Belajar sambil Bermain: Mengenalkan Kegiatan Ibadah Pada Anak Usia DIni

Senin, 20 Desember 2021

Hai Smart bunda. Assalamualaikum…! Anak-anak sedang apa? Bermain, tidur, makan, atau sedang dalam pangkuan bunda? Apapun bentuk kegiatannya, pastikan anak dalam keadaan nyaman dan riang gembira, ya, bunda.


Bagi anak proses bermain merupakan kebutuhan anak yang wajib dipenuhi, karena melalui proses bermain, kemampuan anak diharapkan semakin meningkat. Bermain merupakan bekerja bagi anak, bekerja dalam dunia anak adalah bermain. Dalam Suyadi (2010) proses bermain untuk anak mengandung unsur pembelajaran dan kegiatan pembelajaran dalam dunia anak selayaknya dilakukan sambil bermain. Belajar seraya bermain bermain seraya belajar.


Bermain merupakan unsur yang penting dalam kehidupan sang anak. Dalam dekade terakhir ini,  banyak ahli perkembangan anak meneliti hal ini dan menjadikan bermain merupakan kegiatan utama bagi anak sebagaimana juga dikatakan Rahmah oleh (2016)


Begitupula dalam mengenalkan kegiatan ibadah pada anak, lakukan dengan cara menyenangkan, sehingga anak rela melakukannya dengan suka cita.




Apa Makna Bermain?


Para ahli menyatakan bahwa konsep bermain tidak mudah untuk dijabarkan. Terdapat banyak pemahaman tentang konsep bermain yang dirumuskan para ahli. Dalam mursyid (2016),  Elizabeth Hurlock mendefinisikan bermain sebagai aktivitas untuk mewujudkan kebahagiaan. James Suly mengatakan bahwa bermain adalah aktivitas yang sangat menyenangkan yang dilakukan oleh anak dengan penuh canda dan tawa ketika melakukannya.


Di sini terlihat bahwa perasaan anak menjadi penentu, apakah anak sedang melakukan kegiatan bermain atau bukan. Ketika anak melakukannya dalam keadaan tertekan, ketakutan, tidak dapat dikatakan sedang melakukan kegiatan bermain. Karena perasaan anak tidak nyaman.


Proses bermain bagi anak adalah kegiatan yang berisi tentang mempelajari dan belajar banyak hal, mengenal tentang aturan, bagaimana bergaul dengan temannya, bagaimana mengelola emosi, bagaimana menempatkan diri, menghargai dan saling membantu sesama teman, Mulyasa (2014).


Anak melakukan kegiatan bermain bisa secara individu maupun berkelompok. Baik dalam kegiatan bermain secara individu dan berkelompok, mengandung unsur pebelajaran di dalmnya. Bermain secara berkelompok penekanannya lebih kepada belajar tentang kebersamaan.


Apa Ciri-Ciri Anak dikatakan sedang Bermain?


Bunda dan para pendidik harus memperhatikan hal-hal di bawah ini untuk meyakinkan, bahwa apakah si kecil sedang melakukan kegiatan bermain atau bukan. Berikut ciri-cirinya menurut ahli Pendidikan Anak Usia Dini, Rubin, Fein, dan Vandenberg. Para ahli ini merumuskan ciri2 bermain, diantaranya yaitu:

  1. Dilakukan atas pilihan sendiri, kemauan sendiri dan kepentingan sendiri.
  2. Menghadirkan emosi positif.
  3. Bersifat fleksibel, dalam artian anak dengan mudah berganti tema permainan.
  4. Tidak ada tekanan untuk mencapai target.
  5. Bebas memilih.
  6. Menghadirkan unsur kepura-puraan, misalnya menggunakan kertas sebagai pesawat-pesawatan.

Nah bunda di dalam proses bermain pada anak, sudahkah bunda melihat ciri-ciri di atas dalam kegiatan bermain pada si kecil?


Yuk kita mengenal Macam-Macam Permainan Edukatif!


Bunda dan pendidik, berikut adalah Alat Permainan edukatif (APE) yang dapat menunjang kegiatan belajar sambil bermain pada anak, yang diperkenalkan oleh Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial pada tahun 1972. Alat permainan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Boneka dari kain.
  2. Balok bangunan polos.
  3. Menara gelang segitiga, bujur sangkar, lingkaran, dan segi enam.
  4. Tangga kubus dan silinder.
  5. Balok ukur polos
  6. Krincingan bayi.
  7. Puzzle.
  8. Kotak gambar pola.
  9. Papan pasak 25.
  10. Papan pasak 100.

Seiring dengan perkembangan waktu, APE yang ada swkarang ini bentuknya semakin banyak ragamnya dan semakin berkembang. Menurut Anggani Sudono, perkembangan APE di Indonesia mengikuti jejak pengembangan APE Montessori dan Peabody. Mengapa demikian? Berikut ulasannya:

Alat Permainan Edukatif (APE) Montessori.

Montessori adalah seorang dokter wanita pertama di Italy yang memiliki perhatian khusus pada pendidikan Anak Usia Dini, risetnya diawali karena kepeduliannya terhadap anak2 yang memiliki keterbelakangan mental dan cacat tubuh. Pada penelitiannya Montessori merumuskan 9 masa peka anak yang membutuhkan metode dan APE tersendiri. 9 masa peka tersebut dijelaskan oleh Montessori (2017), melalui tabel berikut:





3 Prinsip utama dalam memberikan APE pada Anak menurut Montessori:


 Menurut Maria montessori (2017), tiga prinsip utama dalam penggunaan alat permainan edukatif bagi Anak Usia Dini, adalah sebagai berikut:
  1. Menerapkan konsep dasar Pendidikan Anak Usia Dini, menurut Montessori anak-anak mampu bermain secara refleks, spontan dan tanpa tekanan.
  2. Lingkungan pembelajaran, Montessori menggunakan area lingkungan rumah dengan melibatkan anak dalam membantu pekerjaan orangtua yang ringan sifatnya.
  3. Peran guru yang berfungsi sebagai fasilitator, sehingga timbul komunikasi yang intensif antara anak dan guru atau orangtua.


Alat Permainan Edukatif (APE) Peabody


Elizabeth Peabody terkenal sebagai tokoh Pendidikan Anak Usia pada aspek perkembangan Bahasa. Peabody merupakan pendiri Taman Kanak-kanak pertama di Amerika Serikat. Berbagai permainan edukatif yang dirancang Peabody diantaranya boneka tangan, boneka jari, tongkat ajaib, kantong pintar.

Kesemua jenis alat permainan tersebut diprogram sebagai alat bantu pengembangan Bahasa pada anak secara sederhana. Pengenalan kosakata melalui cerita yang dihantarkan melalui boneka dan juga pengenalan warna serta benda melalui kantong pintar. Imajinasi anak diasah melalui Alat Permainan Edukatif Peabody.

Peabody mampu menciptakan test alat perkembangan Bahasa PIET Peabody Individual Achievement Test dan PPVT Peabody Picture Vocabulary Test.




Permainan edukatif yang menggunakan media dapat membangkitkan motivasi, menarik minat, melakukan interaksi dan feed back. Anak dapat mengoptimalkan alat indranya dalam proses bermain.


Selain APE yang disebutkan sebelumnya saat ini juga berkembang APE yang berbasis Multimedia dan multimedia interaktif. Di tahun 1990 sampai sekarang multimedia diartikan sebagai gabungan dari beberapa media diantaranya adalah suara, teks, gambar, animasi, video yang diolah menjadi informasi tunggal dalam format teknologi digital. Pada prakteknya saat ini anak-anak usia dini dapat bermain sambil belajar melalui Youtube kids atau CD edukatif untuk anak. Misalnya mengenalkan huruf hijaiyah, menghafal surat-surat pendek, menggunakan aplikasi Al-Quran digital. Mengenalkan kegiatan beribadah seperti shalat, puasa, zakat, thaharah atau ibadah haji, melalui tayangan bergambar animasi di youtube, ataupun televisi.

Mengenalkan Kegiatan Ibadah pada Anak Usia Dini


Berikut adalah salah satu kegiatan bermain menggunakan APE Pabody yang dapat digunakan Para pendidik dan bunda untuk mengenalkan kegiatan ibadah pada Anak Usia Dini. Bunda dan pendidik bisa menggunakan boneka tangan untuk mengajak anak shalat, dengan konsep bermain peran menggunakan boneka tangan. Boneka tangan pertama berperan sebagai bunda, boneka tangan kedua berperan sebagai anak Bernama Faisal.

Aturan main dalam percakapan ini, bunda memainkan dua peran sekaligus, sebagai bunda dan Faisal. Berikut percakapannya:

Bunda: “Assalamualaikum, Faisal anak sholih, sedang apa, nak?

Faisal: “Iya, bunda. Apa, sih, Bund, ganggu aja, emangnya ga liat, ade kan lagi main mobilan!”

Yang memang kebetulan si ade yang sudah berusia 5 tahun juga lagi asyik bermain mobilan. Bunda meminta ade untuk shalat, tapi adek merajuk tidak mengindahkan permintaan bunda.

Bunda: “Shalat dulu, yuk, sudah jam 1, lho!”
Faisal:  “Nanti dulu, ah, bund, masih Asyik”
Bunda: “ Eeh…ga boleh gitu dunk, adek ingin selalu disayang Allah, Kan?”
Faisal:  “Emang kenapa harus disayang Allah”
Bunda: ”Nanti dikasih surga sama Allah, memangnya ade ga mau?”
Faisal:  “Mau, dung Bund!”
Bunda: “Nah, kalo gitu, yuk, kita Shalat. Ambil wudhu dulu ya!”

Seketika Faisal langsung bangkit dari duduknya dan meletakkan mobilannya. mengikuti bunda menuju kran untuk berwudhu.

Catatan: Ajakan yang disertai ucapan yang lembut dan mengandung makna, lebih didengar oleh anak, daripada bentuk teriakan, yang malah cenderung akan berdampak pada penolakan dan perlawanan dari anak.

Apa Perbedaan antara Belajar dan Bermain pada Anak Usia Dini?

Dalam KBBI bermain diartikan sebagai berbuat sesuatu yang menyenangkan hati, sementara yang dimaksud dengan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.

Konteks belajar dan bermain pada Anak usia Dini tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling terkait, karena anak belajar dari permainan yang mereka lakukan.

Pada Pendidikan Anak Usia Dini dalam pelajaran tertentu misal berhitung, bisa dilakukan sambil bermain, agar anak tak merasa diintimidasi dan terbebani.

Sebagi orangtua kita wajib memilihkan permainan yang mendidik untuk anak, mencerdaskan anak, dan memberikan stimulasi positif untuk anak, dan tidak memberikan permainan yang justru akan merusak karakter anak.

Menerapkan Konsep Bermain sambil Belajar Pendidikan Islam Anak Usia Dini pada RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian)


  • Semester/bulan/Minggu: I/Juli/Minggu ke 4
  • Hari/Tanggal : Senin,24 Juli 2020
  • Tema : Diriku
  • Subtema : Tubuhku
  • Kelompok : B (usia 5-6 Tahun)
Materi dalam RPPH subtema tubuhku dalam kegiatan:
  1. Doa sebelum dan sesudah belajar.
  2. Nama anggota tubuh, fungsi anggota tubuh, dan cara merawatnya,
  3. Mengelompokkan berdasarkan warna (merah, biru, kuning),
  4. bentuk dua dimensi (persegi, segi tiga), dan jumlah bilangan (5 -10),
  5. Lagu “ Aku Ciptaan Tuhan”.
Alat dan bahan untuk subtema tubuhku
  1. Kegiatan membuat bingkai foto diri membutuhkan: lidi/irisan bambu/stik es krim, kertas, lem, kertas warna warni (merah, biru, kuning), bisa juga anak diminta untuk membawa koleksi foto dirinya dari rumah.
  2. Kegiatan membuat boneka foto diri dari tanah liat membutuhkan: kertas koran untuk alas, tanah liat, dan celemek untuk menutup baju anak.
  3. Kegiatan menggunting dan menempel (kolase) gambar anggota tubuh membutuhkan pola anggota tubuh, lem, potongan anggota tubuh untuk menempel, dan gunting.
Kegiatan Pembukaan di RPPH untuk subtema tubuhku
  1. Bernyanyi “ Aku Ciptaan Tuhan”.
  2. Doa sebelum belajar.
  3. Membacakan buku cerita.
  4. Mengenalkan aturan bermain.
  5. Berdiskusi bagian-bagian tubuh, fungsi, dan cara merawat tubuh.
  6. Diskusi yang harus dilakukan sebagai rasa terima kasih terhadap Tuhan atas tubuhnya.
Kegiatan Inti untuk RPPH subtema tubuhku Model Sentra Seni
  1. Anak diajak untuk mengamati alat dan bahan yang disediakan.
  2. Anak diberi kesempatan untuk bertanya tentang konsep warna dan bentuk yang ada di alat dan bahan.
  3. Guru menanyakan konsep warna dan bentuk yang pernah ditemukan anak di dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Anak melakukan kegiatan sesuai yang diminati dan gagasannya:
a. Kegiatan 1: Membuat bingkai foto diri dari lidi.
b. Kegiatan 2: Membuat boneka foto diri dari tanah liat.
d. Kegiatan 3: Membuat kolase (menggunting dan menempel) anggota diri.
    5. Anak menceritakan kegiatan main yang dilakukannya

Kegiatan Penutup untuk RPPH subtema tubuhku
  1. Menanyakan perasaan anak selama hari ini.
  2. Bernyanyi “ Aku Ciptaan Tuhan”.
  3. Berdiskusi kegiatan apa saja yang sudah dimainkan hari ini, mainan apa yang paling disukai.
  4. Memberikan tugas kepada anak untuk dilakukan di rumah, yakni menanyakan kepada orang tuanya tentang tempat lahir, tanggal lahir, siapa yang menolong kelahiran, dst.
  5. Bercerita pendek yang berisi pesan-pesan.
  6. Menginformasikan kegiatan untuk esok hari.
  7. Berdoa setelah belajar.
Bunda dan para pendidik, selamat mempraktekannya di rumah atau di tempat mengajar, semoga dapat membantu bunda dan pendidik dalam mengajarkan ibadah pada anak usia dini. Semangat salam pengasuhan.





REFERENSI

  • Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Bandung: Pustaka Pelajar, 2005.
  • Montessori, Maria, The Absorbent Mind: Pikiran yang Mudah Menyerap, diterjemahkan oleh Dariyatno dari judul The Absorbent Mind, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 2017.
  • Mursid, Pengembangan Pembelajaran PAUD, Bandung, Remaja Rosda Karya. 2016.
  • Naili Rohmah, Bermain dan Pemanfaatannya dalam Perkembangan Anak Usia Dini, Jurnal Tarbawi Vol. 13. No. 2. Juli – Desember 2016.
  • Suyadi, Psikologi Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta, Pedagogia. 2010.

 


47 komentar on "Belajar sambil Bermain: Mengenalkan Kegiatan Ibadah Pada Anak Usia DIni"
  1. Lengkap sekalih informasinya mbak, saya jadi lebih terinspirasi nih buat nyusun pembelajaran anak lewat bermain. Terimakasih Sharingnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, mba, jika bisa menjadi inspirasi, ditunggu ceritanya, yaa...sama2 mba.

      Hapus
  2. Info yang sangat bermanfaat. Anak saya masih 3 tahun. Bisa jadi bahan ini. Thanks mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat mengeksplore minat dan bakat si kecil ya mba,...

      Hapus
  3. Ternyata "bermain" bagi anak tidak sesederhana itu ya mbak. Bermain sangat dibutuhkan untuk perkembangan mental dan jiwa anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, karena bermain adalah bekerja bagi anak, dan pekerjaan anak adalah bermain.

      Hapus
  4. Bisa jadi inspirasi buat yang baru menikah seperti saya kak hhehehe. Jadi bisa lebih memberikan didikan yang baik terhadap tumbuh kembangnya anak kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga semakin semangat mengasuh si kecil yaa, atau masih sedang menunggu, :)

      Hapus
  5. Si bungsu 5 tahun juga masih suka main lego, balok. Walaupun kesini-sini mulai seneng menggambar dan menulis. Semua kemauannya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, sudah mulai mandiri, ya mba.

      Hapus
  6. Sangat bermanfaat. Apalagi buat para ibu termasuk saya yg memiliki dua balita (2 tahun dan 4 tahun), bisa jadi referensi saya ketika mengenalkan media bermain dan membersamai proses bermain mereka. Trims informasinya ya mba ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah jika bermanfaat, selamat mengeksplor kemampuan dan minat sikecil, ya, mba.

      Hapus
  7. Metode Montessori juga bisa digunakan untuk pembelajaran agama ya. Selama ini taunya untuk stimulasi sensorik, motorik saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa Kak, kebetulan saya pernah ambil short course di Granada Islamic Montessori, Cimanggis depok, anak2 Usia Dini di sekolah tersebut diajarkan mengenal Islam melalui metode montessori.

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, alhamdulillah, selamat mempraktekan, ya, mba.

      Hapus
  9. Bagus banget mbak kontennya, jadi nambah pengetahuanku

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih, mba,alhamdulillah, semoga bermanfaat yaa, untuk krucils nya mba.

      Hapus
  10. Info yang sangat bermanfaat bagi para orang tua. Trims mbak

    BalasHapus
  11. wash baru tau ttg peabody, pernah sesekali baca nama beliau tp baru ini baca kisah lengkapnya.. makasii mba ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mba, selamat ber Peabody yaa ...

      Hapus
  12. Noted buat saya yang punya anak usia dini nih

    BalasHapus
  13. Bermain adalah pelajaran bagi anak, ya bun.. Karena di dunia mereka, semua yang diterima oleh indera adalah benar.

    BalasHapus
  14. Anak usia dini memang belajar dengan bermain ya Mba. Karena bermain adalah sumber kebahagiaan mereka, dan bahagia adalah sumber ketangguhan saat mereka dewasa kelak. Jadi saat mengajari anak sesuatu memang sebaiknya memang sambil bermain. Bagus sekali tulisannya Mba, lengkap banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali mba, kita tertarik untuk nge blog juga, mungkin karena kita cukup bermain waktu kecil, hehehe

      Hapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

    Saya Salumiza (20231014)

    Pada pertemuan ke-15 ini tentang Belajar sambil bermain : Mengenalkan Kegiatan Ibadah pada Anak Usia Dini.

    Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap anak, bahkan bisa dikatakan bahwa anak mengisi sebagian besar di kehidupannya dengan bermain.
    Kegiatan bermain memiliki berbagai nilai, diantaranya :
    1. Nilai fisik : dengan bermain aktif, anak dapat mengembangkan otot, melatih bagian tubuh menyalurkan energi yang berlebihan, meregangkan ketegangan dan lain-lain.
    2. Nilai Terapi : Mengingat bermain merupakan kesempatan untuk mengekspresikan emosinya, dan demikian anak mampu melepaskan kegiatan maka di bawah bantuan Psikolog anak dapat mengikuti terapi bermain.
    3. Nilai Pendidikan : Melalui bermain anak dapat mengembangkan berbagai keterampilan yang bermanfaat.
    4. Nilai kreatif
    5. Nilai pengenalan diri
    6. Nilai sosial
    7. Nilai moral.
    Cara mengenalkan ibadah pada anak usia dini yaitu : kenalkan konsep ketuhanan dengan bahasa sederhana dan menjadi teladan yang baik dan lain-lain.
    TERIMAKASIH.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wa

    BalasHapus
  17. Assalamualaikum
    Mitha Muftalia (20231011)
    Menurut saya
    Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap anak, bahkan bisa dikatakan bahwa anak mengisi sebagian besar di kehidupannya dengan bermain.
    Kegiatan bermain memiliki berbagai nilai, diantaranya :
    1. Nilai fisik : dengan bermain aktif, anak dapat mengembangkan otot, melatih bagian tubuh menyalurkan energi yang berlebihan, meregangkan ketegangan dan lain-lain.
    2. Nilai Terapi : Mengingat bermain merupakan kesempatan untuk mengekspresikan emosinya, dan demikian anak mampu melepaskan kegiatan maka di bawah bantuan Psikolog anak dapat mengikuti terapi bermain.
    3. Nilai Pendidikan : Melalui bermain anak dapat mengembangkan berbagai keterampilan yang bermanfaat.
    4. Nilai kreatif
    5. Nilai pengenalan diri
    6. Nilai sosial
    7. Nilai moral.

    BalasHapus
  18. nama : Siti Nurdayanah
    Npm : 20231002
    Bismillahirrahmanirrahim
    assalamualaikum wr. wb.

    mengenalkan sesuatu kepada anak haruslah dengan cara cara yang menarik dan menyenangkan bagi anak karena dengan cara tersebut anak akan mudah memahaminya dan anak pula akan memperhatikannya dengan baik. salah satunya mengenalkan kegiatan beribadah pada anak usia dini. haruslah dengan cara yang menyenangkan bagi anak bukan dengan cara memaksa kepada anak untuk melakukan apa yang kita inginkan. biarkan anak bermain sambil belajar karena dunia anak adalah bermain. permainan yang bisa anak dilakukan sambil belajar adalah : bermain puzzle, gambar pola, papan pasak 25 atau 100 dan masih banyak permainan yang bisa anak sambil belajar.

    terima kasih
    wassalamu'alaikum wr. wb

    BalasHapus
  19. Siti Salwa
    20231006
    Bismillah, review materi hari ini mengenai Belajar dan Bermain : Mengenalkan Kegiatan Ibadah untuk Anak Usia Dini.

    Pada hakikatnya, bermain ini adalah salah satu dunia nya anak anak. Bermain menjadikan anak merasa lebih relax dan leluasa untuk mengekspresikan perasaannya. Dan untuk mengenalkan hal ibadah kepada anak usia dini bisa secara perlahan dengan cara mengajaknya untuk beribadah.

    Terimakasih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿฅฐ


    BalasHapus
  20. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  22. Assalamualaikum
    Mutia Alivianti 20231003
    Riview kali ini yaitu mengenai belajar dan bermain mengenalkan ibadah anak usia dini.
    Hai Smart bunda. Assalamualaikum…! Anak-anak sedang apa? Bermain, tidur, makan, atau sedang dalam pangkuan bunda? Apapun bentuk kegiatannya, pastikan anak dalam keadaan nyaman dan riang gembira, ya, bunda.


    Bagi anak proses bermain merupakan kebutuhan anak yang wajib dipenuhi, karena melalui proses bermain, kemampuan anak diharapkan semakin meningkat

    APE Pabody yang dapat digunakan Para pendidik dan bunda untuk mengenalkan kegiatan ibadah pada Anak Usia Dini. Bunda dan pendidik bisa menggunakan boneka tangan untuk mengajak anak shalat, dengan konsep bermain peran menggunakan boneka tangan.
    Sebagi orangtua kita wajib memilihkan permainan yang mendidik untuk anak, mencerdaskan anak, dan memberikan stimulasi positif untuk anak, dan tidak memberikan permainan yang justru akan merusak karakter anak
    Wassalamu'alaikum wr.wb

    BalasHapus
  23. MasyaAllahu tabrakallahu,mumtaz.

    BalasHapus
  24. Lengkap bgt panduan buat didik anak beribadah ini. Saya gak perlu beli buku jadinya karena mba nita sdh membahasnya disini. heeeee... Sesuai kebutuhan bgt. trims y

    BalasHapus
  25. Lengkap bener penjelasannya, Mbak Nita.. Bermain itu memang bisa jadi sarana belajar anak-anak. Dan mereka jadi menikmati tanpa merasa digurui. Terus, karena menyenangkan otomatis banyak yang tersimpan di memori..

    BalasHapus
  26. Bermain dan belajar bisa seasyik ini, ya, Mba. Salut buat para Cikgu yang bergelut dengan dunia pendidikan PAUD. Saya belajar banyak dari postingan ini, Mba.

    BalasHapus
  27. untuk anak-anak lebih mudah belajar melalui bermain ya mbak, orang dewasa sekitarnya juga lebih kreatif memandu anak-anak agar mereka dapat berkembang optimal

    BalasHapus
  28. belajar sambil bermain memang oke ya mbak, saya jadi terinspirasi dari tulisan mbak, makasih ya mbak nita..

    BalasHapus

Trimakasih sudah berkunjung ke inspirasi nita, semoga artikel yang disuguhkan bisa memberikan manfaat sehingga menjadi hidangan yang mengenyangkan. Silahkan meninggalkan komen positif untuk merekatkan tali silaturahmi. Jangan lupa sematkan nama, hingga tak ada unknown diatara kita. Mohon tidak meninggalkan link hidup, ya kawan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Barakallahu.

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger