkin tidak asing bagi Sebagian kita, namun di sini saya akan mendudukkan pengertian secara mendasar dari dua kata ini, apa itu psikologi dan apa itu agama.

Dari beberapa referensi ditemukan beberapa penjelasan yang terkait dengan dua kata ini. Secara etimologi atau pengertian esensial perkatanya, Psikologi biasa disebut juga dengan Ilmu Jiwa. Psiko berarti jiwa dan logos berarti ilmu.

Sedangkan dari sisi terminology atau istilah, psikologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan manusia yang berhubungan dengan lingkungannya.

Ilmu Jiwa / Psikologi adalah cabang ranting dari ilmu filsafat. Ranah keilmuan ini mempelajari tentang gejala kejiwaan secara umum yang melingkupi pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi). Pada dekade akhir, para ahli kejiwaan menambahkan gejala kejiwaan menjadi empat ranah yaitu gejala campuran termasuk di dalamnya intelegensi, kelelahan, maupun sugesti.

Psikologi/ ilmu jiwa Agama yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini merupakan salah satu cabang dari psikologi.



Bahasan Psikologi Agama



Hakikat Agama


Kini kita mendefinisikan makna dari agama. Agama jika ditinjau dari sudut kata atau etimologi, mengandung banyak makna. Menurut Harun Nasution ada beberapa penjabaran yang bisa diungkap dari makna agama, diantaranya yaitu:

1. al-Din dalam bahassa Semit artinya undang-undang, dalam Bahasa arab menguasai.

2. Religi dalam Bahasa latin artinya mengumpulkan dan membaca.

3. Agama terdiri dari dua suku kata yaitu “A” mengandung arti tidak dan gam mengandung arti pergi, jika keduanya dilebur mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau bisa juga diartikan menetap dan diwarisi secara turun temurun.

Agama ditinjau dari makna Terminologi. Harun Nasution menjabarkan bahwa Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini bentuknya adalah hal gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera tetapi memiliki andil yang besar terhadap kehidupan manusia. Agama merupakan sistem yang mengajarkan tata cara keimanan , ibadah dan hubungan sosial.

Muhammaddin menguraikan bahwa Asy-syahrastani dalam Al-Milal wa An- Nihal merumuskan pengertian tentang agama yang cenderung pada ketaatan dan wujud penghambaan yang implementasinya pada sebuah pembalasan dan perhitungan ( amal perbuatan di akhirat).

Namun yang perlu kita garis bawahi dan maknai dengan penuh kesadaran bahwa agama adalah hal yang perlu kita Yakini dengan hati dan pikiran serta kaidahnya kita laksanakan dengan Tindakan, sehingga nantinya akan membekas secara positif pada tingkah laku kita sehari-hari.

Hakikat Psikologi Agama


Setelah kita mengupas tentang makna dari psikologi dan agama, dalam point ini kita pecahkan misteri tentang makna psikologi agama. Di sini saya sertakan beberapa pendapat ilmuwan yang mendalami bidang ini. Pengertian psikologi agama menurut para ahli diantaranya adalah:

1. Robert H Thoules: Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan menerapkan psinsip psikologi secara umum.

2. Zakiah Daradjat: Kajian ilmu yang mempelajari kehidupan beragama seseorang dan pengaruhnya terhadap tingkah laku, pemikiran dan sikap hidup. Psikologi agama merupakan kajian empiris yang mempelajari tingkah laku manusia berdasarkan keyakinan yang dianutnya sesuai dengan tahap perkembangan di setiap tingkat usia.

Zakiah Daradjat menerangkan bahwa para ahli dalam menetapkan definisi tentang
ini,  mengiringi apa yang ada dalam ilmu jiwa harus mencakup apa yang ada dalam agama. Untuk itu makna dari psikologi agama sampai saat ini masih terus dikembangkan, karena agama adalah bukan perkara bahasan terhadap hal-hal obyektif. Pengalaman kehidupan beragama pada setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain itu juga makna agama terkadang disusun dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Ruang lingkup Psikologi Agama


Zakiyah Daradjat menuturkan bahwa psikologi agama atau ilmu jiwa agama memiliki ruang lingkup ilmu jiwa yang berbeda dengan ilmu kejiwaan lainnya. Ilmu kejiwaan yang mempelajari tentang seluk beluk manusia baik dipandang dari tingkah lakunya, ataupun mekanisme yang menyertainya. Harus menundukkan kajiannya kepada dua ranah yang berbeda. Kaidah yang ada dalam pola manusia harus tunduk kepada ilmu jiwa dan kepada agama yang keduanya memiliki urgensi yang berbeda. Ruang lingkup psikologi agama diantaranya adalah:


1. Emosi yang keluar tanpa terkontrol, menyertai kehidupan agama seseorang.

2. Pengalaman atau kesan seorang hamba terhadap Tuhannya.

3. Kepercayaan yang tertanam terhadap kehidupan setelah kematian (kehidupan akhirat).

4. Seorang hamba menyadari sikap dan akhlaknya dalam kehidupan yang dia jalani.

5. Dampak adanya ketenangan batin karena penghayatan terhadap ayat-ayat dalam kitab suci.


Cara manusia berpikir, bertingkah laku, berekspresi tidak bisa keluar dari apa yang menjadi keyakinannya. Sesuatu yang menjadi pegangan dan keyakinan, akan mempengaruhi  bentukan bangunan perilaku seseorang.


Menurut Zakiah Daradjat psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness), yaitu kesadaran diri yang dapat dirasakan oleh pikiran dan hati dalam melaksanakan kaidah dalam beragama. Psikologi agama juga membahas tentang pengalaman agama (religious experience), yaitu ketika pikiran dan hati kita telah sadar dalam melaksanakan kaidah beragama, hati dan perasaan kita juga membenarkan apa yang sudah kita amalkan.


Lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran agama serta segala bentuk pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Objek pembahasan psikologi agama adalah gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan. Manusia berpikir, bersikap, bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinan yang dianutnya, karena keyakinan akan berdampak pada pembentukan kepribadian seseorang.


Psikologi agama tidak mengkaji masalah yang abstrak seperti konsep ketuhanan atau hakikat kebenaran surga dan neraka, kebenaran suatu agama atau kitab suci yang menyertainya. Psikologi agama hanya membantu manusia lebih memahami jati diri mereka sesungguhnya dan membantu mereka untuk lebih cinta pada agama yang mereka anut. Menangani berbagai konflik dalam diri seseorang, sehingga mereka lebih taat pada agama yang dianutnya atau malah meninggalkannya, ketika dia merasakan agama yang dianutnya tidak lagi sesuai dengan hati dan pikirannya.


Manfaat Psikologi Agama pada Dunia Pendidikan


Dengan psikologi agama diharapkan setiap manusia mampu memahami hakikat sejati dirinya, untuk apa dia hidup, bagaimana dia menjalani hidup,  kemana akhir dari hidupnya, karena perilaku keagamaan seseorang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Ruang lingkup psikologi yang berkisar pada kajian kesadaran agama dan pengalaman beragama, kiranya memiliki manfaat yang signifikan  terhadap dunia Pendidikan. Manfaat Psikologi Agama dalam dunia Pendidikan, diantaranya yaitu:
  1. Memberikan Pengetahuan Dasar Agama.
  2. Untuk Menjaga Kesusilaan.
  3. Sarana Mengatasi Perustasi.
  4. Memuaskan Rasa Ingin Tahu.
  5. Berfungsi Sebagai Edukatif.
  6. Mengatasi Krisis Spiritual.
  7. Menyelamatkan.
  8. Menanggulangi Materialistik.
  9. Sebagai Ethos.
  10. Menanamkan Cara Berpikir Positif.
  11. Sebagai Motivasi.
  12. Memberikan Kecerdasan Kreatif.
  13. Sarana Mengatasi Ketakutan.


Aplikasi Psikologi Agama dalam Proses Belajar Mengajar


Aplikasi psikologi agama dalam proses belajar mengajar berkaitan erat dengan teori kepribadian Sigmund Freud, teori yang dapat diaplikasikan dalam bimbingan, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan dasar, dengan memegang 3 prinsip bimbingan konseling yang digagas oleh Mortensen agar prosesnya menjadi efektif, yaitu:


  1. Memahami Individu Bimbingan. Konseling bisa efektif jika pendidik dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya.
  2. Preventif dan Pengembangan Individual. Dengan adanya usaha Preventif (pencegahan) diharapkan dapat mencegah penurunan perkembangan pada anak atau setidaknya dapat mempertahankan hal-hal positif yang telah dicapai.
  3. Membantu Individu untuk Menyempurnakannya. Terus Membimbing dan mengarahkan anak dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan pengetahuannya.

Kesimpulan


Psikologi Agama adalah kajian ilmu yang mempelajari kehidupan beragama seseorang dan pengaruhnya terhadap tingkah laku, pemikiran dan sikap hidup. Sedangkan ruang lingkup dari psikologi agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness), yaitu kesadaran diri yang dapat dirasakan oleh pikiran dan hati dalam melaksanakan kaidah dalam beragama. Selain itu juga Psikologi agama membahas tentang pengalaman agama (religious experience), yaitu ketika pikiran dan hati kita telah sadar dalam melaksanakan kaidah beragama, hati dan perasaan kita juga membenarkan apa yang sudah kita amalkan.


Dengan psikologi agama diharapkan setiap manusia mampu memahami hakikat sejati dirinya, untuk apa dia hidup, bagaimana dia menjalani hidup,  kemana akhir dari hidupnya. Have a barakah life. Salam Literasi

 



Referensi:


  1. Ahyadi, Abdul aziz. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: Sinar Baru, 1991
  2. Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2015.
  3. Daradjat, Zakiah. Peranan Agama dalam Keseshatan Mental. Jakarta: Gunung Agung, 1971.
  4. Guntur Cahaya Kesuma, konsep fitrah manusia perspektif pendidikan Islam, Jurnal Pengembangan Masyarakat.
  5. Jalaluddin, Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, Jakarta, Raja Grafindo Persada. 2012.
  6. Koswara, Teori-teori Kepribadian, Bandung: Eresco, 1991.
  7. Muhammaddin. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama. Jurnal Ilmu Agama UIN Raden Fatah. Vol.15, Nomor 1, Tahun 2013.

  8. Nasution, Harun. Islam di Tinjau dari Beberapa Aspeknya. Jakarta: UI Press, 1979.
  9. Pamungkas, Pakhi. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.
  10. Munib, Ahmad. Konsep fitrah dan Implikasinya terhadap Pendidikan. Jurnal Progres  Volume 5, No. 2 Desember, 2017.
  11. Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Semarang: Pustaka rizki putra, 2012.
  12. Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2004.
  13. Yusuf, Samsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

 

 

 

29 komentar on "Psikologi Agama, Ruang Lingkup Serta Manfaatnya di Dunia Pendidikan"
  1. Alhamdulillah, dapat banyak ilmu di pembahasan ini,
    Makasih, mbaa 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika bermanfaat. Sama2 mba, terimakasih sudah mampir:1

      Hapus
  2. Masya Allah, ketika ilmu psikologi dikorelasikan dengan sudut pandang agama, maka jadilah mata air ilmu yang selalu memancarkan wawasan pengetahuan bagi banyak orang, termasuk saya yg membaca tulisan ini dan mendapatkan ilmu gratis tentang seluk beluk psikologi agama. Terima kasih untuk ulasannya mba Nita 😊

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, sama-sama Mba IIn, kita sama-sama belajar, ya mba. terimakasih sudah berkunjung:1

    BalasHapus
  4. Makasih sharingnya mba, jadi nambah ilmu sepenting itu ternyata psikologi agama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, sama-sama kak. trimakasih sudah berkunjung :1

      Hapus
  5. Masyaallah, serasa masuk bangku kuliah lagi saya. Dalem ilmunya, keren. 😄

    BalasHapus
  6. Masyaallah, serasa masuk bangku kuliah lagi saya. Dalem ilmunya, keren. 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...biar berasa awet muda ya kak, kuliah terus. trimakasih untuk kunjungannya :1

      Hapus
  7. terima kasih ilmu barunya kak, saya baru mengerti yang dimaksud dengan psikologi agama ini, pastinya manfaatnya memangs sangat banyak untuk kebaikan hidup kita ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah jika bermanfaat, trimakasih sudah berkunjung, kak :1

      Hapus
  8. Makasih sharing ilmunya mbak,
    Semoga semakin berkah ilmunya ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...aamiin,..trimakasih sudah berkunjung kak...:1

      Hapus
  9. Cantik banget blognya kak. Gambarnya dibuat dengan aplikasi apa kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih, pake aplikasi Ibis, Kak. trimakasih sudah berkunjung :1

      Hapus
  10. Ilmu psikologi bersama ilmu agama, keren. Korelasi yang apik

    BalasHapus
  11. iya,mba, masyaAllah tabarakallahu. trimakasih kunjungannya :1

    BalasHapus
  12. MasyaAllah meleburkan agama dengan psikologi, perbaikan akhlak akan lebih mudah dilakukan oleh para pendidik maupun orang tua. Tdrimakasih ilmunya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, mba, trimakasih sudah berkunjung:1

      Hapus
  13. Psikolgi dan agama hakikatnya memang dekat ya mba, terimakasih ilmunya mba. Keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba betul, trimakasih juga sudah berkunjung:1

      Hapus
  14. Masyaallah. Jazakillah khairan katsitan atas ilmunya, Mbak. Sangat bermanfaat. Jadi berasa ikut kelasnya juga. 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika bermanfaat, trimakasih juga atas kunjungannya:1

      Hapus
  15. psikologi agama ini apakah ada kejuruan khusus seperti psikologi anak, psikologi medis dsb mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya di kampus2 Islam buka jurusan Psikologi Islam, mba, semisal UIN, Universitas Muhammadiyah dsb. Trimakasih sudah berkunjung:1

      Hapus
  16. mbak lengkap banget pembahasannya, izin ngepin tulisan ini ya mbak..

    BalasHapus
  17. Fitrah memiliki banyak makna yang berbeda, tergantung sisi pandang yang menyertainya. Namun secara global fitrah diartikan sebagai potensi yang dibawa dari sejak lahir. Potensi sendiri berasal dari Bahasa latin Potentia yang artinya kemampuan. Dalam kamus ensiklopedi diartikan sebagai kemampuan yang masih dapat berkembang.
    Terimakasih untuk penjelasan yang sangat luar biasanya ibu dosen

    BalasHapus
  18. Fitrah memiliki banyak makna yang berbeda, tergantung sisi pandang yang menyertainya. Namun secara global fitrah diartikan sebagai potensi yang dibawa dari sejak lahir. Potensi sendiri berasal dari Bahasa latin Potentia yang artinya kemampuan. Dalam kamus ensiklopedi diartikan sebagai kemampuan yang masih dapat berkembang.

    BalasHapus

Trimakasih sudah berkunjung ke ruang narasi Inspirasi Nita, semoga artikel yang disuguhkan bisa memberikan manfaat sehingga menjadi hidangan yang mengenyangkan. Silahkan meninggalkan komen positif untuk merekatkan tali silaturahmi. Jangan lupa sematkan nama, hingga tak ada unknown diantara kita. Mohon tidak meninggalkan link hidup, ya kawan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Barakallahu.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger