Resensi Novel Negeri Lima Menara Man jadda wajada

Rabu, 20 April 2022

Novel Negeri Lima Menara menceritakan tentang pemuda Alif yang seumur hidupnya belum pernah beranjak dari Sumatera. Dia mengisi hari-hari di masa anak-anaknya dengan bermain sepak bola dan pergi ke hutan untuk mencari dan menunggu durian yang jatuh. Menikmati jernihnya danau maninjau dengan berenang di airnya yang segar. Masa kecil yang indah. Diisi dengan menikmati keindahan alam yang masih perawan, hadiah dari Sang Pencipta.


Novel negeri lima menara


Sampai pada suatu masa, ketika usianya sudah beranjak remaja dan mengharuskan dia melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sang amak (ibu) memintanya untuk bersekolah di tanah Jawa. Amaknya ingin dia masuk ke sebuah pesantren tersohor di Indonesia. Pondok Madani.


Setengah hati dia menerima permintaan sang amak, karena sesungguhnya dia telah memiliki pilihan hatinya, yaitu bisa sekolah di sekolah umum. Impiannya untuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas harus kandas seketika. Begitu pula dengan impiannya ingin menjadi sosok seperti Pak Habibie terpaksa harus dilupakan.


Dia meninggalkan tanah Sumatera menuju pondok pesantren arahan amaknya dan pamannya dengan menggunakan bus yang menghabiskan waktu perjalanan selama 3 hari 3 malam, melintasi daratan dan lautan. Pondok Madani, berada di daerah terpencil pulau Jawa.Tepatnya di Ponorogo, Jawa Timur.


Awal masuk Pondok Madani, Alif sudah terkesan dengan kalimat jimat "man jadda wajada" yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil, yang disampaikan gurunya. Euforia dan rasa haru "man jadda wajada" memenuhi ruangan kelas dan hati setiap para santri kala itu. Alif dipertemukan dengan lima orang pemuda yang berlainan pulau. Mereka menjadi dekat dan sering menghabisakn waktu di bawah menara masjid pondok Madani.


Saling bercerita mimpi-mimpi satu sama lain, mengibaratkan awan yang mereka pandang dari bawah menara menjadi bentuk daratan negara yang mereka tekadkan. Kelak, mereka akan menginjakkan kaki di sana. Keenam sahabat ini saling mengikat janji, untuk bisa menaklukan impian mereka menjadi sebuah kenyataan. Amerika, Eropa, Mesir dan saudi Arabia, menjadi negeri impian keempat anak, dua lainnya memilih mengabdikan diri di tanah air. Bagaimana akhir dari mimpi mereka, apakah menjadi kenyataan?


Untaian cerita di atas merupakan blurb dari novel Negeri Lima Menara. Cukup memberikan gambaran tentang isi dari novel ini tentunya. Selanjutnya saya ceritakan tentang  tentang spesifikasi dari fisik novel Negeri Lima Menara ini.



Sifat Fisik Buku


Berhubung novel Negeri 5 menara yang saya punya adalah dalam versi Inggris untuk itu dilengkapi juga dengan penerjemah dari novel ini. Novel ini dalam versi bahasa Inggris diberi judul " The Land of Five Towers"

  • Judul: Negeri Lima Menara
  • Penulis: Ahmad Fuadi
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Tempat Terbit: Jakarta
  • Tahun Terbit: 2013
  • Cetakan: Kedua
  • Penerjemah; Angie Kilbane
  • ISBN: 978-979-22-7594-0
  • Jumlah Halaman: 387
  • Kisaran Harga: Rp.50.000 - Rp.80.000


Alur Cerita Novel Negeri Lima Menara


Negeri lima menara merupakan mimpi dari 6 pemuda yang sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren yang bernama Pondok Madani, yang terletak di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Mereka sering menghabiskan masa-masa kebersamaan di Pondok Madani dengan belajar bersama atau sekedar berbincang menumpahkan rasa bahagia dan sedih di bawah menara di samping masjid pondok.


Alif seorang pemuda berasal dari Desa Maninjau Minangkabau, Sumatera barat, bermimpi memiliki cita-cita seperti Baharuddin Yusuf  Habibie, menjadi  seorang engineering. Namun  untuk sementara waktu dia harus mengubur cita-citanya demi  menjalani keinginan amaknya  (ibunya) yang menyarankan dirinya untuk menjadi seperti Buya Hamka, seorang ulama yang faqih dalam keilmuan Islam. Keinginannya ingin melanjutkan sekolah ke ITB membuatnya kehilangan harapan ketika harus menjadi seorang santri.


Dengan berat hati Alif pergi meninggalkan kampung halamannya dan pergi menuju Pondok Madani, bersama ayahnya. Untuk bisa menjadi santri di pondok madani tidaklah mudah, ada test ujian masuk yang harus dilalui para santrinya. Alif berjuang bersama ribuan para calon santri, sempat terbersit dalam pikiran Alif , mencoba membuat tidak lolos dalam seleksi. Namun hati kecilnya tak mengizinkan itu. terbayang dalam benaknya kebaikan kedua orangtuanya yang telah memberikan kasih sayang berlimpah. Nasib baik berpihak padanya, usaha yang ia selaraskan ternyata sesuai dengan ketetapan Allah, tempat mengambil ilmu terbaik baginya adalah di pondok madani ini.


Jiwa Alif ada di pondok, tapi pikirannya masih tetap melanglangbuana ke sekolah umum, apalagi ketika dia mengingat sahabat kecilnya Randai yang terkadang masih berkirim kabar tentang kebahagiaannnya bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Alif berusaha dengan sekuat tenaga menepis keinginan ini. Untungnya dia dipertemukan dengan kelima anak tangguh yang berasal dari pulau yang berbeda-beda, mengisi hari-harinya di pondok dengan penuh suka cita dan perjuangan.


Teman-temannya ini adalah Baso yang berasal dari Gowa Makassar, Raja dari Medan, Atang dari Bandung, Dulmajid dari madura dan Said dari Surabaya. Kelima sahabatnya ini memiliki cita-cita tinggi untuk menjadi orang sukses dan mampu menembus benua. Sebuah cita-cita besar yang patut diperjuangkan. Sebuah mimpi mulia yang tersemat dalam hati terdalam. Terpatri dalam janji di novel Negeri Lima Menara.


Alif  dipercaya menjadi pemimpin redaktur majalah Syam, yang merupakan majalah terbitan Pondok Madani. Kelak profesi ini yang mengantarkannya mampu meraih impian untuk pergi ke Amerika. banyak hal yang ia pelajari dari kehidupan pondok, sampai akhirnya godaan untuk keluar dari pondok bisa dia redam, dia memutuskan untuk menjadi santri sampai pendidikannya diselesaikan.


Dari kegiatannya menjadi seorang jurnalis, dia berinisiatif mewawancarai Pa Kyai, yang notabene belum ada yang berani melakukan ini, namun ini bisa diterobos oleh Alif. Berangkat dari banyak hal yang menjadi pertanyaan dalam pikirannya. Bingung, menyaksikan para asatidz bisa bekerja dengan setulus hati. Padahal dia mendengar bahwa para asatidz tidak mendapatkan gaji di pondok ini.


"Pondok bagi kami bukanlah medan penghasilan namun merupakan medan perjuangan dan pengabdian. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ada kegiatan lain yang dikerjakan, dan mereka menyatakan bahwa semuanya dirasakan cukup, karena keberkahan bukan berarti harus dapat dari hal berlimpah. selalu bersyukur merupakan kunci kita merasa cukup." Begitulah jawaban dari seorang ustadz yang berhasil diwawancarai Alif.


Hari-hari berlalu, diisi dengan kegiatan-kegiatan yang penuh nilai keagamaan dan nilai kemanusiawian. Alif tumbuh menjadi remaja matang dengan didikan pondok yang mengusung disiplin tinggi. Dia telah berhasil menaklukan hatinya, tenggelam menikmati kehidupan pondok yang begitu terasa sejuk menyegarkan dan membawa kedamaian dalam jiwanya, membuatnya begitu cinta, sampai berkali-kali jatuh cinta. Kehidupan pondok kini mendarah daging dalam jiwanya. sampai dia merasa tidak akan ada orang yang akan mampu membuatnya terangkat rasa cinta dari hatinya. Teman-temanya shohibul menara, telah membantu menguatkan rasa cinta dalam dirinya terhadap Pondok Madani. Negeri lima menara menjadi cita-cita mulia yang harus diwujudkan oleh masing-masing personilnya.


novel inspiratif


Bagaimana akhir cerita dari keenam remaja santri dalam novel negeri lima menara ini? teman-teman bisa membacanya dan mereguk kenikmatan untaian kisah yang begitu menggugah jiwa. Alif sang tokoh utama bisa begitu jatuh cinta pada kehidupan pondok dan benar-benar menghayati sebuah ayat yang selalu dihantarkan para asatidz di Pondok Madani, yaitu ayat yang berbunyi Kullukum Roo'in wa kullukum Mas'ulun  setiap orang adalah pemimpin dan setiap peminpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Ayat ini menanamkan tekad dalam jiwa para santri, bahwa setiap diri harus menjadi sosok yang bermanfaat, sosok yang memiliki andil mensejahterakan umat. Agar titahnya menjadi Khalifatu fii al-ardy bisa dijalankan secara amanah.



Tentang Penulis Negeri Lima Menara


Anwar Fuadi merupakan seorang jurnalis yang akhirnya beranjak menjadi seorang novelis. Lahir di Bayur di sebuah desa kecil dekat dengan danau maninjau Sumatera barat. Kisahnya sama persis seperti Alif tokoh utama dalam novel ini. Bersekolah di Pondok Daru as-Salam Gontor, membuatnya tersentuh dengan pola pendidikan pondok yang penuh nilai dan kedisiplinan. Mantra "Man Jadda Wajada" juga mampu menyentuh kalbu terdalamnya dan mengantarkan dia kepada sebuah kesuksesan.

Lulus dari Universitas Padjajaran jurusan hubungan internasional, seorang jurnalis di majalah tempo, dan mengambil master degree di school of  Media and public Affairs, Washington University, USA, bersama istrinya yang juga seorang jurnalis di majalah Tempo.

Dia juga mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang film dokumenter melalui beasiswa yang dia dapatkan di Universitas London. Saat ini Fuadi menjadi seorang pembicara di banyak tempat baik skala nasional maupun internasional. Fuadi mendirikan komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, Yang dia namakan Komunitas Menara atau disingkat KM.  Fuadi pernah mendapatkan penghargaan dari liputan 6 SCTV untuk kategori Pendidikan dan Motivasi.


Ulasan Novel Negeri Lima Menara


Kelebihan


Bila diminta untuk mengulas novel ini, dari sisi jalan cerita, jujurly, dari awal membacanya hati dipenuhi dengan rasa haru, menahan tangis agar jangan tersedu. Novel ini benar-benar novel penggugah jiwa, layak dijadikan persembahan untuk orang yang dicinta. Bisa diwariskan untuk anak cucu, sebagai penyemangat dan penggerak, bahwa segala sesuatu yang diusahakan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil yang luar biasa.


Sejujurnya pertanyaan dalam benak Alif terhadap para asatidznya juga merupakan  pertanyaan besar dari lubuk hati saya yang paling dalam. Betapa qona'ahnya para asatidz di pondok ini. Dalam deskripsi novel ini dijelaskan bahwa kisah Negeri Lima Menara merupakan kisah perjalanan sang penulis Ahmad Fuadi yang dia ceritakan dalam versi fiksi. Ahmad Fuadi mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Dar as-Salam Gontor, yang dia ilustrasikan dalam novelnya dengan nama Pondok Madani.


Novel Negeri Lima Menara ini membuka wawasan kita tentang dunia pesantren yang selama ini terdengar sangat tidak bersahabat. Novel ini membuktikan bahwa para santri lulusan pondok, bisa sukses, sesukses orang-orang yang mengenyam pendidikan di sekolah umum. Di akhir novel ini keenam shohibul menara bisa mewujudkan impian menaklukan negeri lima menara menjadi kenyataan. Lantas apa profesi mereka?


Kelebihan lainnya, dengan harga yang masih terjangkau di kisaran 50.000 sampai 80.000 merupakan angka yang tak seberapa jika dibanding dengan nilai yang didapat dari novel ini. Tak terlalu tebal, dan disampaikan dengan bahasa ringan, membuat novel ini saya rasa bisa dengan cepat diselesaikan. Alur ceritanya yang mengalir mengandung kepenasaran dari kisah satu ke yang lainnya. Semangat "Man Jadda wajada" seakan bisa turut mengalir dalam darah kita dengan hanya membaca alur cerita dalam novel ini saja.


Kekurangan


Dalam versi bahasa Inggris ada hal-hal yang kurang mengena jika disampaikan dalam bahasa selain bahasa Indonesia. Kadang nilainya kurang bisa diresapi. Untuk itu saya sarankan untuk membeli novel ini dalam versi Indonesianya saja, supaya istilah-istilah yang hanya bisa mengena jika disampaikan dalam nuansa bahasa Indonesia bisa kita dapatkan. Selain itu ada istilah-istilah dalam Bahasa Arab yang tidak disisipkan arti tambahannya, membuat para pembaca yang tidak paham Bahasa Arab akan sedikit kebingungan dan kurang bisa memaknai artinya.


Demikian resensi Novel Negeri Lima Menara, novel penggugah jiwa, yang wajib dibaca sebagai pemberi motivasi dan penyemangat . Salam Literasi. 

28 komentar on "Resensi Novel Negeri Lima Menara Man jadda wajada"
  1. Seperti layaknya buku dalam bahasa inggris iya, makna dari kalimatnya akan berbeda setelah di translate ke bahasa lain. Jadi kurang ngena gitu di hati.
    Udah ada the movie-nya juga kalo nggak salah novel ini, cuma biasanya nggak seseru novel dan banyak bagian yang tidak diceritakan.

    Makasih infonya kaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ka sdh ada filmnya trimakasuh sdh berkunjung..

      Hapus
  2. Masya Allah,, sungguh menarik sekali ulasan tentang novel ini... sungguh

    BalasHapus
  3. Kalau novel terjemahan biasanya lebih pas dibaca dengan versi aslinya kak. Karena banyak faktor selain bahasanya juga nuansa di novelnya. Tapi tergantung juga dengan penerjemahnya, beberapa kali baca buku terjemahan ada beberapa yang pas sama konteks yang disampaikan. 😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul ka, atau mungkin sayabya yg masih minim ya englishnya...☺️

      Hapus
  4. Sudah pernah baca novel ini, dan memang sebagus itu. Terlarut ke dalam ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, ka, saya pun berkali2 membacanya.

      Hapus
  5. novel yang ceritanya sangat dekat dengan saya, karena sama sama berada dalam naungan dunia pesantren. di pesantren, kami memang ditanamkan tentang pentingnya bermimpi, memiliki mimpi dan mewujudkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllahu, beruntung, ya mba bisa dekat dengan dunia pesantren.

      Hapus
  6. Aku udah baca novel Indonesianya dan udah nonton filmnya juga hehehe

    Keren sih emang, ini novel motivasi dan inspiratif menurutku... Menguak kisah di pesantren yang pemikirannya gak melulu kolot, ada juga pesantren yang modern kayak gini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkategori novel penggugah jiwa memang, ya, ka.

      Hapus
  7. Belum pernah baca novelnya, tapi nonton filmnya saja waktu itu. Tapi thanks ka sudah sharing, memang sebaiknya tetap baca versi indonesia ajaa yaa berarti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novelnya memang jauh berkesan dibanding filmnya, ka

      Hapus
  8. Alur cerita yang menarik. It must be a good novel sampai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Terima kasih rekomendasi dan ulasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mba, novel yang ga lekang oleh zaman, bisa diwariskan juga ke anak cucu klo menurutku. sebagai pemacu semangat.

      Hapus
  9. Ini salah satu buku favorit saya saat sekolah. Membaca buku negeri 5 menara selalu membuat semangat untuk menggapai mimpi. Sebuah buku yang bagus untuk dibaca oleh anak-anak Indonesia dengan tema seputar mengerjar mimpi dan juga persahabatan.

    BalasHapus
  10. Ahmad Fuadi menurut saya, halah, adalah salah satu novelist terbaik di negeri ini. dan negeri 5 menara ini tidak pernah basi dibaca berulang kali

    BalasHapus
  11. Wah, aku baru tau kalau novel Negeri Lima Menara ini udah ditranslate ke bahasa Inggris
    Gegara novel ini, aku dan Kangmas pengen masukin anakku ke Gontor, hihihi..

    BalasHapus
  12. Salah satu novel yang akan membuat anak-anak semangat untuk masuk ke pondok. Di pondok mendapat bekal dan perjuangan sesungguhnya saat keluar dari pondok..

    BalasHapus
  13. belum pernah baca novelnya sih. Cuma pernah nonton filmnya di RCTI pas SMA kelas 1 kalau nggak salah

    BalasHapus
  14. novel yang menjadi banyak inspirsi bagi anak-anak muda.. terimakasih recomendasinya

    BalasHapus
  15. Novel negeri 5 menara dan laskar pelangi the series ini berhasil membuat saya tertrigger mencoba apply berbagai beasiswa untuk kuliah di luar negeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kereen, dan akhirnya terlaksana, ya, ka, congrats. masyaAllahu

      Hapus
  16. wah bagus bangetttt. bangga ya ada penulis lokal bisa menelurkan karya sebagus ini. pengen beli deh jafinya. auto nabung dulu dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagus itu, ka, selamat berburu, ya ka...

      Hapus
  17. Ternyata Pondok Madani itu beneran ada di Ponorogo yaa..?
    Tetanggaku masuk pesantren di sana dan seketika ingat novel dari Ahmad Fuadi "Negeri 5 Menara" ini.

    Kalau baca bukunya berasa ikutan berpetualang seru bersama Alif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama resminya pondok dar es-salam gontor, mba, pondok ini menelurkan banyak kyai dan ulama hebat Indonesia. masyaallah.

      Hapus

Trimakasih sudah berkunjung ke ruang narasi Inspirasi Nita, semoga artikel yang disuguhkan bisa memberikan manfaat sehingga menjadi hidangan yang mengenyangkan. Silahkan meninggalkan komen positif untuk merekatkan tali silaturahmi. Jangan lupa sematkan nama, hingga tak ada unknown diantara kita. Mohon tidak meninggalkan link hidup, ya kawan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Barakallahu.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger