Tampilkan postingan dengan label Ilmu Jiwa Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Jiwa Agama. Tampilkan semua postingan

Perkembangan Kehidupan Agama pada Masa Remaja

Senin, 21 Maret 2022

Perkembangan Agama pada Masa Remaja merupakan materi kelima pada mata kuliah Psikologi Agama. Untuk mengetahui pembahasan tentang Pengertian Perkembangan Kehidupan Agama dan sikap keagamaan bisa merujuk pada pembahasan sebelumnya.



Pendahuluan


Memahami perkembangan agama pada remaja sangat urgen, karena pada masa ini manusia masuk pada fase kegoncangan dari keseluruhan masa yang harus dilalui dalam hidupnya. memahami konsep remaja merupakan jalan pertama yang harus ditempuh dalam usaha mendekatkan remaja pada Tuhannya dan menjaga agar fitrahnya tetap lurus.

Problem keraguan yang dialami pada remaja juga merupakan permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Usaha yang dilakukan secara bersinergi antara orang tua, pendidik penguasa dan juga para asatidz sangat diperlukan agar para remaja memiliki ketetapan hati untuk beragama dan mentaati peraturan yang ada dalam agama.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sturbuck dalam Jalaluddin (2015: 78) pada sejumlah mahasiswa di Middleburg College, didapat bahwa ada 52 % dari 124 jumlah mahasiswa yang diobservasi mengalami kegoncangan dalam masalah agama. hal ini disebabkan karena ada keraguan yang ditimbulkan dari perilaku tokoh agama, penerapan ajaran agama dan lembaga keagamaan. ini memiliki artian lebih dari setengah jumlah remaja mengalami keraguan. Bagaimana Formula yang tepat yang harus diterapkan pada agama untuk memahamkan mereka pada konsep agama tanpa harus memiliki keraguan?


Perkembangan Agama Pada Masa Remaja



Pembahasan


Apa yang dimaksud dengan remaja..???


Masa remaja adalah masa peralihan yang dialami oleh seorang manusia dari masa anak-anak menuju dewasa dengan kata lain dapat dimaknai juga sebagai masa perpanjangan anak-anak sebelum memasuki usia dewasa. Masa remaja datang dengan ditandai kegoncangan pada diri seseorang. Pada Wanita ditandai dengan datangnya menstruasi sedangkan pada pria ditandai dengan mimpi basah.

Zakiah Darajat (2015: 132) menjelaskan pada masa ini terjadi pergolakan yang dahsyat dalam jiwa sang anak. Anak merasakan perubahan yang besar dalam dirinya, baik dari sisi fisik maupun psikisnya. Fisik seorang anak pada masa ini mengalami peralihan baik dari sisi luar yang ditandai dengan perubahan fisik yang signifikan. Tubuh bertambah tinggi dan terkadang diiringi dengan penurunan berat badan karena terjadi perubahan metabolisme di dalam tubuhnya. Kelenjar thymus dan pinela yang dimiliki pada masa kanak-kanak berhenti berproduksi dan berganti dengan kelenjar seks atau dinamai dengan Gonad yang bekerja memproduksi hormon yang menyebabkan perubahan seks sekunder pada anak.

Gonad mengubah anak laki-laki dalam banyak hal, diantaranya yaitu terjadi perubahan suara, munculnya kumis, bulu ketiak, serta munculnya bulu-bulu dipangkal pipi dan kemaluannya. Sedangkan pada anak Wanita Gonad memberikan efek perubahan pada panggul yang membesar, bertumbuhnya payudara dan kelenjar susu.

Rentang Usia Remaja


Para ahli berbeda pendapat dalam hal ini. Perubahan masa remaja bergantung dari perkembangan individu dan juga lingkungan tempat tinggal, dengan mempertimbangkan adat kebiasaan yang berlaku di daerah setempat. Dilansir dari sehatq, Menurut WHO rentang usia remaja berada pada kisaran 10-19, namun penelitian terkini yang dicantumkan dalam jurnal The Lancet, menyatakan bahwa remaja adalah individu yang memiliki rentang usia dari 10 sampai dengan 24 tahun.

Kesimpulan ini diambil dari dasar pemikiran bahwa remaja adalah individu yang sedang mengalami masa transisi proses kematangan jiwa dan biasanya belum mempunyai tanggungan hidup berupa keluarga.

Zakiah Darajat (2015: 132)membagi masa remaja menjadi dua fase rentang usia, yaitu fase awal yang dimulai pada kisaran usia 13 sampai dengan 16 tahun, fase ini mrupakan fase gncangan terbesar di usia remaja. Perubahan fisik yang terjadi signifikan menyebabkan kegoncangan dalam dirinya, rasa minder dan takut serta keraguan muncul di masa ini, bahkan keraguan terhadap keyakinan beragama. Untuk itu dibutuhkan peran serta orang tua untuk membimbing para remaja agar tetap di dalam koridor yang tepat dan fitrah yang tetap lurus.

Fase kedua pada masa remaja menurut Zakiah (2015: 136) berada pada kisaran usia 17 sampai dengan 21 tahun. Pada masa ini pertumbuhan jasmani telah berkembang dengan sempurna, begitupun dengan kecerdasannya, pada fase ini telah sempurna perkembangan tingkat kecerdasannya. Dalam agama familiar dengan sebutan telah sampai pada masa Aqil Baligh atau berakal. Pada masa ini seorang remaja ingin diakui eksistensinya oleh orang dewasa, baikoleh orang tua, guru dan juga masyarakat.


Perkembangan Jiwa Keagamaan pada Masa Remaja


Menurut Starbuck dalam Jalaluddin (2012: 74-77) ada beberapa faktor fisik dan pisik yang mempengaruhi perkembangan keagamaan pada remaja, diantaranya yaitu:

1. Pertumbuhan Pikiran dan mental

Ide dasar dan keyakinan dalam agama yang diterimanya di masa kecil sudah berubah karena sifat kritis sudah mulai timbul, tidak hanya itu, mereka sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi dan norma hidup lainnya.

2. Pertimbangan Sosial

Konflik moral dan materil yang terjadi di usia remaja dalam kehidupan beragamanya menyebabkan pikiran remaja memilki fokus orientasi cenderung pada keuntungan material duniawi. Apa yang dimaksud dengan pernyataan ini? Ernest Harms dalam sebuah penelitiannya tentang remaja menyimpulkan bahwa 70% dari 1789 responden remaja mementingkan keuangan, kesejahteraan dan kesenangan pribadi lainnya, sedangkan keagamaan hanya sekitar 3,6% saja.

3. Perkembangan Perasaan

Pada masa ini merupakan masa kematangan seksual, rasa ingin tahunya yang sangat besar dapat menjerumuskan para remaja ke arah tindakan seksual yang negatif. Keluarga sebagai lingkungan entitas awal pendidikan miliki tanggung jawab yang besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Untuk itu hendaklah keluarga menciptakan lingkungan yang agamis agar anak memiliki figur dalam pembentukan kepribadian dan pola pikir yang agamis.

4. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada remaja bertitik tolak pada perasaan berdosa dan usaha untuk mencari perlindungan. Tipe moral pada remaja diantaranya

1) Self directive, ketaatan berdasarkan pertimbangan pribadi.

2) Adaptive, meniru keadaan lingkungan tanpa banyak mengkritik.

3)Submissive, adanya rasa ragu terhadap ajaran moral dan agama.

4) anadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.

5) Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan dan tatanan moral masyarakat.

5. Sikap dan Minat

Besar kecilnya minat remaja untuk mendalami masalah keagamaan adalah tergantung bagaimana orang tua dan lingkungannya memberikan uswah atau contoh kepada anak. Perilaku orang tua yang cenderung pada agama memberikan dampak yang kuat pada perilaku dan memori anak untuk cenderung pula terhadap agama. Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil dengan nuansa keagamaan akan berdampak di kehidupan fase selanjutnya.

6. Ibadah

Ibadah di mata remaja berdasarkan penelitian Ross dan Oskar Kupky dalam Jalaluddin menunjukkan bahwa Sebagian remaja menganggap sembahyang akan memberikan manfaat sebagai media komunikasi dengan Tuhan namun Sebagiannya menganggap sembahyang merupakan media untuk bermeditasi.

Perkembangan keberagamaan pada remaja sejalan dengan contoh yang dia terima, emosinya yang masih labil membutuhkan penguatan dari berbagai element pendukung yang dapat menjawab segala kegelisahannya. Element pendukung tersebut diantaranya adalah orang tua dan keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar. Guru dan para pendidik serta juru dakwah, pemimpin atau tokoh masyarakat dan negara.

Remaja akan semakin merasa gelisah, jika menemui pertentangan antara nilai-nilai agama yang mereka pelajari dengan perilaku orang-orang yang dijadikan panutan misal para pendidik, orang tua, penguasa dan para asatidz. Kondisi membingungkan ini dapat menyebabkan para remaja menjauhi agama disebabkan kondisi emosi yang masih sangat labil.

Masa ketidak stabilan emosi pada masa remaja dinamakan sebagai masa ambivalen, pada masa ini pola pikir dalam setiap memandang sebuah keyakinan selalu mengalami perubahan. Dilansir dari akurat.co bahwa ambivalen merupakan jenis kata sifat yang memiliki makna pemikiran yang bertolak belakang dan bertentangan. Masa ini merupakan masa yang kompleks yang terdiri dari unsur-unsur berlawanan satu sama lain.

Rasulullah memberikan keistimewaan pada remaja yang mengisi hidupnya dengan mendkatkan diri pada Allah, sebagaimana sabdanya dalam sebuah riwayat dari al-Bukhari dan Muslim.


Hadits tentang keutamaan remaja


Konflik dan Keraguan pada Remaja


Konflik keraguan yang terjadi pada remaja dalam ajaran agama menurut W. Starbuck faktor-faktor penyebabnya adalah

1. Salah prasangka dan perbedaan gender

Individu yang mengalami kegagalan dalam meminta sesuatu kepada Tuhannya, misal doa yang tidak terkabulkan akan menyebabkan keraguan akan kebenaran ketuhanan dan hal ini lebih dominan terjadi pada remaja. Terutama terjadi pada remaja yang sedang mencoba belajar dan taat pada agama.

Wanita mengalami proses perkembangan yang lebih cepat dibandingkan laki-laki, untuk itu keraguanpun lebih cepat muncul, namun keraguan dalam diri wanita lebih kecil bersifat alami sedangkan pada laki-laki lebih besar dan bersifat intelek.

2. Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka agama.

Pertentangan yang ada dalam setiap organisasi, dan akhlaq dari para pemuka agama yang tidak sesuai dengan syariat menimbulkan keraguan pada jiwa remaja. Di masa kegoncangannya, remaja membutuhkan figure yang memberikan uswah yang baik dalam pembentukan karakter kuat dalam jiwanya. Sehingga ketika dia mengalami kekecewaan akan berdampak munculnya keraguan terhadap keyakinan yang telah dipilihnya.


3. Pernyataan Kebutuhan manusia

Sifat manusia yang konservatif (senang dengan yang sudah ada) dan Curiosity (dorongan ingin tahu) menjadikan manusia memiliki keraguan. Walau demikian keadaan ini normal terjadi dan dibutuhkan sebagai pendorong untuk ingin mempelajari agama lebih dalam lagi sebagai usaha untuk menuntaskan dan menyingkirkan rasa ragu.


4. Kebiasaan
Seseorang yang terbiasa dengan hal yang sudah biasa diterimanya akan merasa ragu dengan hal-hal yang baru. Sebagai contoh seorang remaja katolik akan merasa ragu dengan ajaran Islam yang dirasakan sangat jauh berbeda dengan ajaran agama yang selama ini dia terima.

5. Pendidikan.

Tingkat pendidikan seseorang juga mendasari sikapnya terhadap ajaran agama. Remaja yang terpelajar akan lebih kritis terhadap ajaran agamanya terutama yang terkesan dogmatis, dan diharapkan memiliki kemampuan untuk menafsirkan ajaran agamanya secara lebih rasional.


6. Percampuran antara Agama dan Mistik

Unsur agama yang terkadang terampur dengan unsur mistik menyebabkan dilema yang meragukan di kalangan remaja. hal-hal mistik mengandung pengertian percaya pada hal ghaib seperti percaya pada Syaithan, jin, malaikat dan hal ghaib lainnya.



Penutup


Masa remaja adalah masa yang paling riskan dalam jenjang kehidupan manusia. Kemampuan remaja dalam mengolah kegoncangan dan keraguan yang ada dalam dirinya menjadi penentu bagi mereka untuk taat dalam menjalankan agama. Perkembangan yang khusus dan sangat pesat di masa remaja menyebabkan para remaja mengalami kelabilan. Ini disebabkan oleh pertumbuhan fisik yang sudah seperti orang dewasa belum berimbang dengan perkembangan psikologisnya.

Ketidak seimbangan ini menyebabkan kemelut dalam jiwanya. Untuk itu dibutuhkan sosok yang mampu mengayomi dan memberikan tauladan yang baik yang bisa dijadikan idola.

Dalam situasi kegoncangan yang sedang dialami dalam jiwanya, terkadang remaja juga dihadapkan pada perkara sulit dalam persoalan agama. Adanya banyak ragam madzhab dan aliran agama yang ditemui dan masing-masing megklaim bahwa kelompoknya yang paling benar, membuat kerancuan dan kebingunagn dalam jiwa remaja.

Dalam kondisi ini peer group atau teman sebaya juga memiliki peranan penting dalam meredam gejolak yang sedang melanda remaja. Untuk itu dariawal libatkan mereka dalam lingkungan yang baik agar menemukan teman sebaya yang bisa membawanya ke pergaulan yang baik juga.

Usaha yang lainnya untuk meredam kegalauan dalam remaja adalah para tokoh dan pendidik agama harus menemukan konsep pendekatan psikologis yang selaras dengan karakteristik remaja. Sehingga ajaran agama yang tersaji untuk remaja bukan hanya pada konteks hitam putih yang berkisar pada dosa dan pahala surga dan neraka. Denagn pendekatan seperti ini diharapkan para remaja tidak memandang agama hanya sekedar lakon ritual semata.

Aspek kognitf, afektif dan psikomotor dalam agama bisa dikembangkan dan diselaraskan dengan karakteristik remaja yang dipenuhi rasa ingin tahu yang besar. Kognitif remaja dapat dikembangkan secara optimal begitu pula aspek afektif mampu memperteguh sikap dan perilaku dan juga aspek psikomotor melengkapi keterikatan dan keterampilan dalam beragama.

Pengenalan agama yang disesuaikan dengan karakteristik remaja diharapkan mampu membuka jendela wawasan remaja dan memahami bahwa ruang lingkup ajaran agama sangat luas, berkaitan dengan perkembangan peradaban manusia dalam usaha meningkatkan harkat dan martabat manusia secara individu dan umum.

Konsep seperti ini diharapkan akan membuat para remaja paham bahwa keberadaan agama bukan untuk memasung dan mengebiri kreativitas tapi lebih pada mengarahkan untuk tetap dalam fitrahnya tanpa mengekang malah menjadi pendorong. Dengan begini remaja akan memahami bahwa agama bersifat universal dan membangkitkan ghirah kecintaan mereka terhadap Agama Islam.


Ciri pemuda baik






Referensi

  • Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2015.
  • Jalaluddin, Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi, Jakarta, Raja Grafindo Persada. 2012.
  • Jalaluddin dan Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 1993.
  • https://akurat.co/ketahui-apa-itu-hubungan-ambivalen-dan-tanda-tandanya
  • https://www.sehatq.com/artikel/batasan-usia-remaja-dan-perubahannya-secara-fisik-dan-mental




Perkembangan Kehidupan Agama pada Anak

Rabu, 16 Maret 2022

Perkembangan Kehidaupan Agama pada Anak merupakan materi keempat yang disajikan pada Mata Kuliah Psikologi Agama di semester V program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Sekolah Tinggi Agama Islam Latansa Mashira, Rangkasbitung, Banten.


 Pendahuluan



Perkembangan kehidupan agama pada anak
. Setiap manusia pada saat dilahirkan ke dunia yang fana (QS. al-Qoshas/28: 88) ini pada awalnya berada dalam keadaan tidak mengetahui dan tidak memahami sesuatu. Sampai kemudian Allah Tuhan yang maha kuasa menganugerahkan keberfungsian pendengaran, penglihatan, dan hati/akal (QS. an-Nahl: 78). Proses selanjutnya secara bertahap Allah memberikan kemampuan mendengar berbagai macam suara melalui telinganya, kemampuan melihat beraneka ragam benda melalui matanya, dan kemampuan berpikir untuk dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, sesuatu yang benar dan salah melalui akalnya (tafsir ath-Thabari).



Pada masa anak-anak, manusia dapat mengenal berbagai macam hal, termasuk agama dari pengaruh lingkungan yang ada di sekitarnya. Misalnya lingkungan keluarga, dan lingkungan bersosialisasinya. Seorang anak akan mengamati (mendengar, atau melihat) praktik ibadah (mengaji, shalat dan lain-lain) yang dilakukan orang tuanya atau siapapun yang ada di rumahnya secara sepintas, atau bisa juga terus menerus, maka hal seperti itu dapat memberikan pengaruh dalam pengetahuan keagamaannya, baik langsung maupun tidak langsung.ditambah lagi dengan pengamatannya terhadap orang yang berada di luar rumahnya.


Orang yang beribadah di masjid misalnya, atau orang yang mengaji di majelis taklim. Bahkan bisa juga melalui tontonan atau tuntunan melalui media elektronik. Ada beberapa kata, atau kalimat yang dapat didengar anak, misalnya kata Allah, shalat, puasa dan sebagainya, dan ada beberapa perbuatan yang dapat dilihat, misalnya berwudlu, gerakan solat dan yang lainnya.


perkembangan keagamaan pada anak





Hakikat Sikap



Sikap dalam Bahasa Inggris disebut sebagai attitude, dalam “The Penguin Dictionary of Psychology” dijelaskan bahwa, attitude is some internal affective orientation that would explain the actions of a person, sikap dalam psikologi merupakan beberapa penyesuaian kecenderungan dari sisi dalam perbuatan manusia.  Menurut Weber, sebuah penilaian terhadap hal yang disukai ataupun tidak disukai seseorang yang merupakan reaksi yang ditimbulkan dari lingkungannya merupakan SIKAP. Sikap muncul secara berpasangan yaitu disadari dan tidak disadari dan akan berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman.


Sarlito (1996) menerangkan bahwa sikap merupakan respon seseorang terhadap sesuatu. Jalaluddin berpendapat bahwa sikap merupakan candu atau kecintaan untuk menyenangi atau tidak menyenangi sesuatu hal yang berkaitan dengan kognisi, afeksi dan konasi. Dari beberapa pengertian sikap yang telah dijabarkan bisa disimpulkan bahwa sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap suatu objek yang bersifat mendekati atau menjauhi, dilakukan melalui penilaian yang berbentuk menyenangi atau tidak menyenangi, menyetujui atau tidak meneyetujui dan lainnya.

 
Sikap Keagamaan


Hafidhudin (2003) menjelaskan bahwa sikap keagamaan merupakan kedalaman seseorang terhadap ilmu, keyakinan yang kuat, seberapa senang melakukan ibadah dan seberapa dalam memaknai ibadah yang dikerjakan. Sikap keagamaan ditunjukkan dengan praktek ibadah yang dijalankan oleh seseorang.


Said Aqil Siraj (2006) mendefinisikan sikap keagamaan seseorang ditunjukkan dengan kepercayaan yang kuat dari seorang hamba terhadap Tuhannya sehingga semakin kuat kepercayaan yang ditanamkan dalam jiwanya semakin kuat dia melaksanakan apa yang menjadi titah Tuhannya.


Jalaluddin (1995) berpendapat bahwa sikap keagamaan mendorong seseorang untuk taat dalam beragama, yang terbentuk dari kepercayaan terhadap agama (kognitif) penghayatan terhadap agama (afektif) dan perbuatan yang dilakukan untuk agama (konatif).


Perubahan Sikap Keagamaan



Menurut Zakiah Darajat dalam Lilis Suryani (2008), perubahan pada sikap keagamamaan adalah perubahan pada tingkat kemampuan dalam memahami, percaya, dan mengedepankan pemahaman kebenaran yang berasal dari sang Khaliq. Menjadikan pedoman dalam berbahasa, bersikap dan bertingkah laku terhadap kepercayaannya.


Menurut Maramis (1980) fisik dan psikis anak yang terus berkembang menyebabkan pemahaman anak terhadap agama semakin realistis seiring dengan pola pikirnya yang berkembang.


Potensi fitrah yang dimiliki oleh manusia dari sejak dilahirkan menjadikan manusia memiliki agama. Walaupun Ketika dilahirkan manusia belum beragama, namun telah memiliki firah untuk menjadi manusia beragama dan memiliki potensi kejiwaan serta dsar-dasar ber-Tuhan. Untuk itu Sikap keagamaan pada anak berkembang sejak bayi.pernyataan ini diungkapkan oleh Aziz Ahyadi (2005:40).


Menurut Woodworth dalam Jalaluddin (1995) potensi keagamaan merupakan insting keagamaan yang dimiliki oleh anak sejak lahir selaras dengan tumbuhnya insting sosial dan fungsi kematangan tubuh yang lainnya. Walau memiliki tubuh dan fisik yang lemah manusia telah dibekali insting keagamaan dalam fitrahnya.



Perubahan Sikap Keagamaan anak Usia Dini.



Menurut Ernest dalam Lilis Suryani (2008:9) anak-anak memiliki perubahan dalam memahami nilai agama berlangsung melalui tiga tahap perkembangan, diantaranya yaitu:


1. Tingkat Dongeng (The Fairy Tale Stage).

Pada tingkat ini sikap keagamaan pada anak masih berdasarkan pada daya imajinasi, mereka menyamakannya dengan tokoh-tokoh dalam film atau dongeng yang memiliki kekuatan super seperti bisa menghilang, memegang api dan lainnya. Anak yang berada pada rentang usia tiga sampai dengan enam tahun berada pada fase ini. Pada masa ini sikap keberagamaan pada anak dilandasi oleh keinginan untuk memiliki keajaiban.


2. Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage).

Pada amas aini anak sudah mengerti bahwa agama bukan untuk memperoleh keajaiban seperti yang didapatkan pada tokoh imajinasi anak-anak, namun lebih kepada untuk mendapatkan kenyamanan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Anak yang berada pada rentang usia tujuh sampai dengan lima belas tahun berada pada fase ini. Untuk itu di usia ini anak sudah mulai tertarik pada kegiatan keagamaan yang lebih formal dan mempelajarinya lebih jauh.



3. Tingkat Individu (The Individual Stage).

Konsep keagamaan anak pada tingkat ini berkembang menjadi tiga konsep yaitu konsep keagamaan yang konservatif dan konvensional, konsep keagamaan murni dan konsep keagamaan humanistik. Berkaitan dengan ini, Imam Bawani dalam Sururin (2004:56) membagi fase perkembangan agama pada anak-anak menjadi empat bagian, yaitu:


1. Fase dalam kandungan.

Dalam fase ini perkembangan agama sudah dimulai sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam Surat Al-A’rof: 172.





2. Fase bayi.


Perkembangan agama pada fase ini belum terlalu banyak terjadi, namun Islam telah menuntun kita untuk mulai memperkenalkan agama di fase ini melalui ajaran yang telah dituangkan dalam banyak hadits dan juga penjelasan dalam Al-Quran, misalnya dengan memperdengarkan adzan dan iqamah ketika pertama kali anak dilahirkan ke dunia.


3. Fase kanak-kanak.


Fase kanak-kanak merupakan fase paling baik dalam menyerap kejadian yang ada di sekitarnya. Orang tua harus berperan aktif dalam proses perkembangan agama anak. Anak mengenal Tuhan melalui kegiatan orang-orang disekelilingnya, jika yang diperoleh dari panca indera anak sesuatu yang baik-baik seperti orang tua yang mengaji, sholat banyak berdzikir, anakpun dapat meniru dan menyerap walau sejatinya belum pada tataran memahami. Stimulasi sikap keagamaan yang positif dari lingkungan sekeliling anak diharapkan akan berkembang ke arah yang positif.


4. Fase masa sekolah.

Intelektual anak yang semakin berkembang di masa ini menjadikan perkembangan agama anak semakin realistis, bekal agama yang ditanamkan melalui pendidikan dalam keluarga menjadi bekal bagi anak ketika mulai mengenal dunia sekolah.


Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Keagamaan Anak.



Faktor yang mempengaruhi perkembangan keagamaan pada anak meliputi dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor kepribadian dan keturunan, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang ada dalam lingkungan keluarga, Lembaga dan masyarakat. Berikut penjelasan tentang perkembangan keagamaan anak yang mencakup faktor internal.


1. Faktor Hereditas atau keturunan

Faktor hereditas didapat dari keturunan dalam artian bahwa karakteristik seseorang diturunkan melalui gen yang dimiliki orang tuanya. Untuk itu Islam menuntun kita untuk mencari pasangan yang baik agar memiliki keturunan yang baik sebagaimana Rasulullah berpesan dalam sebuah hadits “Lih atlah kepada siapa anda letakkan nutfah (sperma) anda, karena sesungguhnya asal (al- I’rq) itu menurun kepada anaknya”.


2. Faktor Kepribadian.


Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kepribadian memberikan pengaruh pada perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Zakiah Daradjat dalam Ramayulis (2009: 98) menerangkan bahwa sikap keagamaan berkembang dari apa yang didapat bukan bawaan. Untuk itu sangat penting peranan kenyamanan rumah, orang tua, orang-orang sekitar, teman dan lingkungan dalam proses perkembangan agama pada setiap individu.


Menurut Sujanto (2004: 46) kepribadian pada anak mulai terbentuk ketika anak berusia 0-5 tahun, anak akan sangat mudah menyerap apa yang di lihatnya dengan belajar dari lingkungan tempat dia tumbuh. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kecenderungan sikap yang baik maka diharapkan akan berkembang kepada hal-hal yang baik juga, begitupun sebaliknya.


Faktor pembawaan atau fitrah beragama merupakan potensi yang membawa pada sebuah perkembangan. Dikuatkan oleh faktor eksternal yang menjadi pemicu dalam perkembangan keagamaan seseorang. Faktor eksternal didapatkan dari stimulus dalam keluarga, Lembaga dan masyarakat.


1. Lingkungan Keluarga. Entitas yang paling sederhana dalam kehidupan sosila manusia adalah keluarga. Dalam keluarga pendidikan awal untuk seorang anak manusia dimulai. Orang tua lah yang memberikan kesan pertama dalam kehidupan seorang anak. Keluarga memiliki peran dominan dalam pembentukan perkembangan keagamaan anak di masa yang akan datang, hal ini ditegaskan juga oleh Sururin (2004: 57).


2. Lingkungan Institusional. Pendidikan formal yang bergerak secara instruksional sistematis adalah sekolah. Keterbatasan pengetahuan orang tua dalam proses pendidikan, dilanjutkan ke lembaga sekolah agar anak mendapatkan bimbingan yang lebih terarah. Potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal dari aspek jasmani, intelektual, sosial emosional dan juga moral spiritual pendapat ini diperkuat oleh Ahmad zein dan Jalaluddin (1994: 217) Schweinhart dalam Siti Aisyah dkk (2007: 42) memberikan penekanan bahwa kesan yang didapatkan oleh anak-anak dari sekolah memberikan dampak yang positif untuk perkembangan anak selanjutnya.


3. Lingkungan Masyarakat. Anak belajar dari lingkungan tempat dia bersosialisasi, jika lingkungan sosial memberikan contoh yang baik dalam permasalahan akhlak dan nilai-nilai keagamaan maka diharapkan anak akan memiliki perkembangan agama yang baik, begitu juga sebaliknya jika anak bergaul dalam lingkunagn yang buruk maka kemungkinan akan memberikan dampak yang buruk juga. Hurlock menjelaskan bahwa peraturan dalam sebuah kelompok berpengaruh pada perilaku moral para anggotanya.



Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa sikap keagamaan anak merupakan refleksi dari sikap yang dia lihat dari orang dewasa sekitarnya dari lingkungan tempat dia tinggal. Untuk itu bagus atau tidaknya perkembangan agama pada anak tergantung pada orang dewasa dan lingkungan sekitar yang membentuknya.



Strategi Pembentukan Sikap Keagamaan Anak Usia Dini.



Dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta disebut juga hidayat al-diniyat yang telah hadir dari sejak lahir, dari sinilah bisa dibuktikan bahwa manusia merupakan makhluk beragama. Potensi ini akan berkembang dengan benar jika ada bimbingan, hal ini juga dijabarkan oleh Jalaluddin (1995: 66-69).


Begitu pula dengan Megawangi, menyatakan bahwa lingkungan yang berkarakter diiringi dengan usaha yang terencana, fokus dan komperehensif akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang beragama.


Maria (2005: 125) memaparkan bahwa untuk mengembangkan moral pada anak usia dini bisa melalui penerapan beberapa teknik yang diantaranya yaitu membiarkan, tidak menghiraukan, memberikan contoh, mengalihkan arah, memuji, mengajak dan menantang. Adapun strategi yang bisa membentuk moral pada anak usia dini diantaranya yaitu:


1. Strategi Latihan dan Pembiasaan. Melalui Latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk sikap yang relative menetap pada anak. Misalnya jika anak dibiasakan untuk saling menghormati dan menghargai dalam anggota keluarga, maka pribadi anak akan terbentuk memnjadi pribadi yang menghormati dan menghargai.


2. Strategi Aktivitas Bermain. Dalam Maria (2005: 129) Riset yang dilakukan Piaget menyatakan bahwa perkembangan bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan sikap moral keagamaan pada anak. Dari proses bermain anak mulai mengenal kata aturan dalam permainan, dari sini akan berkembang dan membiasakan anak untuk taat pada peraturan yang lainnya termasuk peraturan dalam agama.



Strategi Pembelajaran. Pengembangan moral anak usia dini dapat diotimalkan melalui strategi pembelajaran berdasarkan moral yang dilandaskan pada nilai-nilai yang dapat diterapkan pada diri seseorang, seperti kejujuran, kesetiaan, penghormatan, keberanian dan nilai baik lainnya. Pernyataan ini juga di kuatkan oleh Maria dalam tulisannya yang berlabel Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini.




Penutup


Para orang tua diharapkan dapat mengajarkan perkembangan kehidupan agama bagi anak kepada putra putrinya dengan lebih baik. Karena agama adalah bekal yang paling berharga untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Agama merupakan ajaran yang akan menuntun manusia untuk bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah.


Perkembangan kehidupan agama bagi anak-anak memiliki tiga pokok bahasan yang harus dipahami oleh para orangtua dan guru. Ketiga poin itu adalah: Pertama, tahapan penting pada perkembangan keagamaan anak-anak. Kedua, ciri dan sifat keberagamaan pada anak-anak. Ketiga, alur pembentukan pengetahuan keagamaan pada anak-anak.


Anak-anak merupakan masa depan sebuah bangsa, untuk itu bentuk anak-anak kita untuk cinta ilmu dan cinta Islam agar mereka memiliki karakter yang unggul dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Salam pengasuhan. luve.






Referensi



Q.S. 28, Al-Qoshosh: 88. Sugema Sony, Digitalquran, ver. 3.1, tp, 2003 2004, softcopy, http://www.geocities.com/sonysugema2000

Q.S. 16, An-Nahl: 78. Sugema Sony, Digitalquran, ver. 3.1, tp, 2003-2004, softcopy, http://www.geocities.com/sonysugema2000

Abu Ja’far At-Thobari, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al-Amali, 2000 M./1420 H. Tafsir At-Thobari, softfile, www.qurancomplex.com.

Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Bandung : Mertiana, 2005.

Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, Jakarta: Gema Insani Press, 2003.

Erham Wilda, Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009.

Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan. Surabaya: Putra Al Ma’arif, 1994.

Lilis Suryani dkk, Metode Pengembangan Sikap dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Jakarta: Universitas Terbuka, 2008.

Maramis, Ilmu Kedoteran Jiwa, Surabaya: Airlangga University Press, 1980.

Maria J. Wantah, Pengembangan Disiplin dan Pembentukan Moral pada Anak Usia Dini, Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, 2005.

Said Aqil Siraj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, Bandung: Mizan Pustaka, 2006.

Siti Aisyah dkk, Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.

Slamet Sujanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat, 2004.

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : Grafindo Jaya, 2004.

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:Remaja Rosdakarya, 2004.





























Kebutuhan Manusia Terhadap Agama

Minggu, 06 Maret 2022

Materi ini disampaikan pada perkuliahan pertemuan ke tiga pada Mata Kuliah Psikologi Agama Program Studi Strata Satu Pendidikan Islam anak Usia Dini Sekolah Tinggi Agama Islam Latansa Mashiro, rangkasbitung, Lebak, Banten.





PENDAHULUAN

 

Manusia memiliki kebutuhan agama dalam upaya menjaga fitrah yang telah dibawanya dari sejak lahir (Andriyani, 2015). Fitrah manusia disertai dengan empat potensi yang satu sama lainnya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Potensi-potensi tersebut diantaranya adalah potensi fisik atau psikomotor, potensi Intellectual Question (IQ), Sosial Emosional Question (EQ) dan Spiritual Question (SQ).


Fitrah yang dimiliki manusia masih dapat berkembang ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya sesuai dengan usaha manusia dalam menjaga fitrah yang dimilikinya. selain itu juga hidayah dari Allah ta’ala juga menjadi penentu baik atau buruknya perkembangan fitrah yang dimiliki manusia, untuk itu hidayah harus dikejar dengan berikhtiyar terus menuntut ilmu dan belajar.


Agama merupakan penuntun jalan bagi seseorang agar dia tidak tersesat di dunia yang asing bagi dirinya. Agama merupakan pedoman hidup. Agama mampu mematangkan pola pikir seseorang. Menuntunnya menuju suatu hal yang mampu menyelamatkannya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Agama mampu menjalin keakraban antara seseorang dengan takdir yang harus dijalaninya. Agama mampu menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan sang Khaliq.


 

PEMBAHASAN


Hakikat Manusia

 

a.   Makna Manusia menurut Para Ahli


Sebagai manusia, kita perlu mengetahui hakikat keberadaan diri kita sendiri. Siapakah kita,  Dari mana kita berasal, mengapa kita diciptakan, kemana kita akan kembali dan  bagaimana kita diciptakan?

Ramayulis (2018) menerangkan, manusia merupakan bagian dari sejarah. Keberadaan manusia dibuktikan dari perjalanan sejarah manusia itu sendiri. Sastraprateja (1982) menambahkan bahwa hasil pengamatan dari proses perjalanan manusia merupakan rangkaian dari anthropological constant atau disebut juga sebagai hasrat permanent yang dimiliki oleh manusia. Hasrat permanent ini terdiri dari enam element yang satu sama lainnya saling berkaitan, diantaranya yaitu:


1. Hubungan antara manusia, raga, nature dan lingkungan.

2. Hubungan yang harmonis dengan sesama.

3. Terhubung dengan struktur sosial dan institusional.

4. Memiliki ketergantungan tempat dan waktu dalam komunitas masyarakat dan kebudayaan.

5. Antara teori dan praktik terjadi hubungan yang saling berkaitan.

6. Kesadaran beragama bagi para pemeluknya.

 

Murthada Mutahhari memberikan penggambaran manusia seuai dengan yang diterangkan dalam Al-Qur'an, bahwasannya manusia adalah makhluk pilihan Tuhan yang diutus sebagai khalifah, memiliki tugas untuk bertanggung jawab atas dirinya dan alam semesta, serta kepada Tuhannya. Kemajuan pada manusia berasal dari kelemahan dari dalam dirinya untuk meneruskan kelangsungan hidup. Dua potensi baik dan buruk dalam dirinya, menyebabkan manusia bisa menjadi hamba yang bersyukur, namun sekaligus menjadi seorang hamba yang pembangkang. Untuk itu Al-Qur'an mengingatkan agar manusia selalu mengingat tentang jati dirinya.

 

Syafri menjabarkan bahwa teori manusia dikembangkan dari pemikiran filsafat barat yang mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang terdri dari unsur materi dan roh.  Para ilmuwan barat menganggap manusia sebagai worldview yang memiliki beberapa bentuk, diantaranya homo sapiens atau manusia berbudi, Animal Rational yang artinya hewan berpikir, homo laqueen yaitu makhluk yang pandai menerjemahkan perasaan manusia karenanya terbentuklah Bahasa. Homo faber, yaitu makhluk yang terampil atau kata lainnya tool making animal, hewan yang mahir menciptakan peralatan. Zoon Politicon atau makhluk sosial. Homo economicus, makhluk yang tunduk pada peraturan ekonomi serta homo religious yang berarti makhluk beragama.

 

 

b.  Manusia Menurut Al-Qur'an

 

Al-Qur'an menjelaskan eksistensi manusia dari mulai diciptakannya Nabi Adam sebagai manusia pertama dan juga terciptanya manusia yang dimulai sejak dari rahim ibu, proses kejadiannya digambarkan dalam Al-Qur'an  surat Al-Mukminun (23) ayat 12-14




 

Ayat lain yang menjelaskan tentang keberadaan manusia diantaranya al-A’raf (7): 172-174, ayat ini menjelaskan agar manusia tidak durhaka terhadap Tuhannya. Al-Baqarah (2): 30, mengisyaratkan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi seorang khalifah di bumi. Adz-Dzariyat (51): 56, mengisyaratkan bahwa tugas manusia adalah mengabdi pada Allah. Al-Hujurat (49): 13, mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan komunitas. Al-Baqarah (2): 31-32, yang mengisyaratkan agar manusia terus belajar dan mengajarkan.

 

Eksistensi manusia di dalam Al-Qur'an digambarkan melalui tiga term, yaitu

1. Al-insan: Ayat al-insan dalam Al-Qur'an banyak mengungkapkan manusia dari sisi manusia seutuhnya. Manusia terdiri dari jasmani, rohani dan akal pada sisi biologis dan psikologis.

2. Basyar: term basyar biasanya membicarakan salah satu aspek manusia istilah mudahnya menjabarkan manusia sebagai makhluk biologis.

3. An-Naas. mengungkapkan manusia yang berkedudukan sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia yang membutuhkan hubungan horizontal.



Kebutuhan Manusia Terhadap Agama


Agama merupakan risalah yang ditetapkan oleh Allah sebagai pegangan dalam kehidupan yang dijalani oleh manusia, memberi tuntunan bagi manusia agar tidak tersesat. Hukum dan peraturan yang ditetapkan oleh Allah diupayakan agar membentuk manusia menjadi pribadi yang matang dan bertanggungjawab.


 Fungsi dan Posisi agama bagi Manusia


Agama merupakan kebutuhan yang mendasar yang harus dipenuhi oleh manusia. Melalui agama manusia mengerti tentang hakikat hidupnya. Melalui agama manusia memiliki penuntun agar tak salah arah. Melalui agama hal-hal yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan atau muamalah diatur dengan baik, sehingga manusia bisa merasakan kehidupan yang aman dan damai. Agama melapangkan jalan dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.

Secara umum dari zaman dahulu kala agama telah hadir di dunia, pembuktiannya ditemukan beberapa artefak yang melambangkan pada kegiatan ritual manusia di zaman dahulu. Ini menunjukkan bahwa agama benar-benar kebutuhan mendasar bagi manusia.

Sedangkan dalam Islam, dari sejak nabi Adam dan Ibu hawa diciptakan, Agama tauhid sudah menyertai kedatangan mereka ke dunia. Untuk itu Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, seperti yang diterangkan dalan Al-Quran surat Asy-syura (42): 13, Allah berfirman:

 


 

 Alasan Mengapa Manusia Butuh terhadap Agama


Beberapa  alasan mengapa manusia butuh terhadap agama adalah diantaranya:

1. Manusia memiliki fitrah. Kebutuhan beragama pada manusia berasal dari fitrah yang dimilikinya. terbukti dengan ditemukannya berbagai artefak yang mengarah pada proses ritual keagamaan, bahkan pada komunitas manusia primitif

2. Untuk mengatasi tantangan yang manusia dapatkan baik dari dalam yaitu berupa dorongan hawa nafsu dan godaan syaithan. Maupun tantangan dariluar berupa godaan dari manusia itu sendiri, agar memalingkan dirinya dari mengingat Tuhan.

3. Manusia ingin mempertahankan dirinya sebagai makhluk mulia

4. Untuk membimbing akal agar mampu selaras dengan panggilan hati Nurani.

5. Mengatasi kelemahan dan kekurangan yang dimiliki manusia. Potensi kejiwaan yang ada dalam diri manusia menjadi fokus perhatian yang harus dijaga. Al-Qur'an menyarankan, bagian terdalam dari manusia ini diperhatikan dan dirawat, agar potensi manusia untuk tetap berada dalam kebaikan tetap bisa dipertahankan.



Hubungan Manusia Secara Vertikal dan Horizontal

 

Manusia diciptakan secara sempurna oleh Allah Azza wa Jalla, perannya di dunia ini pun diatur secara sempurna. Ada dua hubungan yang harus manusia jaga, yaitu hubungan secara vertical yang lebih menjurus pada hubungan antara manusia dengan sang Khaliq atau penciptanya. Lebih familiar dengan sebutan Hablun minallah (Hubungan Vertikal). Sedangkan hubungan Horizontal, yaitu lebih menekankan pada hubungan yang terjalin antara manusia dengan makhluq lainnya. Lebih familiar dengan sebutan Hablun minannas (Hubungan Horizontal).

 

Antara hubungan vertikal dan hubungan horizontal saling terkait satu sama lain, misal dalam perkara shalat. Manusia shalat diniatkan beribadah semata-mata hanya ditujukan pada Allah ta’ala ini kaitannya dengan hubungan vertical atau hablun minallah. Kaidah dan tata cara shalat yang menuntun manusia untuk berlaku tertib dan terstruktur akan memberikan dampak positif atau memberikan  kemaslahatan dalam berhubungan dengan sesama makhluk yang masuk dalam konteks hubungan horizontal atau hablun minannas. Kaidah keutamaan sholat berjama’ah yang diajarkan oleh Islam, melatih manusia untuk memiliki jiwa sosial untuk saling perduli mau berdiri sejajar  tanpa membedakan kasta.

 

Contoh lain lagi pada perkara zakat. Zakat dikerjakan memiliki dua unsur tujuan yaitu pertama sebagai wujud bakti manusia terhadap sang khaliq, karena zakat merupakan perintah dari Rabbul alamiin dan ini masuk dalam konteks hablun minallah. Kedua dengan adanya zakat maka akan menimbulkan kesejahteraan bagi golongan yang tidak mampu, si kaya membersihkan hartanya dengan hitungan nasab yang telah ditetapkan, sedangkan kaum fakir miskin akan merasakan dampak dari zakat yang tersalurkan dengan baik,ini masuk dalam konteks hablun minannas.

 

 

 

PENUTUP


Dari beberapa ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang manusia, didapatkan kesimpulan bahwasannya manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah azza wa jalla dengan kondisi yang sempurna, diciptakan dari material tanah dan air yang terpancar. Pada proses selanjutnya ditiupkan roh kehidupan oleh Allah.


Fitrah tauhid menyertai setiap anak cucu Adam dari sejak dilahirkan. Melalui panca indera yang dibekali oleh Allah. Manusia dibekali potensi fasik dan taat, karenanya manusia merupakan makhluk yang membutuhkan komunitas dari satuan terkecil yaitu keluarga sampai pada satuan besar yaitu negara.


Selain itu juga manusia diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya dan disarankan untuk terus belajar agar tak salah dalam membuat pilihan. Mengajarkan apa yang diketahui, juga termasuk kesempatan yang diberikan oleh Allah, agar manusia bisa terus berbuat baik dan melaksanakan tugasnya sebagai pengabdi Tuhan dan khalifatul fil ardi.


Fitrah yang dimiliki manusia, mempertahankan kemuliaannya, serta melindungi dirinya dari potensi keburukan serta menjaga akalnya agar tetap tunduk pada syariah Tuhan merupakan alas an manusia bahwa dirinya benar-benar membutuhkan agama.


Hablun minallah dan hablun minannas harus benar-benar dijalankan secara baik oleh manusia, dalam rangka mewujudkan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai hamba yang memiliki posisi khalifatu fi al-ardy. Wallahu a’lamu bi showab.

 



REFERENSI


Andriyani, Isnanita Novia. Menjaga kesucian fitrah manusia. Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015.

Syafri, Ulil Amri. Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur'an. Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam Bandung: al-Ma’arif, 1980.

Muhammaddin. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama. Jurnal Ilmu Agama UIN Raden Fatah. Vol.15, Nomor 1, Tahun 2013.

Sastraprateja. Manusia Multidimensial: Sebuah Renungan Filsafat. Jakarta: Gramedia, 1982.

https://kbbi.web.id/didik

 

 

Pendidikan Agama Islam

Senin, 14 Februari 2022

Artikel Pendidikan Agama Islam ini merupakan materi pertemuan kedua pada mata kuliah Ilmu Jiwa Agama/psikologi agama. Disampaikan pada perkuliahan program studi Strata satu Pendidikan Islam Anak Usia Dini semester VI di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Latansa Mashira, Lebak Banten.

 

Pendidikan Agama Islam


Pendahuluan


Terkadang kita dibingungkan dengan istilah Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam. Apa perbedaannya? Sedikit saya uraikan dalam pendahuluan materi ini, agar kita langsung memiliki pijakan yang jelas ketika berusaha memahami konsep Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam. Pendidikan Agama Islam merupakan pembelajaran yang dilakukan di lingkup pendidikan formal semisal di madrasah, sekolah dan pesantren. Sedangkan Pendidikan Islam adalah pembelajaran yang dilakukan secara informal misalnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Singkat, padat dan jelas, bukan?

 

Kini kita beranjak pada esensi dari pendidikan itu sendiri. Manusia dalam upaya menjaga fitrah sangat memerlukan pendidikan. Pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi manusia, karena  manusia dilahirkan benar-benar dalam keadaan tak memiliki pengetahuan sedikitpun, keadaan ini digambarkan dalam Al-Qur'an surat an-Nahl: 78,  Allah azza wajalla berfirman:




Ramayulis (menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang memerlukan pendidikan sesederhana apapun bentuknya, sekecil apapun komunitas tempatnya berada, karena pendidikan merupakan kebutuhan bagi kehidupan manusia.

Seperti halnya Rasulullah salallahu alaihi wa salam, diperintahkan membaca melalui perantara Jibril alaihi salam, ini merupakan bagian dari proses pendidikan.  Gambaran Rasulullah kala itu diceritakan dalam Al-Qur'an surat al-Alaq ayat 1-5, yang isinya, Allah ta’ala berfirman

 



Firman Allah yang tersurat dalam Al-Qur'an surat al-Alaq ayat 1-5 mengisyaratkan bahwa manusia harus banyak membaca. Membaca merupakan  proses dari belajar.

 

 Pembahasan


1.   Hakikat Pendidikan


a.   Makna Etimologi (Bahasa)


Kata Pendidikan dalam Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “didik”, diberikan imbuhan “pe” dan “an” menjadi “pendidikan”. Dalam Kamus Besar Bhasa Indonesia (KBBI) mengandung arti etimologi yaitu perbuatan atau cara melatih dan mengajar mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Menurut pemaparan Ramayulis (2002), kata pendidikan berasal dari Bahasa Yunani Paedagogos yang memiliki arti membersamai anak-anak. “Paedos” bermakna “anak” dan  agoge memiliki arti saya memimpin atau membimbing. Dahulu di Yunani kuno paedagogos merupakan pelayan yang memiliki peranan sebagai pengantar dan penjemput anak-anak. Namun seiring berjalannya waktu makna kata ini bermetafora, posisi sebagai pelayan berubah menjadi pembimbing, pendidik atau ahli dalam mendidik. Kemudian Bahasa inggris memaknainya dengan kata “Education”, yang artinya pengembangan atau bimbingan.

 

b.      Makna Terminologi


Menurut Ramayulis (2002) ada tiga pandangan yang menyertai makna Pendidikan secara terminology. Pertama ditelaah dari sudut pandang tokoh Pendidikan Indonesia, kedua dari tokoh Pendidikan barat dan yang ketiga dari sistem Pendidikan Nasional.


Secara terminologi, salah satu tokoh Pendidikan Indonesia Hasan Langgulung memaknai pendidikan  dari dua sisi pandang. Pertama dari sudut pandang masyarakat, kedua dari sudut pandang perseorangan. Dari sudut pandang masyarakat, pendidikan bermakna pewarisan kebudayaan yang dilimpahkan generasi tua ke generasi muda, dengan tujuan agar identitas tetap terjaga. Dari sudut pandang perseorangan, Pendidikan memiliki arti potensi atau kemampuan yang belum muncul dari dalam diri manusia berusaha untuk dikembangkan dan membentuk manusia menjadi sosok yang mempuni.


Tokoh Pendidikan barat Coser dkk mengartikan Pendidikan sebagai kegiatan menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta nilai dari guru kepada muridnya, dengan  tujuan agar muridnya tersebut mampu menjalankan hidupnya dan memiliki etika sosial yang baik.


Aristoteles berpendapat bahwa Pendidikan adalah usaha untuk membentuk  manusia agar memiliki akhlak yang pantas.


Dalam Undang-undang SISDIKNAS dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang direncanakan agar peserta didik mampu secara aktif mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta segala macam keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Dari beberapa penjelasan tentang pendidikan di atas terdapat benang merah yang bisa kita ambil sebagai inti dari makna Pendidikan yaitu:


1. Proses Pendidikan dilakukan secara sadar dan terencana.

2. Pendidik merupakan subjek dalam Pendidikan.

3. Peserta didik sebagai objek dalam Pendidikan.

4. Kompetensi merupakan tujuan dari sebuah Pendidikan

 

 Hakikat Agama Islam

 

Agama


Pengertian agama telah dijelaskan pada pembahasan di pertemuan pertama, dibagian ini saya akan menguraikan aspek yang menyertai keberadaan agama untuk memperjelas hakikat dari agama.  Muhammadin (2013) menjabarkan tentang lima aspek yang menyertai keberadaan agama, diantarnya yaitu:

 

 1. Aspek asal usul. Keberadaan agama berasal dari dua sumber yaitu agama samawi yang berasal dari Tuhan dan agama ardhy yang berasal dari buah pikir manusia.

2. Aspek manfaat. Manfaat agama untuk memberikan kebaikan dan kebahagiaan  di dunia dan akhirat.

3. Aspek ruang lingkup. Agama menjadikan kita yakin akan adanya kekuatan ghaib

4. Aspek kemasyarakatan. Agama diwariskan secara turun temurun, dilanjutkan tongkat estafetnya dari generasi ke generasi.

5. Aspek Sumber. Berasal dari kitab suci yang dijadikan pegangan untuk menuntunnya dalam menjalani perannya sebagai makhluk yang menempati dunia.

 

Islam


Islam sendiri berasal dari kata aslama yang mengandung makna berserah diri, ketundukan dan kepatuhan kepada Rabb sang pencipta. Diambil juga dari kata salima yang memiliki arti keselamatan. Pemeluknya dinamakan Muslim. Pernyataan ini diisyaratkan dalam Al-Quran surat al-Baqaah (2): 112, melalui firman Allah jalla wa ‘ala yang berbunyi:

 



Hakikat Pendidikan Islam


Makna Etimologi (Bahasa).

 

Dalam konteks Islam, Pendidikan memiliki arti yang sangat majemuk dan mendalam. Kata yang satu berkaitan dengan yang lain dan diperdalam lagi dengan kata yang lainnya dengan penjabaran yang lengkap dari sudut pandang Al-Qur'an, as-Sunnah juga Ijma serta Qiyas. Namun saya di sini hanya menjabarkan secara garis  besarnya saja makna dari kata Pendidikan dalam Islam.

 

Ramayulis memaparkan bahwa pendidikan berasal dari tiga kata Bahasa Arab  yang satu sama lainnya saling berkaitan. Tiga kata tersebut diantaranya


  1. At-Tarbiyah, berasal dari kata Rabba yarubbu, yang memiliki arti membimbing, memperbaiki, menguasai, memimpin, memelihara, dan menjaga.
  2. At-Ta’lim, secara lugahwi berasal dari kata ’allama yu’allimu memiliki arti mengajar.
  3. Al-Ta’dib, memiliki asal kata 'addaba yu'addibu, yang memiliki arti beradab.



Dari tiga term di atas, yang paling sering dijadikan rujukan sebagai makna Pendidikan adalah term kata tarbiyah. Tarbiyah mengandung makna kegiatan Pendidikan secara keseluruhan yang mengupayakan kesiapan seorang individu untuk menghadapi dunia lebih matang dan terarah, menjunjung tinggi nilai, etika dan moral kemanusiaan.

Makna Terminologi


Langgulung (1980) menyatakan bahwa Pendidikan Islam merupakan persiapan membentuk para generasi muda agar paham dan sadar posisinya sebagai umat Islam yang harus memaknai nilai-nilai keislaman yang dianutnya. Berusaha menjalankan apa yang ada dalam kaidah Islam agar selamat di dunia dan akkhirat.

 

Dalam Ramayulis (2009), pada tahun 1960, para ahli merumuskan tentang pengertian Pendidikan Islam dalam seminar Pendidikan Islam se-Indonesia. Pendidikan Islam merupakan proses bimbingan yang didasarkan pada nilai-nilai ke-Islaman untuk mengarahkan, melatih, mengasuh, mengajarkan dan membina secara jasmani dan rahani.


Pendikan Islam mengalami banyak perubahan pada dekade ini, yang menjadi latar belakangnya adalah perkembangan zaman dan tatanan sosial yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Menurut  Daradjat (2008), Agama Islam dijadikan sumber sebuah kebudayaan yang diciptakan oleh para penganutnya, oleh karenanya kebudayaan di suatu daerah tercermin dari ajaran yang dianut para masyarakatnya.


Para umat Islam untuk melangsungkan keberadaannya wajib  untuk mentarbiyah dirinya dengan Tarbiyah Islamiyah, agar mampu membentuk dirinya menjadi Khalifatul fil-ardi yang Amanah, menjaga titipan yang diberikan kepadanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Karena dia paham kaidah yang dianutnya, bahwa segala sesuatu yang dia emban dan dia kerjakan di dunia, segalanya harus dipertanggung jawabkan di kehidupan akhirat kelak.

 

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam


Armai Arief dalam Rosmiyati Aziz (2019) menerangkan ruang lingkup dari Pendidikan Islam membahas permasalahan yang berhubungan dengan Pendidikan keislaman. Kaidah Pendidikan Islam bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman, ilmu dan teknologi. Pendidikan Islam merupakan bagian yang saling mengikat antara satu dan lainnya, karena nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, merupakan koherensi antara esensi ajaran dan praktik kehidupan sehari-hari.


Ruang lingkup Pendidikan Islam menurut Rahman dalam Rosmiyati Aziz (2019) terdiri dari tuntunan ibadah, aqidah dan muamalah yang berdampak pada proses berpikir dan pembentukan akhlaqul karimah.


Unsur-unsur yang terkait dengan penddikan Islam adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan mendidik.

2. Peserta didik.

3. Dasar Pendidikan Islam (Al-Qur'an dan Hadits)

4. Tujuan Pendidikan Islam (Akhlaq Mulia)

5. Materi

6. Metode

7. Evaluasi

8. Alat bantu

9. Lingkungan


 

 Manfaat Pendidikan Islam


Manfaat dari Pendidikan Islam yang langsung dapat diaplikasikan, diantaranya adalah:


1. Mendapat kesesuaian antara teori dan praktik.

2. Mendapat informasi yang seimbang antara input dan output.


Tujuan Pendidikan Islam


Abu Ahmadi dalam Ramayulis (2018) membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi beberapa tahapan, diantaranya yaitu tujuan tertinggi, tujuan yang bersifat umum, tujuan yang bersifat khusus, dan tujuan yang bersifat sementara. Keempat tujuan tersebut dijabarkan sebagai berikut:


1.  Tujuan tertinggi atau terakhir adalah menjadi insan kamil dengan cara menjadi hamba Allah yang semata-mata mengabdikan dirinya hanya pada Allah dan menjadi khalifah Allah fi al-Ardh yang mampu memakmurkan bumi serta mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

2. Tujuan Umum meliputi tercapainya perubahan perilaku dan karakter peserta didik kea rah yang lebih baik.

3. Tujuan khusus tergantung pada kebudayaan serta apa yang diinginkan, minat dan bakat peserta didik dalam situasi, kondisi pada jenjang waktu tertentu.

4. Tujuan sementara bersifat kondisional, tergantung latar tempat tinggal peserta didik. Untuk itu Pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan.


Penutup


Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang mengajarkan tentang membentuk keimanan, melakukan kegiatan beribadah serta membina akhlak manusia menjadi akhlaqul karimah. semua ini bertujuan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


Melalui panca indera yang dibekali oleh Allah manusia dibekali potensi fasik dan taat, Manusia diberi kesempatan untuk memilih, karenanya manusia disarankan untuk terus belajar agar tak salah dalam membuat pilihan. Setelah melakukan proses belajar manusia bisa mengajarkan apa yang mampu dia ajarkan. Hal yang paling pamungkas adalah bahwa manusia memiliki tanggun jawab besar yang harus dipikul, yaitu sebagai pengabdi Tuhan dan khalifah fi al-ardh. Bertanggung jawab untuk memakmurkan dan menjaga bumi.

 




Referensi


Andriyani, Isnanita Novia. Menjaga kesucian fitrah manusia. Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 4, Nomor 2, Desember 2015.


Azis, Rosmiyati. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Sibuku, 2019.


Daradjat, Zakiyah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara, 2008.


Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah. Pendidikan Islam Menggali "tradisi" mengukuhkan eksistensi,  2007.


Firmansyah, Iman. Pendidikan Agama Islam : Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsi, Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim. Vol. 17 No. 2 – 2019


Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam Bandung: al-Ma’arif, 1980.


Ramayulis. Dasar-Dasar Kependidikan . Padang: The Zaki Press, 2009.


Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.


Subhan, Fauti. Konsep Pendidikan Islam Masa Kini. Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol.02 No.02 Hal 355-373, 2013.


https://kbbi.web.id/didik


Custom Post Signature

Custom Post  Signature
Educating, Parenting and Life Style Blogger